Minggu, 26 April 2026
Beranda blog Halaman 1050

Lahan Perkebunan di Singkep 3 Hektar Terbakar, Api Baru Padam 2 Jam

0
Karhutla Lingga
Tim Damkar Dabo Singkep berjibaku memadamkan api yang membakar lahan perkebunan di Kelurahan Sungai Lumpur. F. Paino untuk Batam Pos.

batampos – Lahan perkebunan seluas tiga hektar di Kelurahan Sungai Lumpur, Kecamatan Singkep, hangus dilalap api pada Selasa (23/9) siang. Setelah berjibaku sekitar dua jam, tim pemadam akhirnya berhasil memadamkan api.

Peristiwa bermula sekitar pukul 12.48 WIB ketika warga melihat asap tebal membubung dari arah perkebunan. Temuan itu langsung dilaporkan ke Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Lingga wilayah Dabo Singkep.

Komandan Pleton Damkar Dabo Singkep, Ikmal Hakim, mengatakan pihaknya segera bergerak cepat setelah menerima laporan. Tim membawa mesin robin untuk memanfaatkan sumber air di sekitar lokasi.

“Kami memanfaatkan sumber air yang ada di area kebun untuk mempercepat proses pemadaman,” ujar Ikmal.

Dugaan sementara, kebakaran dipicu aktivitas pembukaan lahan kebun yang sebelumnya baru ditebang pemiliknya. Api diduga sengaja dinyalakan lalu cepat merambat ke semak belukar akibat angin kencang dan cuaca panas.

Upaya pemadaman sempat terkendala medan. Lokasi kejadian tak bisa dijangkau kendaraan pemadam, sehingga petugas hanya mengandalkan mesin robin untuk menyedot air.

Dalam operasi pemadaman, tim Damkar mendapat bantuan dari personel TNI, Polri, serta BPBD Lingga. Mereka bergantian menyemprotkan air ke titik api yang terus melebar.

“Cuaca panas beberapa hari terakhir membuat tanaman cepat kering sehingga api mudah menjalar,” tambah Ikmal.

Pantauan di lapangan, lahan yang terbakar kini tampak hitam gosong. Sejumlah tanaman warga yang baru ditanam ikut habis dilalap api. (*)

Reporter: Vatawari 

Artikel Lahan Perkebunan di Singkep 3 Hektar Terbakar, Api Baru Padam 2 Jam pertama kali tampil pada Kepri.

Gelombang Pasang Robohkan Dapur Rumah Warga Pulau Duyung

0
Dapur roboh
Kondisi dapur rumah Amiruddin di pesisir Pulau Duyung, Lingga mengalami kerusakan setelah dihantam ombak besar, Selasa (23/9). F. Istimewa.

batampos – Gelombang pasang menghantam rumah milik Amirudin, warga pesisir Pulau Duyung, Kecamatan Katang Bidare, Kabupaten Lingga.

Akibat terjangan ombak pada Senin (22/9/2025), bagian dapur rumahnya roboh. Peristiwa ini sontak mengundang perhatian warga sekitar.

Kepala Desa Pulau Duyung, Zalman, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan rumah Amirudin berada tepat di bibir pantai yang rawan terdampak pasang air laut.

“Rumah korban memang berada persis di tepi pantai, sehingga sering terkena dampak air laut,” ujar Zalman.

Sekretaris Desa Pulau Duyung, Herliz, menambahkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Gelombang tinggi langsung menghantam bagian belakang rumah Amirudin hingga roboh.

“Beliau tidak mengungsi karena masih bisa menempati rumahnya. Hanya bagian dapur yang rusak parah,” jelasnya, Selasa (23/9).

Beruntung Amirudin, istrinya, serta anak balita mereka selamat dari insiden tersebut. Warga sekitar juga ikut membantu mengamankan kondisi rumah agar tetap bisa ditempati sementara waktu.

Pihak desa telah melaporkan kejadian ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lingga. Laporan itu diharapkan segera ditindaklanjuti agar rumah korban mendapat perhatian.

Kerugian materil diperkirakan cukup besar. Peralatan dapur dan sebagian struktur rumah tidak lagi bisa dipakai. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, hanya kerugian di bagian dapur,” tambah Herliz.

