Senin, 27 April 2026
Beranda blog Halaman 10380

Provinsi Kepri Belum Ajukan PSBB, Alasannya….

0

batampos.co.id – Hingga saat ini Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) belum mengajukan permohonan ke Kementerian Kesehatan untuk menerapak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Hal ini disampaikan Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana.

Menurutnya belum diajukan rencana PSBB Provinsi Kepri ke Kemenkes karena persoalan memprioritaskan sektor ekonomi.

Ia juga mengatakan, strata PSBB itu harus ada penularan lokal secara masif dan penyebaran luas di wilayah yang mengajukan.

Tapi, ia mengaku saat ini pihaknya sedang membuat telaah epidemiologis di Provinsi Kepri.

”Syaratnya tentu harus mampu kita faktakan sesuai dengan ketentuan pengajuan
PSBB. Sebagai tahapan itu, sekarang ini sedang kita siapkan untuk menuju ke arah sana (PSBB),” jelas Tjetjep, Selasa (14/4/2020).

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Tanjungpinang, Endri Sanopaka, mengatakan, melihat korban yang terus berjatuhan, baik yang positif Covid-19 meninggal maupun positif Covid-19 yang terus bertambah, maka sejatinya Pemprov Kepri dan kabupaten/kota harus bersegera menerapkan PSBB.

Khususnya di dua kota, yakni Batam dan Tanjungpinang. Namun, ia melihat pemda
masing-masing, termasuk Gubernur Kepri dihadapkan pada dua pilihan sulit.

Menjaga ekonomi tetap berjalan, namun mengorbankan keselamatan masyarakat, atau memprioritaskan nyawa masyarakat dan mengorbankan aktivitas ekonomi.

Personel Tagana dan satpol PP berjaga di Rusunawa BP Batam, Tanjunguncang. Di lokasi tersebut menjadi lokasi isolasi bagi warga Batam suspect corona. Foto: batampos.co.id/Eusebius Sara

”Kita tidak mau kepala daerah kalah dengan kepentingan kelompok tertentu. Sehingga tidak berani menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Provinsi Kepri, khususnya daerah-daerah yang rawan, Batam, Tanjungpinang, dan Karimun,”
ujarnya.

Menurutnya, kondisi sosial di Provinsi Kepri dan kabupaten/kota di Kepri yang lebih  memahami adalah kepala daerah terkait sebagai pihak internal.

Bukan pemerintah pusat yang merupakan pihak eksternal. Ia khawatir, jika kebijakan ini tidak segera diterapkan, maka angka penderita Covid-19 di Provinsi Kepri akan terus meningkat.

Artinya tidak harus menunggu korban jiwa terus berguguran, karena terpapar Covid-19. Pada tahap inilah saatnya ketegasan seorang kepala daerah dicabar.

”Bagaimana situasi sosial di daerah, kita daerah yang lebih memahami, bukan pemerintah pusat. Begitu juga dengan ketakutan dan keresahan masyarakat. Apakah kita harus menunggu tim medis kewalahan dalam mengatasi masalah ini, dan korban jiwa berjatuhan,” tuturnya.

Menurutnya, karena lockdown tidak bisa, maka tak ada jalan lain selain melakukan
PSBB, yakni dengan menutup jalur pelayaran dan penerbangan.

Apalagi letak geografis Kepri yang daerah kabupaten/kota sangat kecil, sehingga apabila tidak dilakukan tindakan tersebut, penyebaran menjadi lebih masif.

Dijelaskannya, penerapan kebijakan tersebut tentu ada dampaknya. Namun risiko tersebut harus diambil untuk mencegah penyebaran, sehingga angka korban tidak  bertambah.

Selain itu, untuk membantu tim medis dalam bekerja, dengan pasien yang sudah ada.

”Jika pertimbangannya masalah dampak ekonomi, tentu situasi bisa dipulihkan, meskipun harus berproses kembali,” ujarnya.

Namun kata dia, bicara soal nyawa, tentu tidak ada yang bisa mengganti. Pada posisi inilah lanjutnya ditunggu mental kepala daerah dalam membuat keputusan.

“Apakah mementing soal investasi atau memprioritaskan keselamatan rakyatnya,” paparnya.

