
batampos – Seorang penegak hukum tidak selalu identik dengan pribadi yang kaku dan keras dalam kesehariannya, ternyata masih ada yang humanis dalam memutuskan suatu masalah karena memiliki jiwa yang mencintai suatu seni dan kebudayaan, sehingga yang menjadi hukum tertinggi menurutnya adalah perdamaian yang merupakan bagian dari kebudayaan.
Seperti Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tanjungpinang, Joko Yuhono yang sangat menyukai kebudayaan. Bagi dia hakekat manusia itu adalah berkebudayaan dari berbagai jenis budaya yang ada seperti tari, seni musik, seni suara yang merupakan hasil olah dari sebuah kebudayaan.
Joko melihat di Tanjungpinang merupakan kota budaya yang sangat luar biasa. Persoalannya selama ia bertugas di Tanjungpinang aktivitas budaya itu kurang ditonjolkan.
“Selama ini saya melihat kurang greget, makanya saya bersama teman-teman budayawan yang ada mencoba untuk menginisiasi supaya kebudayaan ini agar hidup lagi,” kata Joko Yuhono, Rabu (20/7).
BACA JUGA: Kejari Tanjungpinang Telusuri Indikasi Korupsi Pembangunan TPS 3R Kampung Bugis
Menurut alumni Universitas Padjajaran (Unpad) ini, Tanjungpinang ini sangat luar biasa karena memiliki banyak penyair hebat namun kurang dukungan.
Padahal rohnya orang Tanjungpinang adalah kebudayaan. Jika ingin menjadikannya kota hebat, maka jadikanlah kota budaya karena potensinya luar biasa, bukan kota industri.
“Sehingga saya terdorong untuk terjun ke urusan kebudayaan ini,” ujar Joko ketika diwawancarai disela persiapan peringatan 100 tahun Khairil Anwar.
Joko bersemangat karena terbawa semangat dari para penyair hebat yang sekarang ini butuh dorongan seperti, Husnizar Hood, Rida K Liamsi, Teja Alhab, Akib agar kebudayaan itu bisa hidup dan mewarnai Kota Tanjungpinang.
“Kepenyairan mereka mewarnai kota ini, kalau saya kan ya sekedar hobi saja. Terlepas dari latar belakang pendidikan, itu membantu saya memahami karya sastra,” sebutnya.
Bagi dia membaca puisi itu ibaratkan nostalgia selama menjalani pendidikan sastra saat kuliah, karena dulunya memang sering mendapat bagian baca puisi, main tetrical.
Sebelum ke Tanjungpinang yaitu Banten, Joko juga sudah menyukai kebudayaan yang ada di daerah tersebut hanya saja belum sempat terealisasi dan beliau mendapat surat keputusan (SK) pindah tugas ke Kota Gurindam ini.
Menyukai kebudayaan itu sendiri, juga memiliki hubungan dengan pekerjaannya. Bagi dia dalam mengambil keputusan sebagai jaksa. Menggunakan hukum itu menurutnya tidak harus selalu keras, seperti sekarang ini sudah muncul restorative justices yang mengharuskan seseorang berprilaku humanis dalam mengambil keputusan.
“Seperti orang berkelahi, jika kita bisa damai, untuk apa dibawa ke pengadilan karena akan ada win and lose kalau kita berdamai hasilnya win win solution,” sebutnya.
Hukum tertinggi itu menurut Joko adalah perdamaian, jika orang-orang sudah damai maka tidak akan ada hukuman yang akan digunakan.
Andai kata penegak hukum itu punya rasa kebudayaan yang tinggi maka penegakan hukum yang humanis akan kuat di Indonesia.
Orang seni atau berkebudayaan itu tidak kaku dan tidak mudah stres, rasa peduli terhadap sesama itu akan mudah timbul.
“Jika ditanya apakah ada hubungan dengan tugas di kantor, jelas ada hubungannya dan kegiatan kebudayaan ini sama sekali tidak mengganggu urusan pekerjaan saya,” ujarnya lagi.
Antara hukum dan kebudayaan itu memiliki hubungan yang sangat dekat, karena budaya hukum itu bagaimana orang menyelesaikan permasalahan.
Dahulunya para nenek moyang orang Indonesia itu menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah dan mufakat karena merupakan masyarakat yang memiliki dan memegang teguh adatnya, kecuali perbuatan yang jelas melawan hukum.
“Namun begitu masuk orang imprealis maka dibawalah KUHP, dengan rasionalitas yang tinggi sehingga jika ada yang salah langsung dipenjara,” papar Joko.
Sekarang ini budaya hukum Indonesia sudah terdistrosi oleh budaya hukum orang barat sementara pemikirannya adalah orang timur sehingga terjadi benturan. Bahkan KUHP Indonesia sekarang masih menggunakan KUHP dari Negara Belanda akibat terlalu lama dijajah. “Cara orang barat selesaikan masalah itu win and lose, kalau orang kita win and win,”katanya.
Terlepas dari persoalan kebudayaan hukum itu, dalam waktu dekat Joko bersama budayawan di Tanjungpinang sudah menyiapkan sejumlah kegiatan budaya seperti peringatan 100 tahun Khairil Anwar dan festival kopi kemerdekaan yang rencananya akan dilaksanakan pada Agustus mendatang bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan.
Festival itu tidak hanya ngopi bareng, tapi juga menampilkan kebudayaan nusantara melalui fashion show pakaian adat, terlibat juga didalamnya para pejabat daerah sebagai peserta dan akan dibentangkan karpet merah di Jalan Merdeka untuk dilalui saat berjalan menggunakan baju adat tersebut.
“Saya ingin pemerintah itu pro terhadap kebudayaan, seperti mengeluarkan aturan yang membuat kebudayaan itu menjadi kental di masyarakat. Misalnya hotel atau kantor pemerintahan wajib memiliki karakteristik budaya melalu tertentu untuk ditampilkan,” harapnya. (*)
Reporter: Peri Irawan








