
Perbankan nasional terus melakukan inovasi untuk memanjakan nasabahnya, khususnya dari kalangan milenial. Termasuk dalam memiliki rumah idaman. Segala kemudahan kini bisa dinikmati di ujung jemari, kapanpun dan dimanapun berada.
Rifki Setiawan Lubis, Batam
Tatapan wanita berhijab biru itu tertuju pada layar smartphone miliknya, Jumat (14/2/2020) sore di angkringan Mega Legenda, Batam, Kepulauan Riau (Kepri).
Jemarinya menari di atas layar sentuh smartphonenya. Sebuah aplikasi bergambar bangunan rumah dengan tulisan BTN Properti tiba-tiba menghentikan gerak jemarinya.
Telunjuknya lalu bergerak meyentuh aplikasi itu. Hanya hitungan detik, laman muka aplikasi itu langsung terbuka.
“Ini aplikasi dari BTN, namanya BTN Properti, sudah saya unduh dari Play Store. Saya mau cari rumah,” ujarnya singkat.
Jemarinya lalu menyentuh sisi kiri atas halaman muka aplikasi ini. Muncullah beberapa menu pilihan untuk menelusuri lebih lanjut bagan-bagian dari aplikasi ini.
Antara lain; Pengajuan KPR, Harga Pasar, Lelang, Developer, dan lainnya.
Namun wanita bernama Asrul Rahmawati ini tak memilih satu pun menu itu. Ia memilih kembali ke beranda dan menyentuh bagian pencarian.
Ada tiga menu pilihan yang muncul: Keyword, Peta, dan Penghasilan. Wanita tadi memilih menyentuh menu Penghasilan.
Sejurus kemudian ia memasukkan penghasilan per bulan suaminya. Ia mengetik angka Rp 6 juta.
Ia juga mengetik besaran penghasilannya di kolom berikutnya. Angka Rp 2,5 juta tertera di layar.
“Suami karyawan swasta di perusahaan media, saya bisnis sambil asuh anak, jualan kuliner khas Minang dan brownies lewat online,” ujar wanita berusia 28 tahun ini.
Kemudian, ia mengisi kolom provinsi (Kepulauan Riau), lalu kabupaten/kota (Batam) dan kecamatan (Sekupang).
Setelah itu, ia menyentuh menu “cari properti”. Dalam hitungan detik muncul semua properti di Batam yang kisaran harganya maksimal Rp 500 juta.
Setelah menggeser scroll kebawah berulang kali, akhirnya mata ibu satu anak ini tertuju pada satu perumahan minimalis di Sekupang.
Detail informasi tentang rumah itu langsung muncul. Termasuk foto hingga nomor rumah dan kelengkapan fasilitas seperti listrik, air bersih, akses jalan dan lainnya. Harganya cukup terjangkau, yakni Rp 265.600.000.
“Tiban Indah Permai boleh juga nih. Sesuai yang saya cari, tipe 27, luas tanah tak apalah 72, bisa direnovasi jadi dua lantai untuk kos-kosan,” ujarnya, lagi.
Perempuan yang menikah dua tahun lalu ini kemudian menyentuh “Simulasi KPR” untuk mengetahui besaran angsuran per bulannya.
Ia kemudian menyentuh menu “Rincian”. Hanya hitungan detik muncul detail angsuran dan rincian pinjaman.
“Simulasi KPR ini benar-benar memberi gambaran jelas. Aplikasi ini benar-benar membantu,” ujarnya.
Di layar smartphonenya tertera uang muka yang harus dibayarkan sebesar Rp 39,84 juta (15 persen).
Suku bunga per tahun 8,99 persen. Lama pinjaman ia pilih 20 tahun. Angsuran per bulan muncul Rp 2.060.900.
“Masih tinggi, tapi kalau dibuat kos-kosan bisa nutup bulanannya,” ujarnya sambil menyeruput secangkir cokelat hangat.
Ibu muda yang tinggal di Perumahan Legenda Malaka ini kemudian menelusuri bagian-bagian lain dari aplikasi ini. Termasuk mencoba menu Pengajuan KPR.
