Jumat, 8 Mei 2026
Beranda blog Halaman 670

Kaleidoskop 2025: Perseteruan Lisa Mariana–Ridwan Kamil Berujung Gugatan Cerai Ibu Cinta

0
Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. (Instaagram: ataliapraraatyaa)

batampos – Sepanjang 2025 berbagai kasus hukum muncul. Tidak sedikit diantaranya menyeret nama-nama besar, bernuansa skandal. Di antara kasus-kasus tersebut, yang tidak kunjung berhenti menarik atensi publik sejak awal adalah perkara Ridwan Kamil dengan Lisa Mariana.

Kasus yang bermula dari unggahan-unggahan Lisa pada akun media sosial itu kini bahkan berkelindan dengan kasus dugaan korupsi. Juga kerap dikait-kaitkan oleh netizen sebagai penyebab perceraian Ridwan Kamil dengan Atalia Praratya.

Meski tudingan Lisa kepada politisi yang akrab dipanggil RK itu sudah terbantahkan dengan hasil tes DNA, namun kasus tersebut tetap jadi sorotan.

Perseteruan antara Lisa dengan RK terjadi sejak Maret 2025. Dimulai dengan unggahan-unggahan mantan model majalah dewasa itu terkait dengan putrinya yang berinisial CA.

Lisa menyatakan bahwa RK adalah ayah kandung CA. Tudingan tersebut langsung direspons oleh mantan gubernur Jawa Barat (Jabar) tersebut dengan bantahan.

Tidak sekedar membantah, pada April 2025, RK resmi membuat laporan di Bareskrim Polri. Laporan tersebut kini sudah naik status dari penyelidikan ke penyidikan. Bahkan, polisi telah menetapkan Lisa sebagai tersangka. Dalam kasus tersebut, Lisa berurusan dengan polisi lantaran disangkakan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Proses hukum terhadap Lisa bukan hanya berlangsung di Bareskrim Polri, Polda Jawa Barat (Jabar) juga memproses hukum Lisa. Namun konstruksi kasus yang ditangani oleh Polda Jabar adalah dugaan tindak pidana asusila.

Lisa telah menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Bahkan Lisa sempat dijemput paksa untuk menjalani pemeriksaan.

Di luar kasus tersebut, Lisa turut diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi yang menyeret petinggi Bank Jabar Banten. KPK menduga ada aliran dana non bujeter yang mengalir sampai ke tangan Lisa.

Dalam kasus yang sama, Lembaga Antirasuah juga sudah memanggil dan memeriksa RK. Sebab, dugaan korupsi itu terjadi saat RK menjabat gubernur Jabar.

Terbaru, Lisa terseret-seret dalam gugatan perceraian yang dilayangkan oleh Atalia Praratya. Setelah menjalani pernikahan selama 29 tahun, Atalia melayangkan gugatan cerai. Meski belum buka suara secara langsung, Atalia mempercayakan proses perceraian tersebut kepada kuasa hukumnya. Sedangkan RK melalui akun media sosialnya sudah menyampaikan permohonan maaf.

”Saya mengakui selama 29 tahun pernikahan, saya banyak melakukan kekhilafan dan dosa kepada istri saya Atalia, sehingga perpisahan ini adalah hak beliau untuk bahagia dalam hidupnya tanpa ada saya di dalamnya. Permohonan maaf untuk Ibu Atalia dan teriring doa terbaik dari saya,” tulis RK.

Bukan cuma Lisa, warganet juga mengait-ngaitkan perceraian RK dan Atalia dengan sosok Aura Kasih. Pada berbagai unggahan di media sosial, tampak berbagai foto dan video yang dinarasikan sebagai momen-momen kebersamaan pria yang pernah menjadi wali kota Bandung itu dengan Aura Kasih. Namun, pihak Aura Kasih telah membantah tudingan warganet. (*)

Artikel Kaleidoskop 2025: Perseteruan Lisa Mariana–Ridwan Kamil Berujung Gugatan Cerai Ibu Cinta pertama kali tampil pada News.

Polresta Barelang Berkomitmen Tekan Kriminalitas Kota Batam

0
Kasatreskrim Polresta Barelang AKP Debby Tri Andrestian. (Laily Rahmawaty/Antara)

batampos – Kapolresta Barelang, Kombes Anggoro Wicaksono berkomitmen akan menekan angka kriminalitas di Kota Batam. Ia mengintruksikan anggotanya untuk menindak tegas seluruh pelaku kejahatan.

“Penekanan Bapak Kapolresta Barelang untuk menindak tegas segala tindakan kriminal yang terjadi di Kota Batam,” ujar Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andrestian, Minggu (28/12).

