Ramadan telah tiba. Di Indonesia, momentum ini selalu dinantikan oleh masyarakat, baik dari kalangan umat muslim maupun umat yang beragama lain. Perayaan Ramadan menjadi salah satu wujud toleransi beragama di negara yang multikultural ini. Salah satu bentuk perayaan yang hanya ada pada saat Ramadan adalah kegiatan mengabuburit.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengabuburit diartikan sebagai “menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan”. Masyarakat pun lebih akrab menggunakan istilah ini dengan ngabuburit. Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yakni burit yang berarti “kegiatan waktu menjelang sore”. Ada juga yang mengatakan bahwa ngabuburit merupakan singkatan dari “ngalantung ngadagoan burit” yang artinya bersantai menjelang sore. Namun, seiring berjalannya waktu, istilah ngabuburit sering digunakan sebagai “menunggu waktu menjelang berbuka puasa”.
Di Kepulauan Riau, masyarakat mengenal ngabuburit dengan istilah cari angin atau melenga-lenga. Akan tetapi, istilah ini kurang populer dibandingkan dengan ngabuburit. Kegiatan cari angin hampir sama dengan ngabuburit, yaitu masyarakat memanfaatkan waktu luang di sore hari menjelang berbuka puasa. Banyak masyarakat memanfaatkan ngabuburit dengan beragam kegiatan, seperti mengunjungi tempat wisata, membaca Al-Qu’ran, mendengarkan ceramah, berburu takjil, hingga bersantai dengan keluarga atau teman. Sebagai alternatif, kegiatan ngabuburit juga dapat dimanfaatkan dengan berliterasi digital.
Menurut Bawden (2001), literasi digital berakar pada literasi komputer dan informasi. Literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa literasi digital merupakan suatu bentuk kemampuan untuk mendapatkan, memahami, dan menggunakan informasi yang berasal dari berbagai sumber dalam bentuk digital.
Keberadaan literasi digital saat ini bagaikan dua sisi mata uang yang memberikan efek positif dan negatif kepada masyarakat. Sisi negatifnya adalah semakin berkembangnya teknologi dan jaringan digital yang luas, banyak oknum yang tidak bertanggung jawab menyebarkan konten-konten negatif, seperti pornografi dan isu SARA. Sementara itu, sisi positifnya adalah menambah wawasan dan meningkatkan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir dan memahami informasi, menambah penguasaan kosakata dari berbagai bahan bacaan, meningkatkan kemampuan verbal individu, meningkatkan daya fokus dan konsentrasi individu, serta menambah kemampuan individu dalam membaca, merangkai kalimat, dan menulis informasi.
Dalam rangka meningkatkan derajat bangsa Indonesia di bidang minat baca (literasi), masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan kegiatan positif terutama pada saat berkegiatan menjelang buka puasa. Misalnya dengan cara memanfaatkan gawai atau perangkat computer untuk berselancar di beberapa portal literasi digital.
Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan literasi anak melalui literasi digital. Salah satu upaya tersebut digalakkan oleh Badan Pemgembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kemendikbudristek melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN). Melalui gerakan tersebut, Badan Bahasa telah meluncurkan aplikasi buku digital yang diberi nama “Budi”. Di dalam aplikasi tersebut terdapat buku-buku cerita anak sesuai perjenjangan usianya yang dapat diakses secara daring ataupun diunduh secara gratis. Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) meluncurkan aplikasi bertajuk “Siberkreasi”. Program-program literasi digital lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain sebagai berikut.
Pertama, aplikasi “Belajar Membaca Lancar”. Aplikasi ini membantu anak-anak untuk belajar membaca dengan mudah, yaitu dengan huruf-huruf alfabet dari A sampai Z. Anak-anak juga bisa belajar membaca dan belajar kata-kata dasar yang menyenangkan. Tentu saja, aplikasi ini sangat cocok untuk anak yang baru mulai belajar membaca. Pada dasarnya, aplikasi ini merupakan aplikasi membaca dengan konsep permainan (game). Materi dalam permainan tersebut berisi tentang membaca satu suku kata, dua suku kata, tiga suku kata, serta huruf konsonan dan vokal.
Kedua, aplikasi “Cerita Anak Nusantara”. Aplikasi literasi ini berisi kumpulan kisah-kisah anak, dongeng anak, dan cerita Nusantara dari berbagai daerah. Selain itu, di balik semua cerita yang tersaji pasti ada pesan moral yang menjadi pelajaran bagi anak. Melalui aplikasi ini, diharapkan anak-anak akan mengetahui kisah-kisah dari berbagai daerah di Indonesia. Hal tersebut menjadikan wawasan anak menjadi luas dan mengetahui kondisi suatu daerah atau tradisi yang berkembang di daerah lain. Tidak hanya itu, dalam aplikasi ini juga terdapat suara atau narasi dari masing-masing bacaan, serta gambar sebagai penunjang visualisasi bagi anak.
Ketiga, aplikasi bertajuk “Kisah Cerita Anak” atau disingkat KICA. Aplikasi ini berisi tentang kisah menarik dan imajinatif seputar kehidupan sehari-hari. Ada legenda, dongeng, dan beragam cerita menarik lainnya. Gambar pada cerita bersifat lucu, interaktif, dan segar sehingga menarik bagi anak-anak. Kualitas gambarnya dipenuhi dengan animasi yang menjadikan gambar lebih hidup dan “eye catching”.
Selain dari beberapa portal literasi digital yang disebutkan di atas, masih banyak lagi portal literasi digital yang lainnya. Dengan banyaknya portal literasi digital, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai kegiatan ngabuburit yang tentunya bersifat positif. Ada satu pepatah mengatatakan, “yang baik-baik dipegang mati, yang buruk-buruk dibuang jauh”. Artinya, sikap baik mari dipertahankan, sedangkan sikap yang buruk mari ditinggalkan. Hendaklah kita melakukan kegiatan yang baik dan bermanfaat daripada melaksanakan kegiatan yang merugikan diri sendiri.

Teguh Madia Tarigan
Koordinator Literasi, Kantor Bahasa Provinsi Kepri