batampos – Unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Sekupang mengamankan seorang pria berinisial WW, 38, yang diduga melakukan tindakan tidak senonoh terhadap anak tirinya yang masih berusia 14 tahun. Kasus ini menjadi perhatian publik karena pelaku merupakan orang yang seharusnya melindungi korban.
Peristiwa itu terungkap setelah korban memergoki ayah tirinya merekam dirinya saat mandi pada Selasa (11/11) pagi. Merasa tidak nyaman, korban kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada kakaknya PL, 17, yang selanjutnya memberitahukan hal itu kepada ibu mereka, HR, 40.
Setelah mendengar pengakuan anak-anaknya, HR menanyakan langsung kepada suaminya. Dalam perbincangan itu, korban akhirnya mengaku bahwa ayah tirinya telah beberapa kali melakukan perbuatan tidak pantas terhadap dirinya.
Tidak ingin peristiwa tersebut berlanjut, HR segera melapor ke Polsek Sekupang.
Menerima laporan tersebut, tim Unit Reskrim Polsek Sekupang langsung melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap para saksi. Korban juga menjalani visum et repertum di fasilitas kesehatan, yang hasilnya menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Dari hasil penyelidikan, diketahui pelaku telah tinggal bersama korban sejak 2016, setelah menikah siri dengan ibu korban, dan baru menikah secara resmi pada 2024.
Pelaku akhirnya diamankan di rumahnya di kawasan Sekupang pada Rabu (12/11) sore tanpa perlawanan, dan langsung dibawa ke Mapolsek Sekupang untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kapolsek Sekupang Kompol Hippal Tua Sirait melalui Kanit Reskrim Ipda Riyanto, membenarkan penangkapan tersebut.
“Pelaku sudah kami amankan untuk proses penyidikan lebih lanjut,” ujarnya, Kamis (13/11).
Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (2) dan/atau Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda hingga Rp5 miliar.
Kapolsek Sekupang menegaskan, pihaknya akan menindak tegas setiap bentuk kekerasan terhadap anak, baik fisik maupun seksual.
“Kami tidak akan memberi ruang bagi siapa pun yang merusak masa depan anak-anak. Perlindungan anak menjadi prioritas kami,” tegas Kompol Hippal Tua Sirait.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan segera melapor jika mengetahui adanya dugaan kekerasan terhadap anak.
“Peran keluarga dan masyarakat sangat penting untuk mencegah terjadinya kasus serupa. Jangan ragu untuk melapor,” ujarnya. (*)
Ilustrasi. Wisman asal Singapura dan Malaysia memadati Pelabuhan Internasional Batam Center beberapa waktu lalu. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos
batampos – Sektor pariwisata Batam terus menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Batam selama periode Januari hingga September 2025 mencapai 1.150.567 kunjungan.
Angka ini meningkat sekitar 22 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 yang mencatatkan 943.531 kunjungan. Lonjakan tersebut menegaskan posisi Batam sebagai gerbang utama pariwisata internasional di Provinsi Kepulauan Riau, sekaligus menjadi kontributor terbesar terhadap kunjungan wisman ke Indonesia dari jalur laut.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan peningkatan kunjungan wisman sepanjang 2025 tidak terlepas dari pemulihan aktivitas perjalanan pascapandemi, serta gencarnya promosi pariwisata dan penyelenggaraan event internasional di Batam.
“Dari awal tahun, pergerakan wisatawan terus menunjukkan tren positif. Singapura dan Malaysia masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan ke Batam,” ujar Eko, Kamis (13/11).
Dari total kunjungan September 2025, wisatawan asal Singapura tercatat paling mendominasi dengan 63.125 kunjungan atau 44,47 persen dari total wisman bulan tersebut. Disusul oleh Malaysia dengan 46.190 kunjungan (32,54 persen). Negara lainnya yang juga berkontribusi adalah Cina (4.114 kunjungan), India (3.151), Myanmar (1.812), dan Filipina (1.734).
Kunjungan terbanyak terjadi melalui pelabuhan internasional Batam Center, Nongsa Pura, Harbour Bay, dan Sekupang, serta Bandara Hang Nadim.
Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kota Batam selama September 2025 tercatat sebesar 52,10 persen. Angka ini turun tipis dibanding Agustus (53,82 persen), namun masih tergolong stabil. Adapun rata-rata lama menginap tamu asing dan domestik di hotel berbintang selama September tercatat 1,83 malam, dengan tamu asing menginap lebih lama yaitu 1,92 malam.
Dengan capaian lebih dari 1,15 juta kunjungan hingga September 2025, Batam terus memperkuat perannya sebagai pusat pertumbuhan pariwisata Kepulauan Riau. Kota ini menjadi destinasi utama bagi wisatawan mancanegara, terutama karena akses pelabuhan yang strategis, fasilitas hotel yang lengkap, dan event internasional yang rutin digelar.
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan capaian ini menjadi bukti kuat bahwa Batam tetap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan luar negeri, terutama dari kawasan Asia Tenggara.
“Alhamdulillah, pariwisata Batam semakin membaik. Ini tentu berkat kerja sama yang baik antara pemerintah, pelaku pariwisata, serta dukungan masyarakat. Keamanan yang terjaga, kekompakan stakeholder, dan bertambahnya akses, amenitas, serta atraksi menjadi faktor utama Batam semakin maju di sektor pariwisata,” ujarnya.
Ardi menambahkan, memasuki penghujung tahun, berbagai agenda wisata telah disiapkan untuk terus menggerakkan sektor pariwisata Batam. Sejumlah event besar seperti Batam Golf Tournament, Bajafash, dan Beratap Langit akan kembali digelar, melengkapi rangkaian kegiatan musik dan sport tourism yang sebelumnya sukses menarik perhatian wisatawan, seperti Batam Batik Fashion Week (BBFW).
Berdasarkan data Disbudpar, puncak kunjungan terjadi pada Juni 2025 dengan total 167.469 wisatawan, seiring banyaknya agenda wisata dan momentum libur panjang yang dimanfaatkan wisatawan asal Singapura dan Malaysia untuk berkunjung ke Batam.
“Target kami hingga akhir tahun adalah mempertahankan tren positif ini dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pelaku usaha dan operator kapal penyeberangan,” tambah Ardi.
Disbudpar Batam optimistis, dengan masih adanya sejumlah agenda wisata besar hingga Desember 2025, jumlah kunjungan wisman akan terus bertambah dan melampaui capaian tahun sebelumnya. (*)
Lima truk dan kontainer dipasangi garis polisi berada di depan Mapolresta Barelang, Selasa(11/11). Kelima truk tersebut yang bermuatan barang impor bekas diamankan Polresta Barelang di wilayah Sagulung beberapa hari lalu. F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos – Penyelidikan dugaan penyelundupan dua kontainer dan tiga truk bermuatan barang impor bekas terus berlanjut. Setelah memeriksa 25 orang pekerja dan sopir, kini giliran oknum petugas Bea dan Cukai yang akan diperiksa oleh penyidik Satreskrim Polresta Barelang.
“Hari ini (kemarin) oknum petugas Bea dan Cukai akan kita periksa,” ujar Kapolresta Barelang, Kombes Zaenal Arifin, Rabu (12/11).
Ia menjelaskan, pemeriksaan ini untuk memastikan keabsahan dokumen dua kontainer yang sebelumnya diamankan dalam operasi yang dipimpinnya langsung. Dokumen tersebut diketahui diterbitkan oleh pihak Bea dan Cukai.
“Pemeriksaan terhadap petugas ini penting untuk menelusuri potensi pelanggaran atau penyalahgunaan kewenangan. Mereka akan diperiksa terkait dokumen barang yang kita amankan,” jelasnya.
Zaenal menegaskan, apabila ditemukan kesalahan administrasi atau unsur kesengajaan dalam penerbitan dokumen, maka petugas Bea dan Cukai yang terlibat bisa saja ditetapkan sebagai tersangka. “Kita periksa dulu, baru tahu apakah ada pelanggaran atau tidak,” tegasnya.
Pantauan Batam Pos, dua kontainer dan tiga truk pengangkut masih terparkir di halaman Mapolresta Barelang. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, dua truk tersebut tercatat milik PT PLS. Di bagian belakang kontainer masih terpasang garis polisi. Menariknya, gembok kontainer berlogo Bea dan Cukai, menandakan bahwa barang tersebut sebelumnya berstatus tegahan.
