Kamis, 2 April 2026
Beranda blog Halaman 900

Program Makan Bergizi Gratis di Lingga Resmi Jalan, Kapasitas Jadi Masalah

0
MBG Lingga
Muhamad Nizar, Bupati Lingga saat memberikan makan siang dalam peluncuran MBG di SMP Negeri 1 Singkep, Senin (29/9). F. Vatawari/Batam Pos.

batampos – Pemerintah Kabupaten Lingga resmi meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Singkep, Senin (29/9). Peluncuran yang dihadiri langsung Bupati M. Nizar ini, disambut antusias ratusan siswa yang menanti menu MBG perdana.

Di balik suasana penuh optimisme, terselip catatan kritis. Kapasitas dapur umum yang disiapkan baru mampu melayani sekitar 3.000 penerima manfaat, padahal jumlah yang terdaftar di Kecamatan Singkep mencapai lebih dari 6.000 orang.

“Penambahan dapur baru harus segera dilakukan agar semua penerima manfaat bisa terlayani,” tegas Nizar dalam sambutannya.

Berdasarkan laporan Satgas Lingga, penerima manfaat MBG mencakup balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga pelajar. Jumlahnya yang mencapai ribuan orang menjadi tantangan besar di tengah keterbatasan infrastruktur dapur.

Nizar menekankan, program ini tidak boleh mengulang masalah seperti di daerah lain. Yayasan Lintas Bangsa selaku mitra pelaksana diminta disiplin berkoordinasi dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan dan Disdikpora, agar distribusi tepat sasaran.

Ia menyinggung pengalaman Batam, Bintan, dan Karimun, di mana lemahnya komunikasi antar pihak memicu persoalan teknis.

“Mitra pelaksana, sekolah, dan Satgas harus rutin berkoordinasi. Jangan sampai ada saling menyalahkan ketika masalah muncul,” kata Nizar.

Program MBG juga direncanakan diperluas ke wilayah Singkep Pesisir. Sosialisasi ke masyarakat, terutama orang tua siswa, dianggap penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Lebih dari sekadar bantuan, MBG dipandang sebagai investasi gizi jangka panjang bagi anak-anak Lingga.

“MBG bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang harapan, kesehatan, dan masa depan generasi muda Lingga,” pungkas Nizar. (*)

Reporter: Vatawari 

Artikel Program Makan Bergizi Gratis di Lingga Resmi Jalan, Kapasitas Jadi Masalah pertama kali tampil pada Kepri.

Ironi Relawan MBG Anambas: Gaji Harian Kecil, Kerja Berat Tanpa BPJS

0
MBG Anambas
Relawan SPPG di Anambas saat mengantar paket MBG ke sekolah. Di Anambas, para relawan ini digaji murah. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.

batampos – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Anambas menyisakan cerita lain di balik dapur umum. Para pekerja yang disebut relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus bekerja penuh risiko dengan upah harian kecil tanpa perlindungan jaminan sosial.

Berdasarkan penelusuran, terdapat dua sistem penggajian di SPPG. Pertama, pekerja yang digaji langsung oleh Badan Gizi Nasional (BGN) pusat, yakni Kepala SPPG, Ahli Gizi, dan bagian Administrasi. Mereka mendapat gaji sekitar Rp 6 juta per bulan lengkap dengan fasilitas BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Berbeda dengan relawan dapur yang digaji lewat yayasan pengelola. Mereka hanya menerima upah Rp 60 ribu hingga Rp 150 ribu per hari, tergantung posisi kerja. Ironisnya, mereka sama sekali tidak mendapat BPJS.

Humas SPPG Piabung, Hendri, menyebut relawan dibayar dari dana operasional yang dikucurkan BGN melalui yayasan. “Kita di sini istilahnya bukan pekerja, tapi relawan. Nah, relawan ini digaji dari operasional yayasan,” kata Hendri, Senin (29/9).

Sesuai standar BGN, gaji relawan bagian produksi Rp 100 ribu per hari, kepala koki Rp 150 ribu, sementara pencuci ompreng dan pengantar hanya Rp 50 ribu. Namun, di dapur Piabung, angka itu bahkan lebih kecil.

