batampos– Jamu sehat Tatik, salah satu produk minuman kesehatan dari Tanjungpinang sudah mencapai pasar internasional. Pemasarannya tidak hanya sampai ke Malaysia dan Singapura, namun juga sudah sampai ke Negara di Timur Tengah, Turki.
Berawal dari kebiasaan sejak kecil yang suka minum jamu ditambah ilmu turunan dari orang tua, Sutati, perempuan kelahiran Cilacap, Jawa Tengah yang sekarang sudah berusia 52 tahun sudah fokus pada usaha membuat usaha jamu sejak tahun 2014 lalu.

“Selain saya sudah terbiasa minum jamu saya terinspirasi dari jamu gendong yang bahanya tidak banyak, tapi saya buat lebih lengkap, beda dari yang lain,”kata Sutati dijumpai di rukonya yang terletak di Jalan I.R Sutami, Sabtu (4/6) kemarin.
Jamu sehat tatik itu diolah dengan campuran sejumlah bahan rempah seperti jahe merah dan putih, kunyit merah dan putih, daun sirih, buah pinang, daun serai, gula merah dan asam jawa yang diyakini berkhasiat untuk menurunkan penyakit darat tinggi, kolesterol, asam urat, nyeri-nyeri, masalah pada kewanitaan dan penyakit lainnya.
Sekarang ini jamu yang diracik oleh perempuan yang dulunya menggeluti bidang salon itu sudah dipasarkan diberbagai kota dan kabupaten di luar Kepri seperti Jakarta bahkan sampai ke Malaysia, Singapura dan Turki.
“Pemasarannya sampai ke Turki dan negara luar itu kita posting melalui facebook, kemudian banyak yang inbox menanyakan khasiat jamu yang kami jual,”terangnya.
Pengiriman ke Singapura menggunakan jasa kapal feri sedangkan ke Turki dikirim menggunakan jasa pengiriman barang. Walaupun dikirim ke luar negeri Sutati tetap konsisten dengan harga yang dijual di Tanjungpinang.
Untuk kemasan langsung diminum tabung plastik dengan kepasitas 500 mililiter dijual Rp 25 ribu dan kemasan 1,5 liter Rp 50 ribu. Tatik juga menjual produknya dalam bentuk sari pati yang dijual Rp 250 ribu untuk kemasan setengah liter.
Minuman yang masuk kategori obat itu direspon baik oleh masyarakat Tanjungpinang saat pertama kami di sebar ke media sosial, bahkan saat ini pelanggannya sudah lebih dari 1.000 orang. Rata-rata satu pembeli yang rutin minum jamu kembali ke tokonya 4 hari kemudian.
Sekarang ini produksi jamu lengkap itu diproduksi sekitar 22 liter setiap hari, dengan omzet yang bervariasi mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta dalam per hari dan dalam satu bulan pihaknya bisa meraup Rp 30 juta.
BACA JUGA: Kunjungi Natuna, Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia Takjub dengan Keindahan Alam Natuna
Saat awal pandemi covid-19 melanda pesanan jamu sempat meningkat drastis oleh masyarakat terutama mereka yang terpapar, sehingga timnya harus mengantar langsung ke depan rumah pembeli tersebut.
“Pengakuannya jamu ini bagus untuk kesehatan orang yang terpapar corona, dan beberapa pembeli lain juga menyampaikan hal yang sama kepada kami yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita,”ujarnya lagi.
Ia juga tidak khawatir akan bahan bakunya karena sudah banyak dijual di pasar tradisional.”Paling terlambat pengiriman saja dari luar, yang agak sulit sedikit itu bahanya kunyit putih, selebihnya mudah didapatkan,”terangnya. (*)
Reporter: Peri Irawan