Namun, yang menjadi kejanggalan, dua kontainer berstatus tegahan itu bisa keluar dari pengawasan dan dibawa menggunakan kendaraan milik PT PLS. Barang yang diangkut disebut milik pengusaha berinisial Hi, sedangkan truk pengangkut diduga terkait dengan seorang pengusaha lain berinisial Ag. Dugaan ini memperkuat indikasi adanya kebocoran dalam sistem pengawasan internal instansi terkait.
Zaenal menegaskan seluruh proses penyelidikan dilakukan secara profesional tanpa intervensi dari pihak mana pun.
“Tidak ada intervensi. Kami tegak lurus menjalankan perintah Presiden dan Kapolri, khususnya untuk menjaga agar kekayaan negara tidak bocor,” katanya menegaskan.
Ia juga mengungkapkan, penyidik telah menyita sejumlah dokumen penting milik perusahaan yang diduga terlibat dalam pengangkutan kontainer tersebut.
“Semua dokumen sedang kami periksa secara rinci untuk memastikan adanya indikasi pelanggaran hukum. Kami tidak main-main. Polri berkewajiban mencegah dan menindak segala bentuk praktik yang merugikan negara,” tegasnya.
Aroma Persaingan Bisnis di Balik Kasus Kontainer Sagulung
Penyelidikan kasus penangkapan lima truk dan kontainer bermuatan barang impor bekas di kawasan Sagulung oleh Polresta Barelang, memasuki babak baru. Di balik tumpukan kontainer dan dokumen pengiriman, aroma persaingan bisnis dan dugaan permainan antara pengusaha besar dengan oknum aparat mulai menyeruak ke permukaan.
Informasi yang dihimpun Batam Pos menyebutkan, kontainer yang diamankan di salah satu gudang Sagulung itu ternyata bukan berisi ballpres atau pakaian bekas seperti dugaan awal. Isinya justru furnitur impor bernilai tinggi.
Meski demikian, penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Barelang masih mendalami kemungkinan keterlibatan pengusaha barang bekas berinisial Hi, yang disebut sebagai pemilik muatan tersebut.
Modus penyelundupan yang digunakan terbilang rapi dan terencana. Pemilik barang berbeda dengan pemilik kendaraan pengangkut, diduga untuk mengelabui aparat penegak hukum. Dua dari truk kontainer itu diketahui menggunakan kendaraan milik PT Pana Lintas Sindo Express (PLS), perusahaan jasa logistik laut dan darat yang berkantor di Kompleks Batam Executive Centre, Sungai Panas.
Perusahaan tersebut disebut-sebut dimiliki oleh pengusaha berinisial As, yang sudah lama berkecimpung dalam bisnis logistik di Batam. Nama PLS juga beberapa kali dikaitkan dengan pengiriman berbagai jenis barang, baik legal maupun ilegal. Namun dalam kasus kali ini, penyidik masih menelusuri sejauh mana keterlibatan pihak perusahaan tersebut.
Di sisi lain, muncul dugaan bahwa penangkapan oleh Polresta Barelang dilakukan setelah sebagian barang berhasil lolos. Berdasarkan informasi dari sumber terpercaya, sedikitnya lima kontainer lain diduga telah meluncur lebih dulu sebelum operasi berlangsung.
Kontainer tersebut disebut milik pengusaha berinisial Se, Im, dan Ni, yang sebelumnya memasukkan barang melalui perusahaan berinisial Inf pada 4 dan 5 November lalu. Seluruhnya kini disebut telah berada di gudang masing-masing di Batam.
Sumber internal di lingkungan pelaku usaha mengungkapkan, modus penyelundupan barang di Batam selama ini kerap memanfaatkan jalur hijau dengan dokumen pengiriman yang dimanipulasi. Barang diklaim sebagai “beras”, padahal muatan sebenarnya berupa barang bekas, minuman beralkohol, hingga perabot rumah tangga.
“Diduga kuat ada permainan antara pengusaha dan oknum instansi yang memuluskan masuknya barang selundupan ke Batam,” ujar sumber tersebut.
Status Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) juga disebut menjadi celah yang kerap dimanfaatkan para pelaku. Longgarnya pengawasan terhadap arus barang impor membuka peluang praktik penyelundupan yang sudah berlangsung lama dan menguntungkan pihak tertentu.
“Persaingan di antara mereka bukan hanya soal kelancaran masuknya barang, tapi juga soal harga dan pajak,” lanjut sumber itu.
