
batampos – Pertempuran antara militer Sudan (Sudan Armed Forces/SAF) dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) kian membara. Baru 43 orang WNI dari 1.209 WNI yang berhasil dievakuasi ke safe house KBRI Khartoum, Sudan. Tak ada jeda kemanusiaan membuat proses evakuasi sukar dilakukan.
Perang yang telah memasuki hari ke-6 ini telah menewaskan 300 orang. Sementara, 3 ribu lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Pertempuran diketahui memperebutkan objek-objek vital di sana. Antara lain, terjadi di Istana Presiden, Markas Komando Militer, dan Bandara Internasional Khartoum.
Bahkan, titik pertempuran juga terjadi di Markas RFS, yang salah satunya berlokasi di dekat Universitas Internasional Afrika, di mana banyak WNI bertempat tinggal.
”Beberapa kali Wisma Indonesia dan KBRI juga terimbas oleh terus berlangsungnya pertempuran. Alhamdulillah, semua WNI dan staf KBRI dalam keadaan selamat,” ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam press briefing secara virtual, kemarin (20/4).
Sayangnya, hingga kini sejumlah upaya gencatan senjata belum membuahkan hasil. Sementara, jeda kemanusiaan pun belum disepakati. Kondisi ini berimbas pada distribusi bahan pangan dan operasional rumah sakit jadi terhambat.
Perkembangan ini menimbulkan kewaspadaan yang sangat tinggi. KBRI Khartoum bahkan telah memberlakukan status siaga 1.
Merespon hal ini, KBRI Khartoum telah melakukan berbagai upaya untuk melakukan evakuasi WNI menuju ke safe house. Termasuk, memberikan bantuan logistik untuk WNI yang masih belum bisa dievakuasi. ”Upaya ini juga beberapa kali mengalami tantangan, sekali lagi karena pertempuran antara para pihak yang bertikai masih terus berlangsung,” ungkap Retno.
Retno sendiri telah mengirim pesan pada Menlu Sudan untuk meminta pembicaraan per telepon. Namun belum ada tanggapan hingga saat ini. Upaya lainnya pun terus dilakukan dengan mengontak Dubes Sudan di Jakarta oleh Dirjen Aspasaf Kementerian Luar Negeri RI. Pesan yang disampaikan sama, bahwa Menlu Retno ingin berbicara dengan Menlu Sudan dan Indonesia meminta perlindungan terhadap misi diplomatik dan keselamatan WNI di sana.
Dari Sudan pun, tim KBRI Khartoum terus melakukan komunikasi dan permintaan perlindungan WNI kepada Kementerian Luar Negeri Sudan.
Sementara, melalui Perwakilan Tetap RI (Watapri) New York, Indonesia juga telah mendesak DK PBB segera melakukan pertemuan darurat terkait Sudan. Minimal, untuk membahas desakan dilakukannya jeda kemanusiaan.
”Jeda kemanusiaan sangat penting artinya saat ini. Tanpa Jeda kemanusiaan, maka akan sulit lakukan evakuasi dan memberikan bantuan kemanusiaan,” keluhnya.
KBRI Khartoum mencatat, jumlah WNI di Sudan mencapai 1.209 orang. Yang mana, sebagian besar merupakan pelajar dan mahasiswa. Retno tak merinci berapa WNI yang berada dekat lokasi perang dan berisiko besar terdampak. Namun, dia menyebut, jika Tim Perlindungan WNI KBRI Khartoum telah berhasil mengevakuasi 43 WNI yang terjebak di lokasi pertempuran.
”Jadi, saat ini 43 WNI berada di safe house di KBRI Khartoum,” tuturnya.
Menurut Retno, sejak awal terjadinya konflik bersenjata, KBRI Khartoum telah melakukan kontak dengan para WNI. Pertemuan virtual juga sudah dilaksanakan guna memberikan update situasi keamanan dan menjelaskan langkah-langkah kontingensi.
Persiapan evakuasi pun terus dimatangkan sambil menunggu waktu yang tepat dengan keselamatan WNI jadi pertimbangan utama. Rapat koordinasi dengan lima perwakilan Indonesia yang jadi opsi evakuasi pun sudah dilakukan. Kelimanya meliputi KBRI Khartoum, Kairo, Riyadh, Addis Ababa, dan KJRI Jeddah. ”Karena sekali lagi saya ingin garis bawahi, bahwa keselamatan adalah prioritas utama,” sambungnya.
Sampai kini pun, lanjut dia, belum ada warga negara asing (WNA) yang berhasil dievakuasi dari Khartoum. Sebab, kondisi keamanan di sana yang tidak memungkinkan.
Kendati begitu, ia menghimbau para WNI di Sudan dan keluarga di Indonesia untuk tetap tenang. Dia memastikan, bahwa pemerintah akan berupaya sekuat tenaga untuk memberikan perlindungan kepada WNI di sana. (*)
Reporter: JP Group