Sementara itu, legislator Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua, menambahkan, saat ini Ketua Rukun Tetangga (RT) lebih berperan dibandingkan kepala daerah.

Bahkan sudah ada yang melakukan pembatasan akses di wilayah tertentu. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran lebih masif.

Politisi Partai Hanura tersebut mengatakan, Pemprov Kepri belum kunjung mengajukan
PSBB sampai saat ini, karena diribetkan dengan persoalan birokasi.

Karena kata dia, pengajuan tersebut tidak cukup dengan selembar surat, melainkan
proposal yang harus didukung dengan data dan fakta sesuai dengan klasifikasi yang ditentukan.

”Selain persoalan ekonomi, masalah ini juga yang menyebabkan terjadinya tarik ulur  rencana tersebut (PSBB, red). Begitu juga dengan rencana Wali Kota Batam, kenyataan mental dan belum dapat diterapkan sampai saat ini,” ujarnya.

Pembina Ikatan Tionghoa Muda (ITM) Provinsi Kepri tersebut menjelaskan, jika memang Pemprov Kepri bertekad untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, tentu harus bergerak cepat menyiapkan kebutuhan-kebutuhan prioritas masyarakat.

Salah satunya sembako. Menurutnya, dari penjelasan ia yang terima, Pemprov Kepri
akan menyasar 400 ribu lebih rumah tangga di Provinsi Kepri sebelum melakukan kebi-
jakan PSBB.

Masih kata Rudy, Provinsi Kepri sejauh ini sebenarnya sudah memenuhi beberapa
kriteria untuk penerapan PSBB.

Pertama, penyebaran secara lokal sudah terjadi. Kemudian banyak nyawa sudah melayang, karena serangan Covid-19.

”Artinya secara fakta tentu ini sudah mendukung. Kemarin alasan belum ditutupnya bandara adalah untuk kepentingan membawa sampel swab ke Jakarta. Namun, sekarang
ini sudah bisa dilakukan di di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Batam,” tegas Rudy.(jpg)

Dana Desa Rp 22,4 Triliun Dialihkan untuk BLT, Target 12,3 Juta KK

0

batampos.co.id – Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengatakan pihaknya telah menerbitkan Peraturan Menteri Desa (Permendes) Nomor 6 Tahun 2020 sebagai revisi Permendes 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa.

Permendes tersebut mengatur terkait besaran realokasi dan desa yang dialihkan untuk pembangunan fasilitas kesehatan hingga bantuan langsung tunai (BLT) untuk masyarakat desa.

“Hari ini telah diterbitkan Permendes Nomor 6 Tahun 2020 sebagai bentuk revisi Permedes 11Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa yang di dalam isinya, dana desa itu bisa digunakan untuk BLT,” ungkapnya dalam Telekonferensi Pers, Selasa (14/4).

Terdapat beberapa kelompok yang berhak mendapatkan BLT, pertama adalah kelompok miskin, kelompok yang kehilangan pendapatan akibat Covid-19, yang belum mendapatkan program keluarga harapan (PKH), belum mendapatkan bantuan pangan non tunai (BPNT) serta belum mendapatkan Kartu Prakerja.

“Jadi BLT Dana Desa ini, jangan sampai ada warga masyarakat yang terdampak Covid-19 secara ekonomi, tapi tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah,” jelas dia.

Maka dari itu, aparat desa harus betul-betul teliti dan adil terkait siapa saja yang berhak menerima bantuan tersebut, di mana pendataannya fokus dilakukan ditingkat RT dan RW. Adapun, yang mendata adalah Relawan Desa Lawan Covid-19.

Untuk besaran dana yang akan diterima untuk setiap keluarga setiap bulannya selama tiga bulan ke depan adalah Rp 600 ribu atau total Rp 1,8 juta. Untuk rinciannya, dana desa yang di bawah Rp 800 juta maksimal akan mengalokasilan 20 persen untuk BLT. Kemudian, desa penerima dana desa Rp 800 juta sampai Rp 1,2 miliar mengalokasikan 30 persen dana desa untuk BLT. Terakhir, yang menerima alokasi Rp 1,2 miliar ke atas mengalokasikan 35 persen dananya untuk BLT.

