Cerita Bernard Wibowo Menjadi Relawan Vaksinasi di Batam

Bernard Huang bersama istri saat menjadi relawan.

Tidak hanya tenaga medis, relawan juga sangat dibutuhkan tenaga dan dukungannya selama program vaksinasi Covid-19 di Batam. Mereka bertugas mengatur warga calon penerima vaksin, bagian pendaftaran hingga entry data. Satu diantaranya selebgram Batam, Bernard Wibowo, yang menyisihkan waktunya menjadi relawan program vaksinasi tersebut.

Ahmadi Sultan, Batam

SUASANA di Vihara Cipta Dharma Seipanas relatif ramai dari hari biasanya pada Minggu (4/7). Hari itu, masyarakat ramai datang untuk mendapatkan vaksinasi yang diselenggarakan Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia (Magabutri). Bernard Wibowo mempersilahkan mereka duduk di kursi merah yang sudah disiapkan dan berjarak.


Bernard Wibowo mengatur alur warga yang menunggu giliran masuk area pendaftaran supaya tertib, memastikan mereka sudah mengisi formulir yang disebarkan sebelumnya dan melakukan pengecekan suhu tubuh warga. Sesekali Bernard Wibowo mengingatkan warga yang agak bandel karena memindahkan posisi kursi dan meminta tetap menjaga jarak.

Pria yang juga dikenal dengan nama Bernard Huang ini adalah salah satu relawan dari Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) Batam yang bertugas hari itu. Di paguyuban IPTI yang concern pada kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi, Bernard menjabat sebagai humas. Makanya ia sangat aktif ikut dalam kegiatan sosial seperti program vaksinasi massal.

Sejak pagi, ia bertugas dan tak sedikit pun rasa lelah yang tampak diwajahnya. Padahal waktu makan siang sudah menjelang. “Vaksinasinya sejak pagi dan ada 1.300 orang yang divaksin. Sekarang (pukul 12.15 WIB) sudah 700-an yang sudah divaksin,” ujar Bernard di sela-sela waktu istirahat.

Ini bukan pertama kalinya pria yang juga dikenal sebagai influencer dan digital branding consultant ini menjadi relawan program vaksinasi di Batam. Setidaknya, Bernard sudah delapan kali menjadi relawan hingga Minggu (4/7). “Besok (Senin, red) ada vaskinasi lagi, jadi udah mau sembilan kali,” ungkapnya.

Bernard menjadi relawan sejak akhir Maret lalu, ketika pihak swasta ataupun paguyuban diperbolehkan melakukan program vaksinasi, Bernard sudah terjun sebagai relawan. Padahal, saat itu dirinya belum mendapatkan vaksin. Sebab, saat itu warga usia lanjut yang mendapat prioritas. Sementara ia baru berusia 33 tahun.

“Waktu itu ketua kita (IPTI) Hendra Asman menginfokan PSMTI membutuhkan relawan vaksin. Makanya itu aku ikut bergabung (sebagai relawan),” ungkap suami Novi ini.

Bersama relawan dari organisasi lain, Bernard menjadi relawan program vaksinasi yang diselenggarakan PSMTI di kampus UIB. Selama tiga hari berturut-turut ia mendedikasikan waktunya untuk jadi relawan, mulai 29 Maret hingga 1 April. Selama tiga hari, ia berhadapan dengan enam ribuan orang yang datang mendapatkan vaksin.

“Awalnya agak takut juga menjadi relawan karena akan bertemu banyak orang dan saya sendiri belum divaksin. Tapi saya tepiskan rasa takut itu. Dalam pikiran saya hanya ingin membantu orang lain,” kata pemilik akun Instagram @bernard_huangg ini.

Karena itu, Bernard termotivasi dan terus menerus jadi relawan. Di lain waktu, ia jadi relawan vaksinasi massal yang diselenggarakan Apindo Kepri di Puas Hati Batam Centre. Kala itu lebih dari tiga ribu orang yang divaksinasi.

Ia menjadi relawan di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai Area Sales Manager wilayah Kepri di PT YHS dan content creator. Pada akhir pekan atau di hari biasa yang tak begitu sibuk ia menyisihkan waktunya untuk berkegiatan sosial.

Bernard bersama Sekretaris PMI Batam Asmin Patros.

Selama menjadi relawan, ia melihat antusias warga Batam untuk vaksinasi tinggi. Hanya saja, menurutnya, masyarakat kurang mendapatkan informasi dan edukasi tentang vaksin. Juga informasi pendaftaran vaksin, kapan dan di mana, serta informasi hoaks tentang vaksin.

“Banyak kabar hoaks beredar di berbagai media sosial yang menyebutkan vaksin ini nggak bagus, vaksin sana berbahaya. Padahal, ada beberapa tahapan sebelum warga disuntik vaksin oleh para petugas medis,” jelasnya.

Karena itu, berdasarkan pengalamannya, Bernard juga mulai sering menyebarkan informasi kepada masyarakat tentang vaksin dan kegiatan vaksinasi lewat akun Instagram pribadinya yang memiliki 155 ribu follower.

“Warga juga perlu mengetahui efek setelah vaksin, apa yang harus dilakukan dan lain-lainnya. Ini perlu edukasi dan itu menjadi tugas kami,” ungkap Bernard.

Setiap postingan di Instagram pun banyak mendapat respon. Banyak yang bertanya soal vaksinasi. Terutama terkait jadwal vaksinasi. Usai vaksinasi, banyak warga yang menyampaikan dirinya telah divaksin dan berterima kasih atas informasi yang disampaikan Bernard.

“Sejak menjadi relawan hati tenang dan happy karena bisa bantu orang. Bisa mengedukasi mereka sehingga dari awalnya gak berani divaksin, jadi mau divaksin,” kata dia sembari tersenyum.

Tak hanya itu, menurutnya, berhasil mengajak orang untuk vaksinasi berarti menyelamatkan diri sendiri, orang lain, keluarga, rekan kerja, dan lingkungan. “Jadi ada kepuasan tersendiri menjadi relawan vaksinasi,” ujar ayah satu anak ini.

Namun bukan hanya cerita suka yang dialami Bernard ketika menjadi relawan. Sebagai palang pintu pertama di lokasi vaksinasi, Bernard juga mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan. Misalnya, ia dimarahi dan dimaki warga yang tidak terdaftar sebagai penerima vaksin, tetapi ngotot ingin divaksinasi. Meski begitu, Bernard tidak mengambil hati dan tetap semangat menjalankan tugas.

Sebenarnya, bukan kali ini Bernard terlibat dalam kegiatan sosial. Jauh sebelum pandemi melanda, ia bersama sang istri, Novi, sudah aktif melakukan kegiatan sosial di Batam. Pada akhir pekan, mereka mengunjungi panti asuhan atau panti jompo untuk menyerahkan bantuan. Namun rutinitas itu dihentikan sementara karena pandemi Covid-19.

“Dulu, sebelum pandemi, kami sudah sering melakukan bakti sosial. Mendatangi panti asuhan. Awalnya sendiri-sendiri kemudian bersama,” kata Novi yang juga turut menjadi relawan vaksin.

Novi juga lah yang mengajak dan mendorong Bernard untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial. Pasangan muda ini pun mengemukakan, ada kebahagiaan tersendiri setelah membantu orang lain. (*/uma)