Debby mengaku penekanan dari Kapolresta ini sudah diatensikan kepada seluruh personel. Untuk itu, para personel diminta cepat menindak lanjuti laporan maupun aduan masyarakat.

Baca Juga: Kemenhaj Batam Kebut Verifikasi Jamaah Gagal Sistem Jelang Pelunasan Haji Tahap II

“Kami dari Reskrim akan menindak lanjuti penekanan dari Kapolresta ini secara serius,” tegasnya.

Selain itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan menjaga kamtibmas jelang pergantian akhir tahun ini. Sebab, para pelaku kejahatan kerap memanfaatkan momen libur panjang untuk beraksi.

“Apalagi dalam rangka Natal dan Tahun Baru ini, saya harapkan masyarakat meningkatkan unsur kehati-hatian,” ungkapnya.

Baca Juga: Cuaca Batam Tak Menentu, Basarnas Ingatkan Warga Tak Lengah saat Wisata di Pantai

Debby turut mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan penemuan atau kecurigaan terkait adanya dugaan kejahatan di sekitar lingkungannya. Sehingga, pihaknya bisa langsung menindak para pelaku kejahatan tersebut.

“Pelaku kejahatan ini kami peringati, agar berpikir dua kali melakukan aksinya,” tutupnya. (*)

Artikel Polresta Barelang Berkomitmen Tekan Kriminalitas Kota Batam pertama kali tampil pada Metropolis.

Industri, Bencana, dan Kerentanan Bahasa

0
Priyo Joko Purnomo

Ramailah orang bukan kepalang
Riuh rendah berderung-derang
Ada yang lari lintang-pukang
Takutkan datang air gelombang

Datang gelombang pula di situ
Ramailah lari bukan suatu
Hilanglah akal di dalam kalbu
Banyaklah mati pulanya itu.

KUTIPAN di atas berasal dari Syair Lampung Karam, naskah syair yang merekam kedahsyatan letusan Gunung Krakatau pada 26 hingga 28 Agustus 1883. Letusan ini bukan hanya menewaskan lebih dari 35.000 jiwa, tetapi juga mengubah rupa geografis Krakatau dan kawasan sekitarnya di ujung selatan Pulau Sumatra.
Dentumannya terdengar hingga ribuan kilometer, gelombang tsunaminya menyapu pesisir, dan debu vulkaniknya memengaruhi iklim dunia.

Lebih dari satu abad kemudian, di ujung utara Pulau Sumatra, bencana yang tak kalah dahsyat kembali terjadi. Tsunami Aceh pada 2004 merenggut sekitar 200.000 nyawa dan meluluh-lantakkan permukiman serta lahan pertanian. Seperti Krakatau, bencana ini juga meninggalkan jejak global, yakni perubahan iklim, pergeseran kebijakan mitigasi bencana, dan trauma kolektif yang panjang.

Baca juga: Kondektur Mengaji, Penjual Teh Membaca, dan Seorang Gadis dalam Tremco

Dua peristiwa ini menunjukkan bahwa Sumatra berada di wilayah dengan risiko kebencanaan tinggi. Suatu fakta geografis yang tak dapat disangkal.

Pulau Sumatra memang dilintasi jalur lipatan dan patahan utama, terutama Sesar Besar Sumatra (Great Sumatran Fault), yaitu sesar geser raksasa yang membentang dari Aceh hingga Lampung.

Jalur ini membentuk pegunungan, patahan aktif, serta aktivitas vulkanik yang intens. Kondisi tersebut menghadirkan kondisi yang menguntungkan sekaligus rawan menjadi ancaman, yaitu di satu sisi potensi bencana selalu mengintai, tapi di sisi lain tanah menjadi sangat subur dan kaya sumber daya alam.

Kekayaan inilah yang sejak lama menarik eksploitasi, dari masa kolonial hingga era industri modern.

Namun, muncul pertanyaan penting: apakah semua bencana di Sumatra murni peristiwa alam? Ataukah sebagian di antaranya merupakan bencana yang dipercepat, bahkan diproduksi, oleh ulah manusia?

Pertanyaan ini relevan ketika menilik banjir besar yang melanda berbagai wilayah Sumatra sejak November hingga penghujung 2025. Banjir terjadi hampir serentak di sejumlah provinsi, utamanya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang menenggelamkan pemukiman, merusak infrastruktur, dan memaksa ribuan warga mengungsi.

