Terdakwa Safa Ringga saat menjalani sidang kasus pemalsuan dokumen dengan agenda pemeriksaan saksi di Ruang Sidang PN Tanjungpinang, Dabo Singkep, Kamis (4/12). Vatawari/Batam Pos.
batampos – Safa Ringga, terpidana kasus investasi bodong berkedok asuransi BNI Life Tanjungpinang, kembali duduk di kursi pesakitan.
Perempuan itu dihadapkan pada kasus pemalsuan dokumen asuransi BNI Life. Ia dihadirkan dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Lingga, Kamis (4/12).
Persidangan dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Faushi bersama dua hakim anggota, Fauzan dan Amir dari Pengadilan Negeri Tanjungpinang.
Safa sebelumnya telah divonis 3 tahun 9 bulan penjara dalam perkara investasi bodong berkedok asuransi. Namun kini ia kembali disidangkan karena diduga memalsukan dokumen asuransi BNI Life.
“Agenda sebelumnya pembacaan dakwaan secara daring,” kata JPU Kejari Lingga, Muhammad Rifaniansyah.
Dalam dakwaan, Safa disebut melanggar Pasal 78 Jo Pasal 33 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian terkait pemalsuan dokumen perusahaan asuransi.
Pada persidangan hari ini, empat saksi dari BNI Life Tanjungpinang hadir memberikan keterangan di hadapan majelis hakim. Pemeriksaan dilakukan untuk menguatkan dugaan bahwa dokumen yang diedarkan terdakwa bukan produk resmi perusahaan.
“Seluruh pemeriksaan saksi dinyatakan tuntas. Karena terdakwa tidak mengajukan saksi, sidang langsung dilanjutkan dengan keterangannya,” ujar Ketua Majelis Hakim, Faushi.
Dari keterangan yang disampaikan di persidangan, Safa mengakui bahwa dokumen yang beredar merupakan hasil buatannya sendiri. Ia juga memilih menjalani proses hukum tanpa kuasa hukum meski telah ditawari pendampingan.
“Sidang tetap tanpa penasihat hukum karena terdakwa menolak,” lanjut majelis.
Sidang selanjutnya dijadwalkan pada 10 Desember 2025 dengan agenda pembacaan tuntutan JPU. (*)
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam memasang plang bertuliskan jelas: “Lurus Ikuti Isyarat Lampu Merah.” di Simpang Indo Mobil. Foto. M. Sya’ban/ Batam Pos
batampos – Kebingungan pengendara di Simpang Indo Mobil, jalur turunan dari arah Batuampar menuju Bundaran Simpang Jam Laluan Madani, kini mulai terjawab. Setelah menuai polemik panjang, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam memasang plang bertuliskan jelas: “Lurus Ikuti Isyarat Lampu Merah.”
Namun, pantauan Batam Pos, Kamis (4/12) siang, kondisi di lapangan masih jauh dari tertib. Sejumlah pengendara roda dua maupun roda empat tetap menerobos meski lampu merah menyala, sementara sebagian lainnya memilih berhenti sesuai aturan. Situasi ini menimbulkan kebingungan dan berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Warga setempat mengaku fenomena tersebut bukan hal baru. Rizal, pedagang di sekitar simpang, mengatakan banyak pengendara mengabaikan plang yang dipasang Dishub. “Sudah ada tulisan besar-besar, tapi tetap saja banyak yang terobos. Aneh, padahal tiap hari lihat ada yang hampir senggolan,” ujarnya. Hal senada diungkapkan Mira, warga Batuampar, yang menyebut kondisi ini kerap menimbulkan kebingungan hingga berisiko tabrakan.
Kepala Dishub Kota Batam, Leo Putra, menegaskan plang tersebut dipasang untuk menghilangkan keraguan pengendara. Ia menekankan, aturan lalu lintas tetap berlaku: semua kendaraan wajib berhenti saat lampu merah menyala, baik yang lurus, belok kiri, maupun belok kanan.