Menurut warga setempat, kondisi rumah Amirudin memang sudah rapuh sejak lama. Tiang penyangga dapur disebut tidak lagi kokoh sehingga mudah roboh saat diterjang gelombang.

“Bukan hanya karena gelombang, tapi rumahnya memang sudah lapuk. Tiangnya tidak diperbaiki, jadi langsung roboh ketika kena ombak,” kata Roni, warga sekitar. (*)

Reporter: Vatawari 

Artikel Gelombang Pasang Robohkan Dapur Rumah Warga Pulau Duyung pertama kali tampil pada Kepri.

Dugaan Impor Limbah B3 oleh PT Esun, Warga Minta Pemerintah Tak Lembek

0
Perusahaan pengolahan limbah elektronik PT Esun Internasional Utama.

batampos – Perusahaan pengolahan limbah elektronik PT Esun Internasional Utama kini tengah disorot publik usai diduga terlibat dalam praktik impor limbah B3 secara ilegal. Dugaan pelanggaran ini membuat Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Bea Cukai turun tangan. Bahkan, rencana penyegelan sempat digaungkan namun pada akhirnya urung dilakukan.

Kasus ini mencuat setelah laporan dari organisasi lingkungan internasional masuk ke Perwakilan Tetap RI (PTRI) di Jenewa. Dalam laporan itu disebutkan bahwa ada pergerakan limbah elektronik berbahaya yang dikirim lintas negara ke Indonesia, termasuk ke Batam. Informasi itu langsung ditindaklanjuti oleh KLH dan otoritas kepabeanan.

Tim gabungan kemudian melakukan pemeriksaan ke lokasi PT Esun di kawasan Sagulung. Hasil verifikasi awal memperkuat dugaan bahwa perusahaan ini terlibat dalam aktivitas impor limbah yang dilarang. Sejumlah area dalam fasilitas perusahaan pun diberi tanda penghentian sementara.

Baca Juga: Menteri LH Tunda Segel PT Esun di Batam, ABI: Preseden Buruk Penegakan Hukum Lingkungan

Namun langkah penyegelan yang sudah disiapkan batal dilakukan. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, yang turun langsung ke Batam pada Senin (22/9), menegaskan bahwa pembatalan itu bukan karena tekanan dari pihak luar, melainkan karena proses pendalaman bukti dan dokumen masih berjalan.

“Kami harus pastikan semuanya berdasarkan bukti yang kuat. Tapi proses hukum tetap berjalan. Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Basel, jadi tidak ada toleransi terhadap impor limbah B3,” ujar Hanif.

Meski demikian, batalnya penyegelan memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Warga Sagulung yang tinggal tak jauh dari lokasi pabrik menilai pemerintah terkesan ragu dan tidak tegas.

“Kalau memang terbukti ada pelanggaran, kenapa tidak disegel? Warga di sini sudah cukup resah dengan pencemaran yang terjadi. Jangan biarkan Sagulung jadi tempat pembuangan limbah dunia,” kata Arman, tokoh masyarakat setempat.

Kritik serupa juga disampaikan Indra, warga lainnya, yang menilai ketidaktegasan pemerintah bisa menjadi preseden buruk dalam penegakan hukum lingkungan.

“Jangan sampai warga kehilangan kepercayaan karena ketidaktegasan ini. Jika hukum bisa dibeli, maka Batam akan terus jadi sasaran limbah berbahaya dari luar negeri,” ujarnya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pelaku impor limbah B3 tanpa izin bisa dijerat hukuman pidana minimal 5 tahun penjara dan denda hingga Rp10 miliar.

Namun sejauh ini, PT Esun belum memberikan keterangan resmi. Sementara KLH memastikan proses penyelidikan tetap berjalan. Bila bukti mencukupi, tindakan penyegelan hingga proses pidana disebut tak bisa dihindari.

“Kami tidak akan biarkan Batam jadi pintu masuk sampah dunia. Pemerintah harus hadir dan tegas,” tegas Hanif. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Artikel Dugaan Impor Limbah B3 oleh PT Esun, Warga Minta Pemerintah Tak Lembek pertama kali tampil pada Metropolis.

