Jumat, 3 April 2026
Beranda blog Halaman 689

Sahtiar Ingatkan PPK: Pengadaan Sudah Terbuka, Jangan Coba-Coba ‘Main Mata’

0
Sekda Anambas, Sahtiar saat memberikan arahan kepada PPK dalam pelatihan dan inovasi pengadaan Barjas melalui aplikasi digital, Jumat, (14/11). F. Tomi untuk Batam Pos.

batampos – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kepulauan Anambas, Sahtir, mengingatkan seluruh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) agar bekerja profesional dan tidak “bermain mata” dalam proses pengadaan barang dan jasa. Pesan tegas itu ia sampaikan untuk memastikan seluruh kegiatan pemerintah berjalan sesuai aturan.

Sahtir mengatakan sistem pengadaan saat ini sudah jauh lebih transparan dibandingkan beberapa tahun lalu. Proses lelang maupun pengadaan melalui e-catalog kini dilakukan secara digital lewat aplikasi Inaproc, sehingga celah kecurangan semakin sempit.

“Keterbukaan ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah. Masyarakat sekarang menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam setiap penggunaan anggaran,” kata Sahtir saat membuka pelatihan inovasi pengadaan Barjas berbasis aplikasi digital, Jumat (14/11).

Ia menegaskan PPK memiliki peran strategis dalam menentukan kelancaran proyek pemerintah. Karena itu, setiap keputusan harus berlandaskan aturan, bukan kepentingan pribadi atau pihak tertentu.

“Kalau prosesnya sudah terbuka, jangan sampai ada oknum yang mencoba memanfaatkan situasi. Bekerjalah sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Sahtir menambahkan pemerintah pusat dan daerah terus meningkatkan sistem pengawasan pengadaan. Setiap transaksi, dokumen hingga pelaksanaan pekerjaan kini dapat dipantau secara real time. Dengan pengawasan ketat, ia berharap tidak ada lagi praktik curang seperti pengaturan pemenang tender atau permainan harga yang dapat merugikan daerah dan menurunkan kualitas pembangunan.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap penyimpangan dalam proses pengadaan berpotensi berujung pada konsekuensi hukum, mulai dari pemeriksaan inspektorat hingga penindakan aparat penegak hukum.

Selain integritas, Sahtir meminta PPK memperhatikan kualitas barang dan jasa yang dibeli. Ia tak ingin pengadaan hanya mengejar harga termurah atau tergiur tawaran penyedia.

“Yang kita kejar bukan hanya pelaksanaan proyek, tapi kualitas hasilnya. Masyarakat harus merasakan manfaat dari setiap anggaran yang digunakan,” ujarnya.

Ia meminta setiap OPD lebih teliti dalam menyusun perencanaan pengadaan. Menurutnya, banyak persoalan yang muncul bukan karena pelanggaran, tetapi karena perencanaan yang kurang detail. Koordinasi sejak awal disebut sangat penting untuk mencegah kendala di lapangan.

Sahtir juga mendorong para PPK terus meningkatkan kompetensi terkait regulasi dan mekanisme terbaru dalam sistem pengadaan nasional. Aturan yang terus berubah membuat aparatur harus adaptif.

“Jangan ragu bertanya dan belajar. Aturannya selalu berkembang, kita harus ikut menyesuaikan,” katanya.

Menutup arahannya, Sahtir kembali menegaskan bahwa integritas adalah modal utama dalam menjalankan tugas. Ia menyebut pemerintah daerah hanya bisa maju jika seluruh aparatur bekerja jujur.

“Tunjukkan bahwa kita bekerja untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pribadi. Itu yang paling penting,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ihsan Imaduddin 

Artikel Sahtiar Ingatkan PPK: Pengadaan Sudah Terbuka, Jangan Coba-Coba ‘Main Mata’ pertama kali tampil pada Kepri.

Kepala BP Batam Tekankan Jaga Integritas kepada Tim Verifikator Perizinan

0

batampos – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad melaksanakan tatap muka bersama Tim Verifikator Perizinan di Marketing Centre, Kamis (13/11/2025) sore.

Amsakar Achmad hadir didampingi Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra dan jajaran Deputi.

Amsakar Achmad selaku pimpinan tertinggi dalam kesempatan tersebut memberikan arahan dan motivasi kepada tim untuk tetap menjaga integritas.

Menurutnya, Tim ini menjadi garda terdepan sejak terbitnya PP 25 dan PP 28 Tahun 2025 yang memberikan kewenangan BP Batam untuk menerbitkan perizinan meliputi PKKPRL, PPKH, Perizinan Lingkungan; Perizinan Berusaha; dan PB UMKU di wilayah KPBPB Batam.

Oleh karena itu, Ia menekankan dan meminta agar tim perizinan bekerja sesuai norma, standar, prosedur dan kriteria dalam memberikan pelayanan yang optimal.