“Untuk produksi hanya Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu per hari. Karena relawan terlalu banyak, sampai 43 orang. Awalnya target 2.000 porsi, tapi yang disetujui hanya 1.000 porsi,” jelasnya.

Relawan rata-rata bekerja delapan jam sehari, sekitar 20 hari dalam sebulan. Beban kerja mencakup memasak hingga mengantar makanan ke sekolah.

Lebih memprihatinkan, para relawan tidak mendapat jaminan kesehatan maupun ketenagakerjaan. Hendri beralasan sulit mengalokasikan iuran BPJS karena sifat kerja yang tidak tetap.

“Relawan hari ini kerja, besok bisa keluar. Mereka juga tidak dikontrak tahunan. Jadi susah kalau harus bayar BPJS,” ujar Hendri.

Kondisi ini membuat relawan bekerja tanpa jaminan jika jatuh sakit atau mengalami kecelakaan kerja.

Meski keterbatasan gaji dan fasilitas menjadi sorotan, Hendri memastikan produksi makanan MBG tetap berjalan normal. “Walaupun gaji relawan di bawah standar, komitmen kami tetap sama, memastikan anak-anak sekolah mendapatkan makanan bergizi setiap hari,” tegasnya.

Program MBG memang memberi harapan besar bagi ribuan pelajar di Anambas. Namun di balik piring bergizi yang tersaji, ada pengorbanan para relawan yang bertahan dengan gaji minim tanpa perlindungan sosial. Sebuah ironi yang patut mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pengelola yayasan.

Reporter: Ihsan Imaduddin 

Artikel Ironi Relawan MBG Anambas: Gaji Harian Kecil, Kerja Berat Tanpa BPJS pertama kali tampil pada Kepri.

Tampang Michael Pandawa, Pria Pembunuh Istri di Perumahan Grand Pesona Bintan

0
Pembunuh istri
Michael Pandawa, suami yang menjadi pelaku pembunuhan terhadap istrinya, Rosna dihadirkan di Mapolres Bintan, Senin (29/9). F. Slamet Nofasusanto/Batam Pos.

batampos – Polisi akhirnya mengungkap motif kasus pembunuhan yang terjadi di Perumahan Grand Pesona Mutiara, Jalan Musi, Kelurahan Sei Lekop, Kecamatan Bintan Timur, Rabu (24/9/2025) dini hari.

Pelaku diketahui bernama Michael Pandawa (45), yang tega menghabisi istrinya, Rosna Dalima Kusing (38). Perselisihan rumah tangga yang dipicu rasa cemburu korban terhadap kehadiran ponakan perempuan pelaku disebut menjadi pemicu utama.

Kasat Reskrim Polres Bintan, Iptu Fikri Rahmadi, menjelaskan ketegangan rumah tangga pasangan itu telah berlangsung sejak lama. Kehadiran ponakan pelaku yang tinggal bersama mereka selama tiga hingga empat bulan membuat korban merasa diabaikan.

“Korban cemburu karena pelaku lebih perhatian ke ponakannya dibandingkan kepada istrinya. Sejak saat itu, pelaku pindah kamar dan tidak lagi tidur bersama korban,” ujar Fikri.

Pada malam kejadian, Michael baru pulang dan sempat singgah di pos siskamling. Setiba di rumah, ia mendapati pintu depan terbuka sementara kamar korban terkunci.

Pelaku memanggil istrinya, namun tak ditanggapi. Ia lantas membanting gelas di dapur hingga pecah, membuat korban keluar dari kamar. Perdebatan pun tak terhindarkan.

Korban disebut hendak pergi dari rumah, namun dihalangi pelaku. Dalam cekcok itu, korban menendang kemaluan Michael hingga membuatnya kesal.

Merasa sakit hati, pelaku mengambil parang adat dan mengayunkannya ke arah korban. Tak berhenti di situ, Michael juga mencekik leher istrinya hingga meninggal dunia.

Usai kejadian, pelaku sempat menghubungi Ketua RT dan beberapa temannya, namun tak direspons. Hingga akhirnya salah satu temannya datang ke rumah dan mendapati korban sudah tak bernyawa.

