Jeritan Hati Terpidana Mati Asal Batam Jelang Eksekusi di Nusakambangan

13040
Pesona Indonesia
Tiga terpidana mati kasus narkoba saat istirahat di Mapolsek Bandara sebelum diterbangkan ke Cilacap, Minggu (8/5/2016). Foto: istimewa
Tiga terpidana mati kasus narkoba saat istirahat di Mapolsek Bandara sebelum diterbangkan ke Cilacap, Minggu (8/5/2016). Foto: istimewa

batampos.co.id – Berbagai upaya dilakukan para terpidana mati untuk lolos dari timah panas regu tembak. Seperti yang dilakukan terpidana mati asal Batam, Suryanto alias Ationg Bin Swehong. Rencananya, dia akan menulis surat untuk Presiden Jokowi agar bisa bebas dari eksekusi mati.

Baca Juga: 9 Terpidana Mati Asal Batam Nunggu Giliran Dikirim ke Nusakambangan

Jawa Pos (grup batampos.co.id) berhasil menembus Nusakambangan bersama kerabat terpidana mati dan mendapatkan komentar dari Suryanto beberapa waktu lalu. Suryanto saat itu sedang duduk di dalam area Lapas Batu. Tubuhnya ceking, bahkan kepalanya tampak lebih besar dari tubuhnya. Tidak proporsional. Raut mukanya memang tampak tenang.

Saat itu dia mengenakan kemeja kotak-kotak yang warnanya sudah memudar dan celana jeans biru yang sudah mulai memutih. Dia berbeda dengan napi lain yang biasanya merokok. ”Saya memang sejak awal tidak merokok,” ujarnya terpatah-patah.

Dengan wajah cukup tenang, dia mulai menceritakan bagaimana tanggapannya soal eksekusi mati. Awalnya, dia mulai curiga dirinya akan dieksekusi karena dipindahkan dari Lapas Batam ke Lapas Batu, Nusakambangan. ”Pemindahan ini dilakukan mendadak,” tuturnya.

Baca Juga: 3 Terpidana Mati dari Batam Sudah di Nusakambangan, Tak Ada Nama Yezhiekel

Hal itu membuatnya panik, sebab Nusakambangan merupakan lokasi eksekusi terpidana mati tahap I dan II. Apalagi, jaksa dan sipir tidak menjelaskan sama sekali alasan pemindahan tersebut. ”Saya hanya bisa menurut saja,” ujarnya.

Namun, ada hal yang cukup menyakitkan. Yakni, keluarganya tidak diberitahukan pemindahan tersebut. Padahal, Suryanto sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan keluarganya. ”Mereka belum menjenguk saya lebih dari tiga bulan,” terangnya, lalu terdiam.

Beberapa menit kemudian, dia kembali menuturkan, jangan-jangan hingga saat ini keluarga belum mengetahui bahwa dirinya dipindah ke Nusakambangan. ”Saya hingga saat ini belum komunikasi dengan keluarga. Saya tidak punya uang untuk menelepon,” tuturnya.

Apa ada rencana untuk melakukan proses hukum? Dia mengakui bahwa hingga saat ini memang belum mengajukan peninjauan kembali (PK). Namun, selain PK, dirinya ingin menulis surat pernyataan yang ditujukan pada Presiden Jokowi. ”Saya ingin menceritakan semuanya,” tuturnya.

Baca Juga: Jelang Eksekusi, Terpidana Mati Depresi Berat, Satu Dilarikan ke Rumah Sakit

Misalnya, soal proses penyelidikan dan penyidikan yang dialaminya. Menurutnya, selama dalam kedua proses itu, banyak sekali siksaan yang dihadapinya. Pukulan dan tendangan jadi makanan sehari-hari. ”Kami terpaksa mengakui seperti yang diinginkan petugas,” jelasnya.

Yang juga memberatkannya adalah penggunaan pasal internasional, sehingga membuatnya divonis hukuman mati. ”Padahal, saya baru sekali itu melakukannya dan karena terbujuk Bandar,” tuturnya.

Ketidakpastian hukuman terhadap dirinya juga membuatnya merasa dihukum dua kali. Dia menuturkan, dirinya sudah dipenjara sekitar sembilan tahun, lalu sekarang ada rencana eksekusi mati. ”Padahal, dalam vonis saya tidak ada hukuman penjara,” paparnya.

Dengan itu semua, Suryanto mempertanyakan, apakah tidak boleh mendapatkan satu kesempatan lagi untuk hidup.

”Pak Jokowi, tolong beri kami kesempatan sekali saja. Saya pastikan saya tidak akan mengulangi kesalahan itu,” keluhnya dengan mata yang mulai memerah.

Kalau pun bisa, sebelum eksekusi mati dilakukan, Presiden Jokowi bisa bertemu dengan dirinya. Dengan begitu, maka Jokowi bakal bisa menilai bagaimana kepribadiannya. ”Kalau bisa ketemu presiden, tentu saya akan membuka semuanya,” jelasnya.

Tidak hanya itu, untuk menjadi peringatan bagi pengedar dan pengguna narkotika, Suryanto juga akan menuliskan semua kisah hidupnya. Harapannya, semua pengedar dan pengguna belajar dari hidupnya. ”Biar semua bisa tobat dan menjauhi narkotika,” tegasnya.

Sementara, ternyata Suryanto di lingkungan barunya mendapatkan sambutan yang tidak disangka-sangka. Dia menuturkan bahwa dirinya dan kedua rekannya, Pujo Lestari dan Agus Hadi dijamu oleh John Kei.

”Dia membelikan kami makanan nasi ayam di luar makanan penjara. Di kantin lapas itu,” tuturnya.

Hampir setiap hari, John Kei memberikan jamuan tersebut. Dia menuturkan, kondisi ini cukup berbeda dengan yang terjadi di Lapas Batam. ”Kalau di Lapas Batam itu tidak semanusiawi di Lapas Batu,” ujarnya.

Sementara, John Kei yang juga berhasil ditemui Jawa Pos menuturkan bahwa jamuan itu merupakan kewajiban dirinya untuk membantu terpidana. ”Itu kewajiban kita, harus saling membantu,” paparnya singkat. (idr/jpgrup)

Respon Anda?

komentar