Sabtu, 4 April 2026
Beranda blog Halaman 731

Bajafash 2025 Usung “Strait Inspiration”, Kolaborasikan Jazz dan Fashion Bernafaskan Peranakan

0
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bata, Ardiwinata bersama Founder and Advisor Bajafash Indina Putri Fadjar, desainer asal Malaysia Eric Choong , Musisi Amelia Ong dan lainnya memberikan keterangan pertunjukan Bajafash saat keterangan pers di Garden Bay Harbour bay, Kamis (6/11). Bajafash akan digelar di Ballroom Wyndham Panbil 7-8 November 2025. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos– Ajang musik dan fashion tahunan, Batam Jazz and Fashion (Bajafash) kembali digelar tahun ini memasuki tahun ke-8 penyelenggaraan. Event yang selalu dinantikan penikmat musik jazz dan pecinta fashion itu akan berlangsung pada 7-8 November 2025 di Ballroom Wyndham Panbil. Mengusung kemasan artistik, ruang ballroom akan disulap menjadi museum peranakan untuk menguatkan tema utama tahun ini.

Founder sekaligus Advisor Bajafash, Indina Putri Fadjar, mengatakan perhelatan tahun ini kembali menghadirkan kolaborasi kreatif antara musisi jazz dan desainer dari berbagai daerah. Baik dari lokal Kepulauan Riau, nasional, hingga internasional. Menurutnya, Bajafash 2025 mengangkat tema “Strait Inspiration” yang menonjolkan nuansa budaya peranakan sebagai identitas dan daya tarik utama.

“Ini menjadi tahun keempat Bajafash mengusung konsep zero waste. Kami ingin menghadirkan pertunjukan yang bukan hanya indah, tetapi juga berkelanjutan. Dan tahun ini Ballroom Wyndham Panbil akan kami transformasi menjadi museum peranakan,” ungkap Dina dalam konferensi pers di Garden Bay Harbourbay Batam, Kamis (6/11).

Sejumlah penampil dipastikan hadir, termasuk penyanyi senior Indonesia, Vina Panduwinata, yang menjadi bintang utama. Selain itu, akan tampil Jazz DJ, Eli dengan konsep Jazz Keroncong, serta kolaborasinya dengan SMK Muhammadiyah Kabil Batam yang menghadirkan lima karya fashion bertema peranakan. “Mereka akan menampilkan fashion show yang menggambarkan kekayaan budaya peranakan,” tambah Dina.

BACA JUGA: Diisi Musisi Lintas Negara, Bajafash 2025 Hadir dengan Tema The Strait Inspiration

Penampilan lainnya juga datang dari Kangkubawa Jazz Melayu serta paduan suara bergenre jazz dari Global School yang baru saja menorehkan prestasi di Jerman. Tidak hanya menjadi tontonan, Dina menegaskan Bajafash juga menghadirkan unsur edukasi melalui eksplorasi budaya dan kreativitas lintas bidang seni.

Desainer asal Malaysia, Eric Choong, turut bergabung dalam perhelatan ini. Ia mengaku merasa terhormat bisa kembali terlibat. “Ini adalah event yang luar biasa karena mampu memadukan fashion dan musik jazz dalam satu panggung. Saya akan hadir dengan karya yang terinspirasi dari budaya Asia,” ujarnya.

Musisi jazz Amelia Ong juga menyampaikan kebanggaannya bisa kembali naik panggung Bajafash. Ia telah menyiapkan penampilan khusus pada 8 November, termasuk kolaborasi dengan karya Putri Anjani. “Saya sangat menantikan bisa kembali merasakan energi antusiasme penonton Bajafash,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, turut memberikan apresiasi. Ia menyebut Bajafash adalah salah satu event yang memberikan dampak besar bagi pariwisata Batam. “Ini event bergengsi dan selalu menampilkan bintang besar. Bajafash telah berkontribusi dalam memperkenalkan Batam ke tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Ia berharap dukungan masyarakat dan sektor swasta dapat terus menguatkan keberlanjutan event ini. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Artikel Bajafash 2025 Usung “Strait Inspiration”, Kolaborasikan Jazz dan Fashion Bernafaskan Peranakan pertama kali tampil pada Metropolis.