Michael kemudian menyerahkan diri ke Polsek Bintan Timur dengan diantar temannya. Polisi yang datang ke lokasi menemukan korban dalam kondisi mengenaskan, dengan luka di kepala, leher, lengan kiri, dan paha.

“Pelaku sudah diamankan dan dijerat Pasal 338 KUHP tentang tindak pidana pembunuhan dengan ancaman 15 tahun penjara,” pungkas Fikri. (*)

Reporter: Slamet Nofasusanto 

Artikel Tampang Michael Pandawa, Pria Pembunuh Istri di Perumahan Grand Pesona Bintan pertama kali tampil pada Kepri.

Orang Tua Desak Transparansi Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah Anambas

0
MBG Anambas
Sejumlah orang tua siswa antusias mendengarkan sosialisasi MBG dari pihak SPPG Piabung. F. Hendri untuk Batam Pos.

batampos – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memperluas layanan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Satu dapur umum baru resmi beroperasi di Piabung, Senin (29/9), melayani pelajar di dua kecamatan sekaligus, Palmatak dan Kute Siantan.

Sebelum dapur beroperasi, Yayasan Encek Adjak selaku pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Piabung menggelar sosialisasi bersama orang tua siswa. Pertemuan itu dimaksudkan agar masyarakat memahami mekanisme dapur umum MBG.

Namun, forum tersebut justru memunculkan sorotan. Sejumlah orang tua menyampaikan keberatan atas aturan yang dianggap membatasi keterbukaan informasi.

Perwakilan orang tua siswa, Deri Redi, menyoroti aturan yang mengharuskan pihak sekolah tidak memberitahu orang tua bila terjadi kejadian luar biasa (KLB) usai siswa mengonsumsi makanan MBG.

“Kalau anak-anak kami sakit perut setelah makan, sekolah tidak boleh langsung memberi tahu kami, tapi harus menunggu instruksi MBG dulu. Itu membuat kami tidak tenang. Kami ingin keterbukaan penuh, termasuk soal menu makanan,” tegas Deri.

Ia menilai transparansi adalah kunci agar program berjalan baik. “Kami hanya minta satu hal, jangan ada yang ditutup-tutupi. Harus ada keterbukaan penuh antara SPPG, BGN, dan orang tua,” tambahnya.

Sementara itu,

Humas SPPG Piabung, Hendri, menegaskan aturan itu merupakan bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN) pusat.

“Kalau ada kejadian, laporan harus masuk ke kami dulu agar jelas alurnya, apakah masalah di dapur atau di pengelolaan SPPG,” terang Hendri.

Untuk menjaga kualitas, SPPG menyiapkan form pengaduan yang dibagikan setiap kali makanan dikirim. “Kalau ada makanan basi, sekolah bisa melapor. Kami langsung ganti. Jadi intinya koordinasi harus erat dengan sekolah,” katanya.

Dapur umum Piabung menyiapkan 1.008 porsi per hari untuk enam sekolah. Jumlah itu masih di bawah target awal 2.000 porsi.

“BGN ingin melihat dulu konsistensi dapur dalam satu minggu ini. Kalau layak dan konsisten, porsinya akan ditambah,” jelas Hendri.

Menurutnya, MBG bukan sekadar soal kenyang. “Program ini harus bergizi agar anak-anak sehat, kuat, dan bersemangat belajar,” ujarnya.

Meski perdebatan soal keterbukaan masih mengemuka, banyak orang tua menyambut positif keberadaan dapur umum baru ini.

Mereka berharap pelayanan MBG di Anambas tidak hanya aman dan bergizi, tapi juga transparan dalam setiap prosesnya. (*)

Reporter: Ihsan Imaduddin 

Artikel Orang Tua Desak Transparansi Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah Anambas pertama kali tampil pada Kepri.

