
DI balik keterbatasan, Zulfahmi justru memancarkan cahaya ilmu yang menuntun banyak langkah kecil menuju masa depan. Di ruang kelas, ia menunjukkan keterbatasan bukanlah akhir dari mimpi, melainkan awal dari keberanian.
Reporter: Yusnadi
Pagi itu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Tanjungpinang, seorang lelaki berjalan dengan langkah pelan menuju ruang kelas. Geraknya tidak cepat. Namun arah langkahnya selalu pasti.
Kedua matanya memang tidak lagi mampu melihat dunia. Tetapi di balik kelopak yang tertutup itu, tersimpan semangat yang tidak pernah padam. Menularkan ilmu kepada anak-anak istimewa meraih mimpi di masa depan.
Nama lelaki itu Zulfahmi. Seorang guru difabel (tunanetra) yang memilih jalan pengabdian dengan mengajar anak-anak istimewa. Ia menjadikan keterbatasan sebagai kekuatan untuk berbagi ilmu dengan anak-anak yang senasib dengannya.
Meskipun memiliki keterbatasan, laki-laki kelahiran Sumatera Barat, 49 tahun silam ini tetap bersyukur. Menjadi guru merupakan kehormatan tertinggi yang bisa ia persembahkan pada kehidupan dan anak-anak istimewa.
Di tengah dunia yang kerap memandang sebelah mata, Zulfahmi membawa keyakinan bahwa setiap anak dalam keadaan apapun, berhak tumbuh punya cita-cita, bermimpi dan dihargai.
Bagi sebagian orang, keterbatasan adalah batas akhir. Namun bagi Zulfahmi, justru di situlah awal kehidupan yang sebenarnya bermula. Ia sangat memahami bagaimana rasanya hidup sebagai anak yang berbeda.
Pernah diragukan, pernah dipinggirkan, bahkan sempat dianggap tidak mampu hanya karena keterbatasan penglihatan. Namun ia menjadikan pengalaman itu sebagai ruang empati untuk murid-muridnya yang juga tengah berjuang menemukan kepercayaan diri.
Di Tanjungpinang, profesi guru dikenal mulia. Namun tidak banyak yang menyadari betapa terjalnya jalan pengabdian itu. Zulfahmi melaluinya dengan ikhlas, cinta dan sabar.
Di ruang kelas, suara lembut Zulfahmi keluar. Ia mengajarkan murid-muridnya untuk percaya pada diri sendiri, untuk merasa cukup, untuk berani di dunia yang sering tidak ramah.
Dalam hati Zulfahmi, ada getar haru yang mengalir setiap kali ia merasakan perubahan kecil pada anak muridnya. Anak-anak istimewa yang semula hanya menunduk, kini perlahan mulai berani tersenyum bahkan bercita-cita.
Menjadi Guru adalah Panggilan Hati
Zulfahmi mengenang masa kecilnya sebagai perjalanan penuh ujian dan kesabaran. Ia bertekad menempuh pendidikan di sekolah umum, bergabung dengan anak-anak tanpa disabilitas.
Meski sempat ditolak dan dipandang sebelah mata, ia tidak mundur. Dengan bantuan alat perekam, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi.
“Waktu itu, guru dan teman-teman ragu. Tapi seiring guru dan teman itu penyemangat untuk kami terus belajar,” ungkap Zulfahmi.
Waktu pun berlalu cepat, Zulfahmi cukup berprestasi meskipun memiliki keterbatasan. Ia kemudian menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar Sarjana Pendidikan.

Sejak 2008, Zulfahmi mendedikasikan dirinya sebagai guru di SLB Tanjungpinang. Tempat di mana ia menyalurkan ilmunya untuk anak-anak istimewa.
“Menjadi guru bagi anak-anak istimewa di Tanjungpinang ini adalah panggilan hati,” ucapnya.
Tidak hanya mengajar, Zulfahmi juga mahir mengoperasikan komputer dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Ia menjadi teladan nyata bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu membatasi cahaya
Ia berpesan kepada para orang tua yang memiliki anak difabel agar tak pernah lelah memberi perhatian, dorongan, dan pendidikan yang layak. Baginya, pendidikan adalah jembatan menuju kemandirian dan masa depan yang lebih bermartabat.
“Kalau anak difabel tidak mendapatkan pendidikan yang baik, mereka akan sulit mandiri dan mendapatkan pekerjaan layak di masa depan,” ujarnya.
Meskipun matanya tertutup, Zulfahmi telah lebih dahulu melihat masa depan. Ia “melihat” masa depan cerah anak-anak istimewa yang ia dampingi dengan sabar dan kasih sayang.
Kedua mata Zulfahmi, memang tidak bisa melihat. Namun jejak ketulusan dan keikhlasan Zulfahmi dalam mengajar, tetap abadi dalam ingatan murid-muridnya.
Seorang Zulfahmi adalah potret nyata dari guru sejati yang mengajar dengan keikhlasan dan doa. Mengubah keterbatasan menjadi kekuatan menjalani kehidupan.
Kesabaran Zulfahmi membuktikan bahwa seorang yang memiliki keterbatasan fisik apapun juga mampu menjadi guru yang mengajar anak-anak istimewa.
Terakhir namun tidak kalah penting, keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk mengabadikan diri pada dunia pendidikan. Sikap pantang menyerah dan kegigihannya dalam menjalani kehidupan, sangat layak untuk ditiru.
“Kesabaran dan doa adalah hal yang paling penting saat mengajar anak-anak berkebutuhan khusus,” tutupnya. (*)
Artikel Kisah Zulfahmi, Guru Tunanetra yang Menyalakan Mimpi Anak-anak Istimewa pertama kali tampil pada News.