Dari total dana desa yang dianggarkan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 72 triliun, sebanyak Rp 22,4 triliun akan digunakan untuk BLT. Ditargetkan, anggaran dan penerima manfaat BLT ini bisa menggapai 12,3 juta kepala keluarga.

“Dari simulasi yang kita buat itu, dari total dana desa senilai Rp 72 triliun, akan terpakai Rp 22,4 triliun untuk 12.287.646 KK miskin di Indonesia,” pungkas Agus.(jpc)

Warga Negara Swedia Pasien Covid-19 ke 379 di Singapura Pernah Berkunjung ke Batam

0

batampos.co.id – Tim Gugus Tugas Percepatan Penangganan Covid-19 Kota Batam melakukan pelacakan dua perusahaan yang pernah didatangi seorang Warga Negara Swedia berstatus pasien Covid-19 di Singapura.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, hal itu dilakukan karena pihaknya mendapat informasi ada WN Swedia yang pernah melakukan perjalanan ke Batam.

“Yang bersangkutan (WN Swedia,red) adalah pasien positif Covid -19 ke-379 di Singapura yang kini sedang dirawat dan informasi awal dia owner salah satu perusahaan di sini (Batam,red),” jelasnya, Selasa (14/4/2020.

Ia menjelaskan, saat melakukan pelacakan diketahui ternyata WN Swedia tersebut hanya
sebatas rekan kerja bukan owner salah satu perusahaan di Batam.

Ilustrasi. batampos.co.id

“Kami diarahkan ke Harbour Bay, kantornya di sana. Kami data yang pernah kontak dengan beliau, kami akan sampaikan hasilnya juga nanti,” paparnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kasdisnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti, mengatakan, pihaknya telah mendatangi yang dimaksud.

“Iya, ini lagi di perusahaan. Kami bersama tim kesehatan minta data pekerja yang bersentuhan langsung dengan pasien tersebut,” jelasnya.

Ia membenarkan, pasien WN Swedia itu ternyata bukan pekerja atau owner di perusahaan tersebut.

Mereka hanya rekan kerja yang pernah datang ke Batam dan menghadiri pertemuan di Batam.

“Pasien lagi di Singapura. Jadi, tidak ada di sini,” jelasnya.

Pihaknya hanya melakukan langkah pencegahan dengan mendatangi perusahaan dan meminta data pekerjanya.(yui/iza)

Kini, Sudah 30 Warga Kepri Positif Covid-19

0

batampos.co.id – Jumlah warga Kepri yang meregang nyawa akibat positif Covid-19 sejak pertengahan Maret hingga pekan kedua April terus bertambah.

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana, menyebutkan, hingga Selasa (14/4/2020), pihaknya mencatat 30 orang warga Provinsi Kepri positif Covid-19.

“30 warga Kepri yang positif Covid-19 tersebar di Batam, Tanjungpinang dan Karimun,” jelasnya, Selasa (14/4/2020).

Ia menjelaskan, dari jumlah tersebut tujuh pasien Covid-19 meninggal dunia. Sementara yang sembuh hanya dua orang.

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad (kemeja putih) berfoto bersama 50-an warga Batam yang sempat diisolasi di Rusunawa BP Batam. Mereka diperbolehkan pulang dan dinyatakan steril dari virus corona. Foto: batampos.co.id/Eusebius Sara

Dijelaskannya, dengan bertambahnya jumlah warga yang positif Covid-19, maka angka Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan Orang Tanpa Ge-
jala (OTG) juga otomatis bertambah.

Kata dia, bagi mereka yang masuk dalam kelompok tersebut, pihaknya melakukan rapid test dan PCR test.

Sehingga jika hasil PCR test positif, meskipun tanpa gejala, langkah isolasi dilakukan. Disebutkannya, sampai saat ini ada 4 PDP yang meninggal, dan proses lab-nya masih belum keluar.

Sedangkan yang meninggal negatif Covid atau karena penyakit bawaan, sebanyak 10 orang.(jpg)

Keluar Belanja, Warga Singapura Ini Mengamuk Saat Diminta Pakai Masker

0

batampos.co.id – Singapura sedang memberlakukan status semi lockdown untuk menanggulangi wabah virus Korona. Pemerintah Singapura menyebutnya Pemutus Sirkuit untuk memutus mata rantai Covid-19. Meski begitu, tetap saja ada warga yang tak patuh. Petugas sampai harus adu mulut meminta warga untuk berada di rumah saja. Bahkan, ada warga yang mengamuk saat diminta memakai masker.