Pulau Bayan Tanjungpinang: Jejak Benteng Perjuangan, Istana Raja hingga Hotel Mewah

0
Pulau Bayan
Pulau Bayan yang berada di lintasan Hulu Riau Tanjungpinang tahun 2025. F. Yusnadi Nazar/Batam Pos.

batampos 

Pulau Bayan di Tanjungpinang menyimpan jejak panjang sejarah. Pulau kecil ini pernah menjadi benteng pertahanan Kerajaan Riau-Lingga Johor Pahang pada abad ke-18, kediaman tokoh penting kerajaan, hingga sempat berubah wajah menjadi hotel mewah sebelum akhirnya terbengkalai.

Pulau Bayan berada di jalur strategis perlintasan Hulu Riau, sehingga sejak abad ke-18 digunakan sebagai pusat pertahanan melawan serangan musuh. Pulau ini juga menjadi tempat pasukan Raja Haji Fisabilillah mengasah kemampuan perang sebelum berjihad menghadapi kolonial.

Pada masa kejayaan Kerajaan Riau-Lingga Johor Pahang (1700–1784), Pulau Bayan dilengkapi benteng dan meriam untuk mengamankan jalur laut. Letaknya yang berdekatan dengan Pulau Penyengat menjadikan keduanya bagian dari sistem pertahanan terpadu kerajaan.

Peneliti Sejarah BRIN, Dedi Arman, menyebutkan Pulau Bayan pernah menjadi lokasi berdirinya istana Raja Haji Fisabilillah. Setelah Raja Haji syahid pada 1784, Yang Dipertuan Muda V Raja Ali menempati istana di Pulau Bayan sekaligus menjadikannya pusat urusan militer, ekonomi, dan pemerintahan.

“Pulau Bayan punya peran besar dalam pertahanan kerajaan dan pengawasan jalur perdagangan ke Bandar Riau,” kata Dedi, Senin (29/9).

Seiring berkuasanya kolonial, fungsi pertahanan Pulau Bayan mulai meredup. Pulau ini sempat dijadikan Residen Riau pertama oleh pemerintah kolonial sebagai simbol kontrol mereka di Hulu Riau.

Pada 1942 hingga 1945, Jepang juga sempat menguasai Pulau Bayan setelah kolonial angkat kaki dari Tanjungpinang. Namun, sisa bangunan benteng maupun istana kini tak lagi terlihat.

Pulau Bayan memiliki luas sekitar 163.494 meter persegi. Pada era 1980-an, di pulau ini berdiri hotel dan resort bernama Marina Club. Bangunan kayu berkualitas tinggi lengkap dengan kolam renang itu sempat ramai dikunjungi turis asing dari Eropa, Singapura, dan Asia.

Namun, setelah insiden kecelakaan seorang turis di kolam renang pada 1990-an, kunjungan mulai sepi. Hotel terbengkalai, bahkan akhirnya dirobohkan tanpa menyisakan bekas.

Secara administratif, Pulau Bayan masuk Kecamatan Tanjungpinang Barat. Kini, pulau ini lebih sering dimanfaatkan nelayan untuk bersandar dan beristirahat.

Meski tak lagi menyisakan bangunan bersejarah, Pulau Bayan tetap dikenang sebagai saksi bisu perjalanan Tanjungpinang, mulai dari pusat jihad melawan penjajah, tempat istana berdiri, hingga jejak modernisasi yang sempat singgah lewat resort mewah. (*)

Reporter: Yusnadi Nazar 

Artikel Pulau Bayan Tanjungpinang: Jejak Benteng Perjuangan, Istana Raja hingga Hotel Mewah pertama kali tampil pada News.

525 Kasus DBD, Dua Meninggal: Batam Aktifkan G1R1J dan Gertak

0
Ilustrasi demam berdarah.

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam menggiatkan kembali Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) dan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (Gertak) untuk menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD) di tengah tren peningkatan kasus saat musim hujan.

Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mencatat hingga 21 September 2025 terdapat 525 kasus DBD dengan dua orang meninggal dunia. Angka ini sebenarnya menurun dibanding periode sama tahun 2024 yang mencapai 871 kasus dan 14 kematian.

“Meskipun ini bukan program baru, kami tetap optimalkan yang sudah ada, termasuk G1R1J dan Gertak,” ujarnya, Senin (29/9).