Menurutnya, sebagian pengusaha hanya melaporkan dan membayar pajak untuk sebagian kecil dari total kontainer, sementara sisanya masuk tanpa setoran resmi. Praktik ini menciptakan ketimpangan harga di pasar lokal dan merusak iklim usaha yang sehat.
“Yang jujur kalah bersaing karena harga barang selundupan jelas lebih murah,” tutupnya.
Penyelidikan Polresta Barelang masih terus berjalan. Polisi menegaskan akan menelusuri setiap pihak yang terlibat, termasuk dugaan keterlibatan oknum aparat di balik lolosnya sejumlah kontainer tersebut. (*)
batampos – Pemerintah Kota (Pemko) Batam menerima penyerahan lahan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) dari sejumlah pengembang perumahan. Penyerahan akta dilakukan langsung kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Batam, Firmansyah, di ruang kerjanya di Lantai II Kantor Wali Kota Batam, Rabu (12/11).
Dia menjelaskan, penyerahan aset tersebut merupakan tindak lanjut dari proses verifikasi administrasi dan verifikasi lapangan yang telah dinyatakan lengkap. Setelah seluruh tahapan terpenuhi, para pengembang menandatangani akta notaris sebagai bukti resmi penyerahan lahan kepada Pemko Batam.
“Akta notaris pun telah ditandatangani oleh para pengembang sebagai pihak yang menyerahkan lahan,” katanya.
Adapun lima perumahan yang diserahterimakan dalam kesempatan itu meliputi Perumahan Bukit Inda Piayu di Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa; Palm Beach I di Tanjunguma, Kecamatan Lubukbaja; Kampoeng Daun II di Tanjung Piayu, Kecamatan Seibeduk; serta Ruko Mas Residence I dan II di Taman Baloi, Kecamatan Batam Kota.
Penyerahan lahan PSU dilakukan oleh empat pengembang, yaitu PT Menorah Bangun Properti, PT Ekamas Mandiri Perkasa, PT Sukses Global Sejahtera, dan PT Putra Jaya Bintan.
Berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), total nilai aset lahan PSU yang diserahkan mencapai Rp106.022.144.000. Aset tersebut akan menjadi bagian dari kekayaan daerah yang dikelola oleh Pemko Batam.
Pemerintah terus mendorong seluruh pengembang agar memenuhi kewajiban menyerahkan lahan PSU sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan fasilitas publik di kawasan perumahan.
“Penyerahan PSU ini merupakan bagian dari upaya kami memastikan aset daerah dapat dikelola dengan baik dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat,” kata Firman.
Ia menambahkan, Pemko Batam melalui tim teknis akan terus memantau pelaksanaan penyerahan PSU agar seluruh aset publik di kawasan perumahan terdata dan terlindungi secara hukum. (*)
batampos – Hujan deras yang mengguyur wilayah Mekkah, Arab Saudi, pada Rabu (12/11), menyebabkan sejumlah kawasan terendam banjir. Kondisi ini mengganggu aktivitas warga dan arus lalu lintas di beberapa titik kota suci tersebut.
Lembaga meteorologi Arab Saudi, National Center for Meteorology (NCM), mengeluarkan peringatan merah untuk provinsi Mekkah akibat hujan deras disertai petir, angin kencang, visibilitas rendah, hujan es, dan potensi banjir kilat.
Peringatan tersebut berlaku hingga malam hari. Warga diminta tetap waspada dan mengikuti instruksi dari General Directorate of Civil Defence untuk menghindari kawasan rawan banjir.
Video yang beredar di media sosial X memperlihatkan derasnya hujan dan kilatan petir yang menerangi langit malam di Mekkah. Cuaca ekstrem ini juga melanda wilayah utara dan barat Arab Saudi.
Selain Mekkah, kota pesisir seperti Jeddah dan Madinah turut diprediksi terdampak badai. Ketinggian gelombang laut bahkan mencapai dua setengah meter.
“Wilayah Jazan, Asir, Al-Baha, dan Mekkah akan mengalami hujan ekstrem,” tulis otoritas cuaca Arab Saudi, dikutip dari The Sun, Kamis (13/11).
Kondisi geografis Mekkah yang dikelilingi lembah dan lereng bukit membuat kawasan ini rawan genangan air setiap kali diguyur hujan lebat. Permukaan tanah yang minim daya serap juga memperparah banjir.