Tim Peneliti Politeknik Pariwisata Batam Kembangkan Inovasi Mesin Kerajinan dari Sampah Laut di Kampung Tua Bakau Serip

0
Kegiatan Penelitian Uji Coba dan Pengukuran Kapasitas Mesin. (istimewa)

batampos – Sebuah inovasi yang lahir dari kepedulian terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berhasil diwujudkan oleh tim peneliti dari Politeknik Pariwisata Batam.

Melalui program hibah penelitian BIMA, tim ini mengembangkan sebuah mesin pengolahan limbah laut menjadi kerajinan tangan yang kini telah dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir di kawasan Ekowisata Pandang Tak Jemu, Kampung Tua Bakau Serip, Kota Batam.

Penelitian ini dilaksanakan sejak Juni hingga September 2025 dan dipimpin oleh Dr. Ir. Arina Luthfini Lubis, ST., MBA., IPM. selaku ketua tim, bersama dua anggota: Frangky Silitonga, S.Pd., M.S.I dan Putri Sima, mahasiswa aktif dari kampus yang sama.

Dalam kegiatan ini, tim peneliti merancang sebuah mesin yang mampu mengolah limbah laut seperti kerang jantan dan gonggong, yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal, menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.

Inisiatif ini tidak hanya memberi nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat, namun juga berkontribusi nyata dalam pengurangan sampah laut yang selama ini menjadi persoalan lingkungan pesisir.

Proses pengembangan mesin dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat dan mitra lokal sejak awal.

Tim peneliti memulai dengan melakukan survei lapangan dan identifikasi kebutuhan riil masyarakat, khususnya bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pandang Tak Jemu.

Temuan dari survei tersebut kemudian menjadi dasar dalam perancangan mesin, yang secara spesifik dirancang untuk membantu memecahkan persoalan pengelolaan limbah laut yang selama ini mereka hadapi.

Pemaparan tentang Fungsi Mesin kepada Masyarakat. (istimewa)

Setelah melalui tahap desain dan produksi, mesin kemudian ditempatkan langsung di lokasi dan diserahkan kepada masyarakat untuk dimanfaatkan dalam kegiatan produksi kerajinan.

Untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan operasional, tim peneliti melibatkan mitra industri yaitu PT. Kaitek Syamra Inovasi sebagai produsen mesin, yang memproduksi perangkat tersebut berdasarkan desain dan spesifikasi teknis dari tim riset.

Mesin ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan menambahkan fitur teknologi seperti photoelectric sensor, mesin drilling, dan sistem instalasi air yang mendukung efektivitas produksi.

Tak hanya berhenti pada teknologi, tim juga memberikan pelatihan intensif melalui workshop kepada masyarakat Pandang Tak Jemu, sehingga mereka tidak hanya menerima alat, tetapi juga memperoleh keterampilan teknis untuk mengoperasikannya secara mandiri. SOP (Standard Operating Procedure) disusun sebagai panduan praktis penggunaan mesin, serta untuk memastikan keberlangsungan manfaat jangka panjang.

Ketua tim peneliti, Dr. Arina Luthfini Lubis, menegaskan bahwa penelitian ini bukan semata hasil akademik, tetapi juga sebuah bentuk tanggung jawab sosial perguruan tinggi dalam menyentuh persoalan nyata di lapangan.

“Kami tidak ingin inovasi ini hanya berhenti di laboratorium. Mesin ini dirancang agar mudah digunakan oleh masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, dan sekaligus menjadi solusi lingkungan. Dengan pendekatan kolaboratif antara kampus, mitra industri, dan masyarakat, kami berharap riset ini bisa direplikasi di wilayah pesisir lainnya di Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Pandang Tak Jemu, Gari Dafit Semet, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran tim peneliti yang dinilai membawa dampak langsung bagi kehidupan masyarakat sekitar.

“Kami merasa sangat terbantu. Mesin ini bukan hanya alat produksi, tapi juga simbol kolaborasi. Dengan adanya pendampingan dari tim Poltekpar Batam, kami punya harapan baru untuk mengembangkan produk kreatif dari laut, yang sebelumnya hanya jadi limbah,” ujarnya.

Kegiatan ini juga berhasil menggerakkan antusiasme masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu pengrajin dan pelaku UMKM lokal.

Produk kerajinan berbahan limbah laut yang mereka hasilkan kini mulai dipasarkan sebagai cendera mata khas kawasan wisata, yang tidak hanya unik tetapi juga mengandung pesan pelestarian lingkungan.