Viral Mobil Dinas BP 2 B Terparkir Berhari-hari di Warung Pecel Lele Tanjungpinang

0
Mobil dinas Pemkab Bintan, BP 2 B yang terparkir berhari-hari di depan warung, di Tanjungpinang. F. Yendi untuk Batam Pos.

batampos – Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan mobil dinas berpelat merah BP 2 B terparkir di warung pecel lele kawasan Kali Pucang, Batu 8, Kota Tanjungpinang.

Dalam video itu disebutkan bahwa mobil tersebut sudah terparkir di lokasi selama delapan hari dan pemiliknya diminta segera mengambil kendaraan itu.

Mobil sedan Toyota Camry berwarna hitam tersebut memicu beragam spekulasi warga. Sebagian warganet menduga mobil itu milik Wakil Bupati Bintan, Deby Maryanti, lantaran menggunakan pelat merah dan tampak seperti kendaraan pejabat.

Namun, Kabag Umum Setdakab Bintan, Sugeng, membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa mobil dinas tersebut bukan kendaraan operasional Wakil Bupati.

“Itu mobil Pak Lamen, waktu beliau masih menjabat Ketua DPRD Bintan. Mobil itu tercatat sebagai aset Sekretariat Dewan Bintan,” ujar Sugeng, Rabu (5/11).

Sugeng menjelaskan, mobil dinas itu kini dalam kondisi mogok dan telah ditarik untuk diperbaiki. Penanganannya saat ini berada di bawah Bidang Aset Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Bintan.

“Mobilnya sudah ditarik dan sedang ditangani oleh bagian aset di BKAD,” jelasnya.

Hingga berita ini diunggah, Kabid Pengelolaan Barang Milik Daerah BKAD Bintan, Sugito, belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait kondisi kendaraan dinas tersebut maupun proses perbaikannya.

Reporter: Slamet Nofasusanto 

Artikel Viral Mobil Dinas BP 2 B Terparkir Berhari-hari di Warung Pecel Lele Tanjungpinang pertama kali tampil pada Kepri.

Kasus Pencurian Material Petronas, Polres Anambas Kejar Dua Pelaku yang Masih Buron

0
Kapolres Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.

batampos – Kasus pencurian material milik perusahaan minyak Malaysia, Petronas, mendapat perhatian serius dari Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Anambas. Aksi pencurian ini dinilai tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga berpotensi merusak hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia.

Sebelumnya, empat pria asal Kabupaten Kepulauan Anambas diamankan oleh aparat Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) pada Minggu (2/11).

Mereka tertangkap saat menjarah material pendukung operasi pengeboran di kilang minyak Petronas yang tengah berlabuh di perairan sekitar 133 mil dari Kuala Kemaman, Negara Bagian Terengganu.

Keempat pelaku masing-masing bernama Sabli, warga Desa Putik; Luhpi, warga Desa Tebang; serta Jahri dan Pai, keduanya berasal dari Desa Candi. Mereka diduga mengambil material dari kapal pengeboran milik Petronas tanpa izin.

Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat keamanan Malaysia untuk menelusuri kemungkinan adanya pelaku lain yang masih berada di wilayah Indonesia.

“Informasi awal menunjukkan ada dua orang lagi, diduga warga Pulau Matak, yang berhasil melarikan diri saat penangkapan. Kami masih melakukan penyelidikan dan koordinasi lintas batas untuk menelusuri mereka,” ujar Kapolres Gusti, Kamis (6/11).

Ia menegaskan bahwa kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut nama baik daerah dan hubungan antarnegara.

“Tindakan seperti ini bukan hanya melanggar hukum, tapi juga mencoreng nama baik masyarakat Anambas. Kami tidak ingin kasus serupa terulang,” tegasnya.

Menurut Gusti, pihaknya akan menindak tegas siapa pun yang terbukti terlibat dalam jaringan pencurian tersebut, termasuk pihak-pihak di dalam negeri yang berperan sebagai penadah atau penyedia logistik.

“Kalau terbukti ada keterlibatan dari pihak lain, baik sebagai pelaku maupun penadah, semuanya akan kami tindak tegas. Ini sudah masuk ranah kriminal internasional,” katanya.