“Pemasangan plang ini bertujuan mencegah kesalahan membaca situasi agar tidak menimbulkan insiden. Kami berharap pengendara mematuhi aturan dan rambu yang sudah dipasang, supaya tidak ada kecelakaan atau hal-hal merugikan,” tegas Leo. (*)
Zulhamsyah membagikan makanan, minuman, sajadah hingga Al Qur’an usai Umrah di Masjidil Haram, Makkah. F. dok pribadi untuk Batam Pos.
AKSI inspiratif berbagi sedekah, dilakukan oleh pemuda asal Tanjungpinang Zulhamsyah (39) dan keluarganya di Makkah dan Madinah, usai melaksanakan rangkaian ibadah Umrah.
Reporter: YUSNADI NAZAR
Di antara gelombang jemaah yang tawaf mengelilingi Ka’bah, seorang pemuda berseragam khusus tampak sibuk membagikan makanan, minuman, kurma, sajadah hingga Al Qur’an kepada jemaah yang baru ditemuinya.
Ia bukan pedagang, bukan pula relawan resmi. Ia adalah Zulhamsyah, pemuda asal Tanjungpinang yang membawa semangat kebaikan dari tanah kelahirannya hingga ke Tanah Suci.
Di sekitar Masjidil Haram, Zulhamsyah menjadikan ibadah Umrah, sebagai ruang untuk melanjutkan aksi sosial yang selama ini, ia geluti di tanah kelahirannya, Tanjungpinang
Usai menjalani rangkaian ibadah Umrah, Zulhamsyah langsung menggelar kegiatan sosial Razia Perut Lapar di sekitar halaman Masjidil Haram, Makkah.
Sebagai kota suci umat Islam, Makkah diyakini memiliki keutamaan pahala berlipat ganda bagi setiap amal kebaikan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Zulhamsyah.
Selama 11 hari di bulan November 2025 berada di Tanah Suci, ia secara konsisten membagikan makanan, minuman, kurma, jajanan anak-anak, sajadah dan Al-Qur’an kepada jemaah dari berbagai negara.
Aksi Razia Perut Lapar pun mendapat perhatian luas dari jemaah Indonesia maupun jemaah internasional. Banyak jemaah yang mendoakan sebagai bentuk apresiasi.
“Yang kami bagikan adalah sedekah dari orang-orang baik di Indonesia, terutama teman-teman dermawan di Tanjungpinang,” ungkap Zulhamsyah, Kamis (4/12).
Sebelum berangkat ibadah ke Tanah Suci, Zulhamsyah mengaku mengabarkan saudara dan rekan-rekannya bahwa selama di Makkah dan Madinah, ia tetap akan menggelar Razia Perut Lapar.
“Ternyata kawan-kawan antusias, bahkan bukan hanya donatur Muslim, tetapi juga teman-teman agama lain, ikut menyumbang,” ungkapnya.
Selain membagikan makanan, kurma dan minuman setiap subuh, siang, hingga malam hari, Zulhamsyah juga membagikan puluhan sajadah serta Al-Quran.
Di sela-sela Razia Perut Lapar itu, Zulhamsyah juga mewakafkan sebanyak 10 Al-Quran cetakan resmi Kerajaan Arab Saudi ke Masjidil Haram.
“Alhamdulillah. Semoga ini menjadi amal jariyah untuk kita semua,” ucap Zulhamsyah bersyukur.
Zulhamsyah menambahkan, aksi sosial tersebut mendapat apresiasi luas dari jemaah Tanjungpinang dan jemaah dari sejumlah daerah di Indonesia.
“Alhamdulillah. Banyak yang langsung mendoakan kebaikan, rata-rata jemaah mengucapkan terima kasih dalam berbagai bahasa,” tambahnya.
Kini, Zulhamsyah telah tiba di tanah kelahirannya di Tanjungpinang. mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan dan mendukung Razia Perut Lapar selama ia berada di Tanah Suci.
“Terima kasih kepada Bapak Kapolda Kepri Irjen Asep Safrudin, Kapolresta Tanjungpinang Kombes Hamam Wahyudi, rekan-rekan serta seluruh dermawan,” ucap anggota Polresta Tanjungpinang berpangkat Bripka ini.
