
batammpos – Hingga saat ini, hampir 50 ribu orang di Indonesia masih berstatus positif Covid-19 atau masuk dalam kategori kasus aktif. Kasus Covid-19 setiap hari rata-rata bertambah 5 ribu hingga 6 ribu kasus dengan angka perawatan rumah sakit atau BOR tetap terkendali. Kasus Covid-19 meningkat sejak bulan Mei hingga saat ini karena dipicu adanya varian baru BA.4 dan BA.5.
Ketua Tim Satgas Covid-19 dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. Erlina Burhan Sp.P, mengatakan angka kasus Covid-19 pada bulan Mei 2022 masih rendah. Kemudian adanya varian baru BA.4 dan BA.5 yang merupakan subvarian Omicron, memicu kasus Covid-19 di tanah air kembali naik.
“Adanya BA.4 dan BA.5 membuat kasus naik lagi. Kasus aktif naik walaupun tak parah seperti varian Delta,” jelas dr. Erlina dalam webinar, Jumat (26/8).
Rendahnya testing, kata dia, membuat angka positivity rate di tanah air semakin melonjak. Angka positivity rate 2 kali melebihi ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 5 persen yakni 11 persen.
“Positivity rate kita tinggi 11 persen. Angka itu bisa naik karena yang diperiksa rendah, jadinya naik. Dan masalah lainnya adalah, banyak masyarakat memeriksa testing atau antigen di rumah sendiri dan tidak melapor. Sehingga tidak tercatat apakah positif atau negatif atau negatif palsu,” tegasnya.
Apakah situasi di Indonesia bahaya?
Menurut dr. Erlina, untungnya hingga saat ini BOR RS masih di bawah 30 persen. Meski begitu ada sedikit kenaikan BOR di DKI Jakarta dan Maluku Utara sebanyak 20 persen,
Angka kepatuhan memakai masker juga semakin rendah terutama di restoran, tempat wisata, dan terminal. Jaga jarak juga semakin longgar.
Ancaman Varian Baru
Menurut dr. Erlina, varian baru bisa terus muncul karena virus terus bermutasi. Seperti Omicron memiliki berbagai subvarian yakni B11529, BA.2, BA.4, BA,5, hingga BA.275.
“Rata-rata lebih menular, masih bisa menembus vaksin primer, namun gejalanya lebih ringan,” tegasnya.
“Dan di Indonesia saat ini paling banyak adalah subvarian BA.5 yang mendominasi. Secara umum rendah keparahannya dan meringankan beban RS. Akan tetapi jangan dianggap remeh,” katanya.
Untuk mencegah dan mengantisipasi varian baru, lansia dan komorbid harus segera mendapatkan booster. Anak-anak saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) juga harus tetap disiplin protokol kesehatan. (*)
Reporter: JP Group









