
batampos – Tujuan utama keberadaan kebun raya tempat untuk menyelamatkan tanaman yang terancam punah (critically endangered). Sebagaimana yang dilakukan Kebun Raya Cibodas di Cianjur, Jawa Barat.
Kebun Raya Cibodas merupakan salah satu jujukan tempat rekreasi bagi warga ibu kota dan sekitarnya. Salah satu yang paling populer adalah koleksi tanaman sakura yang mekar pada bulan-bulan tertentu. Dalam momen yang pas, berada di Taman Sakura Kebun Raya Cibodas bakal serasa di Tokyo, Jepang.
Namun, lebih dari sekadar tempat menghijaukan mata, Kebun Raya Cibodas memiliki fungsi yang sangat vital. Yakni, wahana konservasi tanaman. Tujuannya, mencegah kepunahan. Saat ini ada 10 koleksi tanaman di Kebun Raya Cibodas yang masuk kategori critically endangered atau terancam punah.
Peninjauan koleksi tanaman langka dipandu Ujang Rustandi dan Muhamad Muchlis Soleh. Keduanya adalah petugas penerima data material koleksi dan perbanyakan koleksi kritis, terancam, dan kultur jaringan Kebun Raya Cibodas.
Ujang terlihat sibuk mengamati tanaman endemik Pulau Jawa bernama Syzygium ampliflorum (Koord. & Valeton) Amshoff. Dia menyatakan, meskipun endemik Pulau Jawa, tanaman Syzygium ampliflorum Amshoff tersebut masuk kategori hampir punah. Untuk itu, dia berusaha merawat tanaman tersebut sehingga bisa dibudidayakan atau diperbanyak.
’’Tidak ada perlakuan yang super khusus,’’ katanya.
Ujang menyatakan, kunci dari upaya konservasi adalah bisa memperbanyak tanamannya. Karena itu, iklim memegang peranan utama. Tanaman langka itu belum terlalu besar. Tanaman yang masuk marga Syzygium atau keluarga jambu-jambuan itu ditanam di sebuah pot berukuran besar.
Selanjutnya, Ujang mengambil koleksi tanaman terancam punah lainnya dari sebuah rumah kaca. Yakni, Aloe jucunda Reynolds. Sesuai namanya, tanaman tersebut masuk kategori lidah buaya. Namun, tampilannya lebih mungil. Daun atau lidah tanaman itu tidak sebesar lidah buaya pada umumnya.
Perbedaan lainnya adalah warnanya lebih gelap serta durinya lebih tajam dan rapat. Tanamannya terlihat sangat segar. Bahkan, sudah muncul tangkai bunganya.
’’Yang Aloe ini masuk critically juga. Tanaman ini dari Meksiko, dibawa ke Indonesia sejak masa penjajahan Belanda,’’ tutur Ujang.
Menurut dia, tanaman Aloe jucunda Reynolds sejatinya tidak terlalu sulit untuk ditanam. Statusnya terancam punah bisa jadi karena sudah tidak ada lagi yang berminat untuk menanamnya. Berdasar data Plantnet.org, tanaman itu mengalami tren penurunan populasi sehingga harus dijaga supaya tidak punah. Tanaman tersebut juga sempat didokumentasikan hidup di Somalia.
Untuk dua tanaman langka tadi, perawatan tidak terlalu susah. Beda cerita dengan Musa insularimontana Hayata. Tanaman itu berada dalam keluarga (family) pisang dan berasal dari Taiwan. Meskipun dari negara yang cukup jauh, tanaman tersebut sebelumnya banyak ditemukan di Pulau Jawa.
’’Dikarenakan faktor alam, termasuk bencana, tanaman ini terancam punah,’’ lanjutnya.
Meskipun masuk keluarga pisang, tampilan Musa insularimontana Hayata cukup unik. Sekilas sama dengan pohon pisang umumnya. Namun, terlihat sedikit kurus.
Bukan karena tak terawat, melainkan memang ukurannya lebih kecil. Kemudian lebih tinggi daripada pohon pisang pada umumnya.
Yang paling tampak mencolok adalah jantung pisangnya berwarna kuning. Beda dengan jantung pisang umumnya yang berwarna merah tua.
’’Rasanya seperti apa, saya juga penasaran,’’ kata Ujang. Dia menyatakan, meskipun tanaman ini sudah cukup lama di Kebun Raya Cibodas, dia tidak sempat memakan buah pisangnya.
BACA JUGA: Episcia, Tanaman Hias Jadul yang Kembali Dilirik
Dia menjelaskan, pisang pada umumnya beregenerasi dengan tunas. Tunasnya muncul tidak jauh dari pohon utamanya. Sementara itu, tanaman Musa insularimontana Hayata tersebut berbeda. Anakannya memang tunas, tetapi berjarak dengan tanaman utamanya. Jaraknya bisa 1 meter atau lebih dan dihubungkan dengan akar memanjang.
Model berkembang biak seperti itu menjadi tantangan sendiri bagi Ujang. Saat dikunjungi, ada satu tunas yang mulai menyembul dari dalam tanah. Ujang berharap tunas itu sehat dan tumbuh besar hingga menghasilkan pisang.
Secara umum, Ujang menyatakan, perbanyakan tanaman di Kebun Raya Cibodas menggunakan teknik kultur jaringan. Jadi, tidak perlu menunggu siklus keluarnya biji. Namun, ada kalanya tanaman yang cukup sulit diperbanyak dengan teknik kultur jaringan. (*)
Reporter: JP Group



