
batampos-Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Kepri mengajak umat Budha untuk merawat kedamaian dan keberagaman. Momentum ini disampaikan oleh Kabid Bimas Islam Edi Batara kegiatan peringatan Trisuci Waisak di Jalan Merdeka, Tanjungpinang, Sabtu (4/6) malam.
“Trisuci Waisak merupakan hari yang agung dan sakral bagi umat Buddha di seluruh dunia,” ujar Edi Batara pada kegiatan yang digelar Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kepri bersama Dharmasanti Waisak 2567 BE/ 2023 M tersebut.
Menurutnya, momen Trisuci Waisak ini agar lebih dari sekadar perayaan suci yang bersifat keagamaan, Umat Buddha melalui Majelis Agama Buddha di Indonesia mengangkat berbagai tema perayaan Waisak, salah satunya dari Sangha Theravada Indonesia mengusung tema Waisak yakni Memperkokoh Moral, Membangun Kedamaian Bangsa.
Dikatakannya, melalui pesan dalam tema ini, umat Buddha diajak untuk memaknai momentum Waisak dengan meneladani satu dari sekian banyak kualitas luhur Sang Buddha. Kemudian menjadikan Ajaran-Nya yang paling mendasar yaitu perihal moral (sīla).
BACA JUGA:94 Napi Terima Remisi Khusus Waisak
Lebih lanjut katanya, dalam skala yang lebih luas kedamaian menjadi pilar penting untuk kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di Tanah Air. Negara Indonesia amat kaya akan keberagaman budaya, ras, suku bangsa, yang perlu dijaga agar tetap damai.
“Dalam kesempatan ini saya mengajak kepada seluruh umat Buddha Provinsi Kepulauan Riau untuk tetap menjadi contoh menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah keragaman yang ada di provinsi yang kita cintai ini sebagaimana ajaran damai Sang Buddha,” jelas Edi yang mewakili Kepala Kanwil Kemenag Kepri, Mahbub Daryanto tersebut.
Edi menguraikan dalam khutbah Sang Buddha ada 6 hal yang dapat memunculkan kerukunan dan persatuan. Enam hal yang dimaksud adalah memiliki perbuatan, ucapan, pikiran yang disertai cinta kasih penuh ketulusan terhadap sesama. Kemudian adalah sikap murah hati, mempunyai kualitas moral yang sama baik, dan memiliki pandangan yang setara akan kebaikan atau ajaran kebenaran.
“Satu dari enam faktor penunjang kerukunan dan kedamaian yang tercantum dalam khutbah tersebut di atas adalah aspek moral,” jelasnya lebih lajut.
Disiplin moral yang diajarkan Sang Buddha untuk dilatih dan dikembangkan oleh pengikut-Nya dinamai Pancasila. Yakni, latihan moral yang terdiri dari lima sasana, meliputi penghindaran diri dari aksi kekerasan dan pembunuhan, pengambilan barang yang bukan hak diri, tindakan asusila, ucapan tidak jujur, dan laku buruk mengonsumsi minuman keras.
“Pancasila Buddhis menjadi landasan hidup beragama bagi umat Buddha. Sebagai bagian dari elemen berkontribusi dalam menjaga kedamaian bangsa dengan mengaktualkan Pañcasīla Buddhis, menjalankan disiplin moral sebaik mungkin,” paparnya.
Terakhir, Edi mengajak umat Buddha untuk bersama menciptakan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan memperkokoh nilai-nilai moral. Bila seseorang melindungi dirinya, pihak yang berada di luar pun akan terlindungi.
“Momentum Waisak menjadi penting untuk sekaligus merefleksikan nasihat yang berkenaan dengan kesucian moral. Bila seseorang melindungi dirinya, pihak luar pun akan terlindungi” tutup Edi Batara. (*)
reporter: jailani