“Benar-benar mudah,” ujarnya.
Untuk menopang perekonomian keluarga di masa depan, Asrul dan suaminya Fiska Juanda memang sudah lama berencana untuk membuka kos-kosan.
Investasi bersifat jangka panjang ini membutuhkan properti yang harganya pas dengan kemampuan finansial pasutri ini.
“Siapa yang tahu kalau suami saya bisa lanjut terus di kantornya kan. Jadi sejak awal, memang sudah harus bersiap-siap kalau tak mau rugi di masa tua nanti,” ucapnya.
Itulah gambaran kemudahan yang diberikan BTN untuk konsumen maupun calon konsumennya.
Sebuah aplikasi yang memudahkan menentukan pilihan dalam membeli properti. Termasuk mengukur kemampuan kantong sebelum memutuskan membeli properti secara kredit.
Aplikasi BTN Properti ini memang memberi banyak kemudahan kepada konsumen, mulai mencari rumah idaman, termasuk rumah subsidi, menghitung angsuran, hingga proses akad KPR.
Pengalaman tersebut juga dirasakan pasangan muda Septiana Putri dan Irham. Suami istri yang baru dua tahun menikah ini baru saja mendapatkan rumah idamannya di Rhabayu Garden, Sekupang.
Sebelumnya mereka tinggal di rumah kontrakan yang berlokasi di Bengkong, Batam. Putri berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan Irham merupakan seorang guru.
Sebelum pindah ke rumah baru, pasangan ini sudah mencicil uang muka rumah idamannya, bahkan sudah dimulai sebelum menikah.
“Sebenarnya sudah lama mengincar rumah disana. Tapi pengajuan selalu ditolak oleh bank. Sebelum ke BTN, sudah ada lima kali ditolak,” ujarnya.
Ibu dari satu anak ini menuturkan bahwa bank-bank yang ia datangi untuk pengajuan KPR memiliki persyaratan yang sulit dipenuhi.
“Karena jangka waktunya dari 10 sampai 15 tahun, maka cicilannya besar. Sedangkan di bank kan, cicilan itu harus 20 persen dari jumlah gaji. Jadi bank tidak menyanggupinya,” ungkapnya.
Wanita berusia 28 tahun ini sempat patah semangat. Impiannya untuk memiliki rumah bersama keluarga kecilnya sempat berada di ujung tanduk.
Tapi itu tidak lama, karena berkat saran dari teman-temannya yang sudah memiliki rumah, ia mulai menggunakan aplikasi BTN Properti.
Pilihannya tidak salah. Aplikasi digital ini memang menawarkan kemudahan kepada generasi milenial untuk memiliki rumah.
Putri tidak perlu bersusah payah mencari informasi kesana kemari, karena semua info mengenai perumahan di Batam sudah terangkum dalam BTN Properti.
Dan satu hal yang membuat Putri bersyukur yakni kebijakan dari BTN sendiri. BTN memiliki program menarik bernama KPR Gaeesss For Millenials sejak Oktober 2018.
Produk perbankan ini merupakan menu pilihan utama yang diaplikasikan secara baik di BTN Properti.
Keunggulannya bisa ambil jangka waktu KPR hingga 30 tahun. “Saya sendiri ambil 25 tahun. Cicilannya pas dengan gaji suami saya,” paparnya.
Ia kemudian menunjukkan layar smartphone-nya. Di layar tertera informasi mengenai perumahan idamannnya.
Rhabayu Garden tipe 36 dan luas tanah 72 meter ini memiliki banderol harga sebesar Rp 268 juta.
Setelah melihat simulasi KPR-nya, Putri bernafas lega karena cicilannya hanya Rp 1.932.600 per bulan.
“Ini sudah pas. Kami merasa lega karena sekarang sudah punya rumah sendiri. Meski kecil tapi sudah cukup,” ungkapnya sembari tersenyum bahagia.
