batampos – OctaFX, sebuah perusahaan broker global yang menyediakan layanan trading online di seluruh dunia sejak tahun 2011 melakukan sebuah survei tentang sikap trader terhadap Black Friday? Seperti apa pola trading mereka selama musim belanja?
Apa arti musim belanja untuk trader? Bagaimana mereka menanggapi promo dan diskon? Apakah mereka banyak belanja? Apakah Black Friday memengaruhi trading mereka? Jika iya, seperti apa pengaruhnya? OctaFX mengadakan survei untuk mencari tahu.
Lebih dari 1.100 responden dari lebih dari 60 negara ambil bagian dalam survei pada awal bulan November 2022. Hasilnya adalah:
● Lebih dari 70 persen trader menganggap promo Black Friday memberi penawaran bagus, sementara trader yang tidak pernah membeli apa-apa selama musim ini jumlahnya hanya sedikit di atas 20 persen.
● 77,9 persen trader membandingkan harga sebelum dan selama Black Friday dengan frekuensi berbeda-beda, dan ini merupakan prevalensi pola pikir analitis yang umum di kalangan investor profesional.
● Sebagian besar responden membeli satu atau dua barang dengan diskon Black Friday, sementara lebih dari setengah responden membeli barang lebih banyak dari biasanya.
● Barang elektronik, pakaian, dan peralatan rumah tangga adalah tiga jenis produk paling popular yang dibeli trader selama periode Black Friday, dan mayoritas dari mereka berbelanja online.
● 56,7 persen cenderung melakukan transaksi belanja secara spontan dan emosional. Sementara itu, 43,3 persen mengeklaim tidak. Meski begitu, bahkan trader profesional pun berbelanja. Karena bagaimanapun juga, kita perlu memanjakan diri dari waktu ke waktu.
Analis pasar keuangan Kar Yong, mengatakan, “Antara 20 November hingga 6 Desember yang terhitung selama 15 tahun terakhir, indeks S&P 500 naik rata-rata hampir 3% dan menghasilkan tingkat keuntungan yang menakjubkan, yaitu 86%.”
Kar Yong melanjutkan, “Ini adalah kesempatan untuk memanfaatkan perdagangan CFD dan mencermati saham-saham tertentu seperti Lowe’s Companies, yang meningkat rata-rata 7,45%, dan UnitedHealth Group sebagai saham lainnya yang biasanya juga naik selama periode ini.”
Mayoritas trader memilih untuk trading pasangan mata uang, dengan komoditas dan kripto di urutan tiga teratas, sementara popularitas saham dan indeks saham sedikit di bawahnya.

Survei yang diadakan OctaFX menunjukkan bahwa pengalaman trading dapat memengaruhi pengalaman berbelanja dan, mungkin, kehidupan sehari-hari trader.
Mereka yang memiliki banyak pengalaman trading lebih sering tidak membeli apa pun selama Black Friday. Namun, trader yang berbelanja membeli lebih banyak produk selama periode ini dibandingkan investor yang kurang berpengalaman.
Meskipun mayoritas responden survei membandingkan dan menganalisis harga sebelum dan selama Black Friday, trader yang paling berpengalamanlah yang paling sering melakukannya. Hal ini mengarah pada kesimpulan bahwa pengalaman trading berkaitan dengan kemampuan analitis di dunia nyata.

Penemuan lain dari survei ini adalah trader dengan pengalaman yang lebih sedikit lebih sering berbelanja secara spontan. Namun, tingkat pengalaman tidak secara langsung memengaruhi perilaku yang ditandai dengan pembelian emosional, mengingat semua trader masih melakukannya.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa trader yang lebih berpengalaman cenderung membeli lebih banyak produk media, seperti e-book dan layanan berlangganan, yang biasanya berhubungan dengan edukasi mandiri serta pengembangan diri.
Penemuan terakhir adalah investor yang lebih berpengalaman memilih trading instrumen mata uang selama musim Black Friday, sedangkan investor dengan pengalaman lebih sedikit memilih mata uang kripto dan saham.
Pengalaman trading menghadirkan pemikiran analitis, keinginan untuk mengembangkan diri, dan pemahaman umum tentang cara kerja pasar keuangan. Meski demikian, trading tidak hanya soal grafik, instrumen keuangan, dan pertukaran. Trading adalah tentang pola pikir investor yang memengaruhi cara mereka mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari, baik saat belanja Black Friday maupun saat membuat rencana dan tujuan jangka panjang.
Kesimpulannya, walau musim belanja adalah periode yang cenderung menyebabkan kita bertransaksi secara emosional, kita tetap harus berkepala dingin dan mengembangkan pola pikir analitis yang dibanggakan oleh para trader berpengalaman.