Bulan November disebut sebagai periode rawan bagi wilayah Mekkah karena intensitas hujan ekstrem dan risiko banjir yang tinggi. (*)
Bupati Bintan, Roby Kurniawan menerima dana insentif fiskal yang diserahkan oleh Wakil Presiden RI di Jakarta, Rabu (12/11). F. Zoko untuk Batam Pos.
batampos – Kabupaten Bintan masuk dalam daftar 50 daerah penerima Dana Insentif Fiskal (DIF) dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) atas keberhasilannya menurunkan angka stunting secara signifikan.
Bintan menerima alokasi dana sebesar Rp5,9 miliar dari total Rp300 miliar yang disalurkan untuk 3 provinsi, 38 kabupaten, dan 9 kota di Indonesia.
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, menerima langsung penghargaan dan dana insentif tersebut yang diserahkan oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, dalam Rapat Koordinasi Nasional Percepatan Penurunan Stunting di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Wakil Presiden Gibran menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam percepatan penurunan stunting, tidak hanya di bidang kesehatan tetapi juga meliputi aspek sanitasi, air bersih, dan lingkungan.
“Kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk menurunkan angka stunting secara berkelanjutan,” kata Gibran.
Sementara itu, Bupati Roby Kurniawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam upaya menekan stunting di Bintan.
“Capaian hari ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh jajaran pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan masyarakat. Kami akan terus berkomitmen menuju Bintan Zero Stunting,” ujar Roby.
Ia menegaskan, Pemkab Bintan terus melakukan intervensi terintegrasi dan inovatif dalam penanganan stunting, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
Pemerintah pusat memberikan Dana Insentif Fiskal ini sebagai bentuk apresiasi atas kinerja daerah yang berhasil menurunkan prevalensi stunting secara nyata, dengan penilaian berbasis integrasi target dalam RKPD, aksi konvergensi, dan hasil pemantauan balita.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), Kabupaten Bintan berhasil menurunkan prevalensi stunting sebesar 5,2 persen, dari 21,5 persen menjadi 16,3 persen pada 2024.
Dengan penghargaan ini, Pemkab Bintan berkomitmen untuk terus mendukung program nasional percepatan penurunan stunting, guna mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045 yang sehat dan bebas stunting. (*)
batampos – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencatatkan rapor merah. Sedikitnya lebih dari 230 siswa MAN 2 Kota Batam di Bengkong dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dari program tersebut pada Selasa (11/11) siang.
“Sebagian masih bersekolah, tapi banyak juga yang izin karena sakit perut dan muntah-muntah,” kata salah seorang wali murid yang enggan disebut namanya kepada Batam Pos Kamis (13/11)
Sekadar informasi, total siswa MAN 2 Batam mencapai sekitar 600 orang, artinya hampir separuh populasi sekolah terdampak dugaan keracunan makanan dari program yang digadang-gadang sebagai wujud kepedulian gizi bagi pelajar itu.
Saat Batam Pos mendatangi lokasi sekolah, pihak humas MAN 2 Batam, Madi, mengaku tidak mengetahui detail kejadian tersebut dan enggan memberi keterangan, “Nanti aja tunggu guru penanggung jawab MBG, takutnya saya salah ngomong,” ujarnya singkat.
Namun ketika Batam Pos menunggu kehadiran guru yang dimaksud, guru bidang kemahasiswaan yang disebut bertanggung jawab atas program MBG justru menolak diwawancarai. “Maaf, saya masih ada rapat,” ujarnya sambil meninggalkan ruangan.
Dari penelusuran Batam Pos, sedikitnya lima siswa yang berhasil diwawancarai mengaku bahwa sejumlah teman mereka mengalami sakit perut dan diare usai menyantap menu daging sapi dendeng dari paket Makan Bergizi Gratis pada Selasa siang
“Yang keracunan banyak, sekitar 230 siswa. Makan siangnya hari Selasa, malamnya banyak yang mulai sakit perut,” kata pelajar yang tak mau namanya ditulis, siswa kelas Sebelas
Hal serupa disampaikan siswa kelas Sepuluh. “Makanannya daging dendeng. Malamnya teman-teman mulai sakit perut dan diare, Rabu banyak yang nggak masuk sekolah. Hari ini sebagian masih berobat,” ujarnya.