Kapolres juga mengimbau warga Anambas untuk tidak tergiur dengan aktivitas ilegal di laut yang menjanjikan keuntungan besar namun berisiko tinggi.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergoda untuk ikut kegiatan ilegal di laut. Risiko hukum dan keselamatannya sangat tinggi,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, Polres Anambas akan memperkuat pengawasan di wilayah perairan perbatasan yang sering dilalui nelayan tradisional. Langkah ini dilakukan agar aktivitas di laut tetap aman dan tidak disalahgunakan untuk tindak kejahatan lintas negara. (*)

Reporter: Ihsan Imaduddin 

Artikel Kasus Pencurian Material Petronas, Polres Anambas Kejar Dua Pelaku yang Masih Buron pertama kali tampil pada Kepri.

Amsakar ke Kepala OPD Pemko Batam, Kalau Tak Sehaluan, Mundur Saja

0
Wali Kota Batam Amsakar Achmad. f. arjuna

batampos– Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyinggung lemahnya kinerja sejumlah OPD, satu di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) . Penataan pejabat tak bisa dilakukan serampangan, tapi meminta pejabat yang merasa gagal punya budaya malu.

Saat diwawancarai, Amsakar tampak tenang ketika membahas topik yang biasanya membuat pejabat daerah kikuk: evaluasi kepala OPD.

Namun, nada suaranya berubah sedikit lebih tegas ketika menyinggung satu instansi: DLH Batam. Dinas itu memang sudah sejak lama menjadi sorotan publik lantaran amburadul dalam menangani persoalan sampah dan terseret dugaan penyimpangan retribusi hingga diperiksa Polresta Barelang.

“Kalau terkait dengan proses hukum, biarkan saja itu berjalan sesuai dengan mekanismenya. Kami di pemerintahan tidak akan pernah mengintervensi proses hukum,” kata dia, Rabu (5/11).

BACA JUGA: DLH dan Dishub Batam dalam Pantauan Polisi, Amsakar Akui Belum Tahu

Tapi ia tak berhenti di situ. Amsakar menyinggung ihwal restrukturisasi kabinet–hal yang belakangan ramai dibicarakan di internal Pemko Batam. Banyak pihak menunggu langkah berani Amsakar menata kembali barisan kepala dinas yang dinilai tak seirama dengan arah kebijakannya.

“Jabatan bisa kosong kalau orangnya pensiun, meninggal dunia, atau ada problem seperti temuan di kepolisian, kejaksaan, KPU, Bawaslu. Kalau hal-hal itu tidak terpenuhi, maka kita baru bisa mendemosi lewat evaluasi kinerja, dan itu pun baru bisa setelah dua periode penilaian, sekitar enam bulan,” katanya.

Proses evaluasi itu tak bisa lagi dilakukan seperti era sebelumnya yang lebih longgar. Ia menyinggung hasil kajian Kemenkopolhukam dan Kemendagri soal tata kelola pemerintahan yang sempat melibatkan dirinya sebagai narasumber.

“Saya sampaikan waktu itu, jangan sampai semua problem kepegawaian mesti sampai ke pusat. Setiap kepala daerah mestinya punya ruang memilih pasukannya,” ujar dia.

“Bagaimana mungkin kalau mazhabnya berbeda tapi masih bekerja dalam satu tim? Untuk memperkuat tim itu harus semazhab, sehaluan, sehati, baru bisa cepat bergeraknya,” tambahnya.

Pernyataan itu terasa seperti sindiran bagi sejumlah kepala OPD yang disebut-sebut “jalan sendiri” tanpa koordinasi dengan kepala daerah. Di internal Pemko, isu ini sudah lama menjadi bisik-bisik. Beberapa dinas strategis dianggap kurang peka terhadap arahan politik pembangunan yang diusung Amsakar.

Amsakar tak menampik. Ia justru menyebut fenomena itu sebagai akibat dari “budaya kerja yang setengah hati.”

“Kalau kepala dinas bekerja alakadarnya, ya harus punya budaya malu. Malu, lah. Mengundurkan diri saja,” katanya, tegas.