Memiliki rumah memang menjadi impian setiap orang, tidak terkecuali dari kalangan milenial. Sebagai gambaran singkat, Generasi Milenial, yang juga punya nama lain
Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923.
Untuk sekarang, generasi ini merupakan kalangan yang paling banyak mengisi tatanan norma sosial dan budaya serta mendominasi lingkungan kerja di masyarakat. Rata-rata umur generasi milenial saat ini 23 hingga 40 tahun.
Banyak stereotip yang melekat untuk generasi milenial. Beberapa stereotip positif yakni optimistik, fleksibel, idealis, mencari pekerjaan sesuai passion, pecandu teknologi dan lain-lain.
Namun, ada juga stereotip negatif yang melekat yakni serba instan dan kurang berminat untuk berinvestasi.
Generasi milenial cenderung menggunakan penghasilannya untuk jalan-jalan atau nongkrong, tapi enggan berinvestasi jangka panjang.
Investasi jangka panjang seperti properti membutuhkan waktu yang panjang untuk meningkatkan nilai investasi, tidak bisa diperoleh dengan instan.
Makanya, perbankan berlomba-lomba menarik minat milenial untuk membeli properti dengan beragam produk yang menarik. BTN Properti Mobile merupakan salah satunya.
“Aplikasi BTN Properti ini memang memberi banyak kemudahan kepada konsumen, mulai mencari rumah idaman, termasuk rumah subsidi, menghitung angsuran, hingga proses akad KPR,” ujar pimpinan cabang BTN Batam, Ali Irfan, Rabu (12/2/2020) di Batamcentre, Batam.
Ia menambahkan properti yang tertera di aplikasi ini, pengembangnya telah berafiliasi dengan BTN sebagai salah satu pemberi fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Ali menyebut banyak keunggulan dari aplikasi online ini. Salah satunya efisiensi waktu. Ali mengungkapkan selama ini ia harus menandatangani banyak dokumen-dokumen persetujuan KPR di kantornya.

Namun semua terkendala saat ia berada diluar kantor. Konsumen pun harus menunggu ia kembali dari luar kota, sementara di Batam mayoritas masyarakat pekerja sehingga tidak memiliki waktu banyak untuk datang langsung ke kantor BTN.
Namun sejak aplikasi ini muncul di toko aplikasi online berbasis Android, Play Store, semuanya menjadi praktis.
“Sekalipun berada di tempat yang jauh, hanya dari smartphone, saya bisa melakukannya,” ujarnya.
Proses persetujuan KPR pun menjadi lebih cepat, masyarakat tak perlu menunggu lama lagi. Dampak positinya, mampu mendorong kredit KPR tumbuh signifikan dan menunjang sektor usaha lainnya.
Kemudahan lainnya yakni konsumen dapat melihat daftar rumah murah bersubsidi beserta lokasi dan pengembangnya yang ada di Batam.
Semuanya dipaparkan secara jelas termasuk spesifikasi, harga, dan dasar ketentuan untuk memilik rumah murah. Si pemohon tidak perlu repot berulang kali kembali ke bank hanya untuk pengajuan KPR.
“Cukup dari smartphone saja,” imbuhnya.
Para pengembang pun dimanjakan dengan hadirnya aplikasi ini. Apalagi untuk mengunggah data ke BTN Properti, pengembang tidak dikenakan biaya sedikitpun.
“Yang penting pembayaran KPR-nya lewat BTN,” jelasnya lagi.
Aplikasi BTN Properti memiliki keunggulan lainnya, yakni sudah terintegrasi dengan aplikasi online BTN lainnya, yakni BTN Digital Solution.
Dalam aplikasi ini, pengguna bukan hanya bisa mengakses BTN Properti, tetapi juga layanan lainnya seperti BTN E-Mobil, BTN E-Banking, BTN E-Commerce dan lainnya.
“Intinya segala kemudahan dalam satu aplikasi untuk semua kalangan dimanapun dan kapanpun,” katanya.
Ia juga membenarkan aplikasi BTN Properti menjadi sarana untuk menguji kepantasan pemohon KPR secara lebih cepat.
