
batampos – Tumpukan sampah kembali menyambut siapa pun yang melintasi gerbang Taman Pemakaman Umum (TPU) Seitemiang, Tanjungriau. Tak hanya sisa dapur atau plastik kresek, limbah salon, perabot rusak, hingga sampah pasar pun bersatu-padu, menjadikan kawasan itu seperti TPS dadakan.
Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. Bukannya berkurang, sampah justru semakin menggunung dan bahkan mulai meluber ke bahu jalan. Bau tak sedap kerap tercium hingga ke area pedagang bunga yang berjualan tak jauh dari lokasi.
Dirman (42), pedagang bunga yang sudah bertahun-tahun berjualan di depan TPU Seitemiang, mengaku tak lagi heran. Ia menyebut lokasi itu memang jadi langganan tempat buang sampah malam hari.
“Biasanya lewat jam enam sore. Ada yang pakai becak motor, ada juga yang bawa mobil pickup. Mereka datang diam-diam, langsung lempar, terus kabur,” ujarnya, Selasa (23/9).
Menurut Dirman, kondisi jalan yang sepi saat malam hari jadi alasan utama. Setelah pukul 18.00 WIB, kawasan sekitar TPU nyaris tak ada aktivitas. Minim penerangan pun membuat situasi makin mendukung aksi pembuangan liar.
“Kalau malam gelap gulita, orang buang sampah jadi makin berani. Nggak ada yang lihat soalnya,” tambahnya.
Pantauan Batam Pos, tumpukan sampah terlihat nyaris di sepanjang ruas jalan masuk ke TPU. Aneka jenis sampah tercampur tanpa pembatas, mulai dari limbah rumah tangga hingga sisa bahan kimia dari usaha salon. Dari aroma hingga pemandangan, semuanya menyesakkan.
Tak hanya warga sekitar, diduga para pelaku usaha dari luar kelurahan pun ikut membuang sampahnya. Kebiasaan buruk ini seperti tak terbendung.
Lurah Tanjungriau, Syamsuddin, mengakui persoalan sampah ini memang belum tuntas. Ia menyebut pihak kelurahan bersama satgas kebersihan kerap membersihkan lokasi, namun tak lama bersih, sampah kembali menumpuk.
“Kami bersihkan terus, tapi karena pembuangan liar masih terjadi, ya numpuk lagi,” ujarnya.
Pihak kelurahan pun mengaku tak tinggal diam. Salah satu upaya yang kini didorong adalah menggencarkan gotong royong mingguan, serta edukasi langsung ke warga agar sadar pentingnya kebersihan lingkungan.
“Menjaga lingkungan itu tanggung jawab bersama, tidak cukup hanya mengandalkan petugas. Kalau semua buang sembarangan, sampai kapan pun tidak akan selesai,” tegas Syamsuddin.
Syamsuddin berharap budaya bersih dan tertib yang dulu pernah hidup di masyarakat bisa kembali digalakkan. Ia mengajak seluruh warga dan pelaku usaha agar tidak menjadikan TPU Seitemiang sebagai tempat buang sampah ilegal.
“Mari kita jaga tempat ini bersama-sama. Kita hidupkan lagi semangat gotong royong, jangan biarkan sampah jadi pemandangan sehari-hari,” tutupnya. (*)
Reporter: Eusebius Sara
Artikel TPU Seitemiang Diserbu Sampah: Gelap, Sepi, Jadi Ajang Buang Sampah Liar pertama kali tampil pada Metropolis.







Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk membersihkan sampah di pesisir pantai dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan bersih. Kolaborasi dengan Free The Sea mendukung misi menjaga ekosistem laut dan pesisir agar tetap lestari bagi generasi mendatang.



Acara doa bersama itu turut dihadiri Dalam sambutannya, dia mengutip kritik Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gusdur), yang menyinggung fungsi Kementerian Agama.
Kementerian memiliki peran strategis dalam memperkuat kerukunan umat beragama, terutama di daerah perbatasan seperti Kepri. Ia memuji masyarakat Kepri yang mampu membangun suasana kebersamaan meski berbeda latar belakang agama, budaya, dan sosial. Apa yang terjadi di Batam dapat menjadi contoh bahwa kekuatan doa dan kebersamaan lintas masyarakat bisa menghadirkan stabilitas.