Memang, hujan deras turun berhari-hari. Namun, hujan semata tidak otomatis menjelma menjadi bencana. Hutan yang semestinya berfungsi sebagai penyangga air kini banyak beralih fungsi akibat deforestasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, pembukaan lahan dan ekspansi industry, terutama pertambangan dan perkebunan skala besar, terjadi secara masif. Tak heran jika kemudian muncul asumsi publik bahwa industri memegang peran besar dalam banjir Sumatra 2025.

Analisis Tim Jurnalisme Data Kompas menunjukkan bahwa sepanjang 1990–2024, hutan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat hilang rata-rata 36.305 hektare per tahun. Jika dihitung per hari, sekitar 99,46 hektare hutan lenyap setiap hari.

Angka ini memperlihatkan bahwa banjir besar tersebut bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil pertemuan antara faktor alam dan ulah manusia. Kerusakan di kawasan hulu memperparah daya rusak banjir, sekaligus menyingkap rapuhnya benteng alam yang selama ini menjaga keseimbangan ekologi.

Dari titik inilah kita perlu memperluas cara pandang terhadap bencana. Dampak industri tidak berhenti pada kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga merambat ke lingkungan sosial dan budaya.

Ruang tempat pengetahuan, nilai, dan bahasa tumbuh serta diwariskan. Bahasa daerah, sebagai salah satu unsur kebudayaan, kerap luput dari perhatian dalam wacana pembangunan dan mitigasi bencana.

Keberadaan industri, tidak hanya pertambangan, turut berkontribusi terhadap melemahnya posisi bahasa daerah. Industri membuka arus masuk penduduk dari luar wilayah, mengubah lanskap komunikasi setempat.

Baca juga: Pemaknaan Lain Soal Perjalanan dalam Sastra

Bahasa pengantar pun bergeser mengikuti kebutuhan ekonomi dan mobilitas tenaga kerja. Selain itu, pembangunan kawasan industri sering kali memicu relokasi penduduk asli. Mereka tercerai-berai, berpindah ke wilayah pinggiran, atau bahkan meninggalkan kampung halaman. Dalam kondisi seperti ini, bahasa daerah kehilangan ruang hidupnya.

Kepunahan bahasa sering kali disebabkan oleh perubahan sosiologis yang menyertai pembangunan industri. Dampaknya bersifat antropologis, yaitu pola relasi sosial berubah, struktur komunitas terpecah, dan transmisi bahasa antargenerasi terputus.

Bahasa tidak punah secara tiba-tiba, tetapi perlahan terkikis seiring hilangnya penutur dan konteks penggunaannya.

Fenomena ini dapat dilihat di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, khususnya di kawasan Lobam. Dalam beberapa dekade terakhir, industri tumbuh pesat dan menyebar di berbagai titik.

Pendirian kawasan industri di Lobam membawa perubahan besar, tidak hanya pada geografi wilayah, tetapi juga pada struktur sosial dan budaya masyarakat setempat.

Dahulu, kawasan ini dialiri Sungai Mengkilu. Berdasarkan sejarah Desa Teluk Sasah, kampung Mengkilu dihuni mayoritas masyarakat Melayu yang menetap di tepi kuala sungai. Sungai menjadi pusat kehidupan: jalur transportasi, sumber penghidupan, sekaligus ruang interaksi sosial.

Namun, setelah kawasan industri dibangun, jejak komunitas masyarakat ini kian memudar. Banyak penduduk bermigrasi ke pulau lain dan sebagian yang bertahan terdesak ke pinggiran kawasan industri.

Secara historis, Lobam memiliki eksistensi penting sejak masa Kerajaan Bintan. Wilayah ini merupakan jalur perlintasan pelayaran internasional. Mengkilu, yang dalam ingatan kolektif juga dikenal sebagai Bengkilau, pernah menjadi pesanggrahan keluarga istana, tempat peristirahatan dan rekreasi. Jejak itu terekam dalam naskah Sejarah Melayu.

“Pada suatu hari, baginda berkira-kira hendak membawa isteri baginda bermain-main ke Bengkilau Maka baginda menyuruhkan Aria Bupala mengadap bunda baginda, Wan Seri Beni; titah baginda, ‘Katakan sembah hamba kepada bunda, bahwa hamba hendak membawa perempuan bermain-main ke Bengkilau.’ Maka Aria Bupala pun menyembah, lalu masuk mengadap Wan Seri Beni, persembahkan seperti titah Sri Tri Buana itu.”

Kini, Bengkilau atau Mengkilu telah berubah menjadi kawasan industri. Sungai yang dahulu menjadi denyut peradaban masyarakat Melayu Lobam bahkan beralih fungsi menjadi helipad.