Lebih dari sekadar inovasi teknologi, program ini menunjukkan bagaimana riset terapan dapat menjadi solusi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Harapannya, kolaborasi seperti ini terus diperluas dan diperkuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat pesisir di seluruh Indonesia, sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. (*/adv)

Artikel Tim Peneliti Politeknik Pariwisata Batam Kembangkan Inovasi Mesin Kerajinan dari Sampah Laut di Kampung Tua Bakau Serip pertama kali tampil pada Metropolis.

TPU Seitemiang Diserbu Sampah: Gelap, Sepi, Jadi Ajang Buang Sampah Liar

0
Tumpukan sampah campuran kembali terlihat menggunung di gerbang Taman Pemakaman Umum (TPU) Seitemiang. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos – Tumpukan sampah kembali menyambut siapa pun yang melintasi gerbang Taman Pemakaman Umum (TPU) Seitemiang, Tanjungriau. Tak hanya sisa dapur atau plastik kresek, limbah salon, perabot rusak, hingga sampah pasar pun bersatu-padu, menjadikan kawasan itu seperti TPS dadakan.

Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. Bukannya berkurang, sampah justru semakin menggunung dan bahkan mulai meluber ke bahu jalan. Bau tak sedap kerap tercium hingga ke area pedagang bunga yang berjualan tak jauh dari lokasi.

Dirman (42), pedagang bunga yang sudah bertahun-tahun berjualan di depan TPU Seitemiang, mengaku tak lagi heran. Ia menyebut lokasi itu memang jadi langganan tempat buang sampah malam hari.

“Biasanya lewat jam enam sore. Ada yang pakai becak motor, ada juga yang bawa mobil pickup. Mereka datang diam-diam, langsung lempar, terus kabur,” ujarnya, Selasa (23/9).

Menurut Dirman, kondisi jalan yang sepi saat malam hari jadi alasan utama. Setelah pukul 18.00 WIB, kawasan sekitar TPU nyaris tak ada aktivitas. Minim penerangan pun membuat situasi makin mendukung aksi pembuangan liar.

“Kalau malam gelap gulita, orang buang sampah jadi makin berani. Nggak ada yang lihat soalnya,” tambahnya.

Pantauan Batam Pos, tumpukan sampah terlihat nyaris di sepanjang ruas jalan masuk ke TPU. Aneka jenis sampah tercampur tanpa pembatas, mulai dari limbah rumah tangga hingga sisa bahan kimia dari usaha salon. Dari aroma hingga pemandangan, semuanya menyesakkan.

Tak hanya warga sekitar, diduga para pelaku usaha dari luar kelurahan pun ikut membuang sampahnya. Kebiasaan buruk ini seperti tak terbendung.

Lurah Tanjungriau, Syamsuddin, mengakui persoalan sampah ini memang belum tuntas. Ia menyebut pihak kelurahan bersama satgas kebersihan kerap membersihkan lokasi, namun tak lama bersih, sampah kembali menumpuk.

“Kami bersihkan terus, tapi karena pembuangan liar masih terjadi, ya numpuk lagi,” ujarnya.

Pihak kelurahan pun mengaku tak tinggal diam. Salah satu upaya yang kini didorong adalah menggencarkan gotong royong mingguan, serta edukasi langsung ke warga agar sadar pentingnya kebersihan lingkungan.

“Menjaga lingkungan itu tanggung jawab bersama, tidak cukup hanya mengandalkan petugas. Kalau semua buang sembarangan, sampai kapan pun tidak akan selesai,” tegas Syamsuddin.

Syamsuddin berharap budaya bersih dan tertib yang dulu pernah hidup di masyarakat bisa kembali digalakkan. Ia mengajak seluruh warga dan pelaku usaha agar tidak menjadikan TPU Seitemiang sebagai tempat buang sampah ilegal.

“Mari kita jaga tempat ini bersama-sama. Kita hidupkan lagi semangat gotong royong, jangan biarkan sampah jadi pemandangan sehari-hari,” tutupnya. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Artikel TPU Seitemiang Diserbu Sampah: Gelap, Sepi, Jadi Ajang Buang Sampah Liar pertama kali tampil pada Metropolis.