Namun demikian, meski banyak yang mendesak agar dia segera merombak struktur pejabat, Amsakar akui tangannya belum sepenuhnya bebas. Pelantikan Sekda baru membuatnya harus menunggu enam bulan sebelum evaluasi resmi bisa dilakukan.

“Evaluasi baru bisa kita buat setelah enam bulan dari sekarang. Itulah sebabnya restrukturisasi pejabat ini sedikit agak ruwet,” ujarnya.

Sampai waktu itu tiba, Amsakar seperti sedang menunggu. Tapi pesan politiknya sudah jelas: mereka yang tak sejalan, bersiap-siaplah tersingkir–atau, seperti katanya sendiri, malu, lah. Mengundurkan diri saja. (*)

Reporter: Arjuna

Artikel Amsakar ke Kepala OPD Pemko Batam, Kalau Tak Sehaluan, Mundur Saja pertama kali tampil pada Metropolis.

Amsakar ke Kepala OPD Pemko Batam, Kalau Tak Sehaluan, Mundur Saja

0
Wali Kota Batam Amsakar Achmad. f. arjuna

batampos– Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyinggung lemahnya kinerja sejumlah OPD, satu di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) . Penataan pejabat tak bisa dilakukan serampangan, tapi meminta pejabat yang merasa gagal punya budaya malu.

Saat diwawancarai, Amsakar tampak tenang ketika membahas topik yang biasanya membuat pejabat daerah kikuk: evaluasi kepala OPD.

Namun, nada suaranya berubah sedikit lebih tegas ketika menyinggung satu instansi: DLH Batam. Dinas itu memang sudah sejak lama menjadi sorotan publik lantaran amburadul dalam menangani persoalan sampah dan terseret dugaan penyimpangan retribusi hingga diperiksa Polresta Barelang.

“Kalau terkait dengan proses hukum, biarkan saja itu berjalan sesuai dengan mekanismenya. Kami di pemerintahan tidak akan pernah mengintervensi proses hukum,” kata dia, Rabu (5/11).

BACA JUGA: DLH dan Dishub Batam dalam Pantauan Polisi, Amsakar Akui Belum Tahu

Tapi ia tak berhenti di situ. Amsakar menyinggung ihwal restrukturisasi kabinet–hal yang belakangan ramai dibicarakan di internal Pemko Batam. Banyak pihak menunggu langkah berani Amsakar menata kembali barisan kepala dinas yang dinilai tak seirama dengan arah kebijakannya.

“Jabatan bisa kosong kalau orangnya pensiun, meninggal dunia, atau ada problem seperti temuan di kepolisian, kejaksaan, KPU, Bawaslu. Kalau hal-hal itu tidak terpenuhi, maka kita baru bisa mendemosi lewat evaluasi kinerja, dan itu pun baru bisa setelah dua periode penilaian, sekitar enam bulan,” katanya.

Proses evaluasi itu tak bisa lagi dilakukan seperti era sebelumnya yang lebih longgar. Ia menyinggung hasil kajian Kemenkopolhukam dan Kemendagri soal tata kelola pemerintahan yang sempat melibatkan dirinya sebagai narasumber.

“Saya sampaikan waktu itu, jangan sampai semua problem kepegawaian mesti sampai ke pusat. Setiap kepala daerah mestinya punya ruang memilih pasukannya,” ujar dia.

“Bagaimana mungkin kalau mazhabnya berbeda tapi masih bekerja dalam satu tim? Untuk memperkuat tim itu harus semazhab, sehaluan, sehati, baru bisa cepat bergeraknya,” tambahnya.

Pernyataan itu terasa seperti sindiran bagi sejumlah kepala OPD yang disebut-sebut “jalan sendiri” tanpa koordinasi dengan kepala daerah. Di internal Pemko, isu ini sudah lama menjadi bisik-bisik. Beberapa dinas strategis dianggap kurang peka terhadap arahan politik pembangunan yang diusung Amsakar.

Amsakar tak menampik. Ia justru menyebut fenomena itu sebagai akibat dari “budaya kerja yang setengah hati.”

“Kalau kepala dinas bekerja alakadarnya, ya harus punya budaya malu. Malu, lah. Mengundurkan diri saja,” katanya, tegas.