Migrasi penduduk asli dan masuknya masyarakat pendatang mengubah pola komunikasi sehari-hari. Bahasa Melayu khas Lobam semakin sulit dilacak, tersisa dalam ingatan dan tuturan orang-orang tua di wilayah pinggiran.

Fenomena yang terjadi di Lobam mencerminkan ancaman serupa di berbagai daerah Sumatra yang kini terdampak industri dan bencana banjir. Perubahan pola permukiman hampir pasti diikuti perubahan pola komunikasi.

Ketika industri dibangun, analisis dampak lingkungan sering kali hanya berhenti pada aspek fisik. Padahal, dampak terhadap kebudayaan, termasuk bahasa daerah, sama pentingnya untuk diperhitungkan.

Bahasa menyimpan pengetahuan lokal tentang alam, cara bertahan hidup, dan relasi manusia dengan lingkungannya. Ketika bahasa hilang, pengetahuan itu ikut lenyap. Oleh karena itu, membicarakan industri dan bencana tanpa menyinggung kerentanan bahasa berarti mengabaikan satu lapisan penting dari dampak pembangunan.

Di tengah derasnya arus industrialisasi, menjaga bahasa daerah bukan sekadar persoalan melanggengkan budaya, tetapi juga bagian dari upaya merawat ingatan kolektif dan keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat. (*)

Oleh:
Priyo Joko Purnomo
Widyabasa di Kantor Bahasa Prov. Kepulauan Riau, kini sedang tugas belajar di Magister Sastra, Universitas Gadjah Mada

Artikel Industri, Bencana, dan Kerentanan Bahasa pertama kali tampil pada News.

Banjir di Balangan Kalsel, 10.949 Jiwa dan 3.511 Rumah Terdampak

0
Rumah warga terdampak banjir bandang di Desa Juuh, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. (Ragil Darmawan/Antara)

batampos – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), melaporkan sebanyak 10.949 jiwa terdampak dan 3.511 unit rumah terendam banjir. Banjir melanda 27 desa tersebar pada tujuh kecamatan di Balangan.

”Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Balangan menetapkan status tanggap darurat penanganan bencana banjir hingga 3 Januari 2026,” kata Bupati Balangan Abdul Hadi seperti dilansir dari Antara.

Dia menyampaikan keprihatinan atas musibah banjir yang melanda sejumlah desa khususnya di Kecamatan Tebing Tinggi dan Kecamatan Halong.

”Saya sangat prihatin atas musibah yang menimpa warga di Kecamatan Tebing Tinggi, Halong, dan lainnya. Semoga masyarakat yang terdampak tetap sabar dan tabah menghadapi cobaan ini,” tutur Abdul Hadi.

Hadi menegaskan proses penanganan pasca banjir dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, masyarakat, serta relawan. Fokus utama saat ini adalah pembersihan lumpur dan sisa material banjir agar rumah warga dan fasilitas umum dapat kembali difungsikan.

Sementara itu, Kapolres Balangan AKBP Yulianor Abdi menyampaikan rasa prihatin atas musibah banjir yang terjadi sejak Sabtu (27/12) pagi di sejumlah desa. Khususnya di Kecamatan Tebing Tinggi.

”Untuk mempercepat pemulihan kondisi wilayah terdampak, saya telah menginstruksikan personel Polres Balangan dan BKO Brimob Yon Tabalong untuk turun langsung membantu pembersihan lumpur dan sisa material pascabanjir bersama Pemkab Balangan, TNI, masyarakat, dan relawan,” ujar Yulianor.

Selain meninjau lokasi banjir, rombongan Forkopimda Balangan juga berdialog dengan warga terdampak serta menyalurkan bantuan berupa bahan makanan dan kebutuhan mendesak. Seperti popok bayi, sabun, lilin, dan kebutuhan lain.

Rombongan juga meninjau Posko Penanganan Bencana yang berada di halaman Kantor Camat Tebing Tinggi. Kemudian dilanjutkan dengan rapat koordinasi di Aula Kecamatan Tebing Tinggi untuk membahas langkah keberlanjutan penanganan dampak pasca banjir.

Selain Kabupaten Balangan, banjir juga melanda beberapa kabupaten lain di Provinsi Kalsel, yang disebabkan curah hujan dengan intensitas tinggi terjadi sejak Jumat (26/12) malam.(*)

Artikel Banjir di Balangan Kalsel, 10.949 Jiwa dan 3.511 Rumah Terdampak pertama kali tampil pada News.

