ILUSTRASI: Kawasan Industri Union, Batuampar, Minggu 31 Jan 2021, F Suprizal Tanjung, Batam Pos
batampos – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berharap, pertumbuhan ekonomi pada kuartal empat 2021 akan kembali menguat. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, pertumbuhan ekonomi RI dapat berada di atas level 5 persen secara tahunan (yoy) seiring dengan terkendalinya pandemi.
“Sehingga, secara keseluruhan kinerja ekonomi tahun 2021 diproyeksi tumbuh sekitar 3,7 persen,” kata Sri Mulyani secara virtual, Selasa (4/1).
Menurutnya, tren menguatnya pemulihan ekonomi Indonesia terlihat dari meningkatnya sejumlah indikator. Mulai sisi konsumsi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan November 2021 yang meningkat signifikan ke level 118,5, hingga Mandiri Spending Index per 19 Desember pada tingkat 132,8 atau 32,8 pesen lebih tinggi dari level sebelum pandemi.
Kemudian, dari sisi investasi, konsumsi listrik industri dan bisnis November masing-masing tumbuh 14,5 persen dan 5,7 persen. Penjualan kendaraan niaga tumbuh 28,4 persen, impor bahan baku dan barang modal tumbuh sangat kuat masing-masing 23,1 persen dan 60,5 persen. Serta, PMI manufaktur November di level ekspansif 53,9.
Tingkat inflasi 2021 sebesar 1,87 persen (yoy), relatif lebih tinggi dibandingkan inflasi 2020. Ini menunjukkan sinyal perbaikan tingkat permintaan dan konsumsi domestik.
Selain itu, inflasi 2021 masih terjaga dalam level yang rendah dan stabil seiring dengan sinergi pelaksanaan bauran kebijakan fiskal, moneter dan sektor riil, serta koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, dengan otoritas moneter.
“Pemerintah terus berupaya meningkatkan akses pangan masyarakat, menjaga keterjangkauan harga serta meningkatkan kelancaran arus distribusi,” ungkapnya.
Sri Mulyani menambahkan, keberlanjutan tren pemulihan perekonomian Indonesia serta pelaksanaan program pemulihan ekonomi nasional melalui berbagai program perlindungan sosial berdampak positif terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.
Hal ini tecermin dari penurunan tingkat pengangguran dari 7,07 persen pada Agustus 2020 menjadi 6,49 persen pada Agustus 2021. Sementara itu, tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan dari 10,19 persen pada September 2020 menjadi 10,14 persen pada Maret 2021, sedangkan tingkat ketimpangan turun dari 0,385 pada September 2020 menjadi 0,384 pada Maret 2021. (*)
Rawnag (rambut dikuncir dua) saat mengikut belajar tatap muka di SDN 005 Lubukbaja, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau beberapa waktu lalu. Foto: Yulitavia/Batam Pos
batampos – Di tengah ketidakpastian nasib dan keterbatasan anak-anak imigran mulai menikmati fasilitas pendidikan yang disediakan Pemerintah Kota Batam. Sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan pendidikan, Dinas Pendidikan menunjuk dua sekolah dasar (SD) negeri dan satu SMPN untuk memfasilitasi anak imigran.
Dua sekolah yang dijadikan tempat anak imigran belajar dan bisa terhindar dari buta huruf adalah SDN 002, SDN 005 Lubuk Baja, Batam, dan SMPN 41 Batam. Kedua sekolah ini berada tidak jauh dari tempat tinggal ratusan imigran di Hotel Kolekta, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Rasa bahagia bisa menikmati pendidikan tergambar jelas saat mendatangi SDN 002, di kelas 1A tepatnya. Di deretan kursi terlihat dua anak imigran asal Sudan yang terlihat sibuk mengerjakan lembaran kertas ujian di depannya.
Seperti tidak terpengaruh dengan aksi demonstrasi yang dilakukan imigran lainnya, anak-anak imigran asal Sudan tetap bersekolah di SDN 005 Lubukbaja.
Saat ini di Batam ada ratusan imigran turun ke jalan untuk meminta bantuan Pemko Batam, agar bisa membantu mereka untuk segera dikirim ke negara ketiga. Hal ini turut berdampak terhadap pendidikan anak mereka di sekolah yang sudah ditunjuk.
Sebelumnya, Pemerintah Batam melalui Dinas Pendidikan Kota Batam telah menunjuk SDN 002, SDN 005 Lubuk Baja, dan SMPN 41 Batam sebagai sekolah khusus bagi anak-anak imigran. Dipilihnya sekolah ini setelah adanya edaran dari Kementerian Pendidikan terkait pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak imigran ini.
Ketiga sekolah tersebut dipilih karena lokasinya yang berdekatan dengan tempat tinggal imigran yakni Hotel Kolekta.
Mereka yang sudah berkeluarga ditempatkan di sana, sedangkan yang masih lajang berada di rumah detensi, Sekupang.
Pagi itu, siswa sekolah SDN 005 memasuki hari ketiga dilaksanakannya ujian semester. Di antara ratusan siswa yang ikut ujian sif pertama, terlihat dua orang anak imigran yang ikut antre memasuki ruang kelas. Sekolah ini berjarak kurang lebih 100 meter dari Hotel Kolekta, yang merupakan tempat imigran ditempatkan.
Berpakaian bebas, dengan ransel di punggung, Rauwnag Abdalla Adam Ateim (8) memulai perjalanan dari hotel menuju sekolah. Setibanya di depan pagar sekolah, ia langsung menuju ruang kelas.
Duduk di urutan ketiga dari depan, Rawnag duduk sambil menunggu lembar soal ujian di bagian oleh wali kelasnya. Saat ini gadis, yang berpenampilan khas dengan rambut dikepang ini merupakan siswa kelas 1A bersama 15 siswa lainnya.
Siap dengan pensil yang sudah dipegangnya sejak duduk di bangku, Rawnag mendapatkan lembaran soal. Berhati-hati ia mulai mengisi lembar jawaban.
Ada 15 soal pilihan ganda dan 5 butir soal esai yang harus dikerjakan dalam waktu 60 menit. Sesekali ia membolak-balik lembaran soal, dan membaca ulang soal ujian Bahasa Indonesia.
Rawnag sudah menempuh pendidikan. Selain Rawnag, ada juga siswa lainnya yaitu Ayman,7, dan Naureldin,7.
Di antara mereka bertiga, gadis kelahiran Desember 2013 ini, paling diandalkan oleh guru kelasnya. Hal ini karena kemampuan berbahasa yang lebih baik dibanding dengan dua teman lainnya.
Ketiga siswa imigran ini merupakan warga negara Sudan yang menjadi salah satu pengungsi yang ditempatkan di Batam saat ini. Sama dengan imigran lainnya, mereka juga tengah menunggu kejelasan terkait nasib mereka untuk menuju negara ketiga.
