
batampos – Tim peneliti dari Institut Pertanian Bogor melakukan kajian mendalam terhadap bunga Rafflesia di kawasan Bukit Batu Tabir, Desa Tarempa Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas.
Penelitian ini tidak hanya bertujuan mengidentifikasi jenis Rafflesia, tetapi juga mengkaji potensi pengembangan kawasan sebagai destinasi wisata berbasis konservasi.
Ketua tim peneliti, Andy Afandy, mengatakan konsep yang disiapkan mengarah pada wisata edukatif dengan menampilkan bunga Rafflesia di habitat aslinya.
“Kegiatan yang direncanakan berupa etalase atau show bunga Rafflesia dan habitatnya, tetapi harus dikaji terlebih dahulu area mana yang bisa dibuka untuk atraksi,” ujarnya, Jumat (24/4).
Menurutnya, penentuan lokasi wisata harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan agar tidak mengganggu kelestarian bunga langka tersebut.
“Harus dihitung berapa jumlah pengunjung yang bisa datang dalam satu waktu, karena berkaitan dengan carrying capacity,” jelasnya.
Selain aspek wisata, tim juga melakukan analisis ilmiah melalui pengujian DNA guna memastikan spesies Rafflesia yang ditemukan.
Andy mengungkapkan, sebanyak 12 sampel ekstrak DNA telah diambil dari total 26 titik pengamatan yang tersebar di kawasan tersebut.
“Untuk analisis DNA, kami mengambil 12 sampel dari 21 titik lama dan 5 titik baru,” katanya.
Secara morfologi, Rafflesia di Bukit Batu Tabir memiliki kemiripan dengan jenis Rafflesia hasseltii. Namun, hasil kajian awal menunjukkan kemungkinan bahwa bunga tersebut merupakan spesies berbeda.
“Dari ciri fisik memang mirip Hasselti, tetapi ada indikasi kuat bukan jenis tersebut,” ungkapnya.
Saat ini, penelitian memasuki tahap identifikasi molekuler genetik yang diperkirakan memakan waktu sekitar dua bulan. Tahap selanjutnya mencakup diskusi ilmiah, penulisan manuskrip, hingga publikasi di jurnal internasional.
“Proses publikasi bisa memakan waktu 4 hingga 8 bulan jika berjalan lancar,” tambah Andy.
Jika hasil penelitian membuktikan bahwa Rafflesia tersebut merupakan spesies baru, maka temuan itu akan didaftarkan ke National Center for Biotechnology Information sebagai bagian dari pengakuan ilmiah global.
Penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong pengelolaan kawasan berbasis konservasi yang berkelanjutan di Anambas. (*)
Artikel Peneliti IPB Ambil 12 Sampel DNA Rafflesia Anambas, Diduga Bukan Jenis Hasselti pertama kali tampil pada Kepri.