Pencarian Hari Ketiga Empat WNA Spanyol di Perairan Pulau Padar Belum Membuahkan Hasil

0
Ilustrasi – Kapal tenggelam. (ANTARA/Shutterstock/am.)

batampos — Tim SAR Gabungan yang memasuki hari ketiga pencarian terhadap empat warga negara asing (WNA) asal Spanyol di perairan Pulau Padar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Minggu (28/12) pukul 17.00 Wita belum membuahkan hasil.

Keempat korban terdiri atas Martin Carreras Fernando, seorang pelatih sepak bola Klub Valencia B asal Spanyol, bersama tiga anaknya, yakni Martin Garcia Mateo, Martinez Ortuno Maria Lia, dan Martinez Ortuno Enriquejavier.

Meski belum menemukan korban, Tim SAR Gabungan berhasil menemukan sebuah barang pelampung (life jacket) yang diduga milik KM Putri Sakinah.

“Tim SAR Gabungan yang melaksanakan penyisiran sejak pukul 06.30 Wita menemukan life jacket milik KM Putri Sakinah sekitar pukul 09.30 Wita pada koordinat 8°38.423’ LS – 119°37.843’ BT, dengan jarak sekitar 1,61 mil laut dari lokasi kejadian,” ujar Kepala Kantor SAR Maumere selaku SAR Mission Coordinator, Fathur Rahman.

Fathur menjelaskan, pada hari ketiga pencarian, tim melakukan penyisiran di perairan utara Pulau Padar yang kemudian diperluas hingga ke arah selatan. Selain itu, upaya pencarian juga dilakukan melalui snorkeling oleh tim rescuer Pos SAR Manggarai Barat bersama Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM).

“Penyelaman juga dilakukan oleh tim Dive Master P3KOM yang dibagi dalam dua sesi, yakni pada pukul 11.30 Wita dan 14.30 Wita. Namun, hingga saat ini belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban,” kata Fathur.

Menurutnya, proses pencarian menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Arus laut yang cukup kuat dinilai membahayakan keselamatan tim penyelam. Selain itu, hujan deras yang sempat mengguyur perairan Pulau Padar turut mengurangi jarak pandang.

“Dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, pencarian terhadap keempat korban akan dilanjutkan pada Senin (29/12) atau hari keempat operasi SAR,” ujar Fathur.

Dalam operasi pencarian hari ketiga, Tim SAR Gabungan mengerahkan sejumlah alutsista, di antaranya RIB 500 PK Pos SAR Manggarai Barat, kapal patroli cepat Polairud Polda NTT, RIB 600 PK Polairud, Kapal Negara KN Gahawisri (KPLP), RBB 500 PK Lanal Labuan Bajo, RIB 230 PK KSOP Labuan Bajo, serta peralatan SAR air, medis, dan evakuasi.

Adapun unsur Tim SAR Gabungan yang terlibat berasal dari Pos SAR Manggarai Barat, KSOP Manggarai Barat, Satpolair Polres Manggarai Barat, Direktorat Polairud Mabes Polri, Direktorat Polairud Polda NTT, TNI Angkatan Laut, kru kapal KN Gratin, tim Dive Master, KPLP, Balai Taman Nasional Komodo, P3KOM, Dokes Polres Manggarai Barat, Pelni Labuan Bajo, serta Kodim 1830 Manggarai Barat. (*)

Artikel Pencarian Hari Ketiga Empat WNA Spanyol di Perairan Pulau Padar Belum Membuahkan Hasil pertama kali tampil pada News.

Inter Milan Tutup 2025 di Puncak Klasemen Usai Tekuk Atalanta 1-0

0
Pemain Inter Milan pimpin klasemen sementara liga Italia. (@inter)

batampos — Inter Milan menutup tahun 2025 dengan status pemuncak klasemen sementara Liga Italia Serie A 2025/26 setelah meraih kemenangan 1-0 atas Atalanta pada laga pekan ke-17 di Gewiss Stadium, Bergamo, Senin (29/12) dini hari WIB.

Kemenangan Nerazzurri ditentukan oleh gol tunggal kapten tim, Lautaro Martinez, pada babak kedua. Hasil tersebut mengantarkan Inter kembali merebut posisi puncak klasemen yang sempat ditempati rival sekota, AC Milan, beberapa jam sebelumnya.

Tambahan tiga poin membuat Inter mengoleksi 36 poin dari 17 pertandingan, unggul satu poin atas AC Milan di peringkat kedua. Sementara itu, Atalanta harus tertahan di posisi ke-10 dengan raihan 22 poin, sebagaimana dilansir laman resmi Serie A.