Gadis yang murah senyum ini menceritakan sangat senang mengikuti pelajaran di sekolah. Bersama dengan anak-anak lainnya, ia bermain dan menikmati pelajaran di sekolah. Meskipun kemampuan belajar tidak setara dengan siswa lainnya. Hal ini tidak lepas dari sistem belajar di Indonesia.
Pelajaran menggambar merupakan favorit Rawnag di kelas. Meskipun saat ditanyai, ia mengaku menyukai semua jenis pelajaran. Sungguh hal yang wajar, karena ia sangat menikmati pelajaran.
Ditambah lagi ia memiliki teman yang bisa menjadi rekan belajarnya. Kikan, adalah teman yang sering membantu Rawnag ketika belajar di kelas. Ia senang karena ketika tidak mengerti saat belajar, bisa bertanya kepada Kikan yang duduk di sebelah meja belajarnya.
Perlahan tapi pasti, ia semakin banyak memahami bahasa Indonesia. Sudah hampir tujuh bulan ia menjadi siswa di sini, tentu punya teman yang baik adalah kesenangan tersendiri baginya.
Kemampuan berbahasa ini juga karena orangtuanya yang cukup fasih menggunakan bahasa Indonesia. Sehingga memudahkan ia dalam berkomunikasi dan bermain bersama teman di kelas.
“Saya suka belajar. Saya senang sekolah di sini. Ada teman untuk main,” ujarnya lagi.
Siswa lainnya Noureldin (7), baru tiba di sekolah ketika ujian sudah berlangsung kurang lebih 30 menit. Berpakaian baju bebas, dan tas ransel hitam miliknya, segera menuju bangku dan meminta lembar soal untuk segera dikerjakan.
Bocah asal Sudan ini tidak bisa memahami bahasa Indonesia, namun begitu, ia merupakan salah satu siswa yang cukup aktif mengikuti pelajaran.
Di saat seperti ini Rawnag mengemban peran sebagai tutor sebaya. Istilah yang sering digunakan untuk membantu siswa dalam memahami pelajaran.
Rawnag berperan sebagai penerjemah tentang apa yang disampaikan guru di kelas. Meskipun begitu, kekurangan tersebut tidak membuat Noureldin surut dalam belajar.
Terlihat tidak terlalu aktif selama belajar, ia tetap menyelesaikan soal ujian yang ada di depan meja belajarnya. Sesekali dia menengok ke Rawnag yang ada di sebelah kanan tempat duduknya, agar bisa membantu menerjemahkan maksud dari soal ujian.
Wali Kelas 1A, Esi Karlina Spd.i, mengatakan, awal penerimaan siswa baru Juni lalu, terdapat tujuh anak imigran yang terdaftar sebagai siswanya.
Mereka berasal dari Afghanistan, dan Sudan. Namun sejak November lalu beberapa anak mundur dan orangtua juga keluar dari grup tanpa alasan yang jelas.
“Kalau informasi sementara karena Covid-19, jadi mereka tak ingin anaknya sekolah. Itu untuk anak-anak yang berasal dari Afghanistan,” sebutnya.
Sampai saat ini hanya tiga orang yang bertahan dan aktif mengikuti kegiatan belajar dan mengajar. Esi menceritakan pengalaman mengajar anak imigran ini merupakan kali kedua ia laksanakan. Pertama kali ia mengajar anak imigran yang ada di bangku kelas V.
“Waktu itu anak imigran asal Afghanistan yang belajar. Jauh lebih mudah karena mereka bisa menggunakan bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia meskipun tak sefasih bahasa Inggris,” kata perempuan berkacamata ini.
Untuk anak imigran asal Sudan ini kesulitan adalah soal bahasa. Karena mereka tidak bisa bahasa Inggris, namun sedikit terbantu karena Rawnag cukup pandai berbahasa Indonesia, meskipun tidak fasih.
Kondisi ini cukup membantu selama pembelajaran berlangsung. Terbukti, setelah enam bulan belajar, ketiga siswa ini menikmati pendidikan.
“Yang paling penting bagi saya mereka mengenal huruf, dan tidak buta huruf. Sehingga ketika meninggalkan Indonesia, mereka bisa melanjutkan pendidikan,” ujar perempuan berkacamata ini.
Ia memuji Rawnag yang menjadi tutor sebaya dalam kelas bagi dua temannya. Gadis itu memilki peran seperti guru, karena membantu menerjemahkan apa yang disampaikan selama belajar di kelas.
“Kalau Rawnag itu sudah bagus, dan mengerti. Namun dua temannya tidak bisa dan hanya mengikuti pelajaran karena kami tidak bisa memaksa juga, karena kesulitan bahasa tadi,” ujarnya.
Rauwnag merupakan siswa yang paling aktif sejak masuk sekolah. Bahkan ketika belajar daring, karena kasus Covid-19 yang sempat massif di Batam, ia terus mengikuti pembelajaran. Begitu juga dengan sekolah tatap muka, ia cukup rajin datang dan mengikuti pelajaran.
Ketika berada di sekolah, Rawnag senang bermain bersama teman kelasnya. Anak-anak di kelas juga tidak merasa aneh dengan kehadiran Raunag. Malah mereka mengajak bermain dan belajar bersama.
“Kalau Rawnag sih sukanya menggambar. Tapi pelajaran yang lain juga dia menikmati. Anaknya baik dan punya kemauan untuk belajar,” sebutnya.
Esi menambahkan, tingginya minat belajar dari Raunag dan dua temannya ini juga didorong peran orangtua yang kooperatif. Mereka sangat mendukung pembelajaran anak-anaknya.
“Aktif di grup, bertanya, dan datang ke sekolah ketika ambil rapor. Makanya dia senang bersekolah, sebab orangtua juga support,” imbuh sarjana pendidikan Islam ini.
Anak-anak imigran biasanya menggunakan seragam merah putih ketika berangkat ke sekolah. Setiap Senin dan Selasa mereka pakai seragam. Untuk Rabu pakaian olahraga. Karena mereka tidak punya, jadi bisa pakaian bebas.
“Kami kasih bebas aja. Yang penting mereka mau belajar dan bersekolah. Karena dari IOM juga tidak memaksakan, yang penting mereka sekolah, dan bersosialisasi,” jelasnya.
Kepala SDN 005 Lubukbaja, Magdalena, mengatakan, sudah ada anak-anak imigran yang berhasil menyelesaikan pendidikan mereka tahun lalu. Tahun ini merupakan tahun ajaran kedua sekolahnya menerima anak-anak imigran sebagai siswa.
Pendidikan tidak memandang siapapun. Begitu juga di sekolah ini. Pembelajaran anak imigran dan siswa lokal sama. Mereka diberikan buku yang sama, menggunakan seragam yang sama, serta pendidikan di kelas yang sama.
“Meskipun terkendala bahasa, guru-guru tetap mencoba mengajar mereka. Kami sangat mendukung pendidikan anak imigran ini,” ujarnya.
Ia juga selalu mengontrol majelis guru, dan memantau anak-anak imigran ini. Meskipun tidak bisa memaksa untuk selalu masuk tepat waktu, bukan berarti anak ini tidak diawasi.