“Saya ingin membangun spirit kolektivitas kita semua supaya bergerak tegak lurus dalam konteks melakukan yang terbaik bagi Batam karena saat ini kewenangan yang diberikan begitu luar biasa,” ujar Amsakar.

Ia pun berharap dengan BP Batam menjadi otoritas satu pintu bagi seluruh persetujuan investasi di KPBPB Batam atas kebijakan tersebut, dapat mendorong akselerasi pertumbuhan investasi dan ekonomi di Kawasan strategis Batam serta mampu berkontribusi terhadap target ekonomi Indonesia 8 persen.

“Kami ingin pelayanan perizinan berjalan baik dan cepat sesuai dengan simplifikasi yang telah disusun,” harap Amsakar

Artikel Kepala BP Batam Tekankan Jaga Integritas kepada Tim Verifikator Perizinan pertama kali tampil pada Metropolis.

3.000 Bibit Lamun Ditanam di Dompak, Upaya Pulihkan Ekosistem Laut Kepri

0
Volunteer asal Belanda saat ikut menanam bibit lamun di pesisir Pantai Tanjung Siambang Tanjungpinang, Jumat (14/11). F. Mohamad Ismail/Batam Pos.

batampos – Sebanyak 3.000 bibit lamun ditanam di perairan dangkal Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Penanaman ini dilakukan untuk memulihkan ekosistem laut yang mulai rusak di kawasan tersebut.

Bibit lamun tersebut ditanam oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) di perairan dekat Pelabuhan Dompak, Jumat (14/11).

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Pelni, Anik Hidayati, mengatakan pihaknya bersama Carbon Ethic telah melakukan pemetaan terhadap wilayah yang mengalami kerusakan ekosistem laut, termasuk Pulau Dompak.

“Beberapa pulau di Indonesia mengalami kerusakan ekosistem. Dompak menjadi lokasi yang memungkinkan untuk pemulihan lewat penanaman lamun,” ujar Anik.

Ia menjelaskan bahwa penanaman lamun menjadi langkah strategis Pelni untuk mengurangi emisi karbon di lingkungan laut, mengingat kawasan perairan adalah area utama operasional kapal.

“Lamun atau seagrass memiliki kemampuan menyerap CO₂ hingga 35 kali lebih besar dibanding tanaman hutan,” jelasnya.

Selain itu, waktu pertumbuhan lamun yang relatif cepat—hanya membutuhkan satu hingga dua tahun untuk tumbuh dewasa—menjadi alasan tambahan. Sebaliknya, tanaman di hutan membutuhkan puluhan tahun untuk mencapai usia yang sama.

Anik menambahkan bahwa ekosistem lamun juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. Lamun menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut, termasuk ikan dan organisme yang menjadi sumber penghasilan nelayan.

“Ke depan Pelni akan bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk memetakan wilayah lain yang cocok untuk konservasi lamun,” pungkasnya. (*)

Reporter: M. Ismail 

Artikel 3.000 Bibit Lamun Ditanam di Dompak, Upaya Pulihkan Ekosistem Laut Kepri pertama kali tampil pada Kepri.

Percikan Api dari Meteran Nyaris Bakar Ruko Sung Baking House di Tanjunguban

0
Petugas PLN memutus aliran listrik setelah kejadian kebakaran kabel di ruko Sung Baking House di Jalan Permaisuri, Tanjunguban pada Jumat (14/11). F. UPT Damkar Tanjunguban untuk Batam Pos.

batampos – Percikan api nyaris membakar ruko Sung Baking House di Jalan Permaisuri, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, Jumat (14/11) pagi. Kejadian itu sempat membuat panik warga sekitar setelah video kobaran api pada kabel dekat meteran listrik tersebar di media sosial.

Dalam video tersebut terlihat percikan api disertai suara letupan di area meteran listrik ruko yang menjual bahan-bahan kue itu. Beruntung, api dapat dikendalikan dengan cepat oleh petugas dan pekerja toko menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).

Kepala UPT Damkar Tanjunguban, Panyodi, mengatakan pihaknya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 08.33 WIB dari staf kelurahan. “Kita dapat kabar dari staf kelurahan ada kebakaran di meteran listrik,” ujarnya.

Petugas Damkar langsung mengerahkan armada beserta peralatan dan menuju lokasi. Saat tiba, api sudah berhasil dipadamkan oleh pekerja toko dan petugas yang sigap menggunakan APAR. Petugas PLN juga sudah berada di lokasi untuk mengantisipasi risiko lanjutan.

Usai kondisi terkendali, petugas PLN langsung memutus aliran listrik untuk mencegah kejadian serupa. Panyodi menduga sumber percikan berasal dari konsleting arus pada kabel menuju meteran listrik.

“Yang terbakar kabelnya. Ukuran kabel ke meteran dan ukuran kabel dari meteran ke ruko berbeda. Sebagian kabelnya berukuran kecil sementara penggunaan listrik cukup besar,” jelasnya.