Karena sistem di dalamnya sudah terintegrasi dengan BI Checking. Sistemnya bekerja seperti sebuah simulasi.
Pemohon KPR tinggal memasukkan angka penghasilan dan mencocokkannya dengan harga rumah yang diidamkan. Maka sistem akan menyajikan simulasi perhitungan KPR-nya.
“Pemohon jadi bisa berhati-hati dalam mengambil langkah.Kami pun menjadi terbantu,” ungkapnya.
Selain itu, aplikasi ini sangat praktis karena membantu masyarakat untuk memperoleh rumah idaman, dimana pun ia suka.
“Misalnya mau rumah di Bandung, Jawa Barat. Mau ajukan KPR bisa di Batam. Dengan catatan punya keluarga disana dan juga harus lihat kondisi rumahnya dulu. Jika terpenuhi, maka tinggal upload lampiran KTP dan slip gaji dalam PTF, kirim ke BTN Properti,” jelasnya.
Setelah itu, admin dari BTN Properti akan menghubungi si pemohon untuk proses tanya jawab.
“Kalau jawab sesuai verifikasi, maka admin akan follow up. Prosesnya akan dioper ke cabang BTN di Bandung,” paparnya.
Keuntungan lainnya yakni aplikasi ini memiliki fitur chatting operator 24 jam penuh. Sehingga ketika si pemohon ingin mengetahui sudah sampai sejauh apa proses KPR-nya, bisa chatting dengan admin.
Satu lagi kemudahan yang ditawarkan aplikasi ini yakni dapat memproses rumah yang bahkan pengembangnya belum terdaftar.
“Kalau rumah belum ada, boleh tetap isi BTN Properti. Nanti biar BTN yang urus. Si pemohon tinggal datang pas akadnya saja,” ucapnya.
Aplikasi digital ini lahir memang untuk memenuhi ekspektasi generasi milenial yang mendamba proses simpel dan praktis.
“Sasarannya memang generasi milenial yang produktivitasnya tinggi. Lewat BTN Properti, kami ingin balikkan mindset yang menyatakan bahwa milenial tidak mungkin beli rumah,” jelasnya.
Dengan jangka waktu 30 tahun, angsuran akan terasa lebih bersahabat. “Jangka waktu produktivitas milenial masih panjang. Sehingga 20 hingga 30 tahun sekalipun masih bisa cicil rumah.
Sehingga mindset awal yang tak mungkin jadi mungkin. KPR Gaeesss memang memberikan kemudahan yang sesuai dengan kemampuan si pemohon,” paparnya.
Pengembang Targetkan Pasar Milenial
Harga rumah dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan. Penyebabnya adalah kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja.
Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI),harga properti residensial tumbuh terbatas pada triwulan IV 2019 dan diperkirakan berlanjut pada triwulan I 2020.
Indeks harga properti residensial (IHPR) triwulan IV 2019 tumbuh 0,30 persen (qtq), lebih rendah dibandingkan 0,50 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya.
Untuk triwulan pertama 2020, pertumbuhan IHPR diperkirakan meningkat terbatas menjadi 0,43 persen (qtq).
Di tengah kenaikan harga yang terbatas, penjualan properti residensial pada triwulan IV-2019 mengalami penurunan.
Hasil survei harga properti residensial mengindikasikan penjualan properti residensial kembali turun 16,33 persen (qtq), setelah triwulan sebelumnya tumbuh 16,18 persen (qtq). Penurunan penjualan rumah tersebut terjadi pada seluruh tipe rumah.
Meskipun begitu, Batam tidak mengalami kondisi serupa dengan nasional. Berdasarkan survey BI, harga properti di Batam diperkirakan justru mengalami penurunan rata-rata sebesar 2,47 persen.
Penurunan tersebut terjadi tipe rumah kecil yang harganya turun 3,02 persen, tipe rumah menengah yang turun 3,16 persen dan tipe rumah besar yang turun 1,27 persen.