Para siswa menyebut porsi MBG dikirim ke sekolah sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Mereka menduga daging yang disajikan sudah tidak segar. “Sebelumnya kalau ayam atau telur nggak pernah ada yang keracunan. Baru kali ini, pas makan daging sapi,” katanya Lagi
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Kota Batam, Defri, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah kasus itu benar merupakan keracunan makanan.
“Memang kami menerima laporan ada sejumlah anak dengan keluhan diare dari sekolah. Namun tidak ada siswa yang sampai dirawat. Aktivitas belajar juga tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya kepada Batam Pos, Kamis (13/11).
Defri menjelaskan, saat ini pihaknya bersama Dinas Kesehatan dan instansi terkait tengah melakukan observasi untuk memastikan penyebab pasti keluhan tersebut.
Ia juga menyebut bahwa pelaksana MBG di MAN 2 Batam adalah SPPG Bengkong Laut 2.
Defri mengaku belum bisa memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut, apakah karena olahan daging sapi dendeng atau faktor lain. “Belum bisa kita pastikan, ini harus di cek dulu. Kita tunggu dulu ya,” kata dia. (*)
batampos – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencatatkan rapor merah. Sedikitnya lebih dari 230 siswa MAN 2 Kota Batam di Bengkong dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dari program tersebut pada Selasa (11/11) siang.
“Sebagian masih bersekolah, tapi banyak juga yang izin karena sakit perut dan muntah-muntah,” kata salah seorang wali murid yang enggan disebut namanya kepada Batam Pos Kamis (13/11)
Sekadar informasi, total siswa MAN 2 Batam mencapai sekitar 600 orang, artinya hampir separuh populasi sekolah terdampak dugaan keracunan makanan dari program yang digadang-gadang sebagai wujud kepedulian gizi bagi pelajar itu.
Saat Batam Pos mendatangi lokasi sekolah, pihak humas MAN 2 Batam, Madi, mengaku tidak mengetahui detail kejadian tersebut dan enggan memberi keterangan, “Nanti aja tunggu guru penanggung jawab MBG, takutnya saya salah ngomong,” ujarnya singkat.
Namun ketika Batam Pos menunggu kehadiran guru yang dimaksud, guru bidang kemahasiswaan yang disebut bertanggung jawab atas program MBG justru menolak diwawancarai. “Maaf, saya masih ada rapat,” ujarnya sambil meninggalkan ruangan.
Dari penelusuran Batam Pos, sedikitnya lima siswa yang berhasil diwawancarai mengaku bahwa sejumlah teman mereka mengalami sakit perut dan diare usai menyantap menu daging sapi dendeng dari paket Makan Bergizi Gratis pada Selasa siang
“Yang keracunan banyak, sekitar 230 siswa. Makan siangnya hari Selasa, malamnya banyak yang mulai sakit perut,” kata pelajar yang tak mau namanya ditulis, siswa kelas Sebelas
Hal serupa disampaikan siswa kelas Sepuluh. “Makanannya daging dendeng. Malamnya teman-teman mulai sakit perut dan diare, Rabu banyak yang nggak masuk sekolah. Hari ini sebagian masih berobat,” ujarnya.
Para siswa menyebut porsi MBG dikirim ke sekolah sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Mereka menduga daging yang disajikan sudah tidak segar. “Sebelumnya kalau ayam atau telur nggak pernah ada yang keracunan. Baru kali ini, pas makan daging sapi,” katanya Lagi
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Kota Batam, Defri, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah kasus itu benar merupakan keracunan makanan.
“Memang kami menerima laporan ada sejumlah anak dengan keluhan diare dari sekolah. Namun tidak ada siswa yang sampai dirawat. Aktivitas belajar juga tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya kepada Batam Pos, Kamis (13/11).
Defri menjelaskan, saat ini pihaknya bersama Dinas Kesehatan dan instansi terkait tengah melakukan observasi untuk memastikan penyebab pasti keluhan tersebut.
Ia juga menyebut bahwa pelaksana MBG di MAN 2 Batam adalah SPPG Bengkong Laut 2.