Menurut Panyodi, insiden percikan api seperti ini bukan pertama kali terjadi. “Sudah empat kali kejadian seperti ini. Tetangga di sebelahnya juga cemas dan takut,” katanya.

Ia mengimbau pemilik usaha untuk selalu menyiapkan APAR dan rutin mengecek instalasi listrik agar kebakaran besar dapat dicegah. “Pemilik usaha harus menyiapkan APAR untuk mengantisipasi kebakaran supaya tidak berkembang menjadi lebih parah,” pungkasnya. (*)

Reporter: Slamet Nofasusanto 

Artikel Percikan Api dari Meteran Nyaris Bakar Ruko Sung Baking House di Tanjunguban pertama kali tampil pada Kepri.

Dinkes Kepri Awasi 20 Pelajar Bintan Berperilaku Berisiko Pemicu HIV

0
Kepala Dinkes Kepri, M. Bisri. F. Mohamad Ismail/Batam Pos.

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyoroti meningkatnya perilaku berisiko di kalangan pelajar Bintan. Sebanyak 20 siswa dilaporkan memiliki kecenderungan perilaku menyimpang dan kini menjalani pendampingan intensif dari tenaga kesehatan.

Kepala Dinkes Kepri, M Bisri, mengatakan perilaku berisiko tersebut dapat meningkatkan potensi penularan HIV. Karena itu, pihaknya akan memperkuat edukasi dan penyuluhan mengenai bahaya perilaku tersebut kepada para pelajar di seluruh Kepri.

Ia menyebut, faktor yang memicu munculnya perilaku berisiko sangat beragam, mulai dari lingkungan sekitar, pengaruh media sosial, hingga kondisi psikologis individu.

“Perilaku menyimpang dapat menyebarkan HIV. Jika ada yang sudah tertular, mereka akan langsung mendapatkan konseling,” kata Bisri, Jumat (14/11).

Menurut Bisri, dokter dan tenaga konselor akan memberikan pendampingan intensif kepada setiap pasien agar mampu menjaga kesehatan diri. Ia menambahkan, pengobatan dan pendampingan bagi pasien tidak cukup hanya dilakukan sekali.

“Sekarang sudah ada obat untuk mengontrol penyakitnya, tapi butuh pendampingan berkelanjutan,” ujarnya.

Dinkes Kepri juga menekankan pentingnya pencegahan sejak dini. Para pelajar diminta menjaga perilaku, menjauhi seks bebas, serta menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Edukasi mengenai HIV akan digencarkan di sekolah-sekolah melalui peran aktif para guru.

Meski demikian, Bisri mengaku belum dapat merinci jumlah total pasien HIV di Kepri sepanjang 2025. Namun ia menegaskan, penyebaran HIV masih terjadi dan kasus terbanyak tercatat di Kota Batam. (*)

Reporter: M. Ismail 

Artikel Dinkes Kepri Awasi 20 Pelajar Bintan Berperilaku Berisiko Pemicu HIV pertama kali tampil pada Kepri.

Sebabkan Siswa MAN 2 Batam Diare, SPPG Bengkong Laut 2 Dihentikan untuk Evaluasi

0
Ilustrasi.

batampos– SPPG Bengkong Laut 2 untuk sementara dihentikan aktivitasnya.Ini akibat dari MBG yang SPPG Bengkong Laut 2 produksi untuk sekolah MAN 2 Batam menyebabkan ratusan siswanya diare. Para siswa itu mengalami diare setelah mengkonsumsi dendeng menu MBG pada Selasa (11/11) lalu.

“Sppg-nya kita hentikan sementara untuk dievaluasi dulu,” kata Kepala SPPG Batam, Defri Frenaldi, Jumat (14/11).

Saat ditanya sampai kapan penghentian dilakukan, ia menjawab, “Sampai evaluasi selesai. Tidak ditentukan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah (Kepsek) MAN 2 Kota Batam, Ernawati, menyampaikan kronologi ratusan siswanya yang mengalami diare usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (11/11). Ia memastikan 235 siswa mengalami mencret dari total 648 siswa di sekolah tersebut.

Ernawati mengatakan MAN 2 mulai menerima program MBG sejak Juli lalu. Pada Selasa (11/11), sekitar pukul 12.00, siswa dan guru selesai salat lalu makan. Setelah itu kegiatan belajar mengajar dilanjutkan.

BACA JUGA: Sampah Menumpuk, DPRD Batam Minta Evaluasi Total

“Setelah sampai di rumah aman. Sampai jam 7 dan 8 malam baru ada wali murid yang lapor sakit perut dan mencret,” kata Ernawati, kepada Batam Pos diruang kerjanya pada Jumat (14/11) sore.

Sebanyak tiga siswa dibawa orang tuanya ke fasilitas kesehatan. “Yang dibawa ke UGD itu cuma tiga orang. Satu di Rumah Sakit Elisabeth, yang kedua di Klinik Nagoya. Dikasih obat dan disuruh pulang,” jelasnya.