Seorang lansia perempuan bahkan membentak seorang petugas penegak hukum di People’s Park Center ketika diminta untuk mengenakan masker. Bukannya mematuhi, dia malah membentak dengan berbicara keras menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin.

“Saya tidak suka orang memaksa saya. Sekarang saya keluar rumah, saya tidak peduli,” bentak perempuan tersebut seperti dilansir dari AsiaOne, Selasa (14/4).

Dalam sebuah tayangan video yang diposting di Facebook, perempuan itu terlihat terdiam sebelum mengaku bahwa dia menderita asma. Petugas menjelaskan kekhawatirannya akan kesehatan lansia itu dan menyarankan agar dia meminta anggota keluarganya saja yang berbelanja.

Tetapi lansia itu justru menjawab ketus. “Ini masalah saya jika saya mati,” katanya berteriak. “Saya punya satu kotak masker, tapi saya tak mau pakai,” tukasnya.

Lansia itu beralasan bahwa aturan memakai masker saat mengunjungi supermarket, toko serba ada, apotek, dan pusat perbelanjaan belum dimulai saat dia berbelanja. “Aturan itu baru mulai besok dan seterusnya, besok saya tidak akan keluar,” tambahnya.

Sementara itu, seorang pria penjaja restoran frustrasi dengan pemandangan meja-meja tertutup di Chinatown Complex Food Centre. Para petugas menjelaskan bahwa daerah itu telah ditutup untuk keselamatan umum.

Sejak 7 April, pelanggan tidak diperbolehkan makan di restoran dan pusat jajanan. Dalam beberapa hari terakhir, satuan tugas multi-kementerian telah menyerukan kewaspadaan ekstra untuk melindungi para lansia yang lebih rentan terhadap Covid-19. Sebab penelitian yang diterbitkan dalam The Lancet telah menemukan bahwa mereka yang berusia 50 tahun ke atas rentan terinfeksi.(jpg)

Karyawan ATB yang Positif Covid-19 Pernah ke Bintan

0

batampos.co.id – Pasien 12 Covid-19 di Kota Batam yang merupakan karyawan PT ATB diketahui pernah kontak dengan keluarga besarnya di Tanjunguban.

Kadis Kesehatan Bintan, dr Gama AF Isnaeni, menjelaskan, keluarga pasien 12 tersebut mengunjuni keluarganya di Kampung Raya, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, Bintan, belum lama ini.

“Kemarin ada dua orang positif di Batam, salah satunya pernah ke Tanjunguban beberapa hari untuk menitipkan anaknya,” katanya, Rabu 14/4/2020).

Berdasarkan data itu, kata dia, dua anaknya ditetapkan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Tim patroli gabungan yang terdiri dari tNi-Polri, Satpol PP, Ditpam dan instansi terkait mengimbau kepada pengunjung tempat ngopi dan makan untuk meminimalisir berkerumun atau berkumpul, dan meminta pengunjung meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah masing-masing, Senin (30/3/2020) lalu. Kegiatan ini upaya pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Tidak hanya dua anaknya, namun tiga orang dalam rumah tersebut sebagai orang yang mengasuh anaknya juga ditetapkan ODP.

“Anaknya sama saudaranya. Makanya mereka kita anggap sebagai ODP,” kata dia.

Kelima ODP tersebut, kata dia, sudah dilakukan rapid diagnostic test (RDT). Hasilnya
nonreaktif.

“Namun karena di sana (Batam, kasus 12) hasilnya positif, semua yang di Tanjunguban terpaksa kita lakukan tes swab untuk PCR,” jelasnya.

Saat ini, kelimanya masih dilakukan observasi dengan dikarantina di rumahnya.

