batampos.co.id – Tahun 2017 bakal berlalu kurang dari sebulan lagi. Pendapatan daerah dari Pajak Bumi Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) baru tercapai Rp 114 miliar dari target 131 miliar. Artinya, masih kurang Rp 17 miliar.
“Angkanya belum sampai (belum penuhi target, red), makanya kita panggil camat dan lurah rapat agar ikut himbau masyarakat,” kata Sekretaris Daerah Kota Batam Jefridin usai memimpin rapat evaluasi realisasi PBB triwulan ke IV di kantor Wali Kota Batam, kemarin.
Ditanya apakah target Rp 131 miliar akan tercapai? Jefridin tidak bisa memberi kepastian karean ini tergantung masyarakat yang membayar. Namun demikian, pihaknya akan tetap melakukan upaya terkait ini.
Menurutnya, selain membicarakan upaya pencapain target PBB P2 tahun 2017, dalam rapat tersebut juga dibicarakan langkah yang akan diambil tahun 2018 mendatang. Adapun langkah tersebut yakni mempercepat proses percetakan dan distribusi Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT).
“Januari BP2RD sudah cetak SPPT, paling tidak Maret tersebar semua,” ungkapnya.
Dalam kesempatan ini, Jefridin juga menyampaikan harapan Wali Kota Batam Muhammad Rudi agar masyarakat turut andil membayar pajak dan retribusi, karean pendapatan tersebut akan digunakan kembali untuk membangun Batam.
Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Raja Azmansyah mengatakan pada 2018 mendatang akan mendistribusikan sebanyak 297 ribu SPPT.
“Januari dicetak, kita targetkan paling lambat Maret clear semua. Setelah itu dua bulan validasi, kalau ada perubahan bulan Mei kita terbitkan lagi,” pungkasnya. (cr13)
Ilustrasi proyek pelebaran jalan di Pelita. F-Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Ada empat titik proyek jalan tahun 2017 ini akan dilanjutkan pengerjaan tahun 2018 mendatang. Kini, selain membuka badan jalan, beberapa kegiatan fisik sudah dilakukan.
Ke empat titik itu di antaranya,
ruas Jalan Prambanan (Simpang Planet Hotel-Simpang Panin Bank),
Jalan Sriwijaya (Underpass-Simpang Pelita),
Jalan Pembangunan Windsor (Simpang dekat Harmoni Apartemen-Simpang Baloi) serta
ruas jalan Raja Haji Fisabilillah (Simpang Gelael-Fly Over Laluan Madani).
“Tahun 2017 ini kita lebih tujukan untuk membuka badan jalan, tapi fisik juga ada seperti gorong-gorong maupun beton. Penyelesaiannya tahap berikutnya, tahun depan (2018),” terang Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM SDA), Yumasnur, kemarin.
Karena pengerjaan bertahap, maka dari itu pengerjaan seperti pengaspalan jalan tersebut belum tuntas tahun ini. Awalnya, ia mengaku kegiatan pengaspalan memang tidak direncanakan untuk dikerjakan 2017 ini.
“Aspal memang enggak, kami lebih ke buka badan jalan dulu. Tahap pengerjaan yang tahun ini hampir 100 persen,” ucapnya.
Khusus jalan di ruas Jalan Prambanan (Simpang Planet Hotel-Simpang Panin Bank), ia menyampaikan ada tiga gardu listrik yang mesti digeser terlebih dahulu, jika tidak akan mengganggu kegiatan proyek tersebut. Gardu tersebut, dua di antaranya milik PLN dan satu lainnya milik Planet Hotel.
“Mereka akan menggeser, sudah kami komunikasiakan,” ujar Yumasnur.
Sementara titik lain kini tak ada kendala, tinggal dilanjutkan pengerjaannya tahun depan. Malah di titik pengerjaan Jalan Sriwijaya akan ada pembukaan tambahan badan jalan setelah sebelumnya persoalan yang menyangkut masyarakat terselesaikan. “Tinggal kita lanjutkan,” imbuhnya.
Sementara itu, Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengatakan sistem pengerjaan proyek jalan tak ada yang multiyears, hanya saja ia tak menampik pengerjaan beberapa jalan dilakukan bertahap.
“Kami tak ada multi (multiyears, red). Berapa uangnya kita kerjakan, selesai. Tahun depan lelang lagi, kerja lagi,” ucapnya.
Dengan demikian, pada 2018 mendatang ada beberapa proyek pengerjaan jalan, baik yang baru dimulai maupun pengerjaan lanjutan. “Nanti ada yang lama (lanjutan) lalu selesai, ada yang baru juga,” pungkasnya. (cr13)
batampos.co.id – Masyarakat Batam terkenal sebagai masyarakat yang majemuk. Pasalnya, Kota Batam dikenal sebagai Kota Industri yang tentunya menarik masyarakat dari luar daerah untuk berdatangan mengadu nasib di Kota Batam.
