batampos – Informasi hilangnya Raden Bambang Firman Alamsyah dari KM Bahagia Natuna diterima oleh pihak keluarga di Tanjungbalai Karimun pada Sabtu (7/1) pukul 16.00 WIB. Laporan ini disampaikan oleh agen kapal jaring rawa8 tersebut yang ada di Karimun.
”Kabar hilangnya Firman alias Iman, 18, anak kami itu pertama kali diketahui oleh istri. Saya ketika itu ada di Malaysia. Tentunya hal ini sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan. Setelah dapat laporan dari istri, maka Senin (9/1) saya pulang dari Malaysia ke Karimun,” ujar Raden Ridwan orang tua dari Raden Bambang Firman Alamsyah yang ditemui di kediamannya di Kelurahan Baran Timur, Kecamatan Meral.

Dengan kabar hilangnya Iman, lanjut Ridwan sapannya, pihak keluarga bersama warga sekitar melakukan doa selama tiga malam berturut-turut. Doa kepada Allah SWT sambil membaca Surat Yassin dengan tujuannya untuk keselamatan Iman. Karena, sebagai orang tua dia yakin bahwa anaknya masih hidup.
”Saya tidak ada firasat atau kejadian yang aneh-aneh sebelum dapat kabar Iman hilang. Makanya, selama tiga malam kita bersama warga baca Yassin untuk keselamatan Iman. Namun, sebelum mendapatkan kabar dari KBRI di Vietnam, pihak agen memfasilitasi saya berangkat ke Natuna” ungkapnya.
Sampai di Natuna, tambah Ridwan, pada Kamis (12/1) bertemu dengan Syahbandar dari kru serta nakhoda KM Bahagia Natuna. Dari pertemuan tersebut diketahui bahwa tidak ada yang tahu bagaimana Iman hilang dari kapal. Kecuali, ketika salah seorang menghitung krunkapal kurang satu. Padahal Jumat (6/1) masih melihat Iman tidur. Pada pada Sabtu (7/1) Iman sudah tidak ada di kapal.
”Keesokan hari, Sabtu (13/1) saya mau pulang ke Karimun melalui Batam. Dan Namun, karena pesawat penuh, maka ditunda. Dan pada hari itu, saya dapat kabar dari istri ada pesan WA dari KBRI Vienam yang menyatakan bahwa Iman dalam keadaan selamat di Vietnam. Mendengar kabar ini saya sangat senang dan bahagia,” paparnya.
Setelah itu, katanya, Iman difasilitasi KBRI Vietnam melakukan video call WA bersama dia dan istri. Dari percakapan tersebut terungkap kejadian yang cukup mengerikan. Yakni, anaknya tidak jatuh ke laut pada malam dia hilang. Tetapi, pengakuan Iman kepadanya melalui pecakapan video call WA tersebut bahwa pada malam itu Iman diduga diculik oleh kapal nelayan asing.
”Malam itu, anak saya masih terjaga dan kemudian seperti orang yang terhipnotis. Ada orang asing yang naik ke atas kapal dan kemudian membawanya ke kapal ikan orang asing tersebut. Bahasanya juga anak saya tidak ngerti. Bukan bahasa Melayu atau bahasa warga tempatan. Yang jelas, anak saya dibawa ke kapal orang asing tersebut dan kemudian diikat dengan jaring dan diikatkan juga dengan dua pelampung ikan. Sebelum dibuang ke laut ponsel anak saya diambil,” jelasnya.
BACA JUGA:Lanal Karimun Gelar Apel Kenang Pahlawan Laut
Cerita Iman ini, sambung Ridwan, ditanyakan ke Nakhoda KM Bahagia Natuna. Dia berangkat dari Ranai, Natuna menuju ke Pulau Tiga menggunakan pompong untuk bertemu dengan kru dan nakhoda kapal. Kejadian ada kapal lain yang mendekati KM Bahagia Natuna pada saat hilangnya Iman dibenarkan oleh nakhoda kapal.
”Penjelasan nakhoda KM Bahagia Natuna yang saya temui di Pulau Tiga bahwa dia ditelpon oleh nakhoda kapal lain yang ada di lokasi perairan yang sama bahwa pada malam itu memang ada kapal yang mendekat ke KM Bahagia Natuna. Hanya saja saat itu sudah tengah malam dan nakhoda KM Bahagia Natuna sudah tidur. Sehingga, dugaan anak saya diculik dan kemudian dibuang ke laut bisa jadi benar,” katanya.
Dikatakan Ridwan, apa yang penting saat ini anaknya sudah dalam keadaan selamat. Memang, kuasa Allah SWT yang telah menyelamatkan anaknya. Sebab, selama 5 hari terapung di laut lepas menggunakan dua pelampung kecil. Bahkan, pelampung kecil sempat pecah. Beruntung ada kayu besar yang kemudian digunakan untuk mengapung.
”Anak saya diselamatkan kapal jaring asal Vietnam dengan nomor kapal KH 97661 TS. Selama dua hari di kapal ikan asal Vietnam kondisinya sangat lemah. Kulit mulai mengelupas dan di dada terlihat memar akibat terkena hantam kayu pada saat akan meraih kaayu di laut untuk dijadikan alat mengapung,” ujarnya.
Menyinggung tentang sejak kapan Iman mulai ikut kapal jaring, Ridwan menjelaskan, kalau ikut KM Bahagia Natuna baru pertama kali dan dikontrak selama 45 hari sebagai tukang masak di kapal. ”Tapi, sebelumnya pernah ikut kapal ikan selama 10 bulan ke Papua. Artinya, ikut kapal KM Bahagia Natuna ini yang kedua kali,” terangnya.
Menurut Ridwan, untuk kepulangan anaknya ke Indonesia tinggal menunggu informasi dari KBRI Vietnam. Memang, pihak KBRI sempat minta dikirimkan paspor anaknya. Hanya saja, disebabkan waktu pengiriman yang tidak dapat dipastikan, maka dia tidak jadi mengirimkan paspor.

”Jadi, saat ini kita hanya menunggu informasi saja kapan anak kami akan diberangkatkan dari Vietnam ke Indonesia. Karena, abang Adan adik-adiknya sudah menunggu. Iman anak kami nomor 4 dari 7 bersaudara. Semoga bisa cepat pulang dan kumpul bersama keluarga lagi,” harapnya.
Informasi yang dihimpun, dari keterangan Ridwan yang berangkat ke Natuna dan kemudian menuju Pulau Jaga diketahui lokasi hilangnya Raden Bambang Firman Alamsyah cukup jauh dari pulau terdekat. Yakni, lokasi tempat melempar atau memasang jaring rawa8 menggunakan kapal cepat milik Basarnas membutuh waktu 7 jam. Sedangkan, jika menggunakan kapal ikan biasa waktunya bisa satu satu malam. (*)
reporter: sandi






batampos-Perwakilan dari PLTG MEB Panaran, Bambang mengakui memang benar ada kerusakan di mesin pembangkit PLTG Panaran. Kerusakan tersebut terjadi karena adanya over current di generator.


