
batampos – Pemerintah fokus pada produksi dalam negeri, termasuk bahan baku obat. Kemarin (2/6) Menkes Budi Gunadi Sadikin melakukan kick off change source penggunaan bahan baku obat dalam negeri di PT. Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, Cikarang, Bekasi.
Budi menyatakan bahwa masih ada produsen farmasi yang tidak menggunakan bahan baku dalam negeri. Untuk itu dia berencana memanggil mereka. “Kalau setelah dipanggil tetap tidak mau maka kami akan mencoretnya dari e-katalog,” ujar Budi.
Upanya change source ini, menurutnya, merupakan komitmen pemerintah untuk memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri (PDN). Selain itu juga menjadi milestone dalam mewujudkan ketahanan sektor kefarmasian di tanah air. “Hal ini sejalan dengan amanat Inpres Nomor 2 Tahun 2022 tentang percepatan peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan produk usaha mikro, usaha kecil, dan koperasi dalam rangka menyukseskan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI),” bebernya.
Hingga 2021, terdapat beberapa bahan baku obat yang telah dapat diproduksi dalam negeri antara lain Paracetamol diproduksi oleh PT Riasima serta Klopidogrel dan Atorvastatindiproduksi oleh PT Kimia Farma. Selain itu ada juga erithropoietin yang diproduksi oleh PT Daewoong Infion dan PT Kalbio Global, garam farmasi yang diproduksi oleh PT Karya Daya Syafarmasi, serta simvastatin, atorvastatin, clopidogrel, efavirenz, entekavir yang diproduksi PT. Kimia Farma Sungwun Pharmacopeia.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Rizka Andalucia dalam kesempatan yang sama menyebutkan bahwa kegiatan fasilitasi change source telah dimulai sejak 2021. “Harapannya hasil change source selesai pada September 2022, untuk selanjutnya dimasukkan ke e-katalog, kemudian dimanfaatkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan,” ungkapnya.
Namun demikian, Hingga bulan ini penyerapan perubahan bahan baku obat dalam negeri masih terbilang rendah. Hal ini dikarenakan adanya tahapan dan penyesuaian yang masih harus dilakukan oleh industri farmasi saat melakukan transisi bahan baku obat. “Pemerintah hadir mendampingi industri farmasi formulasi dalam melakukan change source bahan baku obat dari bahan baku impor menjadi bahan baku obat dalam negeri,” katanya.
Direktur Utama Holding BUMN Farmasi Honesti Basyir menyebutkan perubahan sumber daya ini adalah bagian dari terobosan baru untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor yang masih sangat tinggi. Menurutnya, 90 persen bahan baku obat masih bersumber impor. “Di grup kami bisa mengurangi hingga 20 persen kebergantungan bahan baku obat,” katanya. Dia menargetkan, capaian 20 persen keergantungan bahan baku impor ini dapat dicapai pada 2026.
“Memang ini agak susah untuk menjadi 0 persen karena ada industri hulu, kimia dasar yang juga harus kita perbaiki,” ujarnya. Untuk mencapai target tersebut, Honesti mengharapkan dukungan pemerintah dalam regulasi yang lebih simpel dan mudah. (*)
Reporter: JP Group


