
Sungguh elok si buah lada
Buahnya kecil berdampak rasa
Literasi Kepri tetap berjaya
Walau tak dipandang tetapi berasa
PANTUN di atas merupakan fenomena keadaan literasi di Provinsi Kepulauan Riau saat ini. Literasi yang dalam bahasa Inggrisnya literacy berasal dari bahasa Latin, yaitu litera (huruf) sering diartikan sebagai keaksaraan.
Jika dilihat dari makna hurufiah, literasi berarti kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Sering kali orang yang bisa membaca dan menulis disebut literat, sedangkan orang yang tidak bisa membaca dan menulis disebut iliterat atau buta aksara. Kern (2000) menjelaskan bahwa literasi merupakan kemampuan untuk membaca dan menulis.
Literasi mulai digalakkan oleh Pemerintah sejak lama. Namun, pada tahun 2015 Pemerintah melalui Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti menggalakkan Gerakan Literasi Sekolah.
Kemudian, pada tahun 2016 Pemerintah bekerja sama dengan masyarakat dunia mengukur minat baca anak Indonesia melalui tes Programme for International Student Assessment (PISA) yang diikuti oleh 61 negara. Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringat 60 dari 61 negara yang mengikutinya.
Hal ini sungguh memprihatinkan sebab bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk 255.993.674 jiwa (berdasarkan data jumlah penduduk dari CIA Word Factbook bulan Juli 2015) menduduki peringkat empat penduduk terbanyak di dunia, tetapi minat bacanya menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang mengikuti penelitian tersebut.
Dikarenakan minta baca masyarakat Indonesia sangat rendah maka Presiden Republik Indonesia melalui Kemendikbudristek mengadakan Gerakan Literasi Nasional dan menunjuk Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai Kordinator Gerakan Literasi Nasional. Adapun kegiatan yang dilaksanakan terdiri atas Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Masyarakat, Gerakan Literasi Budaya, dan Gerakan Literasi Keluarga.
Arah kebijakan Gerakan Literasi Nasional adalah (1) membangun gerakan literasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat; (2) meningkatkan komitmen, koordinasi, keberlanjutan, dan kemitraan program literasi lintas kementerian/lembaga; (3) memperkuat ekosistem pendidikan melalui budaya literasi; (4) memperluas pelibatan publik untuk menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi; (5) membentuk masyarakat yang dapat menjadi pemelajar sepanjang hayat di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat; (6) mewujudkan masyarakat Indonesia yang toleran, peduli, dan kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional, tidak gampang dihasut, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Literasi itu sendiri tediri atas enam jenis literasi dasar, yaitu (1) literasi baca-tulis, (2) literasi numerasi, (3) literasi sains, (4) literasi digital, (5) literasi finansial, dan (6) literasi budaya dan kewarganegaraan.
Dari keenam jenis literasi ini dapat disimpulkan bahwa pengertian literasi tidak terbatas pada kemampuan atau minat membaca dan menulis saja. Akan tetapi, lebih luas daripada itu, literasi harus dipandang sebagai kemampuan untuk memahami beragam informasi dan menambah wawasan dalam berbagai bidang kehidupan.
Situasi Literasi di Provinsi Kepulauan Riau
Sebagai provinsi yang baru dimekarkan pada tahun 2002, Kepulauan Riau sudah menampakkan eksistensinya yang gemilang di bidang literasi pada kancah nasional. Pada tahun 2019, hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Provinsi Kepulauan Riau mampu menduduki peringkat pertama sebagai minat baca buku.
Hal ini sungguh di luar dugaan karena Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi baru di Indonesia yang rupanya malah melampaui saudara tuanya, seperti Provinsi Riau, DKI Jakarta, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Provinsi Kepulauan Riau adalah salah satu titik yang dilalui oleh jalur perdagangan rempah dunia. Berkaitan dengan hal tersebut, wilayah Kepulauan Riau pun dijuluki sebagai Bumi Segantang Lada.