Penyebab menurunnya harga properti terjadi karena Batam hingga saat ini masih dalam tahap pemulihan ekonomi, sehingga berdampak pada daya beli masyarakat.
Badai ekonomi global dan pelemahan rupiah sempat memukul industri properti di Batam pada 2017. Kondisi pertumbuhan ekonomi Kepri saat itu terjerembab hingga 1,06 persen.
Imbasnya yakni banyak PHK massal terjadi, perusahaan tutup dan sektor industri yang menjadi mesin utama perekonomian Batam melemah hingga daya beli masyarakat ikut terpukul.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam, Achyar Arfan, mengatakan, para pengembang terus berlomba mengatur strategi agar penjualan properti tetap berjalan.
Meski situasi kurang menguntungkan, para pengembang tidak akan serta-merta menaikkan harga properti.
“Kami justru lagi mencari bagaimana supaya rumah-rumah yang ada sekarang ini harganya tetap bisa terjangkau dan terbeli oleh masyarakat,” kata Achyar.
Untungnya, situasi tersebut tidak berlangsung terlalu lama. Ekonomi Kepri sudah mulai berangsur-angsur pulih.
Hingga pada tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Kepri tumbuh sebesar 4,89 persen. Dan diprediksi akan tumbuh menjadi 5 persen pada 2020.
Achyar mengatakan, saat ini daya beli masyarakat memang masih dalam tahap pemulihan juga. Sehingga penjualan properti di Batam juga ikut landai.
Dalam kondisi seperti ini, kata Achyar, masyarakat akan cenderung menunda pembelian kebutuhan yang sifatnya bukan primer.
“Masyarakat saat ini lebih menahan diri untuk membeli properti. Masyarakat lebih mengutamakan uang itu dibelikan atau dibelanjakan kepada kebutuhan yang lebih penting daripada properti,” ujar Achyar.
Selain menjaga harga properti agar tetap terjangkau, Achyar menegaskan banyak pengembang yang rela memberikan diskon harga.
Selain itu, berbagai promo menarik juga ditawarkan untuk menarik minat pembeli.
Misalnya, kata Achyar, promo tenor kredit atau jangka angsuran yang lebih lama.
Ada juga pengembang yang menawarkan gratis biaya dokumen jual beli, seperti BPHTB, sertifikat rumah, hingga gratis biaya notaris.
Achyar mengakui, sampai saat ini penjualan properti memang belum terlalu mulus. Menurut dia, saat ini sebagian besar pengembang mengaku kesulitan menjual unit propertinya.
Baik yang berbentuk rumah tapak (landed house) maupun apartemen. Kalaupun ada transaksi penjualan, umumnya terjadi pada properti yang sudah dibangun dua atau tuga tahun lalu.
Di satu sisi, pihak pengembang sendiri juga memilih untuk lebih banyak menunggu sebelum membangun dan menjual properti. Sebab situasi saat ini kurang menguntungkan bagi para pengembang.
Meskipun begitu, Achyar menilai saat ini merupakan momen paling tepat untuk meningkatkan promosi pemasaran properti ke generasi milenial di Batam.
“Target pengembang saat ini adalah bagaimana cara meyakinkan generasi milenial agar segera membeli rumah,” kata Achyar.
Batam termasuk kota yang mengalami relaksasi pertumbuhan harga properti. Sedangkan kota-kota besar lainnya seperti Medan tumbuh hingga 7,30 persen.
Begitu juga dengan Palembang yang tumbuh hingga 3,31 persen.
Achyar menilai sudah saatnya bagi generasi milenial untuk membeli properti, karena penurunan harga ini sangat jarang terjadi.
“Bagi mereka memang properti menjadi prioritas terakhir. Mereka lebih suka mengontrak karena soal mobilitas. Padahal jika dilihat dari penghasilan, seharusnya cukup untuk menabung dan berinvestasi,” katanya.
Untuk mendorong generasi milenial agar mau membeli rumah, harus didukung dengan sejumlah kebijakan.
Karena selama ini masih banyak hambatan yang ditemukan sehingga penjualan properti merosot.