Sejak awal laga, Inter tampil dominan dan langsung mengambil inisiatif serangan. Peluang pertama didapat pada menit kesembilan melalui Manuel Akanji, namun belum membuahkan hasil.

Penjaga gawang Atalanta, Marco Carnesecchi, tampil impresif sepanjang babak pertama dengan melakukan sejumlah penyelamatan krusial, termasuk menggagalkan peluang Marcus Thuram pada menit ke-23 dan tendangan keras Lautaro Martinez empat menit berselang.

Inter sempat mencetak gol pada menit ke-35 lewat Thuram, namun dianulir setelah tinjauan VAR menyatakan sang penyerang berada dalam posisi offside. Babak pertama pun berakhir dengan skor kacamata.

Memasuki babak kedua, Atalanta melakukan sejumlah pergantian pemain untuk mengubah ritme permainan. Namun, Inter tetap tampil dominan dan mengontrol jalannya laga.

Gol penentu kemenangan akhirnya tercipta pada menit ke-65. Francesco Pio Esposito yang baru masuk sebagai pemain pengganti memberikan umpan matang kepada Lautaro Martinez, yang dengan tenang menaklukkan Carnesecchi untuk membawa Inter unggul 1-0.

Atalanta berupaya bangkit pada sisa waktu pertandingan, tetapi solidnya lini pertahanan Inter membuat tuan rumah gagal mencetak gol balasan. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 1-0 tetap bertahan untuk kemenangan Inter Milan.

Susunan Pemain:

Atalanta (4-4-2):
Marco Carnesecchi; Berat Djimsiti, Isak Hien, Sead Kolasinac (Lazar Samardzic 75’), Davide Zappacosta (Yunus Musah 45’); Ederson, Marten de Roon, Nicola Zalewski (Lorenzo Bernasconi 65’), Charles De Ketelaere; Mario Pasalic (Ibrahim Sulemana 58’), Gianluca Scamacca.

Inter Milan (3-5-2):
Yann Sommer; Yann Aurel Bisseck, Manuel Akanji, Alessandro Bastoni; Luis Henrique, Nicolo Barella (Henrikh Mkhitaryan 76’), Hakan Calhanoglu, Piotr Zielinski (Davide Frattesi 83’), Federico Dimarco (Carlos Augusto 76’); Lautaro Martinez (Andy Diouf 84’), Marcus Thuram (Francesco Pio Esposito 64’). (*)

Artikel Inter Milan Tutup 2025 di Puncak Klasemen Usai Tekuk Atalanta 1-0 pertama kali tampil pada Olahraga.

DPRD Kepri Nilai SDM BP Batam Belum Siap Jalankan Pelimpahan Perizinan

0
Ilustrasi: Nelayan Tanjunguma bersiap-siap pergi melaut, Selasa (24/11). Banyak nelayan belum mengantongi izin karena lambannya proses pelayanan perizinan.  Foto. Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos – Anggota DPRD Provinsi Kepri, Wahyu Wahyudin, menilai SDM di BP Batam belum siap dan belum memadai untuk menjalankan pelimpahan kewenangan perizinan sebagaimana diatur dalam PP No 28 dan 47 Tahun 2025, khususnya untuk sektor nelayan.

Menurut Wahyu, ketidaksiapan SDM tersebut berdampak langsung pada lambannya proses perizinan nelayan, yang berpotensi menghambat aktivitas melaut dan mengganggu sektor perikanan di Batam dan Kepulauan Riau.

“Untuk sektor lain mungkin bisa berjalan. Tapi untuk nelayan, BP Batam belum siap. SDM-nya belum memadai. Harusnya implementasi kebijakan ini dikecualikan dulu untuk nelayan,” katanya, Minggu (28/12).

Pelimpahan perizinan seharusnya dilakukan setelah ada kajian komprehensif dan kesiapan teknis di lembaga pelaksana. Namun, hal tersebut dinilai belum terlihat dalam penerapan PP tersebut di BP Batam.

Baca Juga: Kemenhaj Batam Kebut Verifikasi Jamaah Gagal Sistem Jelang Pelunasan Haji Tahap II

“Ketika PP itu diajukan, seharusnya kajiannya sudah lengkap dan disiapkan terlebih dahulu, termasuk kesiapan SDM. Faktanya, kajian PP 25, 28, dan 47 tidak turun ke nelayan,” ujar dia.

Akibat belum siapnya SDM BP Batam, hingga akhir tahun ini banyak nelayan belum mengantongi izin. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada penyerapan kuota BBM subsidi nelayan.