Defri mengaku belum bisa memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut, apakah karena olahan daging sapi dendeng atau faktor lain. “Belum bisa kita pastikan, ini harus di cek dulu. Kita tunggu dulu ya,” kata dia. (*)
Ketua Panitia IPOC 2025, Mona Surya. (Mifta/Radar Bali)
batampos-Konferensi sawit terbesar dan paling berpengaruh di dunia, 21st Indonesian Palm Oil Conference & 2026 Price Outlook (IPOC 2025), resmi dibuka pada Kamis pagi di Bali. Acara berlangsung pukul 10.00 WITA di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, yang menjadi pusat berkumpulnya pemangku kepentingan global.
Pembukaan konferensi dihadiri pejabat tinggi negara, duta besar, pelaku industri, akademisi, serta lembaga internasional dari berbagai negara. Tahun ini, IPOC mencatatkan rekor baru dengan total 1.545 peserta dari 28 negara serta dukungan sponsor terbesar sepanjang penyelenggaraan.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Pelaksana IPOC 2025 Mona Surya menegaskan bahwa perjalanan dua dekade konferensi ini mencerminkan kekuatan komunitas sawit dunia. Ia menyampaikan bahwa momentum tahunan ini selalu menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi seluruh peserta.
“Setiap tahun, ketika saya berdiri di panggung ini, saya selalu merasakan kebanggaan yang besar. IPOC adalah homecoming tahunan kita. Dari awal yang sederhana, kini menjadi ajang global yang ditunggu dunia,” ujar Mona Surya.
Mona menekankan bahwa kekuatan utama IPOC terletak pada interaksi lintas negara yang mendorong lahirnya kolaborasi baru. Ia juga menyebut bahwa agenda dan tema tahun ini merefleksikan realitas industri yang semakin kompleks dan penuh tantangan.
IPOC 2025 mengangkat tema “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade.” Menurut Mona, tema ini sangat relevan karena industri sawit kini berada di titik penting yang dipengaruhi berbagai dinamika.
“Industri kita sedang berada di persimpangan jalan. Kita menghadapi volatilitas harga, stagnasi produksi di sejumlah negara produsen, serta hambatan dagang seperti EUDR. Kebijakan nasional dan global tidak lagi menjadi latar, mereka adalah kekuatan yang membentuk operasional kita,” ujarnya.
Tingginya atensi terhadap konferensi tahun ini tercermin dari kehadiran 113 booth pameran dan 38 perusahaan sponsor. Mona juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh sponsor dari kategori Titanium hingga Gold serta tim panitia yang bekerja sepanjang tahun.
Ketua GAPKI Eddy Martono dalam pidatonya menyoroti kinerja solid industri sawit nasional hingga September 2025. Ia memaparkan bahwa perkembangan tersebut menunjukkan kekuatan strategis sawit bagi ekonomi Indonesia.
“Detak industri kita sangat kuat: produksi sudah menembus 43 juta ton, naik 11%. Ekspor mencapai lebih dari 25 juta ton, meningkat 13,4%, menyumbang USD 27,3 miliar devisa negara, 40% lebih tinggi dari tahun lalu,” ujar Eddy.
Meski demikian, Eddy mengingatkan bahwa capaian positif itu dibayangi tantangan berat terkait dinamika perdagangan global. Ia menekankan bahwa stagnasi produktivitas dan regulasi baru perlu dihadapi dengan strategi komprehensif.
Eddy menyoroti peluang dari Indonesia–EU CEPA yang berpotensi membuka akses pasar lebih luas. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa EUDR kini menjadi gerbang regulasi baru yang harus dipersiapkan secara matang.
“Kita harus menjawab aturan dengan standar yang lebih baik. ISPO harus menjadi global gold standard yang membuktikan bahwa keberlanjutan adalah komitmen, bukan slogan,” tegasnya.
Menurut Eddy, stagnasi produksi menjadi ancaman yang tidak boleh diabaikan, sehingga diperlukan langkah agresif untuk memperkuat produktivitas jangka panjang. Ia menyebut bahwa peremajaan menjadi kunci penting bagi industri untuk tetap kompetitif.
“Kita membutuhkan gerakan nasional peremajaan. Kita tak bisa mengandalkan mesin lama untuk menggerakkan masa depan,” katanya.
Eddy juga menegaskan bahwa kebijakan biofuel seperti B35 dan B40 telah berperan besar menciptakan permintaan domestik yang stabil. Kebijakan tersebut juga memperkuat kontribusi sawit terhadap penurunan emisi nasional.