Namun demikian, meski banyak yang mendesak agar dia segera merombak struktur pejabat, Amsakar akui tangannya belum sepenuhnya bebas. Pelantikan Sekda baru membuatnya harus menunggu enam bulan sebelum evaluasi resmi bisa dilakukan.

“Evaluasi baru bisa kita buat setelah enam bulan dari sekarang. Itulah sebabnya restrukturisasi pejabat ini sedikit agak ruwet,” ujarnya.

Sampai waktu itu tiba, Amsakar seperti sedang menunggu. Tapi pesan politiknya sudah jelas: mereka yang tak sejalan, bersiap-siaplah tersingkir–atau, seperti katanya sendiri, malu, lah. Mengundurkan diri saja. (*)

Reporter: Arjuna

Artikel Amsakar ke Kepala OPD Pemko Batam, Kalau Tak Sehaluan, Mundur Saja pertama kali tampil pada Metropolis.

Tak Cair Sejak 2022, Operator Data Desa Minta Pemkab Lingga Berikan Lagi Intensif

0
Ilustrasi insentif. F. Jawa Pos.

batampos – Para operator data desa di Kabupaten Lingga kembali menyuarakan harapan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga menyalurkan kembali insentif yang pernah mereka terima beberapa tahun lalu.

Pada tahun 2022, seluruh operator desa di Lingga rutin mendapatkan insentif setiap tiga bulan sekali sebagai bentuk penghargaan atas kerja mereka dalam mengelola dan memperbarui data masyarakat di tingkat desa. Namun, sejak tahun tersebut, bantuan itu tak lagi diberikan hingga kini.

Salah satu operator data di Desa Batu Kacang, Kecamatan Singkep, Asdian, mengungkapkan bahwa terakhir kali mereka menerima insentif adalah pada tahun 2021.

“Tahun 2021 itu kami hanya menerima insentif untuk empat bulan, Rp250 ribu per bulan. Jadi totalnya sekitar Rp1 juta. Setelah itu, tidak pernah lagi kami menerima dana insentif tersebut,” ujar Asdian, Kamis (6/11).

Asdian mengatakan, meski jumlahnya tidak besar, insentif tersebut sangat berarti bagi operator yang setiap hari bergelut dengan data masyarakat, terutama terkait kemiskinan dan sosial desa.

“Kami ini ujung tombak data di desa. Semua data, khususnya data kemiskinan, berasal dari kami. Kami yang menginput, mengolah, dan sering menghadapi masyarakat langsung,” tambahnya.

Ia juga menyoroti meningkatnya beban kerja para operator seiring dengan pembaruan sistem aplikasi pemerintah. Menurutnya, setiap perubahan menu aplikasi menuntut mereka untuk memperbarui dan menginput ulang data agar tetap sinkron.

“Aplikasi yang kami pakai sering berubah menunya. Kami harus terus menyesuaikan, menginput ulang, dan memastikan data tetap akurat,” jelasnya.

Para operator berharap Pemkab Lingga melalui dinas terkait bisa kembali menyalurkan insentif yang sempat dihentikan. Selain sebagai bentuk apresiasi, insentif tersebut juga dianggap sebagai motivasi agar mereka dapat terus menjaga kualitas data desa.

“Kami tidak menuntut banyak, hanya berharap insentif seperti dulu bisa kembali diberikan. Itu bentuk penghargaan bagi kami yang menjaga akurasi data masyarakat,” pungkas Asdian. (*)

Reporter: Vatawari 

Artikel Tak Cair Sejak 2022, Operator Data Desa Minta Pemkab Lingga Berikan Lagi Intensif pertama kali tampil pada Kepri.

Pulau Jemaja Punya Jalan Baru, Bupati Aneng Pantau Progres di Lapangan

0
Bupati Anambas, Aneng meninjau pembukaan jalan dari Teluk Kaut menuju Atap di Pulau Jemaja. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.

batampos – Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, meninjau langsung progres pembukaan jalan baru yang menghubungkan Teluk Kaut, Desa Mampok, menuju Atap di Pulau Jemaja, Kamis (6/11).