Keesokan harinya, Rabu (12/11), tercatat 235 siswa tidak hadir. “Kami telepon orang tuanya satu-satu, ternyata masih sakit perut.

Mencretnya nggak ada lagi karena sudah dikasih obat,” ujar Ernawati. Beberapa siswa yang tetap datang namun masih sakit diberi obat di UKS sebelum dijemput orang tuanya.

Ernawati menegaskan sepertiga siswanya terdampak. “Yang kena cuma 235. Artinya sepertiga dari mereka itu kena diare,” katanya.

Ia menyebut usai kejadian itu pihak MBG, Puskesmas Tanjung Buntung, Polsek Bengkong, dan BIN mendatangi sekolah.
Menurutnya, pihak MBG dan SPPG telah menyampaikan permintaan maaf.

“MBG mengucapkan mohon maaf, dan siapa yang ke UGD ada akutansinya di-claim,” ujarnya.

Ia juga mengatakan Puskesmas memanggil siswa satu per satu untuk pendataan. Terkait dugaan penyebabnya, Ernawati mengaku mendapat keterangan dari dokter bahwa keluhan muncul usai siswa mengonsumsi dendeng.

“Dari keterangan dokter, anak-anak ini akibat dari makan daging dendeng. Dendeng ini enak kok. Ada anak yang makan dua porsinya, ada yang tiga. Pas malamnya baru melilit,” katanya.

Ia menambahkan kasus serupa pernah terjadi sebelumnya, meski jumlahnya sedikit. “Dulu juga pernah ada beberapa kena pas daging gini juga. Kami laporkan: kak kalau daging bentuknya begini MAN 2 tidak bisa. Atau orangnya tidak bisa masak daging. Sekali itu juga kena tapi hanya beberapa anak. Kalau sekarang lumayan banyak. Artinya kalau daging tidak boleh ke MAN 2,” ujarnya.

Menu pada hari selasa pasca kejadian terdiri dari sayur, tahu, buah, dan dendeng sapi. “Kalau indikasi di sayur tidak ada. Mungkin di dendeng. Anak-anak bilang dendeng itu rasanya keras, jadi tidak tahan,” lanjutnya.

Ernawati mengatakan pengantar MBG tidak datang sejak Kamis (13/11) karena tempatnya telah disegel. “Hari Rabu masih datang. Cuma satu kelas yang tidak mau, karena kelas itu anak-anaknya agak berduit, kelas menengah ke atas. Sudah dibekali orang tua dan uangnya ada untuk makan di kantin dan koperasi,” terangnya.

Pihak sekolah belum mendata berapa siswa yang tidak memakan MBG. “Yang pengen makan banyak silakan, gitu aja,” katanya. Ia juga menyebut sekitar 10 persen siswa di MAN 2 berasal dari keluarga kurang mampu, sisanya menengah ke atas.

Dari 235 siswa yang diare, hanya delapan yang tidak hadir pada Jumat (14/11). “Tapi kemarin dia hadir. Hari ini saya belum tanya apa indikasinya tidak hadir,” ujarnya.

Ernawati juga membantah istilah keracunan. “Dokter bilang keracunan, saya bilang tidak keracunan. Karena mencret! Tapi dokter bilang keracunan itu indikasinya salah satunya mencret, mual, muntah, sakit kepala. Ini cuma salah satu. Berarti kalau dugaan keracunan saya setuju, tapi kalau kalimatnya keracunan saya tidak setuju,” tegasnya.

Ia memastikan gejala yang dialami siswa adalah diare. (*)

Reporter: M Syaban

Artikel Sebabkan Siswa MAN 2 Batam Diare, SPPG Bengkong Laut 2 Dihentikan untuk Evaluasi pertama kali tampil pada Metropolis.

Terkuak! Kerugian Main Kripto Diduga Picu Raul Supriadi Gantung Diri

0
Jenazah Raul Supriadi saat disemayamkan di RSUD Jemaja, Rabu, (12/11). Polisi menduga Raul bunuh diri karena7 kalah main kripto. F. Pendi untuk Batam Pos.

batampos – Aksi bunuh diri yang dilakukan Raul Supriadi (19), pemuda asal Desa Bukit Padi, Kecamatan Jemaja Timur, akhirnya mulai menemukan titik terang. Polisi mengungkap penyebab di balik keputusan Raul mengakhiri hidupnya secara tragis.

Raul ditemukan tewas gantung diri di dalam kamar rumahnya, Rabu (12/11) siang. Warga dan keluarga terkejut karena selama ini ia dikenal pendiam dan tidak banyak menimbulkan masalah.

Saat ditemukan, Raul masih mengenakan kaos putih dan celana pendek hitam. Kondisinya sudah tidak bernyawa ketika pertama kali dilihat keluarga.

