
batampos – Langkah kaki Jasman mungkin tak lagi mantap seperti dulu, tapi semangat pengabdiannya tak pernah padam. Setelah hampir dua dekade mengabdi di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lingga, pria asal Dabo Singkep ini akhirnya resmi dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Bagi Jasman, pelantikan itu bukan sekadar pengakuan atas masa pengabdian panjangnya sejak 2005, melainkan juga simbol keteguhan hati di tengah ujian hidup yang berat yakno kehilangan penglihatan.
Jasman memulai kariernya di Satpol PP Kabupaten Lingga dua puluh tahun silam sebagai tenaga honorer. Bertahun-tahun ia bertugas menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Dabo Singkep, hingga kemudian diangkat menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT).
“Dari awal saya memang ingin mengabdi di pemerintahan. Walaupun statusnya masih honorer, saya jalani dengan ikhlas,” ujarnya pelan, Senin (6/20).
Sekitar setahun lalu, hidup Jasman berubah drastis. Malam itu, ketika tengah piket jaga, tubuhnya terasa tidak enak. Ia meminta izin pulang lebih awal dan menggantikan posnya dengan rekan kerja.
“Saya sudah bilang ke rekan, kalau tidak diizinkan, saya siap menerima sanksi. Saya hanya merasa tidak enak badan,” kenangnya.
Namun, keesokan harinya menjadi hari yang tak pernah ia lupakan. Saat membuka mata, dunia tiba-tiba gelap. Pandangannya hilang, dan sejak hari itu, Jasman tak lagi bisa melihat.
Hari-hari pertama setelah kehilangan penglihatan terasa berat. Jasman sempat diliputi rasa putus asa. Namun, dukungan dari istri dan tiga anaknya membuatnya kembali kuat.
“Istri dan anak-anak saya tidak pernah berhenti menyemangati. Mereka bilang saya masih kepala keluarga, masih bisa berbuat banyak,” ucapnya dengan suara bergetar.
Dengan semangat itu, Jasman kembali ke posnya. Kini, meski tanpa penglihatan, ia tetap bertugas sebagai petugas piket jaga di Pos Satpol PP Dabo Singkep.
Bagi Jasman, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan wujud pengabdian kepada masyarakat dan Tuhan. Karena itu, saat namanya diumumkan sebagai penerima SK PPPK, air matanya tumpah.
“Rahmat Tuhan itu nyata. Kalau kita berdamai dengan keadaan, semua jadi mungkin. Alhamdulillah, walaupun saya tidak bisa melihat, saya masih diberi kesempatan untuk mengabdi,” katanya haru.
Jasman mengaku perasaannya campur aduk. Senang, sedih, haru, dan syukur menyatu di satu waktu. Ia tak pernah menyangka perjuangannya selama 20 tahun, bahkan dalam keterbatasan, akan berbuah pengakuan sebagai aparatur negara.
Reporter: Vatawari
Artikel Mengabdi Sejak 2005, Jasman Satpol PP Lingga Dilantik PPPK Meski Tak Bisa Melihat pertama kali tampil pada Kepri.