Dekranasda Kota Batam Bangga Iluh Craft Raih Penghargaan Nasional

0
Ketua Dekranasda Kota Batam, Erlita Sari Amsakar Achmad (kiri) berfoto bersama Iluh Eka lindawati.

batampos — Dekranasda Kota Batam kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Salah satu IKM (Industri Kecil Menengah) binaannya, Iluh Craft, berhasil meraih posisi kedua untuk kategori Produk Bahan Olahan Lain dalam ajang Dekranas Award 2025.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua Umum Dekranas, Selvi Ananda Gibran Rakabuming, di Krakatau Ballroom, Hotel Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta Utara, Selasa (23/9/2025), pada Rakernas Dekranas.

Ketua Dekranasda Kota Batam, Erlita Sari Amsakar Achmad, yang hadir dalam acara itu mengungkapkan rasa bangganya. “Prestasi Iluh Craft membuktikan bahwa produk kreatif Batam mampu bersaing, bahkan menjadi yang terbaik di tingkat nasional. Ini tentu mengangkat nama Batam sekaligus memotivasi IKM lain untuk terus berinovasi,” ujarnya.

Iluh Craft, yang berdiri sejak 2017, telah berkembang dari usaha rumahan menjadi produsen kerajinan rajutan dengan pasar hingga ke luar negeri, termasuk Singapura. Produk yang dihasilkan meliputi tas, topi, sepatu, pakaian, hingga berbagai aksesori dengan desain khas dan kualitas terjaga.

Menurut Erlita, keberhasilan Iluh Craft tidak hanya menjadi pencapaian individu, tetapi juga menunjukkan peran Dekranasda dalam mendorong IKM Batam agar naik kelas dan mampu bersaing secara global.

“Pencapaian ini semakin menegaskan bahwa IKM adalah pilar penting ekonomi daerah. Dekranasda Kota Batam akan terus mendampingi para perajin agar bisa menghasilkan karya terbaik yang membawa nama Batam semakin dikenal,” kata Erlita. (*)

Artikel Dekranasda Kota Batam Bangga Iluh Craft Raih Penghargaan Nasional pertama kali tampil pada Metropolis.

DPR Setujui Anggito Abimanyu Jadi Ketua DK LPS Gantikan Purbaya

0
Anggito Abimanyu
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Sipanan (DK LPS) terpilih Anggito Abimanyu. (Foto: Nurul Fitriana/JawaPos.com)

batampos – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI resmi menetapkan Anggito Abimanyu sebagai Ketua Dewan Komisioner (DK) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2025–2030. Ia menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang kini menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Persetujuan itu diambil dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (23/9).

“Sidang dewan yang kami hormati, apakah laporan Komisi XI DPR RI atas hasil uji kelayakan dan fit and proper test calon Ketua dan Anggota DK LPS tersebut dapat disetujui?” tanya Ketua DPR RI Puan Maharani, dilansir Jawa Pos.

“Setuju,” jawab serentak seluruh anggota dewan, disusul ketukan palu pimpinan sidang.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, menyebut rapat internal pada 22 September 2025 menghasilkan keputusan secara musyawarah mufakat terkait nama-nama anggota DK LPS.

Adapun susunan DK LPS yang baru adalah: Ketua: Anggito Abimanyu; Wakil Ketua: Farid Azhar Nasution; Anggota: Doddy Zulverdy (bidang Program Penjaminan dan Resolusi Bank) dan Anggota: Ferdinan Dwikoraja Purba (bidang Penjaminan Polis dan Asuransi).

Sebelumnya, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sudah memberi sinyal bahwa Anggito bakal pindah dari Kementerian Keuangan ke LPS. Hal itu ia ungkapkan saat konferensi pers APBN KiTA, Senin (22/9).

“Kelihatannya sih sampai sekarang saya belum memikirkan apakah ada BPN atau belum. Apalagi orang yang ngurus itu mau pindah bentar lagi,” kata Purbaya sembari tertawa. (*)

Artikel DPR Setujui Anggito Abimanyu Jadi Ketua DK LPS Gantikan Purbaya pertama kali tampil pada News.

