
batampos – Transpot, sebutan khas masyarakat Tanjungpinang dan Bintan untuk angkutan kota (angkot) berbentuk minibus, pernah menjadi urat nadi transportasi publik di Kota Gurindam.
Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, moda transportasi ini berjaya dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat.
Bagi generasi muda, kata transpot mungkin terdengar asing. Namun bagi mereka yang tumbuh di masa lalu, transpot menyimpan segudang kenangan.
Dengan bodi minibus klasik, kursi saling berhadapan, serta alunan musik Melayu dari tape tua, transpot menghadirkan suasana khas dalam setiap perjalanan.
Saat kendaraan pribadi masih jarang dimiliki, transpot hadir sebagai penyambung langkah masyarakat. Murid sekolah, pedagang pasar, pegawai negeri, hingga ibu rumah tangga kerap mengandalkan transpot dengan tarif murah meriah.
Suara klakson pendek, teriakan sopir dan kenek memanggil penumpang, hingga warna-warni armada yang meramaikan jalanan kota, menjadi pemandangan sehari-hari.
Transpot juga berfungsi sebagai ruang sosial bergerak. Banyak cerita singkat hingga pertemuan tak terduga terjadi di dalamnya. “Kami jadi sopir transpot mulai 1998 sampai 2010. Ongkosnya dulu cuma Rp2.500 jauh-dekat. Sekarang Rp5 ribu,” kenang Yulnedi (54), mantan sopir transpot warna putih, Senin (8/9).
Menurut Yulnedi, pada masa jayanya transpot bahkan punya nama khas Melayu seperti Segantang Lada, Lancang Kuning, hingga Sri Mersing.
Kini, hanya tersisa armada putih dengan nama Bayu Putra dan Pacitan Indah. Meski jumlahnya bisa dihitung dengan jari, beberapa unit masih bertahan melayani rute lama.
Bagi sebagian warga, transpot bukan sekadar alat transportasi, tapi simbol nostalgia. “Dulu kalau pulang sekolah, kami ramai-ramai muat di satu transpot. Sekarang anak-anak lebih suka motor. Tapi bagi kami, transpot saksi sejarah kehidupan di Tanjungpinang,” kata Badria Lisa (56), warga Kelurahan Kemboja.
Kini, meski kalah pamor oleh transportasi daring dan kendaraan pribadi, transpot tetap hidup dalam kenangan generasi lama. Ia menjadi bagian dari identitas Kota Gurindam, membawa siapa saja yang pernah merasakannya kembali pada masa sederhana namun penuh makna. (*)
Reporter: Yusnadi Nazar
Artikel Transpot Tanjungpinang: Angkot Legendaris yang Kian Terpinggirkan Zaman pertama kali tampil pada Kepri.