“Kalau sampai Desember izin nelayan tidak keluar, maka kuota BBM tidak terserap. Saya sudah berdiskusi dengan Pertamina, dari sekitar 143 kapal nelayan kebutuhannya mencapai kurang lebih 500 ton BBM,” katanya.

Ia mempertanyakan keberlanjutan kuota BBM nelayan pada tahun 2026 apabila kuota tahun ini tidak terserap akibat kendala administrasi dan perizinan.

Baca Juga: Diskon Tiket Kapal Pelni Masih Tersisa 32 Persen, Batam Rute Favorit

Selain itu, Wahyu juga mengingatkan potensi gangguan terhadap pasokan ikan jika nelayan tidak bisa melaut secara optimal. Ia menyebut, rata-rata satu kapal nelayan menghasilkan 4 hingga 10 ton ikan per bulan.

“Kalau dikalikan 143 kapal, produksi bisa mencapai sekitar 1.430 ton per bulan. Kalau perizinan tersendat karena SDM belum siap, ini bisa berdampak pada ketersediaan ikan,” ujarnya.

Kondisi tersebut perlu segera dievaluasi agar pelimpahan perizinan tidak justru mematikan sektor nelayan. Ia mendesak pemerintah dan BP Batam untuk memperbaiki kesiapan SDM sebelum memaksakan implementasi kebijakan secara menyeluruh. (*)

Artikel DPRD Kepri Nilai SDM BP Batam Belum Siap Jalankan Pelimpahan Perizinan pertama kali tampil pada Metropolis.

Pemerintah Siapkan 15.000 Hunian Sementara di Aceh, Sumbar, dan Sumut

0
Ilustrai. Hunian sementara untuk korban bencana.

batampos — Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI) Danantara Indonesia menyiapkan sebanyak 15.000 hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, pembangunan seluruh huntara tersebut ditargetkan rampung dalam waktu tiga bulan ke depan. Sebanyak 500 unit di antaranya ditargetkan selesai pada pekan ini.

“Danantara sudah memulai pembangunan 15.000 rumah dari BUMN. Sebanyak 500 unit pertama akan selesai dalam minggu ini,” ujar Teddy melalui akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet, dikutip Minggu (28/12).

Teddy memastikan, huntara yang dibangun akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, antara lain sanitasi air bersih, rumah ibadah, listrik, jaringan WiFi, serta fasilitas ramah anak.

“Total 15.000 unit ditargetkan selesai dalam tiga bulan ke depan,” lanjutnya.

Selain Danantara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah memulai pembangunan 4.500 unit hunian sementara yang tersebar di tiga provinsi terdampak bencana tersebut.

Teddy menambahkan, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) juga telah memulai pembangunan hunian tetap di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Sebanyak 2.500 unit tahap pertama telah dibangun pada pekan lalu di atas lahan milik pemerintah atau badan usaha milik negara (BUMN).

“Sementara itu, 2.500 unit tahap kedua akan mulai dibangun pada awal pekan depan,” jelasnya.

Menurut Teddy, pembangunan hunian sementara dan hunian tetap tersebut dilakukan dengan memperhatikan sejumlah kriteria, di antaranya tidak berada di lokasi rawan bencana, dekat dengan permukiman asal warga, memiliki akses ke jalan utama, fasilitas umum, serta lokasi pekerjaan masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendukung penyediaan lokasi dan proses relokasi penghuni.

“Pemerintah daerah diharapkan berperan aktif dalam penyediaan lokasi serta mendukung perpindahan penghuni ke hunian sementara maupun hunian tetap,” pungkas Teddy. (*)

Artikel Pemerintah Siapkan 15.000 Hunian Sementara di Aceh, Sumbar, dan Sumut pertama kali tampil pada News.

6 Shio Paling Beruntung pada 29 Desember 2025, Energi Positif Menguat

0
Ilustrasi. F. Freepik.

batampos – Ramalan shio 29 Desember 2025 membawa angin segar bagi enam shio yang diprediksi mengalami penguatan energi keberuntungan. Hari Senin ini dipengaruhi Hari Sukses Monyet Air, yang mempertajam insting dan kejelian dalam melihat peluang, terutama di bidang keuangan, karier, dan relasi.

Energi hari ini mendorong keberanian untuk melangkah masuk ke peluang yang selama ini hanya dipertimbangkan. Kombinasi Tahun Ular Kayu dan Bulan Tikus Tanah menjadi strategi kunci dalam mengambil keputusan yang tepat. Menjelang akhir Desember, ada sinyal perubahan positif yang mulai terasa.