Sampah ‘Menggunung’ di Gerbang TPU Seitemiang, Jalan Sepi Jadi Lokasi Pembuangan Liar

0
Sampah di jalan dekat Seitamiang. f. eusebius

batampos- Tumpukan sampah campuran kembali terlihat menggunung di gerbang Taman Pemakaman Umum (TPU) Seitemiang. Berbagai jenis sampah mulai dari sisa dapur, perabotan rumah tangga, limbah pasar hingga sampah dari tempat usaha seperti salon bercampur menjadi satu. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama dan semakin hari semakin bertambah banyak, hingga meluber ke bahu jalan.

Dirman, seorang pedagang bunga di depan TPU Seitemiang, mengaku masalah ini bukan hal baru. Ia menyebut masyarakat dari berbagai tempat sengaja membuang sampah di lokasi tersebut pada malam hari.

“Ada yang pakai becak motor, ada juga yang pakai mobil pick up. Sudah sering saya lihat, mereka sengaja buang di malam hari,” ujar Dirman.

BACA JUGA: Jalan Rusak dan Sampah Menumpuk di Kaveling Baru, Warga Minta Perhatian Pemerintah

Menurutnya, kondisi jalan yang sepi di malam hari menjadi alasan utama. Setelah pukul 18.00 WIB, kawasan itu nyaris tanpa aktivitas. “Kami jualan bunga paling sampai jam 6 sore. Kalau malam memang sepi dan tidak ada yang mantau. Jadi orang bebas buang sampah,” tambahnya.

Minimnya penerangan jalan juga memperburuk keadaan. Lampu jalan yang terbatas membuat orang tak canggung membuang sampah sembarangan. “Kalau malam gelap, jadi mereka makin berani,” kata Dirman.

Pantauan di lapangan, penumpukan sampah terjadi hampir di sepanjang ruas jalan menuju TPU. Sampah-sampah tersebut tidak hanya berasal dari warga sekitar, melainkan juga diduga dari pelaku usaha yang memanfaatkan kondisi sepi untuk membuang limbah usahanya secara ilegal.

Lurah Tanjungriau, Syamsuddin, tidak menampik permasalahan ini. Ia mengaku bersama satgas kebersihan selalu melakukan penanganan, namun tumpukan sampah kembali muncul karena kebiasaan warga yang membuang sembarangan.

“Kita selalu bersihkan, tapi karena terus ada pembuangan liar, akhirnya menumpuk lagi,” ujarnya.

Syamsuddin berharap masyarakat memiliki kesadaran lebih dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan petugas. “Kami minta masyarakat lebih peduli. Buanglah sampah di tempat yang sudah disediakan, jangan seenaknya di pinggir jalan,” tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan, pihak kelurahan akan menggencarkan kegiatan gotong royong setiap pekan. Syamsuddin menekankan pentingnya menghidupkan kembali budaya bersih dan tertib di tengah masyarakat. “Kalau gotong royong rutin, lingkungan bisa lebih terjaga. Mari kita kembalikan budaya hidup bersih itu,” katanya. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Artikel Sampah ‘Menggunung’ di Gerbang TPU Seitemiang, Jalan Sepi Jadi Lokasi Pembuangan Liar pertama kali tampil pada Metropolis.

Harga Cabai Merah di Tanjungpinang Makin ‘Pedas’, Tembus Rp88 Ribu per Kg

0
Pedagang cabai
Pedagang cabai di Pasar Bintan Center Tanjungpinang. Harga cabai merah mengalami kenaikan, Selasa (23/9). F. Mohamad Ismail/Batam Pos.

batampos – Harga cabai merah di pasar tradisional Bintan Center (Bincen), Kota Tanjungpinang terus melonjak tajam. Saat ini, cabai dijual pedagang dengan harga Rp88 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal sekitar Rp42 ribu per kilogram.

“Beberapa hari sempat Rp90 ribu per kg. Sekarang sudah Rp88 ribu. Ini masih tinggi, karena normalnya Rp42 ribu. Sementara cabai jenis lain masih normal,” kata Ahmad, pedagang cabai di Pasar Bincen, Selasa (23/9).

Ahmad menyebut cabai yang ia jual berasal dari petani lokal di Kabupaten Bintan. Menurutnya, kenaikan harga dipicu oleh cuaca ekstrem yang memengaruhi produksi.

