Batampos – Bencana banjir dan longsor melanda sejumlah negara di Asia setelah hujan ekstrem mengguyur kawasan tersebut sepanjang pekan lalu. Lebih dari 1.100 orang dilaporkan tewas, sementara ribuan lainnya masih hilang. Jumlah ini merupakan gabungan dari berbagai bencana alam banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi di Sumatera-Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan terbaru Srilanka.

Hujan lebat yang dipicu siklon menyebabkan banjir parah di Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Sementara Sri Lanka dilanda badai terpisah yang menenggelamkan wilayah luas dan memicu operasi penyelamatan tersulit dalam sejarah negara itu, menurut Presiden Anura Kumara Dissanayake.
Data otoritas setempat menyebut jumlah korban mencapai 604 jiwa di Indonesia, 390 di Sri Lanka, 176 di Thailand, dan dua di Malaysia, sehingga total korban meninggal mencapai sedikitnya 1.172 orang.
Di Indonesia, tim penyelamat kesulitan menjangkau wilayah terdampak di Sumatra setelah Siklon Senyar memicu banjir bandang dan longsor. Tak hanya itu, penggundulan hutan atau deforestasi oleh sejumlah perusahaan asing seperti PT Toba Pulp Lestari (TPL) dan juga perusahaan penambang emas PT Agincourt Resources Martabe Gold, hingga perubahan alih fungsi hutan menjadi ladang sawit sangat besar mempengaruhi kontur tanah dan kerusakan alam di Sumatera. Demikian dilansir dari CNN, Selasa (2/12/2025).
BACA JUGA:
Tiga Bupati di Aceh Angkat Tangan Atasi Persoalan Banjir Bandang
Presiden Prabowo Subianto meninjau para pengungsi dan menyebut kendala suplai bahan bakar serta akses jalan, di hari ke-6 bencana terjadi, atau Senin (1/12/2025) kemarin.
Lebih dari 460 orang masih hilang di Sumatra. Bantuan logistik terus dikirim menggunakan helikopter ke wilayah-wilayah yang terisolasi. Di Aceh, banyak warga kehilangan rumah dan harta benda akibat banjir yang datang tiba-tiba. Bahkan ada dua desa yang tenggelam.
Di Thailand, sedikitnya 176 orang tewas akibat cuaca ekstrem di wilayah selatan. Lebih dari 2,8 juta warga terdampak, dengan sebagian komunitas harus menerima suplai oksigen dan makanan melalui udara.
Kota Hat Yai menjadi daerah paling parah, mengalami hujan ekstrem yang disebut hanya terjadi sekali dalam 300 tahun. Banjir sempat memutus akses menuju ruang bersalin yang berisi 30 bayi baru lahir.
Warga menyebut hujan turun tanpa henti, memaksa pasien panti jompo, keluarga, serta turis untuk dievakuasi ke lantai dua bangunan atau dijemput menggunakan perahu dan helikopter.
Melansir dari Reuters, di Sri Lanka, banjir dan longsor akibat Siklon Ditwah menewaskan sedikitnya 390 orang dan membuat 147.000 warga mengungsi. Lebih dari 25.000 rumah rusak dan ribuan warga terisolasi tanpa listrik maupun sinyal.
Lembaga kemanusiaan setempat mendistribusikan ribuan makanan kepada warga yang terjebak banjir. Para relawan menggunakan perahu untuk membeli bahan makanan dan memasak makanan bagi keluarga yang kehilangan rumah.
Sementara itu di Malaysia, dua orang tewas setelah Senyar mendarat sebagai badai tropis. Sekitar 34.000 warga dievakuasi, namun sebagian warga terlambat menyelamatkan diri dan terjebak ketika air naik dengan cepat.
Para ahli menyatakan, pemanasan global membuat badai semakin kuat karena lautan yang lebih hangat menyediakan energi tambahan. Atmosfer yang lebih panas juga mampu menahan lebih banyak uap air yang kemudian turun sebagai hujan ekstrem.
Wilayah Asia Tenggara disebut sebagai salah satu kawasan paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Banjir mematikan ini menambah daftar panjang bencana cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir. (*)
Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK
Artikel Banjir dan Longsor Tewaskan Lebih dari 1.172 Orang di Asia, 604 Korban Tewas di Sumatera pertama kali tampil pada News.