Melalui G1R1J, setiap rumah ditunjuk seorang Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang bertugas memastikan tidak ada jentik di lingkungan tempat tinggalnya. Para jumantik juga diwajibkan melaporkan temuannya ke puskesmas terdekat.

Sementara itu, Gertak digalakkan lewat aksi gotong royong massal di masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk. “Gerakan ini menekankan keterlibatan warga dalam memastikan lingkungan rumah bebas jentik nyamuk,” tambah Didi.

Tren kasus DBD di Batam memang cenderung naik pada musim hujan. Genangan air menjadi tempat perkembangbiakan ideal nyamuk Aedes aegypti. Data Dinkes menunjukkan, puncak kasus terjadi pada Juli dengan 112 laporan, disusul Agustus 85 kasus, dan 26 kasus pada September hingga tanggal 21.

Sebaran kasus tertinggi tercatat di Kecamatan Sagulung (97 kasus), Batam Kota (84 kasus), dan Sekupang (76 kasus). Adapun wilayah dengan kasus terendah yakni Bulang (3 kasus) dan Belakang Padang (2 kasus).

Dari sisi usia, anak-anak 5–14 tahun paling rentan terserang DBD. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, penderita laki-laki lebih banyak (292 kasus) dibanding perempuan (234 kasus).

Upaya penanggulangan terus dilakukan, mulai dari fogging fokus di 270 titik, penyuluhan kesehatan, hingga penguatan kader jumantik. Namun, menurut Didi, kunci keberhasilan tetap ada pada partisipasi masyarakat.

“Kami imbau warga rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas, serta langkah tambahan seperti memelihara ikan pemakan jentik,” jelasnya.

Didi juga mengingatkan masyarakat segera membawa pasien dengan gejala DBD ke puskesmas terdekat agar mendapat penanganan medis cepat. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Artikel 525 Kasus DBD, Dua Meninggal: Batam Aktifkan G1R1J dan Gertak pertama kali tampil pada Metropolis.

Dapur SPPG Bintan Utara Mulai Beroperasi, Siapkan Menu Khusus untuk SLB

0
MBG Bintan
Pelajar SMPN 11 Bintan menerima makan bergizi gratis pada hari pertama dapur SPPG Bintan mulai beroperasi, Senin (29/9). F. Slamet Nofasusanto/Batam Pos.

batampos – Satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah Yayasan Mangapai Indonesia Sejahtera resmi beroperasi di Kelurahan Tanjunguban Selatan, Kecamatan Bintan Utara, Senin (29/9).

Ketua SPPG Bintan, Ego Aditya Maolana mengatakan, dapur tersebut melayani 2.931 penerima manfaat program makan bergizi gratis (MBG) di 11 sekolah. Jumlah itu terdiri dari 3 TK, 4 SD, 1 SMP, 1 SMK, dan 2 sekolah luar biasa (SLB).

“SPPG Bintan tidak hanya melayani pelajar dari sekolah umum, tetapi juga pelajar dari SLB. Karena itu kami menyiapkan dua menu berbeda sesuai kebutuhan gizi mereka,” ujarnya.

Khusus untuk siswa SLB, menu mencakup nasi merah dan buah tertentu yang disesuaikan dengan kondisi mereka. “Mereka tidak bisa dikasih buah anggur atau jeruk. Ini jadi perhatian kami di bagian dapur,” kata Ego.

Meski sempat terjadi keterlambatan pendistribusian makanan di beberapa sekolah pada hari pertama, Ego memastikan pihaknya terus melakukan evaluasi agar distribusi berjalan lancar.

Wakil Kepala SMPN 11 Bintan, Ernawati, menyebut program MBG berjalan sesuai harapan. “Alhamdulillah, makanan datang tepat waktu. Di sekolah kami ada 619 siswa penerima manfaat,” katanya.

Distribusi makanan diatur guru piket dan wali kelas agar berjalan tertib. “Pembagian dimulai pukul 09.00 WIB, menyesuaikan jam istirahat siswa sekitar pukul 09.30 WIB,” jelasnya.

