batampos.co.id – Keberadaan Pasar Induk dapat menjadi fasilitas penting yang dapat digunakan untuk mengontrol harga komoditas penting di pasar.

Seperti kacang panjang, bayam dan cabai merah yang selama ini selalu menjadi komoditas utama penyumbang inflasi terutama di hari-hari besar seperti Lebaran dan Natal.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Fadjar Majardi, mengatakan, keberadaan pasar induk akan lebih mengefisienkan proses perdagangan bahan pangan.

“Di mana para pedagang hilir maupun pedagang hulu cukup datang ke pasar induk untuk saling bertemu dan transaksi,” katanya, Rabu (19/6/2019).

Sudut Pasar induk, Jodoh, Kota Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Kata dia, petani atau pedagang hulu tidak perlu lagi kesulitan mencari pasar-pasar untuk menjual produknya.

Sebaliknya pedagang hilir tidak perlu susah-susah mencari sumber komoditas yang akan dijual di pasar hilir.

“Dalam kaitannya dengan pengendalian inflasi, memang pasar induk tidak menjamin untuk menciptakan inflasi harga pangan yang stabil,” ujarnya.

Namun lanjutnya, keberadaannya sangat mendukung dan memudahkan program pengendalian inflasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

Baca Juga: 1,5 Tahun Revitalisasi Pasar Induk Belum Terealisasi

Fadjar menyebut contoh pasar induk yang baik adalah Pasar Induk Xinfadi yang merupakan pasar induk terbesar di Beijing, ibukota Tiongkok.

“Dengan ketergantungan yang sangat tinggi dari para pedagang terhadap pasar induk tersebut, pengelola pasar bisa menetapkan aturan yang sangat ketat,” jelasnya.

Bahkan kata dia, kisaran harga jual komoditas tertentu bisa diatur dan diikuti oleh pedagang di pasar tersebut.

“Di sisi data dan informasi, pasar tersebut juga memiliki informasi kedepan mengenai harga dan volume suplai komoditas yang akan masuk ke pasar dalam beberapa hari kedepan,” jelasnya lagi.

Menurutnya, pembangunan pasar induk harus memiliki perencanaan yang matang, visi yang kuat dan pengelolaan yang profesional.

Karena dengan membangun sebuah pasar induk yang dapat mendukung pengendalian harga, tidak cukup hanya menyediakan sarana fisik saja.

Tapi juga harus mampu menghasilkan data perdagangan.

“Hal yang lebih sulit adalah menciptakan efisiensi perdagangan sebagaimana layaknya fungsi sebuah pasar induk dan tidak sedikit pasar induk yang gagal mencapai hal ini,” ungkapnya.

Kota Batam sebenarnya memiliki pasar induk di kawasan Jodoh.

Tapi sayangnya hingga saat ini belum dikembangkan meski asetnya sudah diserahkan BP Batam kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam.

Baca Juga: Pemugaran Pasar Induk Jodoh Menanti Dana Pusat

Pasar induk memang sangat diharapkan karena fungsinya dapat mengatur standar harga komoditas strategis di pasar seperti cabai merah dan daging ayam.

Sehingga tidak akan ada lagi lonjakan harga besar-besaran terutama saat menjelang hari-hari besar perayaan keagamaan.

Anggota Komisi II DPRD Batam, Hendra Asman, mengatakan, Pemko Batam harus segera merevitalisasi pasar induk.

Karena keberadaanya sangat penting untuk menjaga kestabilan harga pangan di Kota Batam.

“Sudah hampir dua tahun diserahkan ke Pemko Batam, tapi sampai sekarang belum dibangun,” kata dia.

“Kami dari DPRD mendesak agar revitalisasi pasar induk segera dilakukan karena mengingat perannya yang vital,” tegas Hendra.

Ia menegaskan, jika sudah ada perencanaan yang matang, maka DPRD bisa segera membahas perencanaan anggaran untuk tahun depan.

Sedangkan Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Zulkarnain pernah mengatakan, pembangunan pasar induk bisa dilakukan kalau pasar ini sudah bebas dari pedagang.

“Dalam hal ini, komunikasi dengan tim terpadu. Lokasi itu harus clear and clean dulu lah. Baru bisa dibangun,” ucapnya.

Upaya untuk memindahkan pedagang sudah beberapa kali dilakukan.

Namun kini pedagang masih ada yang berjualan di pasar dan tempat relokasi masih banyak yang kosong, meskipun Pemko Batam sudah mempersiapkan lokasi untuk relokasi pedagang.

“Sebetulnya bukan tidak mau pindah. Kita sudah beberapa kali ketemu, tinggal tunggu waktu. Maka kita siapkan lahan disamping itu. Pedagang mungkin masih siap siap pindah,” jelasnya.

Pemko Batam akan terus berkomunikasi dengan pemerintah pusat, agar ikut mendanai pembangunan pasar induk ini.

“Total anggaran untuk pembangunan sekitar Rp 200 miliar. Ini terus kami kejar ke pusat juga,” pungkasnya.(leo)