
batampos – Properti menjadi salah satu investasi yang bisa beragam bentuknya. Mulai disewakan, dikontrakkan, hingga dibuat rumah kos. Bukan hanya passive income yang diharapkan investor. Rumah kos bisa jadi penghasilan utama dan likuid. Jadikan investasi properti sebagai rumah kos.
Banyak indekos yang berdiri di kawasan kampus, perkantoran, dan pabrik di kota-kota besar. Salah satunya Mega Utama Mandiri Kos milik Saili Ma’ali. Rumah lima lantai tersebut berada di Jalan Salam IV, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Lokasinya terbilang sangat strategis. Hanya berjarak 300 meter dari Universitas Bina Nusantara (Binus) Kampus Anggrek. Jalan kaki dari kos ke kampus hanya butuh 3 menit. ’’Saya bikin kos ini sebenarnya memang untuk mahasiswa,” kata Saili saat dikunjungi JPGroup, belum lama ini.
Dia membeli tanah seluas 228 meter persegi tersebut pada 1999. Ketika itu, harganya masih Rp 1.830.000 per meter persegi. Setahun kemudian, dia membangun kos tiga lantai di atas tanah itu. Pembangunan menelan biaya mencapai Rp 1 miliar.
’’Rumah saya awalnya di Batusari, Kemanggisan. Terus lihat ada proyek apa itu? Awalnya saya nggak tahu. Ternyata universitas. Wah, bagus dong prospeknya, pikir saya,’’ kenang pria 59 tahun itu.
Melihat kehidupan kampus dengan banyaknya mahasiswa pendatang, Saili menambah dua lantai kos miliknya. Total Mega Utama Mandiri Kos memiliki 60 kamar. Harga sewa kamar yang ditawarkan bervariasi. Mulai Rp 1,4 juta hingga Rp 2,25 juta. Bergantung posisi lantai kamar.
’’Biasanya, lantai 4 dan 5 jadi rebutan. Jarang kosong. Semua kamar full AC, wifi, laundry pakaian gratis. Bedanya, ukuran kamarnya agak besar,’’ jelasnya.
Selain Mega Utama Mandiri Kos, Saili memiliki beberapa indekos. Total, saat ini dia memiliki 162 kamar. Dari usaha kos-kosan itu, Saili mampu meraup pemasukan Rp 84 juta sampai Rp 100 juta sebulan per satu tempat. Namun, pandemi Covid-19 membuat usaha pria asal Siderap, Parepare, Sulawesi Selatan, itu turun drastis.
Perkuliahan online membuat tak ada mahasiswa yang menyewa kos. Menyisakan kalangan pekerja. Okupansinya kurang dari 50 persen. ’’Mentok 26 atau 28 kamar yang terisi. Ada sih yang kerja. Itu juga kerjanya bentar dipulangkan di rumah, bentar dipanggil lagi,’’ ujarnya.
Sementara itu, certified financial planner (CFP) Finansialku Shierly menambahkan, investasi kos-kosan masih menjanjikan. Secara permintaan, generasi muda mayoritas lebih memilih tinggal di kos daripada menyewa di apartemen studio atau rumah kontrakan. Bisnis tersebut bagi pemilik dapat memberikan potensi penghasilan pasif. Apalagi, sifatnya lebih likuid (menghasilkan cash) ketimbang investasi ke rumah atau apartemen sewaan.
Meski secara nominal jumlah penghasilan yang didapatkan lebih kecil, rumah kos lebih mudah dan cepat menemukan penyewa. Sebab, salah satu aspek penting dalam investasi adalah likuiditas. Maksudnya, perputaran uang investasi lebih cepat sehingga bisa menutupi biaya yang ada. Kemudian, uang itu digunakan kembali untuk menghasilkan uang lagi.
”Ya, sama dengan bisnis, tidak cuma perlu profit, tapi perlu perputaran arus kas alias cash flow lancar. Meski nominalnya kecil, kalau kuantitas kamarnya banyak, sebenarnya lebih besar juga dan lebih cepat perputaran uangnya,’’ terang Shierly melalui telekonferensi.
Shierly menyatakan, pemilihan lokasi dalam berinvestasi properti sangat penting. Termasuk kos. Di Jakarta, misalnya. Kawasan yang ramai dengan rumah kos adalah Sudirman, Karet, Setiabudi, Bendungan Hilir (Benhil), dan Kuningan.
BACA JUGA: Kinerja Penjualan Properti Mengalami Pertumbuhan Signifikan
’’Karena banyak perkantoran,’’ ucapnya.
Selain itu, pemilik harus mengetahui target penyewa. Yakni, segmen low-budget, pasangan muda, mahasiswa, atau eksklusif. Masing-masing memiliki sensitivitas berbeda.
Contohnya, menyasar low-budget yang sensitif terhadap kenaikan harga. Jika dirasa terlalu mahal, mereka bisa kabur. Sementara itu, segmen eksklusif tidak masalah dengan harga. Hanya, jangan mengurangi fasilitas. ’’Artinya, pemilik harus cermat,” ujarnya.
Di sisi lain, Shierly menuturkan, investasi kos-kosan juga memiliki risiko. Tentu, modal awal besar. Ditambah, dibutuhkan biaya perawatan seperti biaya listrik, air, pasang wifi, dan kamera CCTV agar lebih aman, ’’Perawatan bangunan juga harus diperhatikan. Karena semakin lama dipakai tentu akan usang. Biaya perawatan dan risiko itu yang tidak mudah,’’ jelasnya. (*)
Reporter: JP Group






