
batampos – Polisi terus mengusut kasus pembunuhan satu keluarga yang dilakukan anak bungsu di Magelang. Kemarin (30/11) Polresta Magelang mengungkap jenis racun yang digunakan tersangka Dhio Daffa Swadilla (DDS). Pria 22 tahun itu ternyata menggunakan dua jenis racun. Yakni, arsenik dan sianida. Namun, racun yang membunuh ayah, ibu, dan kakak pelaku adalah sianida.
’’Di organ lambung para korban ditemukan zat bergolongan sianida,’’ terang Plt Kapolresta Magelang AKBP Mochammad Sajarod Zakun kepada Jawa Pos Radar Semarang kemarin. Dia mengatakan, temuan itu didapat dari hasil otopsi yang dilakukan Polda Jawa Tengah. Selain itu, saat olah TKP, polisi menemukan botol berisi sisa cairan yang mengandung sianida. ’’Ini juga sudah kita cek lab dan hasilnya itu sianida,’’ jelasnya. Dengan demikian, polisi menyimpulkan bahwa tiga korban meninggal karena meminum teh dan es kopi yang dicampur sianida oleh Dhio.
Bagaimana dengan zat arsenik? Menurut Sajarod, beberapa hari sebelum menggunakan sianida, Dhio juga mencoba untuk meracun keluarganya dengan arsenik. Zat beracun itu dia campurkan ke dalam es dawet yang dikonsumsi keluarganya. Dia juga memberikan es dawet tersebut kepada beberapa temannya. Namun, karena kadar yang rendah, keluarganya hanya mengalami mual dan muntah. Polisi juga belum menerima laporan tentang kondisi teman-teman Dhio setelah meminum es dawet beracun itu. Karena gagal meracuni keluarganya menggunakan arsenik, Dhio lantas memakai sianida dengan dosis tinggi.
Sajarod menyampaikan, berdasar hasil penyelidikan, Dhio membeli sianida sebanyak 100 gram dan arsenik 10 gram. ’’Dua zat kimia ini dibeli secara online dan dilakukan dalam kurun waktu yang tidak jauh,’’ terangnya. Hingga kemarin, polisi masih mencari orang yang menjual dua zat beracun itu kepada Dhio. Empat orang saksi telah diperiksa.
Sajarod menambahkan, polisi telah menyita satu mobil sebagai barang bukti. Mobil tersebut digunakan tersangka untuk mengambil zat kimia dari seorang kurir. Mobil itu juga dipakai tersangka menyimpan sisa racun yang digunakan untuk menghabisi nyawa keluarganya. ’’Disimpan di dalam mobil. Berdasar keterangan tersangka, dia mengambil sendiri di wilayah Kabupaten Magelang,’’ jelasnya.
Sebagaimana diberitakan, tiga korban meninggal itu adalah Abbas Ashar, 58; Heri Riyani, 54; dan Dhea Chariunnisa, 25. Mereka adalah ayah, ibu, dan kakak perempuan Dhio. Kepada penyidik, Dhio mengaku nekat membunuh keluarganya karena merasa sakit hati. Dhio mengaku dibebani tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebab, ayahnya telah pensiun dan memiliki penyakit yang membutuhkan biaya pengobatan tinggi.
Namun, pengakuan Dhio itu dibantah keluarga besar korban. Sebaliknya, mereka menyebut Dhio sebagai anak yang suka berbohong. Dhio juga sering menghambur-hamburkan uang orang tuanya untuk berfoya-foya.
Sementara itu, ditanya soal pemeriksaan kejiwaan tersangka, Sajarod menyebutkan bahwa polisi masih berfokus pada penyidikan terlebih dahulu. Namun, saat diinterogasi penyidik, Dhio bisa menjawab dengan lancar. Dia bahkan mampu menjelaskan kronologi kejadian secara runtut. Karena itu, Sajarod menganggap Dhio memiliki ketahanan jiwa yang bagus.
Terkait dengan motif lain tersangka, polisi masih menggalinya. Begitu juga soal dugaan adanya kabar perebutan warisan. Dia yakin ada motif-motif lain di balik perbuatan keji Dhio. ’’Kalau menurut pengakuan dia, ada rasa sakit hati karena hanya dia sendiri yang diberi beban, sedangkan kakaknya tidak,’’ jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jogja. (aya/rfk/c7/oni)









