
batampos-Pemerintah Provinsi Kepri menutup semester pertama Tahun Anggaran (TA) 2022 dengan kondisi defisit sebesar Rp390 miliar. Pada sisi lainnya, PT. Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Persero menerima permohonan pinjaman dana sebesar Rp180 miliar.
“Permohonan pinjaman kita telah disetujui, namun pembayaran untuk pembangunan infrastruktur dilakukan sesuai dengan progres,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri, Adi Prihantara di Gedung DPRD Provinsi Kepri, Tanjungpinang, Senin (4/7)
Pejabat eselon I Pemprov Kepri tersebut menegaskan, ada beberapa pembangunan infrastruktur yang akan menggunakan dana pinjaman tersebut. Diantaranya adalah penataan Jalan Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang sekitar Rp40 miliar. Kemudian ada pembangunan integrasi Pelantar I dan Pelantar II sebesar Rp40 miliar.
“Kemudian ada pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) Karimun sebesar Rp10 miliar,” jelas Mantan Sekda Kabupaten Bintan tersebut.
BACA JUGA: PAD di Bawah 50 Persen, APBD Kepri Defisit Rp390 Miliar
Disinggung apakah tetap akan melakukan rasionalisasi anggaran? Mengenai hal ini, Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemprov Kepri tersebut menegaskan, pihaknya tetap akan melakukan rasionalisasi atau penyesuaian anggaran di APBD Perubahan nanti.
“Kondisi pendapatan daerah kurang menjanjikan. Langkah harus tetap melakukan rasionalisasi anggaran,” tegasnya.
Dikatakanya juga, pada tahun 2022 ini, Pemprov Kepri juga sudah menyetop persediaan anggaran penanganan Covid-19. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga neraca keuangan daerah. Namun demikian, Pemprov Kepri sudah memplot Biaya Tidak Tertuga (BTT) sebesar Rp30 miliar.
“Apabila terjadi peningkatan kasus Covid-19, kita akan mengoptimal anggaran BTT untuk kebutuhan tersebut,” tutup Adi Prihantara.
Sementara itu, berdasarkan update di Dirjen Perimbangan Keuangan Negara (DJPK) Kementerian Keuangan, Pemprov Kepri menutup semester pertama dengan kondisi defisit sebesar Rp390 miliar. Adapun kondisi pendapatan daerah sebesar Rp1.1 triliun. Sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada angka Rp593 miliar atau 44 persen dari target Rp1,3 triliun. (*)
reporter: Jailani


Kando ialah istilah Jepang yang bermakna perasaan seketika yang muncul disebabkan oleh kepuasan yang mendalam dan kegembiraan luar biasa yang dialami ketika kita merasakan suatu hal yang bernilai tinggi.






