
Pesta demokrasi pemilihan Kepala Desa di sejumlah daerah mulai digelar tahun ini, termasuk di Pargarutan Dolok, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) , Sumatera Utara.
Laporan: Dalil Harahap/Batam Pos
Menjelang pesta demokrasi pada 14 Desember 2022 nanti, para calon kepala desa di desa tersebut sudah mengatur strategi bersama tim sukses masing-masing. Para calon dan timses sudah berkampanye secara terbuka dan tertutup.
Bahkan timses para calon sudah tidak bertegur sapa dan perang dingin sesama satu kampung. Selain itu yang disayangkan masih keluarga. Tapi di kampung-kampung itu sudah lumrah dan rahasia umum.
Timses dan keluarga di masing-masing pendukung sudah berkemlompok-kelompok. Asal kumpul sudah saling bertanya siapa kamu dukung. Dan janji-janji manis timses atau calon kades sudah ditebar ke masyarakat. Setiap kampung atau dusun pembahasan adalah peserta demokrasi Pilkades.
Desa Pargarutan Dolok ini ada 5 dusun, diantaranya dusun Huta Baru, dusun Pagaranri, dusun Tapus, dusun Kantin dan dusun Sitorbis.
Calon kades ada 4 orang, diantaranya Bonatua Harahap dari dusun Huta Baru yang sudah 2 kali mencalonkan, Henri Harahap dari dusun Kantin adalah incumbent (petahana),Joniaspan Siregar dari dusun Pagaranri pendatang baru dan Salman Harahap dari dusun Kantin pendatang baru.
Desa Pargarutan Dolok ini memiliki 910 daftar pemilih tetap (DPT) dari 5 dusun. Di dusun Huta Baru 85 DPT, Pagaranri 150 DPT, Tapus 120 DPT, Kantin 200 DPT dan Sitorbis 75 DPT.
Salah satu calon kades, Bonatua Harahap dari dusun Hutabaru memiliki visi misi akan menyatukan masyarakat yang berselisih paham antar tetangga dan keluarga. Dan setelah itu membangun desa untuk kemajuan desa dan memperbaiki balai persatuan Harahap Simatoktong.
Ali Guntur Harahap, asli putra daerah Huta Baru yang merantau di Bekasi berharap dengan pemilihan kepala desa yang baru nanti bisa mensejahterakan warganya, memajukan kampung lebih baik, menyatukan masyarakatnya. “Dan satu yang saya harapkan lagi dusun Huta Baru kompak lah mendukung calon yang ada di kampungnya. Supaya kampung kita bisa diutamakan pembangunannya,” ungkapnya.
Tahapan pesta demokrasi Pargarutan Dolok baru penetapan DPT di kantor balai desa, Rabu ( 19/10). Para calon, timses dan tokoh masyarakat hadir untuk penetapan DPT nya.
Penetapan DPT tersebut dipimpin langsung Ketua PPKD, Amin Siregar.
Calon, timses dan toko masyarakat saling tanya jawab untuk kemajuan demokrasi di 14 Desember nanti.
Jamin, salah satu tokoh masyarakat mengatakan berharap tidak ada politik uang. Apa bila ada kedapatan politik uang akan dianggap calon gugur.
Jahidin Harahap, berharap dengan terpilihnya kepala desa yang baru bisa mengembangkan perekonomian masyarakat Desa, membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat Desa, memberdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan, mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup.
Sementara itu, Jahri, tokoh masyakat sekitar mengatakan, konflik kepentingan dalam ajang pemilihan Kepala Desa memang tidak terhindarkan. Dalam prakteknya, baik pra pemilihan ataupun pasca pemilihan terdapat beberapa faktor yang dapat menjurus dan berakhir pada konflik sosial. Konflik yang terjadi baik antar individu atau antar kelompok dapat memicu perpecahan antar masyarakat, sebutnya.
“Permasalahan umum yang terjadi dalam konflik sosial di desa adalah masalah dari perilaku tim sukses calon kepala desa tidak terpilih yang mengklaim bahwa calon kepala desa pilihannya yang paling potensial sehingga memicu terjadinya konflik,” tukasnya.
Bahkan para calon kades baik petahana atau calon baru, harus punya beberapa hal antara lain, mental yang mendidik, tenang dan tidak baperan dan juga dia harus siap menang dan siap kalah. “Calon kades juga harus saling menjaga keamanan dan kondusifitas di tengah-tengah masyarakat,” harapnya.
Calon kades harus bisa mengayomi para tim sukses (timses) dan pendukungnya agar tidak melakukan tindakan yang merugikan semua pihak dan masyarakat khususnya menjaga soliditas agar tidak ada perpecahan ‘berlebihan’ pasca Pilkades.
Siapapun yang terpilih, itulah yang terbaik, setelah itu sang kades terpilih harus mampu bekerja dan menerapkan kepemimpinan komunikasi yang menyatukan rakyat desanya, bukan sebaliknya berkuping tipis dan bagaikan raja yang selamanya duduk di singasana, menerapkan komunikasi informasi yang cenderung memperparah keadaaan perpecahan sosial masyarakat desa.
“Akhirnya, semua akan berpulang kepada masyarakat desa sendiri, apakah akan mengorbankan masa depan desanya hanya dengan iming-iming amplop yang lebih tebal, atau akan berpikiran maju. Memilih pemimpin yang dapat mengemban amanah rakyat,” tutupnya. (*)