Kasi Humas Polres Anambas, Ipda Baginda Hot Martua Hasibuan, mengatakan pemeriksaan awal Polsek Jemaja tidak menemukan tanda kekerasan. Temuan ini mengarah pada dugaan kuat bahwa Raul murni bunuh diri.

Namun petunjuk baru terungkap setelah polisi membuka ponsel milik Raul yang ditemukan di kamar. Riwayat percakapan dan aktivitas digital Raul menjadi perhatian penyidik.

“Dari ponsel itu terungkap bahwa Raul mengalami kekalahan saat bermain di bursa saham melalui aplikasi kripto. Nilai kerugiannya mencapai Rp5,4 juta,” kata Baginda, Jumat (14/11).

Menurut polisi, uang yang dipakai Raul untuk bermain kripto adalah milik ayahnya. Kekalahan itu membuatnya tertekan dan bingung bagaimana mengembalikan uang tersebut.

“Ia menggunakan uang ayahnya. Begitu kalah, dia tidak sanggup mengembalikan uang itu,” jelas Baginda.

Rasa penyesalan itu sempat disampaikan Raul kepada kekasihnya, Ana, lewat pesan WhatsApp. Dalam percakapan itu, Raul mengaku menyesal dan bahkan menyatakan keinginannya untuk bunuh diri. Ana sempat mencoba mencegah dan menawarkan solusi, tetapi tidak berhasil menghentikan niat Raul.

“Kami sudah meminta keterangan pacarnya lewat telepon karena yang bersangkutan berada di luar Anambas. Percakapan itu kami temukan sebelum gantung diri,” ujar Baginda.

Polisi juga akan memanggil ayah Raul untuk dimintai keterangan tambahan, terutama terkait penggunaan uang dan kondisi Raul sebelum kejadian.

“Kami akan minta keterangan ayahnya dulu untuk menyinkronkan temuan ini,” tambahnya.

Baginda menegaskan penyelidikan masih berlangsung dan temuan sementara ini masih akan didalami. Polsek Jemaja bersama Polres Anambas terus mengembangkan kasus tersebut untuk memastikan penyebab pasti tindakan Raul.

Hingga kini, keluarga dan pihak terkait diharapkan dapat bekerja sama dengan penyidik untuk mengungkap fakta secara lengkap. (*)

Reporter: Ihsan Imaduddin 

Catatan redaksi: 

Artikel ini tidak bertujuan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.

Artikel Terkuak! Kerugian Main Kripto Diduga Picu Raul Supriadi Gantung Diri pertama kali tampil pada Kepri.

Dari Keterangan Dokter, Ernawati Sebut Penyebab 235 Siswa MAN 2 Batam Diare Usai Santap Dendeng Menu MBG

0
Kepsek MAN 2 Kota Batam, Ernawati. f. syaban

batampos – Kepala Sekolah (Kepsek) MAN 2 Kota Batam, Ernawati, menyampaikan kronologi ratusan siswanya yang mengalami diare usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (11/11). Ia memastikan 235 siswa mengalami mencret dari total 648 siswa di sekolah tersebut.

Ernawati mengatakan MAN 2 mulai menerima program MBG sejak Juli lalu. Pada Selasa (11/11), sekitar pukul 12.00, siswa dan guru selesai salat lalu makan. Setelah itu kegiatan belajar mengajar dilanjutkan.

“Setelah sampai di rumah aman. Sampai jam 7 dan 8 malam baru ada wali murid yang lapor sakit perut dan mencret,” kata Ernawati, kepada Batam Pos diruang kerjanya pada Jumat (14/11) sore.

Sebanyak tiga siswa dibawa orang tuanya ke fasilitas kesehatan. “Yang dibawa ke UGD itu cuma tiga orang. Satu di Rumah Sakit Elisabeth, yang kedua di Klinik Nagoya. Dikasih obat dan disuruh pulang,” jelasnya.

Keesokan harinya, Rabu (12/11), tercatat 235 siswa tidak hadir. “Kami telepon orang tuanya satu-satu, ternyata masih sakit perut.

BACA JUGA: Konsumsi MBG dari SPPG Bengkong Laut 2, Ratusan Siswa MAN 2 Batam Diare

Mencretnya nggak ada lagi karena sudah dikasih obat,” ujar Ernawati. Beberapa siswa yang tetap datang namun masih sakit diberi obat di UKS sebelum dijemput orang tuanya.

Ernawati menegaskan sepertiga siswanya terdampak. “Yang kena cuma 235. Artinya sepertiga dari mereka itu kena diare,” katanya.

Ia menyebut usai kejadian itu pihak MBG, Puskesmas Tanjung Buntung, Polsek Bengkong, dan BIN mendatangi sekolah.
Menurutnya, pihak MBG dan SPPG telah menyampaikan permintaan maaf.

“MBG mengucapkan mohon maaf, dan siapa yang ke UGD ada akutansinya di-claim,” ujarnya.