Sementara itu, di Tanah Suci Makkah, salah seorang Muthawif (pemandu) Umrah, Ustaz Azka menyebut apa yang dilakukan Zulhamsyah bukan hanya membawa nama baik Tanjungpinang, tetapi juga Indonesia.
“Apa yang dilakukan saudara Zulhamsyah ini sangat luar biasa. Sangat inspiratif menebar kebaikan sampai ke Kota Makkah,” katanya.
Ustaz Azka melanjutkan, sebanyak 10 Al Quran sumbangan dari Tanjungpinang, telah diserahkan ke pengurus Masjidil Haram, Makkah.
“Semoga sumbangan ini menjadi amal jariyah bagi penyumbang beserta keluarganya, Aamiin,” tutup Ustaz Azka mendoakan. (*)
batampos – Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengingatkan para orangtua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap diabetes pada anak. Peringatan ini disampaikan menyusul laporan kasus diabetes (gula darah) ekstrem pada seorang remaja di Batam, yang menunjukkan bahwa ancaman diabetes usia muda semakin nyata.
“Ada dua bentuk diabetes pada anak yang harus dipahami orang tua, yaitu Diabetes Melitus Tipe 1 dan Diabetes Melitus Tipe 2,” ujar Didi, Kamis (4/12).
Menurutnya, Diabetes Melitus Tipe 1 (DM1) adalah penyakit autoimun dan merupakan jenis yang paling sering terjadi pada anak. Sementara Diabetes Melitus Tipe 2 (DM2) semakin meningkat pada remaja akibat pola hidup tidak sehat, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Didi menjelaskan bahwa perkembangan kasus diabetes pada anak di Indonesia menunjukkan kenaikan yang mengkhawatirkan. Untuk DM1, tren peningkatan mencapai 3–5 kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Riset IDAI memperkirakan insidens sebesar 2–4 kasus per 100.000 anak per tahun, namun angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena banyak yang tidak terdeteksi.
“Sementara DM2 meningkat seiring meningkatnya prevalensi obesitas sebesar 10–20 persen pada anak usia sekolah, ” tegangnya.
Didi menegaskan pentingnya mengenali gejala awal diabetes pada anak melalui pedoman “4T. Toilet atau sering kencing atau kembali mengompol, Thirsty yaitu rasa haus berlebihan, Thinner yakni berat badan turun drastis dan Tired yakni cepat lelah dan lemas
“Jika muncul satu atau dua tanda saja, segera periksa kadar gula darah. Jangan menunggu kondisi memburuk,” jelasnya.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat di puskesmas atau klinik terdekat.
Menanggapi pertanyaan tentang maraknya konsumsi minuman ringan pada anak dan remaja, Didi menegaskan bahwa minuman manis memiliki kontribusi besar terhadap risiko diabetes.
“Ya, minuman manis bisa menyebabkan diabetes pada anak. Kandungan gula yang sangat tinggi membuat anak tidak merasa kenyang, menyebabkan obesitas, dan memicu resistensi insulin,” ujarnya.
Ia mengimbau orang tua untuk membatasi konsumsi minuman kemasan dan membiasakan anak minum air putih sejak dini.
Didi juga mendorong penerapan pola hidup sehat keluarga, meliputi, membatasi minuman manis dan jajanan tidak sehat, aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari. Batasi waktu penggunaan gawai serta ppantau berat dan tinggi badan secara berkala.
“Jika anak tampak sangat lemas, muntah, napas cepat, atau tercium bau aseton, segera bawa ke fasilitas kesehatan, karena bisa merupakan tanda darurat medis,” tegasnya.
Dinkes berharap meningkatnya kewaspadaan orang tua dapat mengurangi risiko keterlambatan diagnosis dan mencegah komplikasi yang berakibat fatal. (*)
batampos – Olahraga padel tengah naik daun di Indonesia, termasuk di Kota Batam. Permainan raket yang memadukan unsur tenis dan squash ini kini makin diminati masyarakat, dari pemula hingga pemain berpengalaman.