Kemajuan anak-anak dalam belajar juga bisa terlihat saat pembagian rapor hasil belajar anak. Selain itu, ia juga berkoordinasi dengan IOM sebagai penanggung jawab anak-anak imigran.
Selain permasalahan bahasa, guru tidak mengalami kesulitan. Untuk menjelaskan kepada mereka terkadang guru menggunakan bahasa isyarat, agar mereka lebih mudah paham.
Magdalena mengungkapkan anak-anak terbilang rajin datang ke sekolah. Orangtua juga aktif mengantarkan anak ke sekolah. Anak imigran ini berasal dari berbagai negara mulai dari Sudan, Somalia, dan Afghanistan. Mereka belajar kelas 1, 3, dan lima.
“Selama pandemi belajar dibagi dua sif. Jadi ada yang siang dan pagi. Mereka kami layani dengan baik, dan tidak dituntut juga, sebab mereka juga tidak terdaftar di data pokok pendidikan (Dapodik). Jadi yang penting mereka mau sekolah, karena mereka ini haus bersosialisasi,” terangnya.
Untuk menunjang pembelajaran, sekolah memberikan hak yang sama. Siswa imigran ini dipinjamkan buku belajar, dan diberikan bantuan berupa seragam sekolah yang dasar. Sementara yang lain mereka bisa pakaian bebas.
“Kami senang mereka belajar dan bisa memiliki teman bermain, karena itu bisa membantu tumbuh kembang mereka selama berada di Batam ini,” tambah perempuan berjilbab ini.
Sejumlah Anak Menarik Diri dan Pilih Tidak Lagi Sekolah
Meskipun sudah difasilitasi Dinas Pendidikan Kota Batam, nyatanya tidak semua anak bisa bertahan dan melanjutkan pendidikan seperti Rawnag, dan Noureldin.
Kondisi yang konstras ini terjadi karena, sebagian imigran yang melakukan protes kepada United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan International Organization of Migration (IOM) Indonesia terkait nasib mereka.
Akibatnya, anak-anak yang sebelumnya menempuh pendidikan, mulai ditarik dan tidak diizinkan kembali ke sekolah. Desakan tentang nasib mereka disampaikan dengan menggelar aksi demonstrasi. Aksi ini sudah berlangsung selama kurang lebih dua minggu terakhir ini.
Sempat menempuh pendidikan di sekolah formal, ratusan anak imigran yang ada di Kota Batam, Kepulauan Riau, kembali kehilangan kesempatan untuk melanjutkan sekolah mereka. Perasaaan frustasi atas ketidakjelasan status, mendorong mereka, menarik anak-anak dari dunia pendidikan.
Fatima,30, menuturkan keinginan saat ini adalah meminta segera dikirimkan ke negara ketiga. Di sini anak-anak tidak bisa mendapatkan dokumen terkait pendidikan mereka. Sehingga percuma saja sekolah, kalau tidak bisa dapat dokumen atau ijazah. Hal ini membuat dia tidak mengizinkan anaknya bersekolah.
“Kami sudah tidak mau lagi di Indonesia. Tolong kirimkan kami segera ke negara ketiga,” pintanya dengan menggunakan bahasa Inggris.
Meninggalkan negaranya karena konflik berkelanjutan, dan berharap kehidupan yang baru tidak kunjung didapatnya. Menurutnya, kehidupan sekarang tidak jauh lebih baik ketika saat masih tinggal di negara asalnya.
Keinginan untuk mendapatkan negara baru seperti masih jauh dari impian. Bersama suami dan anak pertamanya yang waktu itu masih berusia dua tahun, ia tiba di Indonesia. Medan menjadi kota pertama ia memulai kehidupan di negara Indonesia.
Berpindah ke Jakarta, Tanjungpinang, dan sekarang berada di Batam sebagai kota transit sambil menunggu kejelasan nasibnya.
Imigran asal Afghanistan ini menceritakan sudah tujuh tahun berada di Indonesia. Menempuh perjalanan yang panjang membuat dia dan kedua anaknya merindukan kehidupan normal seperti dulu.
Berpindah dari satu kota ke kota lain membuatnya merasa tidak nyaman, dan sangat menginginkan kehidupan yang normal. Tidak adanya akses pekerjaan, membuatnya sulit mewujudkan kehidupan yang layak.
Perlahan depresi mulai dirasakan, gangguan kecemasan karena tidak kunjung dikirim semakin hari tidak terelakan. Lamanya proses di negara ketiga, semakin menimbulkan kekhawatiran terhadap nasibnya dan ratusan imigran lainnya.
“Sekarang anak saya sudah sembilan tahun, dan yang kecil usia dua tahun, dan kami belum juga ada kejelasan. Sampai kapan kami di sini?,” tanyanya.
Kondisi ini juga dikhawatirkan menurun kepada kedua buah hatinya yang masih sangat membutuhkan perhatian, pendidikan dan kehidupan yang layak.
Fatima mengungkapkan tidak mungkin membiarkan anaknya kehilangan masa depan, karena tidak adanya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan ketika mereka beranjak dewasa.
“Belajar ada, tapi tak ada sertifikat. Jadi percuma juga sekolah di sini. Kami sudah tidak mau lagi. Tolong segera kirim kami ke negara ketiga agar anak-anak bisa mendapatkan haknya dengan layak,” ucapnya.
Anak-anak sudah terlalu lama kehilangan hak mereka. Sejak awal tiba di sini imigran tidak ada akses dan hidup dalam keterbatasan. Desakan untuk segera dikirim ke negara ketiga juga tidak mendapat respon.
Hidup bertahan di sini sangat sulit. Ia menceritakan, anak pertamanya Saleh,9, saat tiba di Batam berusia 2 tahun. Keputusan untuk menarik anak-anak dari sekolah adalah keputusan yang tepat untuk saat ini, sebagai bentuk protes kepada UNHCR terkait nasib ratusan imigran di Batam.
“Tolong Pemerintah Indonesia bantu kami, agar dapat kejelasan. Kami sudah lelah, capek karena bertahun-tahun dibiarkan tanpa kejelasan. Bukan saja kami yang menderita tapi anak ini juga. Mereka butuh bersosialisasi dengan lingkungan yang bebas,” ujarnya.
Menurutnya, kepastian tentang hidup mereka akan lebih jelas ketika sudah dikirim ke negara ketiga. Ada banyak negara yang siap menerima, dan tentu dengan kehidupan yang layak. Anak-anak bisa sekolah, dan orang dewasa bisa bekerja dan mendapatkan kehidupan yang layak, tidak seperti saat ini.
Ia mengungkapkan setiap bulan ia berusaha bertahan dengan biaya hidup yang sangat terbatas. Meskipun mendapatkan biaya hidup dari IOM sebesar Rp 1.250.000,- setiap bulannya, tetap saja ini tidak cukup. Ada banyak kebutuhan yang harus dibeli. Hidup dalam keterbatasan sangat tidak nyaman.