Dia berharap masyarakat tidak panik, karena pihaknya telah melakukan sesuai kaidah
kesehatan dan protokol penanganan Covid-19.(met)

Anambas Relokasi Anggaran Untuk Penanganan Covid-19, Cabjari Natuna Lakukan Pendampingan

0

batampos.co.id – Pemerintah Daerah Kabupaten Kabupaten Kepulauan Anambas, telah merelokasikan anggaran APBD tahun 2020, sebesar Rp 53 miliar untuk penanganan wabah Corona Virus Deseas (Covid-19).

Terkait hal itu, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri Natuna di Tarempa, untuk optimalisasi pelaksanaan pendampingan terhadap refocusing kegiatan dan relokasi anggaran.

Dalam rangka mengajukan pendampingan pelaksanaan belanja anggaran Covid-19, Kepala Kejaksaan Cabang Negeri Natuna di Tarempa, Allan Henri Baskara Harahap, mengatakan pihaknya hanya melakukam pendampingan secara yuridis dan nortmatif.

“Pendampingannya sebatas perdata, seperti kontrak. Hal ini untuk menghindari adanya intervensi. Kita lakukan pencegahan yang berisiko kerugian negara,” terangnya pada media, Selasa (14/4 2020).

Allan Henri Baskara Harahap kembali menegaskan, pengadaan barang dan jasa belanja anggaran Covid-19, tidak harus habis pakai dan tidak diperbolehkan di subkontrak.

“Di prioritaskan pada pencegahan Covid-19 dan pemberian bantuan. Anggaran 53 miliar itu tidak harus habis pakai, sesuai kebutuhan dan tidak boleh tumpang tindih belanja. Saat ini baru sebatas koordinasi, untuk detailnya nanti akan kite undang media untuk konferensi pers,” tuturnya. (fai)

Karyawan ATB Positif Covid 19, Berikut Penjelasannya….

0

batampos.co.id – Pemko Batam mencatat ada kluster baru dalam penularan virus corona (Covid-19) di Kota Batam.

Hal ini berdasarkan hasil uji swab yang dilakukan terhadap seorang aparatur sipil negara (ASN) Pemko Batam yang merupakan suami dari kasus 12 (karyawan PT Adhya Tirta Batam/ATB) yang diketahui negatif.

Hasil itu mematahkan dugaan bahwa kasus 12 ditularkan suaminya yang terkait dengan klaster ASN Pemko Batam.

“Hasil swab suaminya baru keluar tadi malam, negatif. Kami usulkan dipercepat. Kami awalnya menduga dari suaminya, tapi justru suaminya negatif. Kami ulang swab. Kalau tetap negatif berarti tidak terkait suaminya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi, Selasa (14/4/2020).

Ilustrasi. batampos.co.id

Ia menyebutkan, jika hasil swab suaminya negatif Covid-19, maka kasus 12 merupakan klaster baru.

Sebelumnya ada klaster ASN Pemko Batam (07, 08, 09, 10, 13, dan 15) dan klaster guru swasta (kasus 04, 06, dan 14).

“Kalau tidak terkait suaminya, ini potensi menjadi klaster baru. Kuat dugaan kami tertular dari pelanggan perusahaan (ATB) tempat dia bekerja, dia bekerja sebagai customer service,” katanya.

Pihaknya telah menghubungi pihak ATB dan menghubungi BP Batam sebagai lembaga  yang berkaitan dengan perusahaan tersebut. Pihaknya meminta bantuan agar dilakukan tracing nama yang diduga kontak dekat dengan kasus 12.

“Kami arahkan rapid test-nya ke Puskesmas Sekupang, hasilnya nanti kami akan
kabari,” kata dia.(iza)

Pemerintah Akhirnya Buka Data Covid-19, Umumkan Jumlah ODP dan PDP

0

batampos.co.id – Ada yang berbeda dari data jumlah kasus Covid-19 yang diumumkan oleh pemerintah pada Selasa (14/4). Data yang dipaparkan jauh lebih terbuka dan lebih rinci dibanding hari-hari sebelumnya. Data pasien Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) diumumkan secara rinci. Sebelumnya, hanya data pasien positif, sembuh, dan meninggal saja yang disampaikan kepada publik.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebutkan sudah ada 33.678 spesimen atau orang yang sudah diperiksa atau di-swab. Dan sudah keluar hasilnya pada 31.628 orang. Dari data itu, sebanyak 26 ribuan negatif.