Untuk mendukung tren tersebut, Batam sudah memiliki sejumlah lapangan padel dengan fasilitas modern dan standar internasional. Berikut rekomendasi tiga lokasi yang bisa kamu datangi:
1. The Padel House
The Padel House menjadi salah satu lapangan padel indoor premium di Batam. Mengusung FIP Standard, arena ini menawarkan pengalaman bermain yang nyaman di segala cuaca. Lokasi: Komp. Botania, Pasar Botania 2, Jl. Raja Alikelana No. 2 Lt.2, Belian, Batam Kota.
2. Play Padel
Terletak di pusat kota, Play Padel menghadirkan dua lapangan yang dilengkapi area nongkrong dan coffee corner untuk pemain bersantai sebelum atau setelah bertanding. Lokasi: Teluk Tering, Batam Kota, Kepulauan Riau 29444.
3. Padel Box Orchid
Merupakan lapangan padel terbaru di Batam. Lokasinya berdampingan dengan lapangan bulu tangkis dan cocok untuk pemain yang ingin mencoba sensasi olahraga baru ini. Lokasi: Orchid Park, Taman Baloi, Batam Kota.
Saat ini Batam memiliki tiga lapangan padel yang aktif beroperasi. Namun, ke depan direncanakan hingga delapan lapangan dengan fasilitas lebih lengkap dan merata di berbagai kawasan.
Keberadaan olahraga padel menjadi alternatif gaya hidup sehat bagi masyarakat Batam. Jangan lupa untuk booking venue lebih dulu agar mendapat jadwal bermain sesuai kebutuhan. (*)
Anggota DPRD Anambas, Hino Faisal mendengarkan keluhan masyarakat mengenai pelayanan di RSUD Tarempa. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.
batampos – Pelayanan di RSUD Tarempa kembali menjadi sorotan. Sejumlah warga menilai penanganan pasien, khususnya peserta BPJS, belum maksimal dan masih menyulitkan masyarakat yang membutuhkan bantuan medis segera.
Keluhan itu disampaikan saat Anggota DPRD Anambas, Hino Faisal, menggelar reses di Desa Tiangau, Kecamatan Siantan Selatan.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Pemuda Tiangau, Agus, menyampaikan pengalaman adiknya yang hendak melahirkan pada malam hari bulan lalu, namun ditolak petugas RSUD Tarempa.
Menurut Agus, adiknya datang dalam kondisi kontraksi dan membutuhkan pertolongan cepat. Namun, petugas menyatakan faskes BPJS adiknya terdaftar di Puskesmas Siantan Selatan, sehingga mereka diminta kembali ke puskesmas itu.
“Jam 2 dini hari kami naik motor ke Puskesmas Siantan Selatan. Jaraknya hampir 15 kilometer. Padahal rumah kami lebih dekat ke RSUD,” ujarnya.
Setibanya di puskesmas, adiknya justru dirujuk kembali ke RSUD Tarempa pada pagi hari untuk menjalani proses persalinan.
“Saya sedih. Kok pasien darurat malah dilempar-lempar? BPJS bilang kalau darurat bisa berobat di mana saja,” tegasnya.
Hino Faisal mengecam tindakan petugas RSUD yang dianggap tidak profesional.
“Kami pernah sidak. Dijelaskan kalau darurat seperti melahirkan bisa langsung ditangani. Tapi faktanya beda di lapangan,” katanya.
Ia memastikan akan membawa persoalan ini ke Komisi III DPRD Anambas dan memanggil Dinas Kesehatan serta jajaran RSUD Tarempa.
“Jangan sampai ada korban lain,” tambahnya.
Kepala BPJS Anambas, Dewi Ria Elvira, juga menyesalkan penolakan itu. Ia menegaskan aturan BPJS sudah jelas: pasien dalam kondisi darurat harus langsung dilayani hanya dengan KTP.
“Tidak perlu diarahkan ke puskesmas. Klaim BPJS mereka masuk, BPJS bayar. Kecuali tidak ada dokter spesialis,” tegas Dewi.
Ia juga mengungkapkan adanya laporan serupa, pasien sudah berada di IGD namun tetap diminta pulang dan kembali ke puskesmas.