Alasan ini membuat jumlah siswa yang terdaftar di sekolah SDN 002 berkurang. Awalnya, jumlah siswa mencapai 24 orang, dan sekarang tidak ada satu pun yang aktif kembali ke sekolah.
Kepala SDN 002 Lubuk Baja, Kota Batam, Rahmat mengatakan anak-anak imigran mulai belajar di sekolah sebelum pandemi atau sekitar tahun 2019.
Awalnya jumlah anak-anak yang bersekolah mencapai 24 orang siswa. Mereka duduk di bangku sekolah mulai dari kelar 1-6 SD.
“Tahun lalu ada dua orang yang menyelesaikan pendidikan sekolahnya, dan kami sudah keluarkan surat keterangan, kalau dua anak imigran tersebut sudah lulus dan menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya,” kata dia saat dihubungi beberapa hari lalu.
Mulai Maret 2020 lalu, satu per satu siswa mulai tidak datang ke sekolah. Mulanya, anak tidak datang, dan selanjutnya orangtua mulai meninggalkan ruang grup obrolan sekolah. Pihaknya bahkan sudah memanggil orangtua untuk datang, namun mereka tidak datang, sampai sekarang.
“Awalnya alasannya Covid-19, tapi kami minta belajar online juga tidak hadir. Saat sekolah tatap muka kembali digelar, mereka tetap tidak kunjung datang, dan menghentikan datang ke sekolah. Jadi mereka yang menarik diri,” jelasnya.
Pria yang memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Inggris ini mengungkapkan anak-anak imigran memang memiliki keistimewaan bila dibandingkan dengan anak lainnya. Pertama mereka diberikan kebebasan dalam menggunakan seragam sekolah.
Beberapa anak ada yang mengenakan seragam merah putih, namun ada juga yang tidak. Hal tersebut tergantung dari kesanggupan mereka.
Kedua mereka juga tidak dipaksa untuk hadir setiap hari. Ia memberikan kebebasan kepada anak imigran datang ke sekolah ketika mereka memiliki waktu, karena pihaknya tidak bisa memaksa anak-anak imigran untuk ikut jam belajar siswa lokal.
“Kalau mereka ada waktu datang, dan kalau ada kendala mereka tidak sekolah. Karena kami juga punya keterbatasan untuk meminta dan memaksa mereka untuk mematuhi aturan yang ada di sini,” bebernya.
Pertama kali, mulai belajar tahun 2019 lalu tidak ada masalah. Anak imigran yang mayoritas merupakan warga negara Afghanistan ini sangat aktif mengikuti pembelajaran. Bahkan ada yang berhasil menyelesaikan dan dinyatakan lulus. Anak- anak yang haus bersosialisasi ini sangat menikmati aktivitas baru mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya siswa yang ke sekolah, termasuk Elham yang sekarang harusnya berada di kelas VI A.
“Sekarang tidak ada satu pun yang masuk. Kami sudah coba panggil orangtuanya, tapi tidak direspon. Kami juga tidak bisa memaksa. Namun alasan mereka waktu itu karena Covid-19,” imbuhnya.
Sejak awal anak ini imigran ini ada yang aktif belajar, dan tidak. Mereka sangat berusaha untuk bisa menyesuaikan diri dengan siswa lokal. Puncaknya, ketika pandemi mulai mewabah di Kota Batam.
Keputusan berat harus dibuat, demi melindungi anak-anak. Pendidikan dipindahkan ke rumah atau school from home (SFH). Semua bentuk pembelajaran tatap muka berganti menjadi daring.
“Mungkin karena kondisi waktu itu, perlahan mereka tidak aktif dan mulai meninggalkan grup obrolan, yang selama ini menjadi jembatan antara guru, siswa, dan orangtua,” ujarnya.
Bahkan, saat belajar tatap muka kembali digelar, tidak satu pun dari mereka yang datang ke sekolah. Persoalan pandemi Covid-19 dan kekhawatiran orangtua mereka terhadap penyebaran virus Covid-19 menjadi latar belakang anak tidak kembali ke sekolah.
“Alasan yang kami terima begitu. Kalau ada alasan lain kami tidak tahu, misalnya konflik di internal mereka kami tidak tahu, sebab itu murni kewenangan orangtua mereka, dan kami tak bisa paksa mereka ke sekolah,” imbuhnya.
Ia menuturkan selama proses belajar di sini anak imigran awalnya hanya belajar matematika dan IPA. Namun seiring berjalannya waktu mereka mengikuti semua pelajaran.
“Mereka pakai seragam merah putih dan baju kurung juga. Dan sangat menikmati proses belajar dan bermain bersama anak-anak. Bahkan mereka ikut upacara, walaupun tidak boleh, namun mereka sangat antusias, jadi ya kami tidak keberatan,” terangnya.
Pemenuhan Hak Pendidikan Tak Melihat Batas Negara
Pemerintah Bantu Pemenuhan Hak Pendidikan
Peran Pemerintah Kota Batam dalam membantu pemenuhan hak pendidikan di Batam dimulai sejak 2019 lalu. Dinas Pendidikan (Disdik) menunjuk langsung dua sekolah dasar yakni SDN 002 dan 005 Lubukbaja.
Dipilihnya dua sekolah ini karena berdekatan dengan lokasi tempat tinggal imigran yang ditempatkan di Hotel Kolekta.
Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah Batam dalam membantu imigran.
Hal ini karena terkendala regulasi dan berbagai aturan. Sebagai kota yang dipilih menjadi penempatan imigran, Batam berupaya memfasilitasi dalam pemenuhan hak pendidikan anak -anak imigran.
Pemenuhan hak pendidikan merupakan hal yang mendasar. Posisi mereka sebagai imigran tidak menjadi sekat dalam mendapatkan hak pendidikan.
Hal ini dibuktikan dengan respon pemerintah yang menyediakan tiga sekolah untuk anak-anak imigran bersekolah. Dua sekolah dasar ditunjuk langsung untuk memberikan tempat bagi anak-anak imigran menempuh pendidikan.
Ia berharap sembari menunggu ditempatkan di negara ketiga, imigran bisa memanfaatkan kesempatan untuk menimba ilmu.
Meskipun ada perbedaan sistem belajar, namun setidaknya mereka tidak buta huruf, dan bisa mengenal sedikit mengenai pendidikan di Indonesia. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah kesempatan untuk bersosialisasi dengan anak-anak.
Masyarakat Batam sejauh ini tidak terganggu dengan kehadiran mereka, begitu juga di sekolah. Pemerintah berusaha hadir, dan peduli terhadap pendidikan mereka. Walaupun imigran, hak pendidikan tetap bisa dirasakan. Meskipun status mereka tidak terdaftar di sistem pendidikan Indonesia.