Ia juga mengatakan Puskesmas memanggil siswa satu per satu untuk pendataan. Terkait dugaan penyebabnya, Ernawati mengaku mendapat keterangan dari dokter bahwa keluhan muncul usai siswa mengonsumsi dendeng.

“Dari keterangan dokter, anak-anak ini akibat dari makan daging dendeng. Dendeng ini enak kok. Ada anak yang makan dua porsinya, ada yang tiga. Pas malamnya baru melilit,” katanya.

Ia menambahkan kasus serupa pernah terjadi sebelumnya, meski jumlahnya sedikit. “Dulu juga pernah ada beberapa kena pas daging gini juga. Kami laporkan: kak kalau daging bentuknya begini MAN 2 tidak bisa. Atau orangnya tidak bisa masak daging. Sekali itu juga kena tapi hanya beberapa anak. Kalau sekarang lumayan banyak. Artinya kalau daging tidak boleh ke MAN 2,” ujarnya.

Menu pada hari selasa pasca kejadian terdiri dari sayur, tahu, buah, dan dendeng sapi. “Kalau indikasi di sayur tidak ada. Mungkin di dendeng. Anak-anak bilang dendeng itu rasanya keras, jadi tidak tahan,” lanjutnya.

Ernawati mengatakan pengantar MBG tidak datang sejak Kamis (13/11) karena tempatnya telah disegel. “Hari Rabu masih datang. Cuma satu kelas yang tidak mau, karena kelas itu anak-anaknya agak berduit, kelas menengah ke atas. Sudah dibekali orang tua dan uangnya ada untuk makan di kantin dan koperasi,” terangnya.

Pihak sekolah belum mendata berapa siswa yang tidak memakan MBG. “Yang pengen makan banyak silakan, gitu aja,” katanya. Ia juga menyebut sekitar 10 persen siswa di MAN 2 berasal dari keluarga kurang mampu, sisanya menengah ke atas.

Dari 235 siswa yang diare, hanya delapan yang tidak hadir pada Jumat (14/11). “Tapi kemarin dia hadir. Hari ini saya belum tanya apa indikasinya tidak hadir,” ujarnya.

Ernawati juga membantah istilah keracunan. “Dokter bilang keracunan, saya bilang tidak keracunan. Karena mencret! Tapi dokter bilang keracunan itu indikasinya salah satunya mencret, mual, muntah, sakit kepala. Ini cuma salah satu. Berarti kalau dugaan keracunan saya setuju, tapi kalau kalimatnya keracunan saya tidak setuju,” tegasnya.

Ia memastikan gejala yang dialami siswa adalah diare.

Sementara itu, Kepala SPPG Batam, Defri Frenaldi, mengatakan pihaknya menghentikan sementara operasional SPPG Bengkong Laut 2 yang mengantar MBG ke MAN 2 Batam.

“Sppg-nya kita hentikan sementara untuk dievaluasi dulu,” kata Defri.

Saat ditanya sampai kapan penghentian dilakukan, ia menjawab, “Sampai evaluasi selesai. Tidak ditentukan,” ujarnya. (*)

Reporter: M Syaban

Artikel Dari Keterangan Dokter, Ernawati Sebut Penyebab 235 Siswa MAN 2 Batam Diare Usai Santap Dendeng Menu MBG pertama kali tampil pada Metropolis.

Latkatpuan Digelar, Polresta Barelang Perkuat Intelkam Demi Pelayanan Publik

0
Polresta Barelang terus meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan memperkuat kemampuan personelnya melalui Latihan Kemampuan (Latkatpuan) fungsi teknis Intelijen Keamanan (Intelkam). Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos – Polresta Barelang terus meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan memperkuat kemampuan personelnya melalui Latihan Kemampuan (Latkatpuan) fungsi teknis Intelijen Keamanan (Intelkam). Kegiatan yang digelar di Lapangan Apel Mapolresta Barelang pada Jumat (14/05) itu diikuti seluruh Pejabat Utama (PJU) dan personel Polresta Barelang, menghadirkan Wakasat Intelkam AKP Buhedi Sinaga, sebagai pemateri utama.

Latkatpuan tersebut bertujuan memperkaya wawasan dan profesionalisme anggota dalam menghadapi dinamika keamanan masyarakat yang semakin kompleks. Pemahaman terhadap berbagai aspek pelayanan dan pengawasan dinilai penting agar personel mampu menjalankan fungsi Intelkam secara cepat, tepat, dan sesuai kebutuhan di lapangan.

Dalam paparannya, AKP Buhedi menekankan bahwa Intelkam merupakan garda terdepan dalam deteksi dini, penggalangan, serta pengurusan perizinan. Ia mengingatkan pentingnya penguasaan mekanisme penerbitan dokumen-dokumen seperti Surat Izin Keramaian (SI), yang diperlukan untuk berbagai kegiatan yang melibatkan massa mulai dari konser musik hingga kegiatan budaya dan olahraga.