“Kalau darurat, harus langsung ditangani. Tidak boleh ditolak,” tambahnya. (*)
Polsek Batam Kota gelar rekonstruksi kasus penganiayaan yang menewaskan Sutoyo di kawasan Ruko Golden Land Blok A No. 25, Batam Kota. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos
batampos – Polsek Batam Kota gelar rekonstruksi kasus penganiayaan yang menewaskan Sutoyo di kawasan Ruko Golden Land Blok A No. 25, Batam Kota, beberapa waktu lalu pada, Rabu (3/12) sekitar pukul 10.00 WIB.
Rekonstruksi yang dipimpin Kanit Reskrim Polsek Batam Kota, Iptu Bobby Ramadhana Fauzi, berlangsung di halaman Mapolsek Batam Kota dan mendapat pengawasan ketat penyidik, jaksa, serta kedua pihak kuasa hukum.
Tersangka, Mario Deri Saputro alias Mario bin Subagio, turut memperagakan seluruh rangkaian kejadian sesuai keterangan dalam penyidikan.
Rekonstruksi digelar sebagai bagian dari penguatan pembuktian dalam kasus yang teregister melalui Laporan Polisi Nomor LP-B/245/X/2025. Kasus ini menjerat tersangka dengan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan orang meninggal dunia. Total 19 adegan diperagakan, menggambarkan kronologi mulai dari hilangnya sebuah tas kecil di area kos hingga korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.
Adegan awal menampilkan bagaimana tersangka memberi tahu saksi Risno bahwa seorang penghuni kos mengaku kehilangan tas kecil yang semula tergantung di stang motor. Setelah mengecek CCTV, didapati rekaman seseorang mengambil barang di area parkir. Sehari kemudian, pada Senin (20/10/2025) sekitar pukul 21.40 WIB, tersangka melihat korban melintas di depan kos dan langsung memanggilnya untuk menanyakan rekaman CCTV tersebut.
Saksi Risno sempat meminta agar pemilik barang yang hilang dihadirkan agar tidak terjadi salah tuduh. Penghuni kos, Ibnu Murtopo, kemudian datang menemui korban. Namun meski didesak, korban tetap tidak mengakui mengambil barang yang dituduhkan. Ketegangan perlahan meningkat hingga suasana menjadi panas antara korban dan tersangka.
Puncak rekonstruksi terjadi pada adegan ke-9 yang menjadi titik perhatian utama penyidik. Dalam adegan itu, tersangka memperagakan pukulan tangan kanan ke arah perut korban. Pukulan tersebut membuat korban terjatuh ke belakang dan mengerang kesakitan. Penyidik menilai adegan inilah yang menjadi awal memburuknya kondisi fisik korban hingga akhirnya kehilangan nyawa. Terlebih, tersangka diketahui memiliki bekal kemampuan bela diri yang membuat pukulannya memiliki dampak lebih serius.
Usai pukulan tersebut, rangkaian adegan memperlihatkan tersangka panik dan berusaha membantu korban berdiri. Ia kemudian menggendong korban ke ujung ruko sebelum kembali ke kos memanggil saksi Risno untuk meminta pertolongan. Beberapa penghuni kos yang melihat kondisi korban turut mendatangi lokasi dan mencoba membantu, sementara tersangka memberi korban air mineral meski korban mulai tidak responsif.
Memasuki adegan ke-17 dan 18, saksi Risno mendatangkan mobil untuk membawa korban ke Rumah Sakit Harapan Bunda. Tersangka, saksi Risno, dan pelapor M. Ishak Ramli, keluarga korban mengangkat tubuh korban ke kendaraan dan segera melarikannya ke rumah sakit. Sesampainya di fasilitas medis, tenaga kesehatan langsung menangani korban di Instalasi Gawat Darurat.
Adegan ke-19 menjadi penutup rekonstruksi, ketika tersangka memperagakan momen saat dokter menyampaikan bahwa korban telah meninggal dunia setelah melalui pemeriksaan medis. Adegan ini sekaligus menegaskan berakhirnya rangkaian peristiwa tragis yang kini memasuki tahap akhir penyidikan.
