
batampos – Upaya untuk mendapatkan informasi di Kediaman Kadivpropam Irjen Ferdy Sambo, tempat kejadian perkara penembakan Brigadir Yosua menemukan hambatan. Sejumlah orang tak dikenal memperlakukan media secara tidak menyenangkan dan bahkan mengintimidasi. Ketua RT 005 Komplek Polri Duren Tiga Mayjen (Purn) Seno Sukarto juga enggan untuk diwawancarai awak media.
Pantauan Jawa Pos (jaringan batampos.co.id), sejumlah petugas masih menjaga dan mengawasi area sekitar tempat tinggal Irjen Ferdy Sambo di Komplek Polri Duren Tiga sejak pukul 12.00. Pembatasan juga berlaku bagi awak media yang bertugas meliput di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) tembak-menembak antar personel Polri itu.
Petugas melarang awak media mengambil foto dan video dari samping rumah jenderal bintang dua Polri tersebut. Bahkan, dua jurnalis dari dua media massa nasional sempat mendapat perlakuan kurang menyenangkan dan Intimidasi. Data yang mereka ambil sebagai bahan liputan dihapus orang tidak dikenal.
Peristiwa itu terjadi kemarin siang. Lokasinya tidak jauh dari kediaman Irjen Sambo yang menjadi TKP tembak-menembak. Salah seorang jurnalis yang data hasil liputannya turut dihapus menyampaikan bahwa peristiwa terjadi setelah wawancara dengan Ibu RT dan seorang petugas kebersihan.
Jurnalis itu menyebut, saat wawancara dengan petugas kebersihan di Komplek Polri Duren Tiga, dia dan seorang rekan jurnalis lainnya didatangi tiga orang berpakaian hitam. Ketiganya bertubuh tinggi dan berambut cepak. ”Disamperin lagi tuh (jumlah orang tak dikenal) bertiga,” ungkap dia.
Tanpa banyak tanya, ketiga orang tidak dikenal itu langsung meminta telepon genggam kedua jurnalis. ”Langsung mana handphone-nya mana handphone-nya. Langsung (data-data di dalam telepon genggam) dihapus-hapusin,” jelasnya.
Data itu berisi foto dan rekaman video hasil wawancara. Tidak sampai di situ, ketiga orang tidak dikenal itu juga memeriksa isi tas masing-masing jurnalis tersebut. Ketiga orang tidak dikenal itu pun tidak merespons dengan jelas saat ditanya alasan menghapus data-data tersebut. Mereka hanya menyampaikan bahwa kedua jurnalis tidak boleh meliput terlalu jauh dari kediaman Irjen Sambo. Tidak hanya pembatasan area peliputan, Pos Satpam pun dijaga cukup ketat.
Sebelumnya, para jurnalis yang meliput di sekitar kediaman Irjen Sambo boleh duduk dan beristirahat di pos itu. Kemarin, pos tersebut sama sekali tidak boleh digunakan oleh para jurnalis. Bahkan, untuk sekedar menitipkan ransel, mengisi baterai peralatan liputan, dan numpang ke toilet pun tidak diizinkan.
Sementara saat bertandang ke rumah Mayjen (Purn) Seno Sukarto, salah seorang anggota keluarga menyebut bahwa Seno tidak bisa ditemui. Saat ini Seno sedang sakit pada bagian telinganya. “Sakit di telinga,” jelasnya. Lagi pula, salah seorang keluarga tersebut juga menyebut tidak ada perkembangan baru yang bisa diinformasikan. (*)
Reporter: JP Group