Dalam kunjungan itu, Aneng melihat secara detail proses pekerjaan di lapangan, mulai dari penebasan lahan hingga pembentukan badan jalan yang masih berupa hutan lebat. Sejumlah alat berat seperti traktor dan ekskavator dikerahkan untuk mempercepat pengerjaan.

Menurut Aneng, proyek ini menjadi salah satu yang paling dinantikan masyarakat setempat karena selama puluhan tahun mereka hidup dalam keterisolasian.

“Jalan ini sudah jadi idaman masyarakat sejak lama. Mereka terisolasi sejak masa masih bergabung dengan Kabupaten Natuna,” ujar Aneng di lokasi peninjauan.

Ia menegaskan, pembukaan jalan ini akan membuka akses masyarakat di wilayah pesisir selatan Pulau Jemaja, sekaligus mempercepat aktivitas ekonomi antar desa.

“Begitu jalan ini tembus, warga bisa lebih mudah ke pusat kegiatan ekonomi dan pelayanan publik. Dampaknya besar untuk kemajuan Jemaja,” tambahnya.

Proyek pembukaan jalan ini didukung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui APBN Perubahan 2025 dengan nilai mencapai Rp24 miliar.

“Panjangnya sekitar 2,5 kilometer. Meski belum terlalu panjang, tapi ini langkah awal penting untuk membuka konektivitas antarwilayah di Pulau Jemaja,” jelas Aneng.

Ia meminta kontraktor bekerja maksimal sesuai spesifikasi dan waktu yang ditetapkan. Pemerintah daerah akan memantau ketat setiap tahapan pekerjaan agar hasilnya berkualitas.

“Kami tidak ingin proyek ini asal jadi. Setiap rupiah anggaran harus menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat,” tegasnya.

Selain proyek ini, Pemkab Anambas berencana melanjutkan pembangunan akses jalan ke wilayah lain yang masih sulit dijangkau. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerataan pembangunan di seluruh kecamatan.

“Jangan ada lagi desa yang tertinggal hanya karena akses jalannya tidak ada. Pemerataan pembangunan itu kunci kesejahteraan masyarakat,” pungkas Aneng. (*)

Reporter: Ihsan Imaduddin 

Artikel Pulau Jemaja Punya Jalan Baru, Bupati Aneng Pantau Progres di Lapangan pertama kali tampil pada Kepri.

Warga Pertanyakan Limbah B3 Pertamina Tanjunguban Diangkut Lewat Pelabuhan Umum

0
Kapal yang diduga mengangkut limbah B3 dari Pertamina saat sandar di Pelabuhan Kota Segara di Kampung Mentigi, Tanjunguban, akhir Oktober lalu. F. Mamat untuk Batam Pos.

batampos – Warga di Kecamatan Bintan Utara mempertanyakan aktivitas pengangkutan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) milik Pertamina Tanjunguban yang dilakukan melalui Pelabuhan Kota Segara di Kampung Mentigi.

Pengangkutan limbah yang jumlahnya mencapai belasan ton itu sempat menjadi perhatian warga sekitar karena dilakukan lewat pelabuhan umum, bukan terminal khusus milik Pertamina.

Salah satu warga Tanjunguban, Masdar, mengaku heran dengan keputusan tersebut. Ia menilai Pertamina seharusnya menggunakan fasilitas terminal khusus yang sudah disediakan untuk aktivitas pengelolaan limbah B3.

“Kenapa harus melalui pelabuhan di sini? Bukankah Pertamina punya pelabuhan sendiri untuk menangani limbah B3?” ujar Masdar, Kamis (6/11).

Menanggapi hal itu, Manager Integrated Terminal Tanjunguban Pertamina, Yohannes Mulatua Sianturi, menjelaskan bahwa pengangkutan limbah B3 melalui Pelabuhan Kota Segara hanya dilakukan sementara.

Menurut Yohannes, terminal khusus Pertamina saat ini sedang dalam proses pengurusan izin ulang di kementerian, sehingga aktivitas pengangkutan dialihkan untuk sementara waktu.

“Jadi kemarin hanya satu kali saja menggunakan Pelabuhan Segara,” kata Yohannes.