Tanaman lada merupakan jenis rempah dengan ukurannya sangat kecil, pahit, pedas, dan memengaruhi rasa dalam masakan. Tanaman ini tumbuh dengan subur dan menjadi salah satu komoditas rempah di Kepulauan Riau sehingga lada pun melekat sebagai julukan.
Selain itu, kondisi geografis Kepulauan Riau yang terdiri atas gugusan pulau-pulau kecil, jika dilihat dari atas akan tampak seperti segantang (setakaran) lada yang tumpah dan menyebar di atas lautan.
Jika ditilik ke belakang, masyarakat Kepulauan Riau sejatinya adalah bangsa yang literat. Terbukti pada abad 19—20 telah lahir banyak karya tulis bergenre sastra, sejarah, hukum, perobatan, hingga agama.
Beberapa mahakarya tersebut yang masih banyak dikenal oleh kalangan masyarakat masa kini antara lain Kitab Pengetahuan Bahasa, Gurindam Dua Belas, dan Tuhfat al-Nafis. Hal ini menjadi bukti dan pendukung yang baik bagi Kepulauan Riau untuk meningkatkan keliterasian di kancah nasional.
Masyarakat Provinsi Kepualaun Riau sudah selayaknya menjadi masyarakat yang gemar membaca, seperti keteladanan yang dapat dipetik dari generasi Raja Ali Haji, Bapak Bahasa Indonesia. Bentuk dukungan gerakan literasi tercermin dari bermunculnya beberapa komunitas literasi yang terhimpun dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM). Tentu saja, fungsinya adalah untuk mendukung dan menguatkan upaya peningkatan minat baca masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau.
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah lembaga pendidikan nonformal berbentuk perpustakaan mini di lingkungan masyarakat yang bertujuan untuk membudayakan kegemaran membaca dan menulis di kalangan masyarakat. TBM menyediakan dan memberikan layanan bahan bacaan berupa buku, majalah, surat kabar, ensiklopedia, dan media pembelajaran lain, serta menyediakan tempat untuk membaca dan berkegiatan literasi lainnya.
Saat ini, TBM yang aktif di Provinsi Kepulauan Riau berjumlah 97 yang terdiri atas 1 Forum Taman Bacaan Masyarakat Provinsi Kepulauan Riau yang menaungi 19 TBM di Kota Tanjungpinang, 19 TBM di Kota Batam, 20 TBM di Kabupaten Karimun, 11 TBM di Kabupaten Bintan, dan 25 TBM di Kabupaten Natuna, serta 4 TBM di Kabupaten Kepulauan Anambas.
Bagi saya, minat baca masyarakat Provinsi Kepulauan Riau ibarat segantang lada: ukurannya kecil, tapi berasa. Meskipun demikian, geliat minat baca di masyarakat masih perlu ditingkatkan lagi, karena tingkat literasi masyarakat Indonesia pada keseluruhannya saat ini masih berada di bawah negara-negara lain.
Perlu campur tangan dari berbagai pihak untuk menggalakan literasi. Dimulai dari lingkungan masyarakat dan pemerintah daerah guna bersinergi mendukung program giat literasi dengan cara meningkatkan pembangunan perpustakaan mini di seluruh kabupaten/kota, sekolah, kelurahan, dan kecamatan, serta taman bacaan masyarakat yang ada di lingkungan masyarakat terdekat.
Saya mengimbau juga agar tokoh Bunda Literasi dapat memberikan aksi nyata untuk membangun giat literasi di Provinsi Kepulauan Riau sehingga dapat tercapai tujuan bangsa kita, seperti lirik lagu Ferry Curtis, yaitu bangsa yang maju adalah bangsa pembaca. (*)
Oleh: Teguh Madia Tarigan
Pengkaji Bahasa dan Sastra di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau.
Pegiat literasi dan pemilik TBM Aksara Gurindam, Tanjungpinang.