Bahkan, masyarakat asli Batam yang merupakan rumpun melayu harus tergerus oleh kedatangan masyarakat dari beragam suku se-Indonesia. Sebut saja orang Padang, Medan, Jawa, Flores dan suku-suku lainnya di Indonesia.
Oleh karena masyarakat Batam yang berlatar belakang dari beragam suku tersebut, seolah masing-masing masyarakat masih membawa rasa kebanggaan daerah asli mereka.
Bila dikaitkan dengan dunia olahraga terutama dunia sepakbola. Masyarakat pendatang ini masih terkotak-kotak dengan klub kebanggaan sepakbola asli daerah mereka. Terlebih klub tersebut memiliki sejarah panjang di dunia sepakbola nasional.
Sebut saja Persib Bandung yang memiliki Viking. Persebaya dengan boneknya dan klub-klub tradisional lainnya.
Untuk membuat sebuah klub sepakbola di kota industri seperti di Batam ini tampaknya masih sulit diwujudkan. Kelompok suporter tersebut sering kali melakukan nonton bareng (nobar) bila tim kesayangan mereka bermain.
Tentunya, Batam juga punya klub sepakbola yang bernama PS Batam.
Namun sayang, Tak ada dukungan masyarakat Batam saat PS Batam melakoni pertandingan-pertandingan Liga Nusantara (Linus) beberapa musim sebelumnya.
“Kita main di Batam seperti main di luar Batam, tak ada dukungan suporter,” kata Kapten PS Batam era 2013-2014, Yance kepada Batam Pos.
Bahkan bila ada suporter yang datang, mereka malah mendukung kesebelasan lawan yang bertanding melawan PS Batam.
“Bila bertanding melawan klub dari Aceh atau Padang, malah kita yang dihina dan klub lawan yang mereka dukung, ini karena faktor fanatisme kedaerahan masih ada saat itu,” ungkap pemain yang bernama lengkap Yance Manusiwa ini.
Pemain asal Ambon ini juga menuturkan suka-dukanya membela PS Batam sejak 1996 silam.
Setahun membela PS Batam, Yance memutuskan untuk melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia dan membela banyak klub.
Dari PS Batam, ia bergabung ke PS Karimun. Kemudian berlanjut menuju PSPS Pekanbaru, Persiras Rengat, Persijap Jepara, Persibat Batang, Persibro Probolinggo hingga kembali memperkuat PS Batam tahun 2013-2014.
Setelah berhijrah dan menimba ilmu serta pengalamannya ke pelbagai klub, keputusannya untuk kembali memperkuat PS Batam tak lepas dari awal kiprahnya menjadi pemain sepakbola.
“Waktu itu pelatih PS Batam tahun 1996, Pak Amral yang mengajak saya bergabung memperkuat PS Batam dan itu merupakan awal saya meniti karir sebagai pesepakbola,” tutur Yance.
PS Batam sendiri merupakan klub sepakbola tertua di Kepri. Berdiri pada tahun 1974. Pelopornya alm Edward Edison Sihite atau yang biasa disapa Edi Sihite. Di bawah tangan dingin Edi, kesebelasan pertama di Batam itu berhasil menjuarai turnamen sepakbola Kejuaraan Riau di tahun 1977.
Hingga kemudian, puncak kejayaan kembali terulang di tahun 1994. PS Batam meraih juara di Kompetisi Divisi III. Kesebelasan berjuluk Laskar Kalajengking itupun masuk ke Divisi II.
Selama hampir enam tahun, mereka berkutat di kompetisi Divisi II. Namun, tak pernah lolos sampai ke Divisi I. Kalah-menang-kalah-menang saja kerjaannya. Mulai tahun 2000, nama PS Batam kembali redup.
Lima tahun kemudian, Jessie Mustamu berhasil mengangkat lagi nama PS Batam. Meskipun, kesebelasan andalan Batam itu tetap bertahan di jenjang Divisi II. Sayang, ketika ada kompetisi Divisi II di Sumatera, PS Batam tak bisa ikut.
Alasannya, keterbatasan dana. Dan alasan ini kembali mengudara saat tim itu batal ikut Kompetisi Divisi II di Sumenep, Madura, tahun 2013 lalu. PS Batam kena sanksi. Kastanya turun jadi Divisi III.
Tapi kemudian Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) mengambil keputusan untuk menghapuskan Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) yang membawahi kompetisi Liga Indonesia untuk Divisi I, II, dan III. Dan menciptakan kompetisi baru bertajuk Liga Nusantara (Linus) pada tahun 2014, dimana semua tim Divisi I, II dan III.
Di tingkat Provinsi Kepri, PS Batam berhasil mencapai poin tertinggi dengan kemenangan 1-0 atas PS Karimun. PS Batam pun lolos ke putaran regional 1 Sumatera. Yance dkk menyikat Persikalis Bengkalis dengan agregat nilai 3-2.
Di putaran regional 2 Sumatera, PS Batam berada di posisi runner up setelah Patriot Medan. Keduanya masuk ke putaran 16 besar Linus regional 2 Sumatera.