Kanit Reskrim Polsek Batam Kota, Iptu Bobby Ramadhana Fauzi, menyebut rekonstruksi ini merupakan langkah penting untuk melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke kejaksaan.
“Rekonstruksi dilakukan untuk memastikan kesesuaian keterangan para pihak dan memperjelas duduk perkara sebelum proses hukum berlanjut,” ujarnya.
Sementara itu, kuasa hukum tersangka, Alampe Simamora, menyatakan pihaknya menghormati seluruh proses rekonstruksi. “Kami menghargai rekonstruksi ini sebagai bagian dari pelengkapan berkas. Semua berjalan normatif sesuai BAP penyidik,” ucapnya.
Namun berbeda dari itu, kuasa hukum keluarga korban, Chanri Hutabarat, menilai ada kejanggalan yang belum terjawab dalam rekonstruksi tersebut. Ia mempertanyakan rekaman CCTV yang jaraknya dinilai cukup jauh dari lokasi dugaan pencurian, serta pembukaan rekaman CCTV yang tidak diperagakan dalam rekonstruksi. “Ada dugaan kuat pemilik kos terlibat. Kami mempertimbangkan membuka laporan baru terkait hal ini. Awal pembukaan CCTV tidak jelas dan itu milik pemilik kos,” tegasnya.
Chanri memastikan pihak keluarga akan terus mengawal kasus hingga tuntas dan berharap aparat penegak hukum dapat menggali seluruh kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam tragedi yang merenggut nyawa Sutoyo tersebut. (*)
Siti Naila Hermawan, siswi kelas IX SMPN 12 Batam. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos
batampos – Langkah mantap dan senyuman penuh percaya diri terlihat jelas di wajah Siti Naila Hermawan, siswi kelas IX SMPN 12 Batam. Di usia 15 tahun, ia telah menorehkan prestasi yang tidak hanya membanggakan sekolah dan kota kelahirannya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak pelajar di Kota Batam.
Dalam kalender prestasinya, sepanjang tahun 2025 ini Naila sukses menyapu tiga medali perunggu internasional secara beruntun. Medali pertama ia raih pada Milo Cup Malaysia 2025, kemudian mempersembahkan perunggu kedua melalui Thailand Open International Karate Championship 2025, dan menutup tahun dengan Juara III Shureido International Karate Championship 2025.
“Alhamdulillah tiga-tiganya dapat juara tiga. Pesertanya kuat-kuat dari pelatnas Thailand, India, Malaysia, dan Vietnam. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi, target saya emas,” ucap Naila dengan mata berbinar.
Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa kerja keras dan kedisiplinan yang ia jalani tidak sia-sia. Ia terdaftar sebagai atlet Club Inkanas dan menjadi wakil Provinsi Kepri di berbagai kompetisi nasional maupun internasional. Naila kini memegang sabuk cokelat, dan pengalaman tandingnya sudah dimulai sejak usia 9 tahun.
Di balik prestasi gemilangnya, tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Pada 2024, saat bertanding di Kejuaraan Panglima TNI Surabaya, Naila mengalami cedera pergeseran tulang tangan. Rasa sakit, tangis, dan ketakutan sempat menyelimuti dirinya..
“Sempat down, tapi saya ingat target saya. Saya ingin bawa nama Kepri dan Indonesia lebih tinggi. Jadi saya tetap latihan, pelan-pelan dari awal,” tuturnya.
Semenjak sembuh, Naila menjalani pola latihan tiga kali sehari, pagi sebelum sekolah, sore setelah belajar, serta malam untuk teknik dan ketahanan fisik. Semua ia jalani tanpa mengeluh, ditemani mimpi besar untuk meraih medali dunia.
Di balik sisi atletnya, Naila juga menyimpan cita-cita mulia. “Saya ingin jadi Polwan. Saya ingin mengabdi, dan karate membantu membentuk mental dan fisik saya,” ujarnya.