“Sekarang ini, kami bertindak sebagaimana arahan pusat. Kalau awalnya mereka dilarang, sekarang sudah diperbolehkan. Dan hal positif ini sudah kami jalankan sampai saat ini. Terlepas ada yangm undur diri karena alasan tertentu,” ungkap Amsakar, Sabtu (11/12/2021) lalu.
Sekolah juga memberikan perhatian berupa bantuan seragam sekolah bagi mereka yang tidak punya. Sebenarnya mereka tidak diwajibkan, hanya saja agar terlihat kebersamaan, mereka diberikan seragam. Ini juga merupakan bentuk perhatian dalam dunia pendidikan mereka.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Batam, Hendri Arulan mengatakan untuk saat ini jumlah siswa yang aktif di sekolah tidak terlalu banyak. Untuk di SDN 005 ada kurang lebih 11 siswa, sedangkan di SDN 002 awalnya 24 orang, sekarang tidak ada yang aktif dan kembali ke sekolah sejak pandemi Covid-19.
Saat pandemi siswa diminta belajar dari rumah. Ada siswa yang tetap melanjutkan pendidikan, namun ada juga yang menarik diri. Untuk kasus tersebut, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada orangtua siswa imigran.
“Kami tugasnya memfasilitasi, pilihan tetap di tangan mereka,” singkatnya.
Penyediaan sekolah bagi anak imigran ini merupakan kelanjutan dari pertemuan IOM bersama Dinas Pendidikan Oktober 2019 lalu. IOM menyampaikan agar Disdik memfasilitasi anak imigran ini bisa bersekolah. Hal ini juga didukung dengan surat edaran yang memperbolehkan anak imigran mendapatkan pendidikan di sekolah formal.
“Kalau data yang disampaikan waktu itu ada 30-40 anak usia sekolah dasar. Makanya kami tunjuk dua sekolah untuk menitipkan akan-anak ini. Sampai ada yang lulus, dan sekarang masih berlangsung,” ujar Hendri.
Ia berharap fasilitas sekolah ini bisa memberikan ruang baru bagi anak- anak dari negara konflik ini. Masa kecil mereka tidak harus terganggu dengan konflik yang mereka lalui. Peran aktif orangtua juga membantu tumbuh kembang akan di sekolah.
Sebagai anak tentu mereka akan mengikuti orangtuanya. Pihak sekolah sangat terbuka, siswa lokal juga menyambut kedatangan mereka. Tidak ada perbedaan saat mereka menempuh pendidikan, dan mendapatkan perlakuan yang sama.
Sekolah bisa menjadi tempat baru bagi tumbuh kembang mereka, di tengah keterbatasan yang mereka memiliki. Anak bisa memiliki pengalaman baru, ruang permainan baru, serta aktivitas yang tentu bisa mendukung masa kecil mereka.
“Interaksi dengan teman di sekolah akan membantu mental dan perkembangan mereka. Tentu yang kami harapkan ada dampak dari fasilitas sekolah yang kami sediakan ini. Pemenuhan hak pendidikan mereka harusnya tidak terhambat karena status mereka,” pungkas Hendri.
PMI yang dikarantina di Rusun milik Rusun Pemerintah Kota . F.DalilHarahap/Batampos
batampos – Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjalani karantina di rusunawa Badan Pengusahaan (BP) Batamdan Pemko Batam belum banyak berkurang. Masih ada 1.391 orang hingga Rabu (5/1).
Dari sejumlah PMI tersebut ada lima orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Mereka sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) di Pulau Galang.
Dua hari sebelumnya, PMI yang menjalani karantina sebanyak 1.605 orang. Sebagian sudah diperkenankan kembali ke daerah asal setelah menjalani karantina selama sepuluh hari dan hasil swab menyatakan bebas dari paparan Covid-19.
“Belum banyak berkurang karena yang baru datang juga masih banyak, ” ujar dr Anggitha, petugas medis yang menangani kesehatan PMI di Rusunawa.
Membeludaknya PMI di lokasi karantina ini jadi fokus perhatian gugus tugas penanganan Covid-19 di Kota Batam. Aktifitas PMI di lokasi karantina diawasi secara ketat. Ada tiga rusunawa yang menampung para PMI ini yakn Rusunawa BP Batam, Rusunawa Pemko Batam Tanjunguncang I dan Rusunawa Pemko Batam Tanjunguncang II. (*)
Ilustrasi. Rombongan wisatawan melintas di pedestrian Nongsa Point Marina Hotel & Resort, beberapa waktu lalu. Foto diambil sebelum pandemi Covid-19. Foto: Dokumentasi batampos.co.id
batampos – Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam masih landai sepanjang tahun 2021 lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah kunjungan wisman tahun 2021 (Januari-November) hanya sebanyak 2.338 orang wisman.
Sementara kunjungan wisman di bulan November 2021 tercatat sebanyak 234 kunjungan atau naik sebesar 48,10 persen dibanding kunjungan wisman selama Oktober 2021 yang hanya mencapai 158 kunjungan. Namun jika dibandingkan November 2020, jumlah kunjungan wisman ke Kota Batam turun sebesar 49,02 persen.
“Untuk sepanjang tahun hingga November 2021, kunjungan wisman ke Batam hanya 2.338 orang atau atau turun 99,22 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Kepala BPS Batam Rahmad Iswanto, Rabu (5/1).
Kondisi ini tidak lepas dari dampak masih merebaknya wabah Covid-19 yang berdampak pada sektor industri pariwisata Kota Batam.
Adapun wisman yang berkunjung ke Kota Batam pada bulan Januari-November 2021 didominasi oleh wisman berkebangsaan Singapura mencapai 14,76 persen dari jumlah wisman selama Januari sampai November 2021. Kunjungan wisman berkebangsaan Singapura tercatat sebanyak 345 kunjungan.
Jumlah kunjungan terbanyak yang kedua adalah wisman berkebangsaan Malaysia sebanyak 187 kunjungan atau 8,00 persen dari total keseluruhan. Disusul wisman berkebangsaan China yaitu sebanyak 26 kunjungan atau 1,11 persen, Australia (0,94 persen), India (0,90 persen), Inggris (0,77 persen), Philipina (0,77 persen), Rusia (0,64 persen), Prancis (0,30 persen) dan Amerika (0,26 persen).
“Kontribusi dari wisman 10 negara tersebut yaitu 28,44 persen dari total seluruh kunjungan wisman selama bulan Januari-November 2021,” jelasnya.
Sementara itu untuk Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Kepulauan Riau pada bulan November 2021 rata-rata 31,54 persen atau naik 0,83 persen poin dibanding TPK Oktober 2021 yang tercatat sebesar 30,71 persen.
Rata-rata lama menginap tamu asing dan tamu Indonesia pada hotel berbintang di Provinsi Kepri pada bulan November 2021 tercatat sebesar 1,59 hari atau turun 0,27 poin dibanding dengan rata-rata lama menginap tamu pada bulan Oktober 2021. (*)
Pelatih Timnas Indonesia asal Korea Selatan Shin Tae-yong saat memberikan instruksi ketika menghadapi Malaysia pada Piala AFF 2020. (AFF Suzuki Cup 2020)
batampos – Indonesia kembali jadi runner-up di Piala AFF 2020. Tapi, skuad Garuda di bawah penanganan Shin Tae-yong yang rata-rata muda usia dinilai punya potensi besar.