Berdasarkan data yang dihimpun BI, faktor yang meng-hambat pertumbuhan properti antara lain suku bunga KPR dari 20 persen responden.
Berdasarkan data laporan bank umum, rata-rata suku bunga KPR pada triwulan IV 2019 sebesar 9,12 persen lebih rendah dibandingkan 9,34 persen pada triwulan III 2019.
Faktor lain yang jadi penghambat antara lain perizinan/birokasi dalam pengembangan lahan dari 15,9 persen responden, proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR di perbankan dari 14,8 persen responden dan permasalahan pajak dari 13,7 persen responden.
Achyar mengatakan, salah satu penghambat penjualan properti di Kepri adalah tingginya cicilan rumah.
Biasanya cicilan yang besar mengakibatkan gagal bayar sehingga rumah disita. Apalagi di Kepri, khususnya Batam, dimana harga rumah terlalu cepat meningkat.
Achyar mengatakan, salah satu solusinya adalah perbankan berani memberikan tenor lebih panjang untuk pelunasan KPR kepada para pembeli rumah. Tenor pelunasan KPR bahkan ada yang mencapai 20 tahun.
“Karena harga rumah jauh lebih cepat naik dibanding gaji,” katanya.
Selain itu, Achyar melihat bahwa generasi milenial tertarik untuk tinggal di apartemen.
“Generasi milenial ini termasuk kaum komuter dan bisnisman di Batam. Mereka hanya tinggal beberapa hari, kemudian perjalanan bisnis lagi. Paling gampang tinggal di apartemen yang unitnya minimalis, gampang dimanage dan sudah ada yang mengurusin. Untuk saat ini, trend setter lifestyle-nya masih di Jakarta,” jelasnya.
Di Batam, trennya mulai bergerak ke arah tersebut. Di kota industri ini, ada 16 proyek apartemen yang tengah berjalan.
Contohnya proyek Pollux Habibie, Citra Nagoya Plaza, Oxley, Sinarmas dan lain-lain.
Apartemen cukup diminati, begitu juga dengan rumah yang mendapat fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) atau rumah murah.
Bagi milenial berkantong pas-pasan, rumah murah memang menjadi pilihan utama.
“Hingga saat ini, kami masih terus bahu membahu bersama BTN agar kuota rumah subsidi ditambah. Tahun ini, secara nasional kuotanya 102 ribu saja dibanding tahun lalu yang dapat 160 ribu,” jelasnya.
Rumah murah menjadi pilihan menarik karena skema pembeliannya dianggap kompetitif dan bersahabat.
Keuntungan membeli rumah murah antara lain suku bunga rendah lima persen tetap per tahun, tenor panjang selama 20 tahun, angsuran terjangkau, uang muka ringan, bebas premi asuransi dan bebas pajak pertambahan nilai (PPN).
Untuk tahun 2020, harga murah murah sudah ditetapkan sebesar Rp 156,5 juta, naik dari Rp 146 juta pada 2019.
Achyar menyebut penurunan kuota rumah FLPP menjadi perhatian serius dari REI Batam. Kebutuhan rumah di Batam masih sangat tinggi.
Berdasarkan data BPS Batam, jumlah penduduk Batam pada 2019 sudah mencapai 1.421.961 orang atau tumbuh 9 persen dari 2019. 40,76 persen diantaranya adalah generasi milenial berusia 20 hingga 39 tahun atau dalam angka mencapai 579.591 orang.
Kebutuhan terhadap rumah akan semakin tinggi mengingat pertumbuhan penduduk Batam yang terus bertambah dalam rentang 5 hingga 9 persen dalam lima tahun terakhir ini.
Menurut Achyar, idealnya kuota rumah murah terus bertambah sebanyak 2.500 per tahun. Tapi sayangnya, angan-angan tersebut sulit untuk terealisasi.
“2019, pemerintah kasih kuota 160 ribu. Dan tahun depan diintip dari APBN, maka kuota hanya 100 ribu. Nah ini yang saya bilang, masyarakat harus disadarkan bahwa sekarang fasilitas untuk mendapatkan rumah layak huni terus berkurang,” ucapnya.
