
batampos – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo memastikan bahwa penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) matra udara terus berjalan. Dalam pertemuan dengan awak media di Jakarta kemarin (22/12) Fadjar mengungkapkan, bakal ada dua sampai tiga skuadron tempur baru. Selain itu, pesawat angkut berat Hercules 130J akan menjadi bagian dari TNI AU mulai Desember tahun depan.
Dalam pertemuan itu, Fadjar menjelaskan bahwa, pihaknya membutuhkan pesawat tempur generasi 4.5. “Karena saat ini kami sudah ada F-16, sudah ada Sukhoi,” ungkap dia.
Sebelumnya, pemerintah sempat menunjukkan keseriusan mendatangkan Sukhoi SU-35 untuk TNI AU. Namun, belakangan nama Rafale muncul. Bahkan turut muncul keinginan membeli F-15 EX. Meski belum pasti, dia menyebut, saat ini opsi pengadaan pesawat tempur sudah mengerucut.
Fadjar menyebut, kini pilihannya hanya dua. Rafale atau F-15 EX. “Mengenai (rencana pengadaan) Sukhoi SU-35 dengan berat hati ya kita harus sudah meninggalkan perencanaan itu,” bebernya. Dengan begitu, opsi yang tersisa hanya dua. Rafale atau F-15 EX.
“Sudah mengerucut tetapi memang belum diputuskan,” imbuhnya. Tentu, itu bukan keputusan TNI AU semata. Dia menyebut, keputusan itu diambil berdasar kebijakan Kementerian Pertahanan (Kemhan).
Orang nomor satu di TNI AU itu menyatakan, meski ada komitmen dari pemerintah untuk terus memperkuat instansi yang dia pimpin, belanja alutsista tetap harus mempertimbangkan ketersediaan anggaran.
“Dari awal kami sebutkan bahwa pembangunan kekuatan udara sangat bergantung anggaran,” imbuhnya. “Kalau yang bayar tidak mau ke sana, kami kan nggak bisa nyebut-nyebut terus. Jadi, arahnya ke Rafale,” tambah dia.
Mantan panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) II itu pun menyebutkan, dia sudah menerima tim yang menjual F15 EX sudah bertemu dengan dirinya. “Saya tanya kalau hari ini kita tanda tangan sepakat, unit awal pertama yang akan kita terima kira-kira kapan? jawabannya ya kira-kira 2027,” imbuhnya. Karena itu, ada opsi pengadaan pengadaan Rafale. Bila sanggup lebih cepat, bukan tidak mungkin pilihan jatuh ke pesawat tempur itu.
Walau belum pasti, Fadjar menjelaskan, pihaknya sudah punya gambaran jumlah skadron untuk pesawat tempur baru yang akan diterima oleh TNI AU. “Mungkin dua sampai tiga skadron. Tapi memanfaatkan skadron yang ada dengan pesawat-pesawat yang sudah mungkin harus diganti,” jelasnya. Lantas berapa jumlah total pesawat tempur baru untuk memenuhi kebutuhan itu? Fajar tidak menjawab tegas. Kemungkinan jumlahnya lebih dari 30 unit.
Soal pengadaan pesawat angkut berat, Fadjar mengakui bahwa keberadaan Hercules C-130 di TNI sangat penting. “Itu tulang punggung,” imbuhnya.
Pesawat angkut itu dibutuhkan untuk berbagai misi dan tugas. Khususnya misi kemanusiaan. Hercules menjadi salah satu pesawat yang selalu dikerahkan untuk mengirim bantuan ke lokasi terdampak bencana di Indonesia. Karena itu, pihaknya sangat menantikan kedatangan perdana Hercules C-130J tahun depan. (*)
Reporter: JP Group



Tomonobu Otsu, President Director PT Panasonic Gobel Indonesia mengatakan, Panasonic terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan konsumen sesuai dengan tagline perusahaan A Better Life, A Better World, dengan terus menghadirkan inovasi untuk teknologi masa depan seperti teknologi nanoe