Pada kesempatan tersebut, Eddy mengumumkan pemenang kompetisi koperasi pekebun paling produktif yang berasal dari Kutai Timur, Kalimantan Timur. Koperasi tersebut mencatatkan produktivitas 37,4 ton TBS yang menjadi capaian tertinggi tahun ini.
Ia juga memberikan sorotan khusus kepada inovasi generasi muda melalui National Palm Oil Hackathon 2025 yang diikuti 139 tim dari 35 universitas. Pemenangnya, Tim BiFlow dari ITS Surabaya, berhasil menciptakan teknologi “RAPIDS” berbasis machine learning untuk mendeteksi penyakit Ganoderma.
Selain itu, Eddy mengumumkan kolaborasi internasional melalui Elaeidobius Consortium bersama Tanzania Agricultural Research Institute. Kolaborasi ini diharapkan meningkatkan efisiensi penyerbukan pada perkebunan kelapa sawit.
Konferensi tahun ini menyajikan rangkaian agenda strategis yang mencakup kebijakan domestik, harmonisasi regulasi, serta respons terhadap EUDR. Diskusi juga mencakup dinamika pasar minyak nabati global, hilirisasi, biofuel, dan diplomasi perdagangan.
IPOC 2025 akan berlangsung pada 13–14 November 2025 dengan menghadirkan pembicara dunia seperti Thomas Mielke dari Oil World, Julian Conway McGill dari Glenauk Economics, serta Ryan Chen dari Cargill China. Konferensi ini diharapkan memberikan arah strategis bagi industri sawit tahun 2026. (*)
Djafachruddin (pakai masker) digiring tim jaksa di Kendari. F. Penkum Kejati Kepri.
batampos – Setelah dua tahun dalam pelarian, tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Jembatan Tanah Merah Bintan, Djafachruddin (46), akhirnya ditangkap tim gabungan kejaksaan.
Penangkapan dilakukan oleh Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejati Kepulauan Riau (Kepri) bekerja sama dengan Kejati Sulawesi Tenggara dan Kejari Kendari, pada Rabu (12/11/2025) malam waktu Indonesia tengah.
Buronan tersebut dibekuk di Jalan Kedondong, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kendari, setelah tim jaksa melakukan pemantauan intensif selama beberapa hari.
“Saat hendak ditangkap, tersangka sempat mencoba melarikan diri lewat pintu belakang pondok tempatnya bersembunyi. Namun area sudah dikepung, sehingga penangkapan berjalan aman tanpa perlawanan,” ujar Kepala Kejati Kepri, J. Devy Sudarso, Kamis (13/11).
Setelah diamankan, Djafachruddin langsung dibawa ke Kejari Kendari untuk menjalani pemeriksaan awal. Ia kemudian diterbangkan ke Tanjungpinang untuk pemeriksaan lanjutan oleh penyidik Bidang Pidana Khusus Kejati Kepri.
Devy menyampaikan apresiasi kepada tim gabungan Kejati Sultra, Kejari Kendari, dan aparat TNI setempat atas kerja sama yang solid hingga berhasil menangkap tersangka yang sudah lama buron itu.
“Sinergi lintas wilayah ini membuahkan hasil. Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung proses penangkapan,” katanya.
Ia menegaskan, program Tabur Kejati Kepri akan terus dioptimalkan guna memastikan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di wilayah Kepulauan Riau.
“Kami imbau seluruh buronan yang masih masuk dalam DPO untuk segera menyerahkan diri. Tidak ada tempat bersembunyi yang aman bagi pelaku tindak pidana,” tegas Devy.
Kasus yang menjerat Djafachruddin berkaitan dengan dugaan korupsi proyek pembangunan Jembatan Tanah Merah sepanjang 20 meter di Kecamatan Teluk Bintan. Proyek tersebut dikerjakan oleh PT Bintang Fajar Gemilang pada Tahun Anggaran 2018.
Akibat korupsi proyek tersebut, negara mengalami kerugian sekitar Rp8 miliar. Proses penyidikan sempat tertunda sejak 2022 karena tersangka kabur dan bersembunyi selama dua tahun.
Kini setelah ditangkap, penyidik akan menahan tersangka selama 20 hari ke depan di Rutan Tanjungpinang, untuk mencegah upaya melarikan diri kembali. (*)