Di Batam, target pembangunan rumah FLPP tahun ini diperkirakan akan berkurang. Padahal tiga tahun terakhir ini, kuotanya terus meningkat.
Pada tahun 2017 ada 800 unit, tahun 2018 ada 1200 unit, tahun 2019 ada 1500 unit. Dan untuk tahun ini, Achyar belum mendapat jumlah pastinya.
“Untuk 2019 lalu, realisasi sudah 600,” katanya.
Berdasarkan data Kementerian PUPR, realisasi rumah FLPP di Kepri mencapai 970 unit dengan total kredit sebesar Rp 93,8 miliar.
“90 persen dibiayai oleh BTN yang memang fokus pada bisnis properti,” tegasnya.
Mendengar pengurangan kuota tersebut, bukan hanya target yang akan turun, tapi juga jumlah pengembang yang membangun rumah FLPP.
“Di daftar kita ada 18 dari 90 pengembang di Batam yang bangun rumah FLPP di Tanjunguncang, Marina, Piayu dan Nongsa,” ungkapnya.
Sedangkan pemilik PT Kinarya Rekayasa, Sulistyana mengungkapkan geliat pembangunan apartemen atau rusun murah bersubsidi semakin gencar di Batam.
Walaupun pengembang meyakini segmen marketnya belum terbuka luas, namun diperkirakan dua atau tiga tahun lagi, masyarakat khususnya generasi milenial akan memburu hunian vertikal ini.
“Mungkin saat ini masyarakat masih menganggap paradigma hunian ini adalah menetap selamanya makanya masih membeli rumah tapak. Namun tak lama lagi, masyarakat akan menyadari bahwa hunian itu hanya bersifat sementara,” ungkap Sulistyana yang telah membangun apartemen murah, Puri Khayangan di Batamcentre.
Pembangunan apartemen ini sendiri dimulai pada Januari 2017. Ia kemudian mengambil contoh di negara maju seperti Jepang atau di kota metropolis seperti Jakarta, masyarakatnya sangat heterogen.
Banyak pekerja yang datang dari luar kota dan kembali ke kota asalnya pada sore hari.
Namun, ada sebagian dari kaum pekerja tersebut yang lebih memilih untuk menginap di kota tempatnya bekerja karena rutinitas padat.
Menyewa atau membeli apartemen atau rusun menjadi pilihan.
“Mereka kaum pekerja profesional dengan mobilitas tinggi yang lebih nyaman menginap di apartemen. Mereka orang-orang sibuk dengan waktu kerja tidak terbatas,” ujarnya.
Menurut sarjana teknik sipil yang pernah mencalonkan diri sebagai Wakil Walikota Batam ini, Batam memiliki lahan terbatas.
Developer tak punya pilihan selain membangun hunian vertikal.”Lagipula masyarakat tak punya pilihan lagi nanti, tanah akan habis.
Walau masih tidak setuju, namun zaman mengarah kesana,”ungkapnya lagi.
Konsep apartemen modern memang menjadi prioritas karena perkembangan zaman. Keterbatasan lahan menjadi penyebab pengembang ataupun pemerintah harus merancang hunia vertikal.
Pemerintah telah merancang strategi untuk menarik minat masyakat agar mau menjatuhkan pilihannya pada apartemen atau rusun.
Sulistyana menjelaskan bahwa salah satu strategi tersebut adalah menetapkan bunga dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 5 persen. Cicilan pun tergolong murah dengan Rp 1,7 an perbulan dengan jatuh tempo 15 tahun.
“Selain itu pemerintah dan masyarakat bermitra dalam bentuk kerjasama subsidi silang sehingga harga apartemen lebih murah,” ujarnya.
Sulistyana mengakui pengembang apartemen selalu melakukan inovasi untuk membuat penghuninya betah.
Memang disadari bahwa aksesibilitas apartemen itu mampu membuat penghuni lelah karena naik turun lift atau tangga.