Selain SI, Buhedi juga menjelaskan secara rinci mengenai tata cara penerbitan Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) untuk kegiatan yang bersifat pemberitahuan seperti unjuk rasa atau rapat umum. Pengetahuan terhadap aturan tersebut menjadi kunci agar anggota mampu memberikan pelayanan humanis, akurat, serta sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Materi kemudian mengerucut pada pelayanan yang paling sering dibutuhkan masyarakat, yakni penerbitan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). AKP Buhedi menjelaskan prosedur, syarat, serta pentingnya ketelitian dalam proses penerbitan SKCK yang kerap digunakan untuk berbagai keperluan administrasi, mulai dari pekerjaan hingga pendidikan.

Pada kesempatan yang sama, disampaikan pula inovasi terbaru Polresta Barelang dalam pelayanan SKCK. Kini, masyarakat dari seluruh wilayah Indonesia dapat mengajukan SKCK secara online hanya dengan menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP), tanpa harus mendatangi kantor polisi pada tahap awal. Modernisasi ini diharapkan mampu mempercepat proses pelayanan sekaligus meningkatkan transparansi sesuai konsep Polri Presisi.

Inovasi layanan tersebut mendapat perhatian khusus karena dianggap mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang menginginkan proses cepat dan mudah. Polresta Barelang menegaskan komitmennya menghadirkan pelayanan publik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta mendukung efisiensi birokrasi kepolisian.

Melalui Latkatpuan ini, Polresta Barelang menegaskan bahwa setiap anggota harus memahami dengan baik seluruh jenis pelayanan yang berada di bawah fungsi kepolisian. Pemahaman komprehensif dianggap menjadi fondasi bagi peningkatan kualitas pelayanan publik serta kemampuan anggota dalam merespons berbagai kebutuhan masyarakat secara profesional. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Artikel Latkatpuan Digelar, Polresta Barelang Perkuat Intelkam Demi Pelayanan Publik pertama kali tampil pada Metropolis.

Jerat Realitas dalam Imaji B.M. Syam dan Idrus M. Tahar

0
Ellyzan Katan

DI RUMAH saya, ada beberapa tumbuhan yang ditanam. Ada betek (Carica Papaya), jambu bal (Syzygium Malaccense), matoa (Pometia Pinnata), delima batu (Punica Granatum), delima serikaya (Anona Squamosa), dan mangga apel (Mangifera Indica).

Tumbuhan ini sejatinya merupakan tumbuhan yang memiliki banyak manfaat. Kami bisa menikmati buahnya bila sudah berbuah. Hanya saja untuk sekian jenis tumbuhan yang ditanam itu, baru betek, delima batu, delima serikaya, dan jambu bal saja yang berbuah.

Untuk matoa dan mangga apel belum berbuah. Mungkin belum waktunya untuk berbuah. Masih menunggu hitungan tahun baru memberikan rezeki berbuah.

Baca juga: Menjaga Jiwa Bahasa Siswa di Tengah Revolusi Pembelajaran Digital

Namun, itu kan realitas. Bagaimana pula dengan imaji saja?
Sayangnya antara imaji dan realitas, untuk kondisi yang sudah serba digital dewasa ini, menyulitkan kita untuk berdiri.

Realitas terlihat seperti imaji. Sementara imaji, kadang-kadang juga ada yang sama dengan realitas maka jangan heran bila sekumpulan orang malah mendapati perspektif ilusi secara kolektif, sesuai dengan selera pencarian digital. Semua tergantung siapa yang menggunakan mata.

Ya, seseorang yang menggunakan mata melihat ke sekitar maka dialah yang menerjemahkan pemandangan tertangkap itu ke realitas imaji karya sastra. Bukan mengapa, kita akan sulit membentang imaji sastra tanpa ada landasan realitas. Malah dua hal tersebut, telah banyak menarik perhatian para penulis sastra di seluruh dunia.

Orhan Pamuk, misalnya, dengan indah menulis novel berbahan bakar salju. Pramoedya Ananta Toer, gagah perkasa mengekstraksi dunia penjajahan di tanah air sambil menampar banyak pipi bahwa manusia yang masih berlutut di depan orang lain, melambangkan betapa sisi kemanusiaan telah hilang di muka bumi ini. Serta Lesley Downer, menjadikan cengkerama dengan dunia lama di Jepang menarik untuk ditulis sehingga lahirlah novel The Last Concubine yang terkenal itu.

“Gambaran yang paling melekat dalam ingatan Sachi- saat mengenang kampung halamannya bertahun-tahun kemudian- adalah pohon-pohon pinus tinggi yang berbaris di sepanjang tepi jalan; langit melengkung yang terlihat begitu dekat seakan-akan bisa disentuh; gunung-gunung pucat berkilauan yang terlihat sangat jauh.” (Downer, 2008)

Baca juga: Ketika Dunia Datang ke Bintan, Biarkan Bahasa Indonesia yang Menemaninya!