Humas SMPN 11 Bintan, Elinafidawati, menambahkan sekolah juga menyiapkan mekanisme bagi siswa yang tidak hadir. Jika orang tua berhalangan mengambil, makanan akan dialihkan ke siswa lain atau pihak sekolah.

Guru kelas 9C SMPN 11 Bintan, Farahdia Indratni, menyebut siswa sangat antusias. “Alhamdulillah, anak-anak suka menu yang disajikan. Habis semua, hanya tersisa dua porsi,” katanya.

Laurentina Napitupulu, siswa kelas 9C SMPN 11 Bintan, mengaku senang dengan adanya MBG. “Menunya enak dan bergizi. Jadi tidak perlu bawa bekal, uang jajan masih dikasih Rp5 ribu sama orang tua,” ujarnya. (*)

Reporter: Slamet Nofasusanto 

Artikel Dapur SPPG Bintan Utara Mulai Beroperasi, Siapkan Menu Khusus untuk SLB pertama kali tampil pada Kepri.

Kerja Berat, Tanggung Risiko Keracunan, Segini Upah Petugas SPPG Lingga

0
SPPG Lingga
Aktivitas petugas SPPG di Lingga menyiapkan menu MBG untuk ribuan penerima. F. Vatawari/Batam Pos.

batampos – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto membuka lapangan kerja baru di berbagai daerah. Salah satunya melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang setiap hari menyiapkan makanan sehat untuk siswa, balita, dan ibu hamil.

Di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, dapur SPPG harus melayani hampir 4.000 penerima manfaat setiap harinya. Tugas ini dianggap berat karena selain menuntut kecepatan dan ketelitian, para pekerja juga menanggung tanggung jawab besar bila terjadi masalah, seperti insiden keracunan makanan.

Kepala Dapur SPPG Dabo Singkep, Irdian Hariyadi, menegaskan bahwa pekerja akan mendapatkan upah sesuai standar upah minimum kabupaten (UMK).

“Kita akan memberikan upah kerja kepada para karyawan dapur SPPG sesuai dengan standar yang ada. Karena untuk pemberian upah sudah distandarisasi dari pusat,” kata Irdian, Senin (29/9).

Meski demikian, Irdian mengakui tidak semua pekerja menerima gaji sesuai UMK. Ada juga yang dibayar di bawah standar, mengacu pada ketentuan pusat terkait pemberian upah. “Ada yang sesuai standar minimum, ada juga yang di bawah,” jelasnya.

Selain upah kerja, karyawan dapur SPPG juga dipersiapkan untuk mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. “Saat ini masih dalam tahap pemenuhan,” tambahnya.

Mengenai besaran gaji, Irdian menyebut pekerja harian atau relawan menerima sekitar Rp100 ribu per hari dengan rata-rata 20 hari kerja dalam sebulan. Sementara kepala bagian dapur memperoleh upah Rp160 ribu per hari dengan pola kerja yang sama.

Namun, untuk angka detail resmi, pihaknya masih menunggu persetujuan dari Badan Gizi Nasional (BGN) pusat. “Kalau untuk angka pastinya kami tidak berani menyampaikan karena ini kewenangan langsung dari pusat,” tutup Irdian. (*)

Reporter: Vatawari 

Artikel Kerja Berat, Tanggung Risiko Keracunan, Segini Upah Petugas SPPG Lingga pertama kali tampil pada Kepri.

Dari Lapak Kuliner hingga Lapangan Kerja, UMKM Batam Tumbuh Pesat

0
UMKM di Sagulung. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos – UMKM di Kota Batam terus menunjukkan geliat positif, terutama di Kecamatan Batuaji dan Sagulung. Pertumbuhan usaha kecil ini bukan sekadar menopang hidup pelakunya, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat menengah dengan membuka lapangan kerja baru dan memberikan penghasilan layak.

Di kawasan SP Plaza Sagulung, misalnya, ratusan lapak kuliner dan pedagang minuman berjejer setiap sore hingga malam. Suasananya selalu ramai oleh warga yang berolahraga maupun bersantai bersama keluarga. Kehadiran UMKM membuat kawasan ini hidup sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal.