Lalu, apa saja rencana berikutnya pelatih asal Korea Selatan itu? Berikut wawancara khusus wartawan Jawa Pos Ali Mahrus dengan Shin Tae-yong kemarin.
Timnas bermain di Piala AFF U-23 Februari nanti. Pemain yang merumput di luar negeri tidak bisa ikut. Apakah berharap mereka bisa bergabung atau menyeleksi pemain baru?
Untuk Piala AFF U-23 bulan depan, kami memang menyiapkan pemain dari Liga Indonesia. Apalagi, itu tidak masuk FIFA matchday. Jadi, kami tidak bisa memanggil pemain yang bermain di luar negeri. Memang dari klub (Liga 1) sangat baik mau melepas pemain selama satu bulan untuk Piala AFF 2020. Jadi, sebenarnya harus ada koordinasi yang baik dengan klub-klub di Indonesia. Artinya, harus sama-sama menghargai.
Jadi, Piala AFF U-23 hanya akan menggunakan pemain yang bermain di Liga 1?
Kami bisa memanggil pemain (yang merumput di luar negeri) untuk event lainnya seperti SEA Games dan Piala Asia 2023. Jadi, untuk Februari nanti, memang federasi harus membantu kami berkoordinasi dengan pemain dari kkub Liga Indonesia.
Untuk pemain (yang merumput) di luar negeri, kami harus mengalah. Karena mereka sudah melepas pemainnya saat AFF Desember lalu. Jadi, agar bisa memanggil mereka lagi, kami harus berkomunikasi dengan klub mereka. Agar bisa kami panggil saat SEA Games atau Piala Asia. Tapi, untuk turnamen Piala AFF di Kamboja, kami akan persiapkan pemain dari dalam negeri saja.
Untuk Piala Asia 2023, Asnawi Mangkualam sempat mengatakan bahwa target Anda adalah membawa timnas lolos ke putaran final. Apakah Piala Asia 2023 itu prioritas Anda?
Saya rasa di setiap turnamen itu pasti ada target. Jadi, bukan hanya di Piala Asia 2023. Tapi, setiap turnamen itu penting. Karena itu, kami berusaha mendapatkan prestasi terbaik di setiap turnamen. Tidak ada istilahnya turnamen ini penting, sementara turnamen itu tidak penting. Bagi saya, semua penting. Jadi, pasti akan berusaha untuk dapat prestasi di setiap turnamen.
Kabarnya juga akan ada pemain naturalisasi? Ada berapa pemain dan di posisi apa saja?
Sebenarnya tidak pas kata ’’naturalisasi’’. Karena memang bukan dinaturalisasi. Tapi, lebih tepat memakai kata ’’ganti kewarganegaraan’’ saja. Karena ini bukan naturalisasi pemain luar negeri jadi pemain Indonesia. Tapi, pemain luar negeri yang ada darah atau keturunan Indonesia. Pemain seperti itu yang kami cari. Sebenarnya ada tiga atau empat pemain yang saya minta kepada federasi. Dan, sampai saat ini proses ganti warga negara sudah mau selesai. Jadi, untuk FIFA matchday Januari ini, saya inginnya sudah ada dua atau tiga pemain keturunan yang tampil.
Untuk pemain keturunan yang akan jadi WNI itu, apa posisi yang paling dibutuhkan? Belakang, tengah, atau striker?
Jujur, saya ingin mencari striker. Tapi, sampai saat ini memang belum ditemukan striker yang baik di luar negeri. Saat ini yang dinaturalisasi stoper dan gelandang bertahan.
Terkait pemain Indonesia yang bermain di luar negeri seperti Witan (Sulaeman), Egy (Maulana), dan Elkan (Baggot), menurut Anda, apa perbedaan mereka dari sisi kualitas dibanding dengan pemain yang berlaga di Liga Indonesia?
Witan, Egy, dan Elkan bukan kualitasnya lebih baik dari pemain lokal, tapi di dalam lapangan mereka lebih mau bekerja keras. Mereka tidak mudah menyerah. Itu yang jadi motivasi bagi pemain lokal yang masih bermain di Liga Indonesia. Saya jujur mau minta tolong kepada pemain di Liga 1 agar mereka tidak menyerah dengan mudah sampai laga benar-benar selesai. Walaupun cuaca panas sekalipun. (*)
ILUSTRASI: Seorang karyawan sedang menjahit di perusahaan garmen di Kawasan Industri Union Batuampar, Batam, Sabtu 3 April 2021. F Suprizal Tanjung, Batam Pos
batampos – Aktivitas sektor industri manufaktur menggeliat hingga tutup 2021. Sejalan dengan meningkatnya produksi dan permintaan pasar ekspor.
Hal itu tecermin dari capaian purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia. Merujuk survei IHS Markit pada Desember, tercatat 53,5 atau masih di atas level ekspansif (50).
“Kami mengapresiasi kepercayaan para pelaku industri manufaktur yang masih tinggi. Bahkan, mereka tetap optimistis pada tahun ini seiring dengan tekad pemerintah dalam menjalankan berbagai kebijakan strategis untuk meciptakan iklim usaha yang kondusif,” ujar Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Senin (3/1).
Agus menyampaikan, pihaknya fokus memacu hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Upaya itu telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Serta, konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.
Pada Januari hingga November 2021, nilai ekspornya mencapai USD 160 miliar atau 76,51 persen dari total ekspor nasional. Angka itu telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang 2020 sebesar USD 131 miliar dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor pada 2019.
Menperin menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5–5 persen tahun ini. Economics Associate Director IHS Markit Jingyi Pan menambahkan, keseluruhan sentimen bertahan sangat positif dengan tingkat kepercayaan diri bisnis di atas rata-rata jangka panjang. Hal itu menunjukkan bahwa manufaktur Indonesia masih optimistis terhadap pertumbuhan produksi berkelanjutan selama periode 2022.
Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono mengatakan, penurunan indeks manufaktur di Desember dibanding November, 53,9, masih terbilang aman. Penurunan tersebut juga terjadi karena hambatan pasokan bahan baku, kendala ekspor karena kelangkaan kontainer.
“Harapannya, tahun 2022 ini industri manufaktur akan lebih baik, dengan harapan varian Omicron Covid-19 terkendali,” ujarnya. (*)
Suasana TPU Seitemiang di Batam. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
batampos – Lahan pemakaman umum Seitemiang telah habis terpakai. Pengelolah mulai kewalahan sebab, harus terus melayani pemakaman baru. Sistem makam sisip yang sudah lama ditinggalkan terpaksa dipakai lagi sebagai solusi jangka pendek.
