
batampos – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf tak ingin NU diseret-seret ke ranah politik praktis. Karena itu, menjelang peringatan satu abad NU, dia menegaskan bahwa NU akan bersikap netral. NU tidak akan mendukung capres dan cawapres dalam Pemilu 2024.
”Tidak ada calon presiden atau calon wakil presiden yang mengatasnamakan NU nanti. Jika ada calon dari NU, dia tidak akan membawa nama NU, namun murni prestasinya sendiri,” tegas Gus Yahya, sapaan Yahya Cholil Staquf. Gus Yahya mengatakan, PBNU berkomitmen untuk mengembalikan posisi NU di tengah. Tidak menjadi bagian dari pihak-pihak yang berkompetisi.
Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan bersama lintas tokoh dan lintas organisasi di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya kemarin. Pertemuan tersebut semacam focus group discussion (FGD) yang melibatkan banyak pihak. Mulai pemimpin redaksi media massa, rektor perguruan tinggi, tokoh lintas agama, hingga tokoh organisasi kepemudaan.
Gus Yahya juga merasa khawatir dengan ancaman polarisasi menjelang Pemilu 2024. ”Kita dibayang-bayangi dengan polarisasi,” ujarnya. Saat ini ada kecenderungan kelompok berideologi radikal yang hendak mengganggu integritas nasional. Mereka, kata Gus Yahya, memanfaatkan Pilpres 2024 untuk konsolidasi. ”Ada ujung tombak yang dijadikan gaconya (jagonya, Red). Gaconya ini yang melakukan manuver-manuver manipulatif,” tegasnya.
Gus Yahya menduga kelompok radikal sudah punya sosok yang dijagokan dalam pilpres. Itu sebabnya, potensi penggunaan politik identitas bakal menguat kembali. ”Mereka kalau menemukan gaco, ini bisa menjadi ancaman serius. PBNU akan mencegah politik identitas,” tegasnya.
Satu Abad NU
Puncak peringatan satu abad NU akan digelar pada 7 Februari mendatang. Resepsi acara dipusatkan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan hadir pada acara yang diperkirakan dihadiri jutaan warga nahdliyin itu. Karena massa yang datang diperkirakan membeludak, Gus Yahya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Khususnya warga Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya yang mungkin terdampak acara akbar tersebut.
”Mohon maaf ke warga Surabaya, Sidoarjo, dan mungkin lebih luas lagi yang akan terdampak dengan resepsi besar peringatan harlah satu abad NU,” kata Gus Yahya. Dia mengajak masyarakat untuk terlibat di momen itu. Tidak terbatas hanya untuk warga nahdliyin. Tapi juga masyarakat secara umum. Baik lintas organisasi maupun lintas agama. Itu sebagai bentuk keterbukaan NU terhadap setiap kelompok dan paham keagamaan.
Sebab, dalam momen itu banyak acara yang akan digelar. ”Ada festival kuliner, seni, karnaval, dan lain-lain. Saya ajak masyarakat ikut serta. Sebab, NU bisa hadir dan diterima karena bekerja sama dengan semua pihak,” paparnya.
Berbagai macam kegiatan tersebut diharapkan bisa membawa suasana gembira bagi semua orang. Khususnya warga nahdliyin.
Gus Yahya menekankan bahwa peringatan satu abad NU menjadi penanda bahwa Nahdlatul Ulama merupakan jalan keagamaan untuk mencapai kemuliaan. Juga jalan peradaban di masa depan. Yaitu dengan menekuni tradisi keagamaan, keilmuan, dan memperluas wawasan.
Gus Yahya optimistis NU di usianya yang matang bisa memberikan sumbangan konstruktif bagi masa depan peradaban umat manusia. Khususnya Indonesia. ”Kami ingin peringatan satu abad NU jadi penanda dalam mengembangkan khidmah yang inklusif bagi bangsa dan kemanusiaan,” tegasnya.
Sebelumnya, kickoff menuju peringatan satu abad NU sudah digelar sejak Agustus tahun lalu. Ada sembilan klaster event yang diselenggarakan. Di antaranya NU Women dan Porseni. Pada 9 Januari akan digelar festival seni tradisi Islam Nusantara di Banyuwangi. Kemudian Porseni NU pada 15–21 Januari di Surakarta. Berikutnya, 6 Februari mendatang diadakan muktamar internasional fikih peradaban yang pertama. Lokasinya di Surabaya dengan mengundang sekitar 400 ulama dari seluruh dunia.
Sambutan positif datang dari beragam kalangan. Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Nurhasan menyampaikan, FGD yang melibatkan tokoh lintas agama tersebut sangat konstruktif. Itu menandakan bahwa NU menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. ”Ini wujud harmoni untuk Indonesia,” katanya.
Nurhasan menyampaikan bahwa di usia satu abad NU sudah memberi contoh bagi kemajuan peradaban. Bahwa semua orang harus beradaptasi dengan perkembangan global. Tidak menutup diri hanya untuk satu kelompok. ”NU ada cerminan kemajuan Indonesia,” ucap dia.
Rumah Sakit Islam
Sementara itu, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) Mohammad Nuh bersama Ketua Baznas Noor Achmad diterima Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin di Jakarta kemarin (11/1). Dalam pertemuan itu, Nuh mengundang Ma’ruf Amin dalam peresmian Grha 2 Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya pada Maret atau April nanti.
Seusai pertemuan, Juru Bicara Wakil Presiden Masduki Baidlowi mengatakan, dalam pertemuan itu tidak hanya dibahas soal RSI Surabaya. Tetapi juga dibicarakan perkembangan kampus-kampus di lingkungan NU. Seperti diketahui, Nuh juga terlibat aktif dalam pendirian kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). ”(Kesehatan dan pendidikan, Red) menjadi bekal penting buat membangun peradaban Indonesia,” tutur Masduki. Dia mengatakan, NU menjadikan rumah sakit dan perguruan tinggi sebagai pilar penting dalam peradaban.
Masduki juga menyatakan, penguatan layanan kesehatan dan pendidikan itu juga dalam rangka menuju satu abad NU. Menurut dia, pembangunan rumah sakit, lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi oleh keluarga besar NU, melekat pada diri PBNU dalam menyambut usia seabad.
Masduki menjelaskan, pada pertemuan itu Nuh juga melaporkan, setelah di Surabaya akan dibangun juga RSI di Bangkalan. Rencananya, RSI di Bangkalan dibangun di lahan seluas 4 hektare. Menurut Masduki, bukan kali ini saja Wapres Ma’ruf Amin terlibat dalam pembangunan RSI di Surabaya. Pada 31 Maret 2022 Ma’ruf juga meresmikan ground breaking pembangunan Grha 2 RSI Surabaya. Bahkan, sebelum jadi wakil presiden, Ma’ruf juga sempat meresmikan rumah sakit di bawah naungan grup RSI Surabaya. Saat itu kapasitas Ma’ruf Amin sebagai rais aam PBNU.
”Jadi, boleh dikata, apa pun perkembangan yang terjadi terkait pembangunan RSI dan universitas Islam di Surabaya, semuanya dilaporkan ke Kiai Ma’ruf Amin,” tuturnya. Sebab, Ma’ruf Amin adalah sosok sesepuh di NU dan sekarang sebagai wakil presiden. (*)
Reporter: JP Group