Pedagang lain, Ali, mengaku menjual cabai merah seharga Rp86 ribu per kilogram. Ia mengatakan pasokan cabai dari Jawa juga terdampak ongkos kirim yang semakin mahal.

“Naiknya karena cuaca ekstrem. Lalu ongkos kirim juga tinggi, karena cabai yang saya jual ini berasal dari Jawa,” ujarnya.

Kenaikan harga ini membuat masyarakat merasa terbebani, terutama ibu rumah tangga yang mengandalkan cabai sebagai bumbu masakan sehari-hari.

“Cukup sedih sebenarnya, tapi ya sudah kalau memang seperti ini macam mana lagi. Ini sudah kebutuhan rumah,” keluh Erna, salah seorang pembeli di Pasar Bincen. (*)

Reporter: M. Ismail 

Artikel Harga Cabai Merah di Tanjungpinang Makin ‘Pedas’, Tembus Rp88 Ribu per Kg pertama kali tampil pada Kepri.

Sinta Aneng: PKK Wadah Pengabdian untuk Masyarakat Anambas

0
PKK Anambas
Bupati Anambas, Aneng memeluk istrinya, Sinta usai mengukuhkan kepengurusan PKK Anambas, Selasa, (23/9). F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.

batampos – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kepulauan Anambas, Sinta Aneng, meminta seluruh pengurus PKK untuk bekerja maksimal dalam menjalankan program kerja. Pesan itu ia sampaikan saat pengukuhan kepengurusan PKK Anambas periode 2025–2030, Selasa (23/9).

Sinta menegaskan PKK adalah organisasi yang lahir dari dan untuk masyarakat. Karena itu, pengurus yang baru saja dilantik diharapkan dapat mengabdi dengan sepenuh hati.

“PKK ini bukan sekadar nama organisasi, tetapi wadah pengabdian. Kalau kita niatkan dengan tulus, insyaAllah hasilnya akan terlihat nyata bagi masyarakat,” ujar Sinta.

Salah satu fokus utama PKK Anambas, kata Sinta, adalah penanganan stunting. Ia menekankan persoalan gizi anak-anak tidak boleh diabaikan karena menyangkut masa depan generasi bangsa.

“Anak-anak kita adalah penerus bangsa. Jangan sampai masa depan mereka terhambat karena kurang gizi. PKK harus berada di garis depan, mulai dari memperhatikan pola makan, hingga edukasi bagi ibu-ibu,” tegasnya.

Selain urusan kesehatan, Sinta menilai PKK juga memiliki peran penting dalam membina keluarga sejahtera. Menurutnya, kunci keberhasilan dimulai dari keteladanan.

“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Kalau kita bisa membina keluarga sendiri dengan baik, otomatis masyarakat juga akan mencontoh,” ujarnya.

Sinta pun mengajak seluruh pengurus untuk menjaga kebersamaan dan kekompakan agar PKK Anambas semakin maju.

Di sisi lain, Bupati Anambas, Aneng, juga memberikan arahan dalam acara tersebut. Ia meminta pengurus PKK agar selalu dekat dengan masyarakat.

“Jangan sampai PKK terkesan eksklusif. Pengurus harus mau turun, berbaur, dan merasakan langsung kebutuhan di lapangan,” ujar Aneng.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tubuh PKK agar program berjalan lancar. “Kalau di dalam kita kompak, maka keluar pasti kuat. Musuh di luar jelas terlihat, tapi kalau dari dalam itu yang berbahaya. Jadi jangan saling sikut,” pesannya.

Aneng juga menegaskan PKK harus fokus pada pengabdian, bukan kepentingan lain. Ia menolak praktik titip jabatan melalui istrinya sebagai Ketua PKK.

“Jangan ada pikiran nitip jabatan lewat istri saya. Semua urusan jabatan tetap melalui jalur resmi. PKK harus benar-benar untuk masyarakat,” tegasnya.

Dengan pengukuhan ini, kepengurusan PKK Anambas periode 2025–2030 diharapkan membawa semangat baru dalam program prioritas seperti penanganan stunting, peningkatan kesejahteraan keluarga, hingga pembinaan perempuan. (*)

Reporter: Ihsan Imaduddin 

Artikel Sinta Aneng: PKK Wadah Pengabdian untuk Masyarakat Anambas pertama kali tampil pada Kepri.