Sekretaris Yayasan Khairul Umma Madani Jailani, selaku pengelola pemakaman umat Muslim di TPU Seitemiang menuturkan, lahan makam umum tambahan sebelumnya yang berada di pinggir Jalan Ahmad Dahlan sudah habis sejak akhir Desember lalu. Mulai awal tahun mereka kembali menerapkan sistem makam sisip di lorong-lorong makam yang masih ada jarak.
“Tak ada lagi (lahan kosong). Sudah terisi penuh. Ini sudah kembali ke sistem sisip. Di blok baru itu ada beberapa lorong yang agak lapang nah kita coba sisip di situ. Paling seminggu bertahan. Karena tak bisa banyak (untuk makam di lokasi sisipan tadi), ” katanya, Rabu (5/1).
Solusi jangka panjang yang sedang dikerjakan oleh pengelolah saat ini adalah menimbun lahan rawa-rawa yang berada di dekat pemakaman Covid-19. Lahan seluas satu hektare ini merupakan lokasi rawa-rawa yang selalu tergenang air.
Pengelola mulai menimbun secara perlahan agar lahan tersebut segera bisa digunakan. “Anggaran kita juga terbatas makanya ditimbun secara bertahap. Sambil timbun sambil pakai nantinya. Sekitar satu hektare, ” ujarnya.
Terkait solusi tetap dari Pemko Batam, sejauh ini pengelola belum mendapat arahan apapun. Lahan pemakaman covid-19 juga belum dilimpahkan ke pengelola untuk dijadikan sebagai lahan pemakaman umum. (*)
ILUSTRASI: Kaum muslimat di Masjid Al- Istiqomah Melchem, Selasa 9 Maret 2021. F Suprizal Tanjung, Batam Pos
batampos – Maraknya kasus penipuan yang terjadi pada agen atau biro perjalanan umrah membuat waswas banyak masyarakat di Tanah Air. Pasalnya, uang yang dikeluarkan untuk berangkat umrah tidaklah sedikit. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan sejumlah hal demi terhindar dari agen perjalanan umrah ”abal-abal”.
Salah satunya caranya adalah dengan jeli dan teliti dalam memilih agen atau biro perjalanan. Misalnya dengan memastikan agen atau biro tersebut sudah terdaftar di Kementerian Agama, kepastian jadwal keberangkatannya, serta track record agen atau biro tersebut.
Salah satu agen perjalanan umrah yang bisa dipercaya adalah Mabruk Tour. Ini adalah biro perjalanan umrah yang sudah berdiri sejak 2019 dan telah mengantongi izin resmi.
”Mabruk Tour kembali meraih penghargaan sebagai Biro Perjalanan wisata tersertifikasi oleh Badan Akreditasi Nasional dengan 10 tour leader tersertifikasi nasional. Ini menjadi bukti bagi kami dalam berkomitmen dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada para calon jemaah dengan lebih baik,” kata Direktur Utama Mabruk Tour, Dr H Yadi Supriyadi, SE, SH, MM.
Ia menambahkan bahwa Mabruk Tour yang saat ini berkantor pusat di Jalan Garuda di Kota Bandung itu berfokus pada pelayanan umrah dengan fasilitas bintang lima, alias Paket Umrah VVIP.
“Kami ingin memberikan yang terbaik kepada tamu-tamu Allah dengan memberikan fasilitas dan pelayanan terbaik, selain itu juga harga paket yang kami berikan tidak berbeda jauh dari paket umrah reguler bintang tiga atau bintang lima. sehingga jamaah kami bisa beribadah dengan lancar karena hotel tidak jauh dari Masjid Nabawi dan Masjidil Haram,” jelas Yadi, seperti keterangan yang diterima JP Group (Senin, 3/1).
Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Mabruk Tour, H Hardi Ikrommullah.
“Saat ini Mabruk Tour bekerja sama dengan Saudia Airline untuk penerbangan langsung tanpa transit, sehingga Jemaah Mabruk Tour tidak lama dalam perjalanan dan bisa lebih banyak menghabiskan waktu beribadah,” jelasnya.
Ia melanjutkan penerbangan umrah perdana pada masa new normal dari Indonesia dilaksanakan pada 23 Desember 2021.
Ia menerangkan, tim Umrah Advance Mitigasi melakukan perjalanan umrah perdana sejak dicabutnya larangan bagi Indonesia untuk memasuki kawasan Kerajaan Arab Saudi ini melalui serangkain prosedur protokol kesehatan sebagai standarisasi penerbangan pada masa new normal.
Diharapkan setelah keberangkatan umrah perdana ini nantinya, umrah selanjutnya bisa dipermudah bagi jamaah baik dari karantina yang tidak lama atau bahkan tidak ada karantina sehingga biaya umrah tidak membengkak.
Sementara itu, Manager Mabruk Tour, H Khalid Ihsan merencanakan keberangkatan jamaah Mabruk Tour pada Maret 2022 dengan jumlah jamaah hingga 200 orang.
”Dengan harga paket VVIP bintang lima di harga Rp 35 juta. Saya optimis di bulan Maret sudah normal untuk keberangkatan umrah sehingga berani menetukan jadwal. Semoga sudah normal,” tutupnya. (*)
batampos – Setelah beberapa waktu lalu memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Camila Cabello, Shawn Mendes akhirnya buka suara. Shawn Mendes mengaku sulit menjalani hari-harinya semenjak putus setelah dua tahun berpacaran.
Melalui Instagram minggu ini, Shawn Mendes mengungkapkan bahwa dia mengalami masa sulit sehubungan usai perpisahannya. Sehingga ia jarang berselancar di media sosial.
“Saya hanya ingin membuat sedikit video dan mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah terhubung dengan ‘It’ll Be Okay’ dan memposting video,” kata pelantun Treat You Better itu di akun Instagram miliknya.
“Saya mengalami sedikit kesulitan dengan berhubung di media sosial saat ini,” katanya seperti dilansir dari Cosmopolitan, Rabu (5/1).
Bagi Shawn Mendes, musiknya adalah pelampiasan emosinya, terutama saat dia berurusan dengan perpisahannya. “Ketika saya membuat musik, tujuan utamanya adalah untuk berada di sana dan mengungkapkan kebenaran saya sendiri kepada saya pribadi. Dan sering kali ketika saya menulis lagu, saya biasanya menggunakan musik sebagai platform untuk dapat mencapainya,” tambahnya.
Pesan emosionalnya datang hanya beberapa minggu setelah dia merilis lagunya I’ll Be Okay. Liriknya menampilkan beberapa lirik yang sangat emosional setelah berpisah dari Camila. Sementara Camila relatif diam setelah perpisahan mereka. (*)
Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti kandas pada laga Grup B BWF World Tour Finals 2021. (Humas PP PBSI)
batampos – Kejutan besar bisa terjadi pada komposisi skuad pelatnas PP PBSI 2022. Ganda campuran nomor satu Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti kemungkinan dicoret dari tim nasional.