Berikut enam shio yang energi keberuntungannya menguat pada Senin, 29 Desember 2025:

1. Shio Monyet

Semesta seakan berbicara langsung melalui energi yang kamu rasakan. Motivasi lama yang sempat menghilang kini kembali hadir dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Ini saat yang tepat memanfaatkan ide spontan.

2. Shio Macan

Hari ini terasa seperti momen menyusul diri sendiri. Kamu menyadari telah melampaui rasa takut yang sebelumnya tidak disadari. Keberanian ini membuka jalan baru menuju keberhasilan pribadi.

3. Shio Babi

Keberuntungan bergerak melalui komunitas, kerja sama, dan kolaborasi. Bantuan yang datang dari orang lain membawa dampak besar. Jangan ragu menerima uluran tangan atau ajakan bekerja sama.

4. Shio Ular

Kekuatan hadir tanpa perlu pembuktian berlebihan. Sikap tenang dan serius justru menjadi magnet keberuntungan. Waktu yang tepat untuk mengikuti intuisi, khususnya dalam keputusan finansial dan karier.

5. Shio Kuda

Kemakmuran hadir lewat keberuntungan kecil yang tersembunyi. Hal-hal biasa justru membawa manfaat besar. Kejelian melihat detail menjadi kunci utama hari ini.

6. Shio Tikus

Kamu menemukan peluang dengan menyederhanakan sesuatu yang rumit. Langkah praktis dan realistis membawa hasil lebih cepat dibanding sekadar menunggu motivasi datang.

Ramalan shio 29 Desember 2025 menegaskan bahwa keberuntungan tidak datang dari menunggu, melainkan dari kejelian membaca peluang dan keberanian mengambil langkah tepat. (*)

Artikel 6 Shio Paling Beruntung pada 29 Desember 2025, Energi Positif Menguat pertama kali tampil pada Lifestyle.

Cuaca Batam Tak Menentu, Basarnas Ingatkan Warga Tak Lengah saat Wisata di Pantai

0
Pantai Tanjungpinggir, Sekupang dipadati pengunjung. Foto. Rengga Yuliandra/Batam Pos

batampos – Hujan yang masih kerap mengguyur Kota Batam menjadi peringatan serius bagi masyarakat yang berencana berwisata ke pantai. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Batam mengingatkan, kondisi cuaca saat ini membuat kawasan pesisir dan perairan lebih berisiko, sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan.

Kepala Pos Basarnas Batam, Dedius, menyebut perubahan kondisi di pantai dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama saat air laut pasang. Arus yang mendadak menguat disertai gelombang tinggi berpotensi menyeret wisatawan, khususnya yang beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai.

“Cuaca sekarang tidak bisa diprediksi dengan mudah. Dalam waktu singkat kondisi bisa berubah. Kami minta masyarakat tidak lengah dan tidak memaksakan diri beraktivitas di pantai saat cuaca hujan atau angin kencang,” ujar Dedius, Minggu (28/12).

Baca Juga: Diskon Tiket Kapal Pelni Masih Tersisa 32 Persen, Batam Rute Favorit

Ia menekankan, wisata pantai seharusnya mengutamakan keselamatan, bukan sekadar rekreasi. Rambu-rambu peringatan yang terpasang di sejumlah titik pantai bukan formalitas, melainkan penanda area rawan yang tidak boleh diabaikan.

“Kalau sudah ada tanda larangan, jangan dilanggar. Area itu dipasang karena pernah atau berpotensi terjadi kejadian berbahaya,” tegasnya.

Basarnas Batam juga mengingatkan wisatawan untuk tidak berenang terlalu jauh dari bibir pantai serta selalu mengawasi anak-anak saat bermain di tepi laut. Penggunaan pelampung tambahan, terutama bagi anak-anak, dinilai penting untuk meminimalkan risiko.

Baca Juga: Ditpolairud Polda Kepri Dirikan Posko BANSAR di Pantai Padat Pengunjung

Imbauan kewaspadaan ini sejalan dengan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi cuaca ekstrem di wilayah Kepulauan Riau. BMKG memprakirakan hujan lebat disertai angin kencang dan gelombang tinggi masih berpeluang terjadi di sejumlah perairan.

Basarnas Batam berharap masyarakat lebih bijak dalam merencanakan wisata pantai di tengah kondisi cuaca saat ini. Menunda perjalanan atau memilih waktu yang lebih aman dinilai jauh lebih baik dibanding harus menghadapi risiko kecelakaan laut. (*)

Artikel Cuaca Batam Tak Menentu, Basarnas Ingatkan Warga Tak Lengah saat Wisata di Pantai pertama kali tampil pada Metropolis.