Ia memastikan seluruh kegiatan pengelolaan limbah B3 di lingkungan Pertamina Tanjunguban tetap mengikuti prosedur dan regulasi yang berlaku. Seluruh proses, katanya, diawasi langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

“Setiap tahun kami melakukan pengangkutan limbah B3 dengan standar operasional yang ketat sesuai arahan KLH. Kami pastikan semuanya sesuai regulasi,” tegasnya. (*)

Reporter: Slamet Nofasusanto 

Artikel Warga Pertanyakan Limbah B3 Pertamina Tanjunguban Diangkut Lewat Pelabuhan Umum pertama kali tampil pada Kepri.

Korban Pemerasan Oknum Aparat Semakin Trauma, Keluarga Resah dengan Kedatangan Orang Tak Dikenal

0
Korban penggerebekan fiktif dan pemerasan Budianto Jauhari, warga Botania 1, Batamkota saat didampingi kuasa hukumnya Deni Kresianto Tampubolon. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos— Trauma mendalam masih dialami Budianto Jauhari dan istrinya, usai menjadi korban dugaan pemerasan yang dilakukan oleh delapan oknum aparat yang mengaku sebagai petugas BNN pada 16 November lalu. Tidak hanya tekanan saat kejadian berlangsung, namun kondisi psikologis keluarga semakin memburuk setelah beberapa orang yang mengaku intel mendatangi rumah mereka ketika proses pelaporan tengah berjalan.

Budianto mengatakan, ia kini sangat berhati-hati dalam setiap langkah, bahkan mengalami ketakutan untuk datang ke kantor polisi. “Trauma. Saya sampai lapor ke Polda lewat barcode karena trauma,” ujar Budianto ketika dihubungi Batam Pos, Kamis (6/11).

Menurutnya, hal yang membuat keluarga semakin tertekan adalah kedatangan beberapa orang ke rumahnya pada hari yang sama ia melapor ke Denpom 1/6 Batam dan Polda Kepri. Orang-orang itu mengaku dari intel Polda dan ingin meminta keterangan terkait kasus tersebut. Namun, kedatangan itu dilakukan tanpa pemberitahuan resmi maupun pendampingan penyidik. “Istri saya makin trauma. Mereka datang tiba-tiba, tanpa surat apa-apa. Kami bingung, isteri saya semakin trauma dan tertekan,” ujarnya.

Budianto mengaku keberadaan tamu-tamu tak resmi itu menimbulkan rasa curiga dan ketakutan baru. Ia menilai langkah klarifikasi seharusnya dilakukan secara resmi melalui penyidik, bukan dengan mendatangi rumah korban tanpa prosedur yang jelas. “Kalau memang mau ambil keterangan, kan ada jalurnya. Ini kami lagi berjuang mencari perlindungan hukum, malah yang datang orang-orang yang membuat kami takut,” katanya.

BACA JUGA: Iptu TSH Diperiksa Intensif, Diduga Terima Rp40 Juta dari Hasil Pemerasan di Botania 1

Akibat kejadian ini, istrinya yang tengah hamil disebut mengalami ketakutan berat. Ia bahkan meminta untuk sementara pindah dari rumah karena tak merasa aman lagi di lingkungan tersebut. “Istri saya sampai bilang tidak mau tinggal di rumah itu dulu. Cepat panik kami sekeluarga,” tuturnya.

Budianto menegaskan bahwa dirinya hanya ingin kasus ini diproses secara transparan, tanpa tekanan dari pihak mana pun. Ia berharap laporan yang sudah ia buat ke Polda Kepri dan Denpom 1/6 Batam diproses sesuai hukum. “Kami keluarga kecil. Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya minta keadilan dan perlindungan. Jangan sampai ada korban lain,” ujar dia.

Sementara itu, laporan Budianto terkait dugaan pemerasan dan ancaman kekerasan telah diterima oleh Denpom 1/6 Batam sebelumnya. Namun, hingga kini pihak terkait belum memberikan penjelasan lanjutan mengenai proses penyelidikan maupun penanganan terhadap oknum yang diduga terlibat.

Kasus ini terus menjadi perhatian publik, dan Budianto berharap dukungan media dapat membantu memastikan proses hukum berjalan tanpa intervensi. “Selama ini kami hidup sederhana dan tenang. Sekarang kami hanya ingin rasa aman kami kembali,” tutupnya.