Menurut sumber JawaPos.com, sekitar dua pekan yang lalu, ganda campuran nomor lima dunia tersebut sudah mengutarakan secara lisan pencoretan mereka dari pelatnas ke klub asal mereka, PB Djarum.
Bersama Praveen dan Melati, para pemain ganda campuran nasional yang datang ke Kudus adalah Gloria Emanuelle Widjaja, Akbar Bintang Cahyono, Andika Ramadiansyah, dan Marsheilla Gischa Islami.
Praveen dkk menyampaikan informasi pencoretan tersebut dalam sebuah forum kecil di depan Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin, Manajer Tim PB Djarum Fung Permadi, dan pelatih PB Djarum yang juga legenda ganda putra Indonesia Sigit Budiarto.
Sumber JawaPos.com memberikan informasi bahwa Gloria menangis ketika menyampaikan kabar tersebut. Di luar ruangan, Melati juga sempat menangis dan terpukul dengan keputusan pencoretan tersebut.
Ketika dikonfirmasi, Yoppy Rosimin menjawab secara diplomatis. Dia mengatakan bahwa apapun bisa terjadi. Yang jelas, Praveen/Melati dan para pemain pelatnas lainnya saat ini sedang berlatih di PB Djarum. Dalam masa liburan ini, PP PBSI mengembalikan semua pemain ke klub asal dan daerah tempat mereka bernaung.
“PBSI masih belum memberikan statement apapun. Kami menunggu SK-nya (surat keputusannya, Red) dulu,” ucap Yoppy kepada JawaPos.com.
“Soal Praveen/Melati yang dicoret ya mungkin saja, tidak ada yang pasti. Kami sekarang sudah prepare untuk segala risikonya,” tambah Yoppy.
Yoppy mengatakan bahwa walaupun Praveen/Melati adalah ganda campuran nomor satu Indonesia, pasangan nomor lima dunia, dan juara All England 2020, risiko dicoret dari pelatnas masih tetap ada.
Apalagi performa Praveen/Melati memang tidak impresif sepanjang tahun 2021. Mereka terhenti di perempat final Olimpiade Tokyo. Selain itu Praveen/Melati juga gagal meraih gelar sepanjang 2021. Prestasi terbaik mereka adalah runner-up Thailand Open dan Hylo Open, Jerman.
Bahkan pada ajang Indonesia Masters dan Indonesia Open di Nusa Dua, Bali, Praveen/Melati sudah tumbang pada babak pertama dan kedua. Di BWF World Tour Finals, Praveen/Melati terhenti di fase penyisihan grup.
“Misalnya, Tontowi Ahmad. Dia juara Olimpiade tetapi dipanggil lagi dengan status magang. Lalu ada Sony Dwi Kuncoro yang dicoret. Apapun bisa terjadi. Risiko selalu ada,” ucap Yoppy.
“Yang jelas kalau misalnya benar dicoret, ya saya tegaskan bahwa pemain harus ada komitmen. Masih ada nggak komitmen itu? Kalau ada, yang mari kita jalan sama-sama,” kata Yoppy.
Pelatih ganda campuran Indonesia Nova Widianto menolak menjawab isu pencoretan Praveen/Melati ini. Nova mengatakan bahwa promosi dan degradasi baru akan terjadi setelah seleksi nasional yang berlangsung pada 10 sampai 15 Januari mendatang.
“Saya tidak bisa ngomong dulu soal itu (Praveen/Melati dicoret, Red). Saya masih liburan, Mas,” ucap Nova. “Setelah seleknas, kami akan rapat lagi dan setelah itu keputusannya baru ada,” imbuh Nova.
Nova sendiri pernah secara terbuka memberikan kritik sangat keras kepada Praveen/Melati dalam konferensi pers ajang Indonesia Masters 2021, 18 November 2021.
Saat itu, Nova melancarkan kritik tajam karena Praveen/Melati dikalahkan ganda India nomor 178 dunia, Dhruv Kapila/Reddy N. Sikki dengan skor 11-21, 20-22 pada babak pertama Indonesia Masters 2021.
“Bukannya kita ngeremehin, tapi lawannya itu dua level di bawah mereka. Saya rasa mereka nggak ada rasa tanggung jawabnya. Main di kandang sendiri, harusnya rasa nggak mau kalah itu ada,” ucap Nova saat itu.
Senada dengan Nova, pelatih ganda campuran PB Djarum Vita Marissa juga belum bisa memastikan apakah Praveen/Melati benar-benar akan hengkang dari Pelatnas.
“Saya kurang tahu karana memang belum ada surat resmi,” kata Vita. Menurut Vita, saat ini para pemain pelatnas memang dikembalikan ke klub masing-masing.
Di sisi lain, sumber JawaPos.com mengatakan bahwa jika memang Praveen/Melati resmi dicoret, maka PB Djarum akan tetap memperjuangkan dan membantu mereka agar bisa lolos ke Olimpiade Paris 2024.
Selain itu, PB Djarum juga akan meminta komitmen tertulis kepada Praveen/Melati. Mereka akan selalu dievaluasi dalam setiap turnamen. Para pelatih juga akan melakukan penilaian dan catatan atas semua hasil latihan mereka.
“Kalau tidak berkomitmen, bisa saja pihak PB Djarum menghentikan latihan mereka. Bahkan bisa juga diberikan penalti,” ucap sumber JawaPos.com.
Selain itu, PB Djarum juga akan mencarikan pasangan baru untuk Gloria. Salah satu nama yang muncul ke permukaan adalah Dejan Ferdinansyah. Dejan, saat ini, berpartner dengan Serena Kani. Dejan/Serena menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berlaga pada ajang Kejuaraan Dunia 2021.
Saat dikonfirmasi, Gloria mengatakan belum berani menjawab soal pencoretannya dari pelatnas. “Belum di-publish sama PBSI, jadi saya hargai keputusan mereka,” kata Gloria kepada JawaPos.com. “Nunggu SK resmi saja Mas. PBSI nanti akan publish juga kok,” imbuh Gloria.
Ketika ditanyakan siapa yang kira-kira bertanggung jawab dalam melakukan pencoretannya dari pelatnas, Gloria masih memberikan jawaban mengambang.
“Kemungkinan dari pengurus (yang mencoret, Red). Belum tahu juga nanti status saya seperti apa. Tetapi kalau memang itu yang terjadi, ya saya akan jalanin. Saya tetap ingin mengejar prospek 2024 (Olimpiade Paris). Target sementara saya, ya sampai di situ dulu,” imbuhnya.
Disinggung soal kemungkinan dia akan berpasangan dengan Dejan Ferdinansyah, Gloria mengatakan bahwa kalau itu yang terjadi, dia akan menjalaninya dengan baik.
“Keep the process saja sih, Mas. Namanya performa bisa naik atau bisa turun. Tetap enjoy juga, karena proses ini saya sendiri yang menjalani,” ucap Gloria. “Selama 2021, kalau saya refleksikan ya tetap stay strong, tetap bisa standing di kaki sendiri, dan bisa jaga komitmen sendiri,” tambahnya. (*)