
batampos– Federasi Olahraga Barongsi Indonesia (FOBI) Provinsi Kepulauan Riau menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov) di Baverly Hotel Batam, Sabtu (19/8) dengan mengusung tema Olahraga Barongsai Melaju, Berprestasi Kepri Maju.
Musprov FOBI Kepri yang ini dihadiri secara langsung Ketua Harian FOBI, Hasan Karman, hingga pengurus FOBI Kabupaten dan Kota se Provinsi Kepri.
Ketua Panitia Musprov FOBI Provinsi Kepri, Sudjiman mengatakan, kepengurusan FOBI di Kepri sudah berada di lima Kabupaten dan Kota di Kepri. Yakni di Kota Batam, Karimun, Lingga, Natuna, dan Tanjung pinang.
“Saat ini sudah ada lima kepengurusan di tingkat kabupaten dan kota se Provinsi Kepri. Dari lima daerah ini, kepengurusan FOBI Kota Tanjungpinang tinggal menunggu turunnya surat keputusan (SK),” ujarnya.
BACA JUGA: Pelajar SD dan SMP YBB DSS Dikenalkan Ekskul Barongsai
Pihaknya juga menegaskan, agenda utama Musprov Provinsi Kepri adalah pemilihan Ketua FOBI Kepri untuk periode 2023 – 2027 atau masa bhakti empat tahun.
”Sudah sama sama disepakati, dari hasil Musprov ini, akhirnya secara aklamasi Rizki Faisal terpilih sebagai ketua dan menggantikan pejabat sebelumnya Djohar Arief,” paparnya.
Sementara itu, Rizki Faisal, selaku ketua terpilih mengatakan, dalam olahraga barongsai ini sangat banyak potensi menarik. ”Artinya, selain menargetkan lebih banyak medali sebagai capaian prestasi, saya melihat FOBI sebagai wadah keberagaman dan persatuan,” katanya.
Olahraga barongsai ini, tambahnya, mengandalkan unsur gotong royong, kekuatan dan kekompakan. Dan akhirnya menghasilkan gerakan yang kuat dan kokoh. Dia melihat ini sebagai potensi yang mewakili Indonesia yang multi etnis, bahasa dan budaya.
”Untuk itu saya bersedia memimpin FOBI Kepri, dan semoga juga bisa memberikan yang terbaik untuk organisasi ini,” ungkap Rizki yang juga Wakil Ketua 1 DPRD Provinsi Kepri.
Sebagaimana diketahui, sebutan barongsai sendiri adalah hasil dari akulturasi antara budaya nusantara dengan budaya Tionghoa . Kata barong merujuk pada kesenian Indonesia, tepatnya Bali. Yakni, para penari yang menari memakai boneka ataupun kostum. Sedangkan, kata sai berasal dari bahasa Hokkian yang berarti Singa.
Barongsai atau lion dance merupakan seni budaya yang biasa dilakukan untuk mengumpulkan orang, sebagai sarana hiburan. Juga dipentaskan untuk mengusir roh-roh jahat, untuk upacara duka cita, upacara pernikahan, rukun keluarga, meminta keselamatan serta memiliki tanda kebahagian .
Selain itu, barongsai di Indonesia sudah diperlombakan di bidang olahraga. Bahkan FOBI telah diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Bahkan, barongsai sampai dipertandingkan di tingkat internasional. Barongsai Indonesia sendiri, sudah beberapa kali menjuarai pertandingan tingkat internasional, yang diadakan di berbagai negara.
Kini barongsai tidak hanya dimainkan oleh keturunan suku Tionghoa saja. Tapi, juga sudah dilakukan berbagai suku, ras, serta kepercayaan lain. Hal ini membuktikan bahwa barongsai sudah tidak menjadi kebudayaan saja. Melainkan sudah menjadi olahraga yang digemari oleh semua elemen masyarakat . (*)
reporter: sandi