Kombes Pol Agung Budi Leksono, S.H, S.I.K yang dikonfirmasi soal adanya petugas Intel Polda Kepri yang mendatangi rumah Budianto mengatakan bahwanya benar ada anggotanya yang mendapat tugas untuk mengumpulkan informasi ke keluarga korban. ”Benar itu anggota, tapi saat ke rumah korban tak ketemu langsung dengan yang bersangkutan,” ujarnya singkat.

Benarkan Ada Laporan Pemerasan

Sementara itu Komandan Detasemen Polisi Militer (Denpom) 1/6 Batam, Letkol CPM Dela Guslapa Partadimadja, membenarkan pihaknya telah menerima laporan dugaan pemerasan yang dilakukan oleh komplotan oknum aparat terhadap seorang warga Batam. Namun, ia belum dapat memberikan keterangan lebih jauh karena saat ini kasus tersebut masih berada dalam tahap penyelidikan awal.

“Laporannya sudah masuk. Kita sedang proses dulu,” ujarnya singkat ketika ditemui di Kantor Bea dan Cukai Batam, Rabu (5/11).

Ketika ditanya mengenai dugaan keterlibatan sejumlah oknum anggota TNI dalam peristiwa tersebut, termasuk seorang oknum dari satuan polisi militer seperti yang disampaikan oleh kuasa hukum korban, Letkol Dela memilih tidak banyak berkomentar. “Saya belum bisa menyampaikan soal itu sekarang. Tunggu hasil penyelidikan,” ucapnya sembari menutup pembicaraan.(*)

Reporter: Eusebius Sara-Yashinta

Artikel Korban Pemerasan Oknum Aparat Semakin Trauma, Keluarga Resah dengan Kedatangan Orang Tak Dikenal pertama kali tampil pada Metropolis.

Ini Tanggapan Walikota Soal Keluhan UMKM Genta I

0
Wali Kota Batam, sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad. f. arjuna

batampos– Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menanggapi keluhan para pelaku UMKM di kawasan Genta, Batu Aji, yang mengeluhkan dampak penutupan jalan di sekitar lokasi usaha mereka. Penutupan tersebut menyebabkan penurunan omzet hingga mendorong sejumlah pelaku usaha melakukan aksi protes.

Amsakar mengaku telah menerima aspirasi para pelaku UMKM. Katanya, pemerintah tetap berupaya mencari solusi terbaik tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan ketertiban lalu lintas.

“Saya kemarin sudah menyampaikan ke teman-teman pelaku UMKM bahwa prinsip utama saya, jangan sampai setelah kita bangun jalan nanti situasi di situ malah crowded lagi,” ujar dia, Rabu (5/11).

BACA JUGA: Akses Jalan Genta I Masih Diblokir, Ini Permintaan Pedagang ke Walikota Batam

Pihaknya akan segera menurunkan tim dari Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub), dan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM-SDA) untuk meninjau langsung kondisi di lapangan.

Menurut Amsakar, pembukaan kembali akses jalan tersebut dimungkinkan apabila hasil evaluasi menunjukkan kondisi lalu lintas cukup aman dan tidak menimbulkan kemacetan.

“Saya juga minta, sekiranya kemudian itu kita akan buka kembali, tolong warga juga berkomitmen, antara lain jangan sampai kondisi di situ crowded, juga jangan sampai ada sampah-sampah lagi,” katanya.

Namun demikian,keputusan apa pun nantinya harus mempertimbangkan faktor keselamatan masyarakat pengguna jalan. “Ini terkait juga soal nyawa, lalu lintas kendaraan. Bisa kecelakaan dan sebagainya. Di samping kondisi yang bisa membuat crowded, juga sisi lain soal keselamatan orang,” tambah dia.

Ia memastikan, pemerintah akan melakukan analisis secara objektif sebelum mengambil keputusan akhir terkait status jalan tersebut.

“Nanti saya akan minta analisis secara objektif,” kata Amsakar. (*)

Reporter: Arjuna

Artikel Ini Tanggapan Walikota Soal Keluhan UMKM Genta I pertama kali tampil pada Metropolis.