Sehingga dengan tujuan untuk meminimalisir unsur kejenuhan, banyak pengembang apartemen diluar Batam membangun fasilitas umum dan komplek pertokoan yang uniknya diserahkan untuk dikelola untuk para penghuni sendiri.
Paradigma berpikir masyarakat Batam masih menganggap bahwa dengan keberadaan lahan tambahan yang biasanya ada di rumah tapak maka dapat berkreasi lebih dibanding dengan apartemen yang bersifat fix.
“Namun saya meyakini kelak masyarakat tak punya pilihan lagi. Dan optimis apartemen akan diburu. Dan jika pemerintah mau bekerjasama, maka kami siap membangun asal disediakan lahannya,” ujarnya.
Terobosan Baru BTN
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memoles layanan mobile banking untuk mempermudah nasabah milenial.
Hal tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan layanan transaksional perseroan dan meningkatkan perolehan dana murah.
Direktur Utama Bank BTN Pahala N. Mansury mengatakan inovasi tersebut dilakukan agar BTN tidak hanya menjadi bank yang berfokus pada sektor perumahan, tapi juga mengakselerasi fungsi perseroan sebagai bank tabungan.
Pahala menyebutkan dengan inovasi ini, perseroan akan membidik akan ada 2,7 juta pengguna mobile banking Bank BTN pada 2020.
“Pengembangan mobile banking apps ini menjadi batu loncatan bagi kami untuk mengembangkan super apps dengan berbagai fitur yang akan menjawab kebutuhan nasabah modern Bank BTN,” ujarnya, Jumat (7/2/2020).
Pahala menuturkan, layanan aplikasi yang tengah dibangun perseroan akan terdapat berbagai fitur.
Di antaranya fitur Online Onboarding yakni pembukaan rekening secara online dari handphone.
Selain itu, juga akan ada fitur pembukaan e-deposito, tarik tunai tanpa kartu, dan berbagai fitur lain yang akan mengikuti tren industri.
“Perseroan menawarkan berbagai fitur dalam aplikasi di smartphone tersebut. Di antaranya yakni informasi saldo, transfer antar rekening Bank BTN dan bank lain, pembayaran beragam tagihan, pembelian pulsa hingga top up uang elektronik, serta poin Serbu BTN,” tuturnya.
Dari pengguna tersebut, jumlah dan nilai transaksi menggunakan mobile banking Bank BTN mencapai 55,3 juta transaksi dengan nilai Rp 9,11 triliun per Desember 2019.
Posisi jumlah dan nilai transaksi tersebut naik masing-masing sebesar 41,43 persen dan 36 persen secara tahunan (yoy) dari 39,1 juta transaksi dan Rp 6,7 triliun pada Desember 2018.
Dengan capaian tersebut, Bank BTN mencatatkan perolehan fee based income (FBI) senilai Rp 42,51 miliar pada Desember 2019 atau naik 27,65 persen yoy.
Dengan target pengguna baru pada 2020, Pahala menuturkan pihaknya membidik posisi FBI tersebut naik sekitar 33 persen.
“Kami optimistis pengembangan ini akan mempermudah nasabah menggunakan mobile banking Bank BTN sehingga meningkatkan perolehan FBI kami,” ucapnya.
Sementara itu, lanjutnya, selain mengembangkan layanan transaksional perseroan, Bank BTN juga menggelar penandatanganan Nota Kesepahaman terkait penggunaan Electronic Data Capture (EDC).
Terkait kemitraan ini, Bank BTN menggadeng PT Duta Paramindo Sejahtera Developer Green Pramuka City, PT ISPI Pratamalestari Perkasa Developer ISPI, Panties Pizza Indonesia Merchant Makanan Panties Pizza, serta Notaris dan PPAT Umi Chamidah.
“Kami berharap dengan berbagai inisiatif inovasi ini akan mampu membuat nasabah Bank BTN kian nyaman bertransaksi menggunakan produk dan layanan kami,” tutupnya.