Dukungan keluarga, pelatih, dan sekolah menjadi energi terbesar bagi Naila. Ia percaya bahwa prestasi bukan hanya soal bakat, tetapi kemauan untuk bekerja lebih keras daripada orang lain.
Tahun depan akan menjadi panggung terbesar dalam kariernya. Naila masuk dalam daftar enam atlet Kepri yang akan tampil di World Karate Federation Series A Manila, Filipina, Mei 2026, ajang resmi kelas dunia yang diikuti atlet dari puluhan negara.
“Target saya emas. Pesertanya dari seluruh dunia, jadi saya harus jauh lebih keras. Tidak ada alasan untuk malas,” tegasnya mantap.
Kepala SMPN 12 Batam, Murni, menyampaikan rasa bangga mendalam atas kerja keras siswanya itu.“Kita berharap anak-anak dapat menjadikan prestasi ini sebagai modal dasar mereka. Pendidikan bukan hanya skill, tapi juga akhlak. Banyak perusahaan atau instansi pemerintah mencari anak-anak dengan talenta olahraga dan seni. Ini yang kita siapkan untuk masa depan mereka,” ungkapnya.
Murni menjelaskan bahwa sekolah memberikan kebijakan belajar fleksibel bagi siswa yang bertanding di luar daerah atau luar negeri.“Waktu ikut kejuaraan nasional dua minggu, kita beri laluan. Setelah kembali mereka tetap menyelesaikan tugas-tugasnya. Kami ingin seimbang antara akademik dan prestasi,” jelasnya.
Saat ini SMPN 12 Batam memiliki 1.118 siswa dan mengembangkan 21 ekstrakurikuler, termasuk Tahfiz dan panahan sebagai identitas utama sekolah. Sekitar 50 persen siswa Tahfiz telah menghafal hingga 10 juz, sementara cabang panahan juga telah menghasilkan atlet internasional dan penerima beasiswa.
“Lebih dari seperempat siswa kami berprestasi baik akademik maupun non-akademik. Prestasi ini bukti kerja sama sekolah, pelatih, siswa, dan orang tua. Dan Naila adalah salah satu contoh terbaik bagaimana mimpi bisa diraih dengan usaha keras,” tutup Murni. (*)
batampos – Bencana banjir menerjang sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Sri Lanka. Ribuan rumah terendam, infrastruktur rusak, hingga memakan korban jiwa. Bantuan terus mengalir, termasuk dari perusahaan teknologi global Apple.
CEO Apple, Tim Cook, menyatakan kepeduliannya terhadap warga yang terdampak banjir dan longsor tersebut. Ia memastikan Apple akan menyalurkan donasi untuk mendukung upaya penyelamatan dan pemulihan di wilayah yang terkena dampak.
“Badai yang melanda Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Sri Lanka telah menghancurkan banyak komunitas. Di Apple, kami memikirkan semua orang yang terkena dampaknya. Kami akan memberikan donasi untuk upaya bantuan serta pembangunan di lapangan,” tulis Tim Cook dalam unggahannya di X, @tim_cook, dikutip AppleInsider.
Meski tidak menyebutkan jumlahnya, Apple memastikan bantuan akan difokuskan pada bantuan darurat, penyelamatan, dan pemulihan jangka panjang bagi warga terdampak bencana di Asia.
Langkah ini bukan pertama kalinya Apple terlibat dalam upaya kemanusiaan global. Pada Oktober 2025, Apple mengumumkan donasi setelah Badai Melissa. Pada Maret 2025, Apple memberikan bantuan untuk Myanmar dan Thailand yang terdampak gempa bumi.
Pada 2024, sejumlah negara seperti Pakistan dan Brasil juga menerima bantuan Apple saat menghadapi bencana alam. Bahkan pada Maret 2022, perusahaan tersebut bekerja sama dengan UNICEF membantu keluarga yang terdampak krisis di Ukraina.
Apple juga pernah menyalurkan donasi untuk korban banjir di Tiongkok bagian utara pada Oktober 2021. Konsistensi ini menunjukkan komitmen Apple dalam hadir membantu masyarakat ketika terjadi krisis di seluruh dunia.
