
batampos – Pemakaman Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Doni Monardo di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan berlangsung khidmat. Sejumlah pejabat negara dan perwira tinggi TNI mengantar Doni ke peristirahatan terakhir.
Sebagai salah satu prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus), mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu sempat disemayamkan di Markas Kopassus.
BACA JUGA: Mantan Kepala BNPB Doni Monardo Meninggal Dunia
Bertindak sebagai inspektur upacara dalam pemakaman tersebut Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto. Usai pemakaman selesai, orang nomor satu di institusi militer Indonesia itu menyampaikan bahwa Doni merupakan panutan bagi para prajurit TNI, khususnya Angkatan Darat. Agus termasuk yang mengagumi Doni.
”Saya pernah operasi bareng saat Operasi Seroja di Timor-Timur tahun 1995. Beliau kapten, saya letnan dua,” ungkap Agus.
Menurut Agus, peran Doni dalam perjalanan karirnya sangat besar. Dia menyebut, Doni turut mengantarkan dirinya hingga berhasil mencapai puncak karir di TNI. Diakui oleh panglima TNI, Doni merupakan pribadi yang sangat total dalam bekerja. Salah satunya ditunjukan ketika memimpin BNPB menanggulangi pandemi Covid-19.
”Beliau smart, beliau jadi panutan adik-adik dan kalau kerja fokus. Setiap kegiatan ada target dan selalu berhasil,” imbuhnya.
Atas dedikasi dan jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, TNI berniat mengusulkan Doni menjadi pahlawan nasional. ”Nanti pasti di bidang personel kami akan mengusulkan,” ucap Agus. Menurut dia, kiprah Doni selama berada di garda depan dalam penanggulangan pandemi Covid-19 sangat mungkin dijadikan sebagai dasar usulan tersebut. Saat ini, Doni bekerja sangat keras. Padahal dia masuk dalam kategori orang yang memiliki penyakit komorbid.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengakui hal itu. Dia menyatakan bahwa Doni bekerja sangat keras selama penanggulangan Covid-19. Meki saat itu kondisinya sudah mulai kurang prima, mantan komandan jenderal Kopassus tersebut tetap total menjalankan tugas. ”beliau betul-betul bekerja penuh 24 jam tidak pernah pulang selama menangani Covid-19 itu,” terangnya.
Besarnya dedikasi Doni Monardo pada negara dan masyarakat turut diamini oleh Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini. Menurut dia, Doni adalah orang yang luar biasa. Dia ingat betul, saat pagebluk Covid-19 melanda Indonesia banyak sekali bantuan yang diberikan Doni sebagai kepala BNPB kepada Pemkot Surabaya. ”Bukan hanya APD, tapi beliau juga membantu saat kami tidak punya alat untuk PCR, beliau kirim,” tuturnya.
Doni, kata Risma, saat itu kerap tidur di kantor karena diserahi tanggung jawab untuk menangani Covid-19 di Indonesia. “Jam berapapun, jam satu malam saya telepon , jam dua malam telepon, diangkat sama dia. Saya tanya, Pak Doni tidurnya kapan? Jam berapa? (Dijawabnya, Red) Lah Bu Risma juga belum tidur loh. hahaha,” kenangnya. Kerja sama keduanya berlanjut saat Risma ditunjuk memimpin Kementerian Sosial (Kemensos).
Atas dedikasinya itu, Risma menilai, Doni layak ditahbiskan sebagai pahlawan nasional. ”Menurut saya, layak jadi pahlawan nasional. Dan Pak Doni sangat rendah hati. Beliau nggak mau menonjol-nonjolkan, tetapi dedikasi dan kerjanya bisa dirasakan,” ungkapnya. Kendati begitu, bukan dirinya yang berhak mengusulkan. Harus pihak pemerintah daerah (pemda) yang menyampaikan usulan tersebut kepada Pemerintah Pusat melalui Kemensos. (*)
Reporter: JP Group




General Manager SPAM Hilir, Djohan Effendy mengatakan, pekerjaan pengelasan seluruh jaringan pipa telah selesai dikerjakan sekitar pukul 21.00 WIB. Usai pengelasan jaringan pipa, selanjutnya dialiri secara bertahap dan normal kembali pada pukul pukul 23.00 WIB.



