batampos – Badan PBB, WHO mencatat konflik Sudan telah memakan sedikitnya 459 korban tewas dan 4.072 terluka sejak perang dimulai 15 April 2023 lalu.

“Sebanyak 459 korban tewas dan 4.072 korban luka akibat konflik bersenjata, keseluruhannya di ibu kota Khartoum,” ujar Perwakilan WHO Sudan, Dokter Nima Saeed Abid seperti dikutip dari Anadolu, Selasa (25/4/2023) waktu setempat.
BACA JUGA:
538 WNI Dievakuasi dari Khartoum
Sudan Dilanda Perang
Saeed Abid menyebutkan, angka tersebut kemungkinan kecil dari yang sebenarnya, mengingat para kelompok tentara nasional dan paralimiter tak hanya menyerang warga sipil, tapi juga kelompok kesehatan.
Mengenai serangan terhadap sektor kesehatan, Abid mengatakan, WHO telah memverifikasi 14 serangan sejak kekerasan dimulai, dengan delapan kematian dan dua orang luka-luka. Rumah-rumah sakit di Sudan juga rusak. “Serangan terhadap perawatan kesehatan adalah tindakan tercela dan harus dihentikan,” ujarnya.
Mengenai upaya evakuasi, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan Jens Laerke mengatakan, sebagian besar warga telah dipindahkan dari Khartoum ke Port Sudan. “Kami sedang mencari cara untuk memindahkan mereka lebih jauh lagi,” ujar Laerke.
Pada Senin (24/4/2023), konvoi PBB ke Port Sudan telah mengevakuasi 700 orang yang terdiri dari personel PBB, LSM internasional, dan staf kedutaan asing.
“Kami tetap berkomitmen untuk tinggal dan melayani, dan kami akan mempertahankan kepemimpinan yang kuat di Sudan ke depannya,” kata dia.
Pertempuran antara tentara Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meletus sejak 15 April 2023 di Khartoum dan sekitarnya. Konflik mematikan itu dipicu ketidaksepakatan selama beberapa bulan terakhir antara SAF dan RSF atas reformasi keamanan militer.
Reformasi mengharapkan partisipasi penuh RSF dalam militer, yang menjadi salah satu isu utama dalam negosiasi oleh pihak internasional dan regional untuk transisi ke pemerintahan sipil demokratis di salah satu negara di Afrika tersebut. (*)
Reporter: Ant/Cha