Harapan muncul bagi ribuan warga yang terdampak banjir di Asia. Bantuan dari Apple diharapkan dapat meringankan kesulitan dan mempercepat pemulihan komunitas yang sedang menghadapi trauma akibat bencana.
Dukungan dari Apple menambah kekuatan di luar bantuan pemerintah dan lembaga kemanusiaan internasional. (*)
batampos– Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) mendorong sejumlah komunitas di Batam untuk mengambil inisiatif kemanusiaan. PWI Kota Batam bersama PWI Provinsi Kepri serta komunitas seni Rumahitam Batam akan menggelar sebuah malam amal bertajuk ‘Malam Sastra Sumatera Luka’.
Menurut Ketua Bidang Seni Budaya PWI Kepri sekaligus Presiden Rumahitam, Tarmizi, MSSL menjadi wujud “senasib-sepenanggungan” terhadap korban bencana di Sumatera. Dalam siaran persnya, Tarmizi menyatakan prihatin atas tragedi yang disebutnya “memilukan”, dan berharap lewat seni, khususnya puisi, masyarakat dapat ikut membantu meringankan beban saudara-saudara yang terdampak.
‘Malam Sastra Sumatera Luka’ yang mengusung tema “puisi menggalang donasi” ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 6 Desember 2025, pukul 19.30 WIB di Suratan Coffee Rumahitam, di depan Gedung Beringin Sekupang, Batam. PWI Batam, PWI Kepri, dan Rumahitam mengundang penyair-penyair dari Batam, serta komunitas seni dari Singapura dan Malaysia untuk turut tampil membaca puisi atau orasi sebagai bagian dari solidaritas kemanusiaan.
Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani mengatakan, malam sastra ini bukan sekadar acara estetis atau bersenang-senang. “Ini perwujudan rasa cinta kita pada sesama saudara kita yang mengalami bencana di Sumatera,” ujarnya, menegaskan bahwa siapa pun yang hadir dipersilakan turut menyumbang dan tampil, baik dengan puisi maupun orasi. Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk membantu korban banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Situasi Terkini Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa bencana di tiga provinsi tersebut telah menyebabkan ribuan korban dan kerusakan luas. Per 3 Desember 2025:
Korban meninggal dunia diperkirakan mencapai 753 orang. Korban hilang sebanyak sekitar 650 orang di seluruh wilayah terdampak. Dan korban luka-luka mencapai sekitar 2.600 jiwa.
Ribuan rumah rusak berat hingga ringan, serta banyak fasilitas publik dan infrastruktur — seperti fasilitas pendidikan dan jembatan juga rusak.
BNPB, bersama tim penyelamat dan relawan, terus melakukan operasi pencarian, evakuasi, dan distribusi bantuan, meskipun akses ke banyak wilayah terpencil masih terputus.
Mengapa Malam Sastra Penting?
Inisiatif seperti ‘Malam Sastra Sumatera Luka’ ini mencerminkan bahwa di tengah krisis, solidaritas bisa muncul lewat banyak cara, tidak hanya dengan logistik atau bantuan fisik, tetapi juga lewat bentuk kebudayaan dan empati. Lewat puisi dan orasi, penyelenggara berharap bisa menggerakkan rasa kemanusiaan publik, meningkatkan kesadaran terhadap kondisi korban, serta menghimpun donasi guna membantu pemulihan.
Menurut Saibansah, kehadiran penyair dan masyarakat Batam serta diaspora Indonesia di luar Pulau Jawa menjadi bentuk nyata bahwa bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya masalah daerah terdampak.
Malam Sastra Sumatera Luka di Batam menjadi refleksi bahwa bencana bukan sekadar urusan korban. Melalui seni, kebudayaan, dan empati, warga di luar zona terdampak pun dapat ikut mengambil bagian dalam bantuan kemanusiaan. Untuk masyarakat yang ingin turut serta hadir, berdonasi, atau tampil, kesempatan ini terbuka luas.
Semoga upaya kecil ini bisa menjadi bagian dari pemulihan dan membantu meringankan beban saudara-saudara kita di Aceh, Sumut, dan Sumbar. (*)