Fadil, pedagang minuman, mengaku omzet hariannya bisa tembus Rp400 ribu. Usaha itu kini menjadi penopang utama keluarganya. “Alhamdulillah, anak-anak bisa tetap sekolah dari hasil jualan ini,” ucapnya.

Cerita serupa datang dari Siska, penjual makanan siap saji. Usaha yang semula dijalankan seorang diri kini berkembang hingga mampu mempekerjakan dua karyawan. “Dulu saya sendirian, sekarang bisa buka lapangan kerja buat orang lain. Sama-sama terbantu,” katanya.

Pihak kecamatan mencatat pertumbuhan UMKM di Sagulung kian signifikan. Berbagai sudut wilayah semakin ramai dengan aktivitas usaha kecil yang terbukti memberi daya ungkit besar bagi ekonomi warga. Sebagai bentuk dukungan, ribuan pelaku UMKM telah difasilitasi sertifikat halal gratis, serta pelatihan untuk UMKM pemula.

Pembinaan teknis menjadi ranah dinas terkait, sementara kecamatan fokus pada pengawasan, pemantauan, serta fasilitasi. Langkah ini ditujukan agar UMKM makin kuat dan berdaya saing.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardiwinata, menilai UMKM kuliner sangat potensial bersinergi dengan sektor pariwisata. “Kalau UMKM tumbuh bersama pariwisata, dampaknya akan lebih luas bagi ekonomi Batam,” ujarnya.

Kini UMKM di Batam tidak lagi sebatas usaha tambahan, melainkan sumber penghasilan utama sekaligus pencipta lapangan kerja. Dengan dukungan pemerintah, semangat pelaku usaha, dan antusiasme masyarakat, UMKM diprediksi akan terus menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus benteng masyarakat menengah menghadapi tantangan zaman. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Artikel Dari Lapak Kuliner hingga Lapangan Kerja, UMKM Batam Tumbuh Pesat pertama kali tampil pada Metropolis.

Oktober 2025 Tanpa Tanggal Merah, Masyarakat Hanya Nikmati Libur Akhir Pekan

0
Kalender
Ilustrasi. F. Freepik.

batampos – Bulan Oktober 2025 dipastikan tidak memiliki tanggal merah. Artinya, masyarakat hanya bisa menikmati libur di akhir pekan sepanjang bulan tersebut.

Kepastian ini merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 1017 Tahun 2024, Nomor 2 Tahun 2024, dan Nomor 2 Tahun 2024. Dalam SKB itu ditegaskan bahwa tidak ada libur nasional maupun cuti bersama di bulan Oktober 2025.

Meski tanpa tanggal merah, Oktober tetap diwarnai dengan sejumlah hari penting nasional. Beberapa di antaranya adalah Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober, Hari Batik Nasional 2 Oktober, Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI) 5 Oktober, Hari Santri Nasional 22 Oktober, dan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Masyarakat tetap dapat memanfaatkan momen tersebut untuk mengikuti berbagai kegiatan peringatan, sosial, hingga edukatif. Selain itu, momentum Oktober bisa menjadi waktu produktif untuk menuntaskan pekerjaan, merintis rencana baru, atau mengembangkan diri.

“Bulan Oktober akan menjadi bulan penuh produktivitas karena tidak ada jeda libur nasional. Namun, masyarakat bisa tetap menikmati waktu bersama keluarga di akhir pekan,” demikian dikutip dari Radar Madura, Senin (29/9).

Walau tanpa libur panjang, masyarakat tetap bisa menjadikan hari-hari penting nasional sebagai inspirasi, termasuk membuat konten kreatif atau ikut kegiatan komunitas.

Dengan begitu, Oktober 2025 bukan sekadar bulan kerja penuh, melainkan juga kesempatan untuk memperkuat semangat kebersamaan, nasionalisme, dan kreativitas masyarakat. (*)

Reporter: Juliana Belence 

Artikel Oktober 2025 Tanpa Tanggal Merah, Masyarakat Hanya Nikmati Libur Akhir Pekan pertama kali tampil pada News.