
batampos – Pertemuan sehari tokoh-tokoh agama negara-negara ASEAN di Jakarta kemarin (7/8) menghasilkan Deklarasi Jakarta. Diantaranya adalah memperkuat peran pemuda dan perempuan, untuk menciptakan kehidupan harmonis di kawasan. Penjelasan hasil dari pertemuan itu disampaikan Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf salaku inisator forum tersebut.
Dia menjelaskan forum mengakui perlunya kolaborasi people to people dan dukungan pemerintah masing-masing. Diantara yang disepakati adalah mendorong pemerintah memperkuat pendidikan karakter lewat kurikulum nasional masing-masing. Sehingga anak muda bisa beradaptasi dengan dunia modern saat ini.
“Supaya anak-anak muda ini bisa menghadapi dampak negatif moderenisasi dan globalisasi,” katanya. Gus Yahya menuturkan banyak gejala dari pengaruh negatif modernisasi yang dialami generasi muda. Diantaranya adalah dislokasi sosio-kultural. Kemudian keterasingan atau alienasi anak-anak dari keluarga dan lingkungan masyarakat.
Selaian itu anak-anak muda juga mengalami keterasingan dari agama. “Agama dianggap urusan orang-orang sepuh saja,” jelasnya. Gus Yahya menegaskan para tokoh agama sepakat bahwa anak muda harus berperan dan bisa mengamalkan nilai-nilai agamanya. Gus Yahya mengatakan ketika anak muda bisa dekat dengan agama, bisa dibentengi dari dampak negatif lain seperti radikalisme terorisme, narkoba, dan penyakit kejiwaan ala pemuda lainnya.
Selain itu Gus Yahya juga menyampaikan bahwa peran perempuan juga ditingkatkan. Pasalnya perempuan adalah madrasah pertama. Perempuan harus bisa menanamkan nilai-nilai positif untuk anak-anak atau keluarganya. “Peran perempuan harus vital,” jelasnya.
Dia juga mengatakan pertemuan tersebut menyinggung konflik bernuansa agama di Myanmar. Gus Yahya mengatakan pertemuan ini menjadi titik awal untuk mencari solusi mengakhiri konflik di Myanmar. Dia menegaskan wujud teknis penyelesaian konflik Rohingya masih panjang. Tapi dia bersyukur sudah ada titik awal di kalangan pemuka agama, termasuk dari tokoh agama Buddha Myanmar, untuk mencari solusi bersama.
Forum ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference 2023 itu dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo. Dia menyampaikan perkembangan situasi global. “Kita tahu dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja,” katanya. Jokowi mencontohkan menurut data Global Peace Index 2023, konflik global semakin marak. Pada 2008 ada 58 negara yang terlibat konflik. Kemudian saat ini angkanya naik menjadi 91 negara terlibat konflik. Banyaknya negara yang terlibat konflik itu, membuat korban ikut bertambah. Angka kematian akibat konflik global meningkat menjadi 238 ribu jiwa.
“Di sisi lain di bidang keagamaan, masyarakat dunia mulai semakin tidak religius,” kata Jokowi. Berdasarkan survei dari IPSOS Global Religion 2023 terhadap 19.731 orang dari 26 negara di dunia menunjukkan, sekitar 29 persen responden menyatakan bahwa mereka agnostik dan atheis. Sedangkan menurut data EU Research Center atas nama agama dan kepercayaan jumlah kekerasan fisik semakin meningkat.
Jokowi meyakini para tokoh agama yang hadir, memiliki komitmen yang sama. “Bahwa ASEAN harus menjadi teladan toleransi dan persatuan. ASEAN harus menjadi jangkar perdamaian dunia,” kata Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu yakin, masyarakat ASEAN justru memiliki semangat keagamaan yang semakin meningkat. Indonesia misalnya, adalah negara yang masyarakatnya paling percaya Tuhan dan angkanya tertinggi di dunia ini menurut EU Research Center. Yaitu sebanyak 96 persen responden di Indonesia meyakini bahwa moral yang baik ditentukan kepercayaan pada Tuhan.
Menurut Jokowi, ASEAN telah menunjukkan bukti. Kemudian negara-negara ASEAN, terutama Indonesia, telah berhasil mempertahankan tradisi toleransi yang kuat di tengah keberagaman budaya dan agama. Kemudian Indonesia mampu terus menjaga kerukunan dan mengelola keragaman etnisitas, suku, budaya, agama dan kepercayaan.
Oleh karena itu Jokowi yakin masyarakat ASEAN mampu menjadi katalisator perdamaian dunia. “Bahkan mampu menjadi caring and sharing community. Bukan hanya menjadi epicentrum of growth tapi menjadi epicentrum of harmony yang menjaga stabilitas kawasan dan perdamaian dunia,” jelasnya. Dia menyambut hangat peran konstruktif para pemimpin agama dan budaya di ASEAN melalui forum yang digagas Pengurus Besar NU tersebut. (wan)