Ada juga:

“Kelapa tumbuh di pinggir pantai bukan layak memagar tebing lagi, melainkan lumat sudah dihantam ombak berpuluh-puluh tahun membahana di situ. Akar-akarnya tidak sanggup menyirat pasir pantai, putus-rentas sudah, dan terseret bersama kikisan gelombang berzaman-zaman.” (B.M. Syam, 1991)

Lantas, di mana posisi pengarang? Bila hanya memainkan sisi realitas saja sambil membalutnya dengan bumbu imaji, itu sama saja dengan menjual betek yang sudah masak ke pembeli. Sementara, nilai tambah dari realitas dalam konteks sastra digital yang imaji, yang saat ini tak dapat dihindari, terasa seperti bertembung: antara kolosal realitas dengan imaji bermasam muka.

Misalnya, mengapa pula B.M. Syam memilih cengkih? Atau Laksana Natuna-nya Idrus M. Tahar juga memilih cengkih? Ada apa dengan cengkih?

“Harumnya cengkihmu laksana kasturi
Panas minyak dan gasmu laksana hanguskan tubuhmu.”

Tak dapat disangka-sangka lagi, memang. Kita ini, terjerat kaki. Mari kita balikkan dari realitas-imaji menjadi imaji-realitas. Hasilnya, “perspektif yang mempertemukan ilusi dengan realitas ini kemudian mengindikasikan lahirnya situasi post.

Situasi seperti ini kemudian memungkinkan karya sastra mampu membuat penikmatnya perlu memilih pengalaman mana yang bisa dianggapnya realitas dan mana yang akhirnya hanya berakhir sebagai ilusi.”

Cengkih bukan imaji. Cengkih adalah batang hidup. Cengkih adalah hajat hidup bagi orang di Pulau Tujuh. Cengkih adalah gaya. Cengkih adalah semangat. Serta, cengkih adalah kesenjangan. Terakhir, cengkih adalah konflik. Semuanya berkecambah menjadi lumut-lumut memori generasi tua dalam menjalani hari-hari tersisa.

Hanya generasi tua yang mengerti betapa sumbangan cengkih terhadap kehidupan keluarga, ada dan terasa begitu dahsyat. Dari cengkih, banyak orang tua bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Melalui cengkih, dibukalah jalan oleh Allah untuk membeli beras dalam jumlah yang besar. Caranya melalui buah cengkih dijual ke pembeli yang senantiasa menampung hasil panen penduduk.

Baca juga: Bereksperimen Membaca yang Banal dalam Kisah-Kisah Magis Hantu Ulang-Alik

Hal ini, banyak terdapat di daerah-daerah yang memiliki hasil perkebunan cengkih. Seperti di Natuna misalnya, cengkih merasuk ke mana-mana. Bahkan bukan hanya bagi orang tua yang awam dengan sastra.

Bagi mereka-mereka yang bertungkus-lumus membasahkan diri dengan karya sastra berupa cerpen, sajak, ataupun novel, tak sanggup untuk melepas cengkeraman realitas sosial di sekitar dalam guratan pena.

Padahal, untuk melepaskan cengkeraman tersebut, kadang-kadang tak juga sulit. Tergantung dari pengarang apakah mau melepaskan diri atau tidak.

Inilah persoalan mendasar bagi sastrawan di daerah kita sekarang. Realitas sosial terlanjur menjadi pengait utama pada proses menulis karya. Apa-apa yang ada di bawah kaki, ujung telunjuk, tepi telinga, masuk semua ke dalam sajak.

Tak peduli apakah yang berbau laut (gelombang, karang, ikan, nelayan, pompong, jaring dan lain sebagainya), gunung (kebun, cengkih, air sungai, batu cadas, dan, banyak lagi). Serta, banyak culas-culas lainnya di tepi rumah masuk ke dalam cerpen.

Lantas, apakah salah bila pengarang tak kuasa melepaskan diri dari kondisi sosial yang ada? Jangan-jangan apa yang diingatkan oleh Pramoedya Ananta Toer benar adanya.
“Kekeliruan ini banyak sekali berasal dari asal sosial pengarang bersangkutan, yang masih membebaninya dengan buntut-buntut yang dibawanya dari asal sosialnya, sedang didikan ideologinya pun belum kuat atau belum teratur.”

Namun, tak mengapa. Dengan menyimak secara serius hasil karya B.M. Syam dan Idrus M. Tahar, paling tidak banyak pihak mengerti dan memaklumi bahwa asal pengarang berdua ini kental dengan nuansa kampung yang sederhana.

Mata ini pun tak dapat melepaskan dari pandangan yang ada di teras samping rumah, yaitu betek, jambu bal, matoa, delima batu, delima serikaya, dan mangga apel. (*)

Oleh: Ellyzan Katan
Penulis asal Ranai, Natuna

Artikel Jerat Realitas dalam Imaji B.M. Syam dan Idrus M. Tahar pertama kali tampil pada News.