
batampos – Pertengahan bulan depan Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Sebagai bagian dari persiapan agenda besar tersebut, Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa menyampaikan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan diri dan menyusun rencana pengamanan event berskala internasional itu. Tidak kurang 18.030 personel dari TNI, Polri, dan instansi lainnya akan bekerja untuk memastikan keamanan para tamu negara.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Andika kepada awak media di Jakarta kemarin (20/10). Selain belasan ribu personel, TNI juga mengerahkan alat utama sistem persenjataan dari tiga matra TNI. ”Jauh-jauh hari sudah kami siapkan paket (pengamanan) untuk 42 kepala negara atau setingkat kepala negara,” kata Andika. Persiapan itu dilakukan untuk mengantisipasi kedatangan kepala negara dari luar negara G20.
Pasukan darat yang bertugas mengamankan KTT G20 turut diperkuat dengan kendaraan berlapis baja seperti Anoa. Andika menyampaikan bahwa kendaraan itu bakal ditempatkan di beberapa titik. Khususnya di venue utama. ”Intinya kendaraan berlapis baja itu untuk evakuasi sementara apabila ada kondisi yang bersifat emergency dan mengancam jiwa kepada head of state,” jelas mantan panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu.
Di laut, sejauh ini belum ada perubahan rencana. TNI AL tetap akan mengerahkan 12 kapal perang mereka. Andika menyebutkan bahwa seluruh KRI akan beroperasi di sekeliling Pulau Dewata. ”Untuk pengamanan termasuk pendampingan terhadap kapal-kapal militer negara partisipan yang mungkin akan mengirimkan (pengamanan laut),” beber dia. Tidak sampai di situ, TNI juga menyiapkan pesawat tempur, helikopter, dan pesawat intai.
Andika mengungkapkan bahwa pesawat tempur yang dikerahkan sebanyak empat unit. Terdiri atas dua pesawat tempur F-16, satu Sukhoi SU-27, dan satu Sukhoi SU-30. Untuk helikopter, total ada 13 unit yang sudah disiapkan oleh TNI. Terdiri atas enam helikopter TNI AU, lima helikopter TNI AL, serta dua helikopter TNI AD. Selain pesawat tempur, TNI juga menyiapkan dua unit Hercules. Satu untuk evakuasi medis dan satu lainnya untuk angkut penumpang.
Persiapan lainnya, masih kata Andika, TNI menyiagakan satu unit pesawat angkut Boeing untuk VIP serta dua unit Boeing yang akan difungsikan sebagai pesawat intai atau Intelligence Surveillance and Reconnaissance (ISR). ”Jadi, secara umum itu yang kami gelar. Pangkalan udara yang kami siapkan tenaganya total ada 19 pangkalan udara,” jelasnya. Mulai pangkalan udara di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, sampai Kalimantan.
Sebagai orang nomor satu di institusi militer Tanah Air, Andika pun siap berkolaborasi dengan tim pengamanan dari masing-masing kepala negara yang datang ke Indonesia. Dia juga sudah beberapa kali datang ke Bali untuk melihat langsung persiapan yang akan dilakukan. Termasuk melakukan tactical floor game atau TFG untuk simulasi pelaksanaan tugas di lapangan. Terakhir TFG berlangsung 30 September lalu.
Perwira tinggi TNI AD yang besar di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu menyampaikan bahwa, TFG dilakukan hanya untuk memastikan kesiapan personel dalam kondisi darurat. Misalnya bila terjadi bencana alam. ”Nanti (TFG) yang kedua sebetulnya keinginan kami akhir Oktober. Tetapi, dari Menko Marves sebagai koordinator menghendaki tanggal 9 (November),” ungkap Andika. Dia memastikan, timnya siap untuk melaksanakan TFG menjelang pelaksanaan KTT G20 itu.
Kepada awak media, Andika pun menegaskan bahwa concern-nya dalam KTT G20 nanti adalah pengamanan VVIP. Tentu ada beberapa ring pengamanan yang sudah dibuat. Dia memastikan bahwa Polri turut serta dalam setiap level pengamanan itu. Lebih lanjut, dia menyampaikan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan intelijen dari berbagai negara partisipan untuk menyerap informasi sebanyak mungkin. Sehingga mereka bisa mengambil langkah antisipatif.
Yang tidak kalah penting, koordinasi dilakukan oleh TNI dengan secret service dari Amerika Serikat (AS) dan tim pengamanan pimpinan Tiongkok. ”Dan sejauh ini kami berusaha untuk mengakomodasi. Intinya kami ingin para kepala negara itu merasa aman dan merasa nyaman,” imbuhnya. ”Jadi, bagi saya biarkan kepala negara itu datang karena merasa benar-benar secure,” tambah pria yang pernah bertugas sebagai komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tersebut. (*)
Reporter: JP Group