Jumlah ODP sampai sekarang tercatat 139.137 orang. Dan PDP ada 10.482 orang. Dan yang terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan PCR sebanyak 4.839 orang. Kasus sembuh 426 orang dan meninggal 459 jiwa.

Perbedaan data yang disampaikan juga terlihat dari kolom-kolom data secara terperinci dari tiap-tiap provinsi. Ada data yang lebih jelas berapa jumlah pasien yang terpapar di tiap provinsi secara transparan.

“Mari tingkatkan imunitas, makan yang bergizi, sabar, tenang, istirahat, jangan panik dan munculkan perasaaan gembira. Jaga jarak dan pakai masker. Dan jangan sentuh hidung, mulut, wajah, sebelum cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir,” tegas Yurianto dalam konferensi pers, Selasa (14/3).

Sebelumnya, kepada JawaPos.com, Pakar Kesehatan dari Fakuktas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengkritik pemerintah yang belum transparan secara gamblang mengungkap data kasus Covid-19. Pasalnya data pasien ODP, PDP, dan pasien positif yang menjalani isolasi mandiri di rumah tidak diungkap dengan jelas.

“Di Indonesia saya juga ragu dengan data yang ada, karena deteksinya sangat sedikit. Walaupun sekarang ada lebih 60 laboratorium bisa deteksi Covid-19, tapi kecepatannya masih lebih kecil dibanding penularannya,” katanya.

Berdasar itu, banyak Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur dan lainnya. Jumlah-jumlah kasus di permukaan yang tak terdeteksi dinilainya melebihi dari jumlah data yang diumumkan.

“Buat saya terlalu sedikit deteksi kasusnya di Indonesia. Kemampuan deteksi di Indonesia terlalu kecil” katanya.

Dia juga mengkritik tidak terbukanya pemerintah dalam hal pengumuman data kasus positif yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Pemerintah didesak untuk mengumumkan secara jelas berapa total pasien yang diisolasi mandiri di rumah.

“Ini isolasi kasus ringan di rumah saja enggak tahu ada berapa. Pemerintah enggak clear isolasi di rumah berapa, isolasi di RS berapa. Harusnya lebih terbuka soal itu, diumumkan, kasus Covid-19 sekian, di rumah sekian, masuk RS sekian, jelas dari semua provinsi,” sebutnya.(jpg)

DPR dan Pemerintah Sepakat Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020

0

batampos.co.id – Pilkada serentak 2020 yang rencannya digelar September akhirnya resmi diundur. DPR dan pemerintah sepakat pilkada bakal digelar pada 9 Desember 2020.

Keputusan penundaan Pilkada serentak itu disepakati setelah Komisi II DPR menggelar rapat kerja bersama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.

“Komisi II DPR menyetujui usulan pemerintah terhadap penundaan pemungutan suara Pilkada serentak 2020 menjadi tanggal 9 Desember 2020,” ujar Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia, Selasa (14/4).

Doli menambahkan, Komisi II DPR bersama dengan pemerintah akan kembali melakukan rapat sebelum hajatan Pilkada serentak itu digelar, atau setelah pandemi virus Korona atau Covid-19 ini berakhir.

“Jadi bersama dengan Mendagri dan KPU akan melaksanakan rapat kerja setelah masa tanggap darurat berakhir. Itu untuk membahas kondisi terakhir penanganan Korona,” katanya.

Sebelumnya, Ketua KPU Arief Budiman mengatakan karena Indonesia terdampak virus Korona, maka pihaknya telah memiliki tiga opsi untuk penundaan Pilkada yang akan diselenggarakan September 2020 ini.

Arief mengatakan opsi pertama penundaan pilkada dilakukan pada 9 Desember 2020. Kemudian opsi kedua adalah Pilkada dilakukan di 17 Maret 2021. Selanjutnya opsi ketiga Pilkada serentak dilakukan pada 29 September 2021.

Jika nanti Pilkada diputuskan untuk ditunda. Maka Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu)‎ sebagai legitimasi hukumnya. Sebabtahapan dan penyelenggaran Pilkada 2020 ini telah dituangkan dalam UU Nomor10/2016 tentang Pilkada.(jpg)