Di putaran 16 besar yang berlangsung di Stadion Maulana Yusuf Serang, Banten, PS Batam berhasil mengimbangi tuan rumah Perserang dengan skor 0-0. PS Batam pun sampai ke babak 8 besar.
Musim pertama Linus yang baru diadakan tahun 2014, PS Batam langsung memenangi divisi regional Sumatera. Hingga Yance dkk mampu terus melaju babak 8 besar atau Linus tingkat nasional di Yogyakarta.
“Linus baru diadakan pertama kali dan kita langsung lolos ke tingkat nasional, rekan-rekan saya waktu itu sangat bersemangat, karena tinggal selangkah lagi kita masuk Divisi Utama,” terang pemain kelahiran Ambon, 2 Mei 1973 ini.
Namun sayang, langkah PS Batam hanya terhenti di babak 8 besar Linus Nasional setelah kalah bersaing dengan klub-klub Jawa, yakni PS Tuban, PS Banyumas dan Sragen FC. “Kita tiga kali kalah dan gagal ke Divisi Utama,” imbuh bapak dua anak ini.
Kemudian seusai musim kompetisi 2014 usai, datanglah sanksi tersebut, atau lebih tepatnya, beberapa sanksi sekaligus.
Yang pertama, dalam upaya untuk membersihkan olahraga sepakbola ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia memutuskan untuk menghentikan kompetisi apapun yang diadakan oleh PSSI setelah terjadi perselisihan tentang tim mana saja yang bisa berpartisipasi di ISL. Ini artinya semua klub besar berhenti beroperasi.
FIFA memberikan sanksi yang melarang Indonesia untuk berkompetisi di turnamen internasional dengan alasan intervensi politik dari pemerintah Indonesia.
Kedua, setelah bertahun-tahun memberikan peringatan, bahkan sempat melalui fase dualisme di mana ada dua liga yang berbeda sama-sama berjalan, dilanjutkan dengan masa-masa di mana PSSI dipimpin oleh seorang yang berada di dalam penjara, akhirnya FIFA memutuskan bertindak untuk memberi sanksi kepada Indonesia.
Manajer PS Batam dari tahun 2010 hingga 2012, Ade Adran Syahlan mengatakan PS Batam merasakan dampak paling parah dari berbagai sanksi dan kekacauan ini.
PS Batam tereliminasi di kompetisi terakhir dan hampir lolos ke Divisi Utama sebelum PSSI resmi menerima sanksi dari FIFA. “Tim ini sudah nyaris sekali melakukan sesuatu yang sangat istimewa,” katanya.
Seusai menerima sanksi tersebut, kompetisi sepakbola Indonesia vakum selama hampir dua tahun. Terlebih ditambah adanya permasalahan dana bansos yang menimpa PS Batam.
“Para pemain menghilang, mereka memutuskan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing,” ujar Ade.
Sambung Yance, ia juga senada dengan perkataan dari Ade tersebut. “Semenjak 2014 silam, kita tidak pernah berlatih lagi, PS Batam vakum,” tutur Yance.
Salah satu pecinta dan pelatih sepakbola di Batam, Ferri mencoba untuk menghidupkan kembali PS Batam di tahun 2016.
Berbekal pemain-pemain muda dari Batam dan berasal dari tim sepakbola Batam yang menjuarai Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Batam 2016, Ferri mengikutsertakan PS Batam di turnamen Piala Soeratin U-17 di Kudus akhir 2016 lalu.
Namun lagi-lagi karena tidak adanya dukungan pemerintah dan latihan seadanya, PS Batam U-17 terhenti di babak 16 besar Piala Soeratin.
“Kita ingin menghidupkan dan membangun kembali PS Batam lewat pemain-pemain muda kita,” tutur Ferri.
Sisi positif yang bisa diambil dari pelatih Ferri yang mencoba menghidupkan kembali PS Batam adalah lahirnya pesepakbola muda berbakat asal Batam, yakni Dimas Adiguna dan Farel.
Kemampuan olah bola Dimas dan Farel ini sempat menarik perhatian pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri. Namun sayang, keduanya gagal lolos seleksi pemain timnas U-19.
Batam berupaya untuk memiliki klub sepakbola profesional mereka. Pada musim 2017 ini Kepri memiliki klub sepakbola profesional pertama, yakni 757 Kepri Jaya.
Tak berbeda jauh dengan PS Batam. Hanya semusim mengarungi Liga 2, klub 757 Kepri Jaya harus terlempar degradasi ke Liga 3 musim 2018 mendatang.
757 Kepri Jaya sendiri memiliki kelompok superter yang terdiri dari beragam suporter dari daerah lain, seperti Viking Batam, Bonek Batam, Aremania Batam dan lainnya. Namun bersatunya beragam kelompok itu masih tetap tak membuat Stadion Citramas, home base 757 Kepri Jaya penuh setiap kali klub berjuluk Laskar Melayu ini bermain.
Tercatat hanya ada perkiraan 500-700 orang yang menonton ke Stadion yang berada di kawasan Kabil Nongsa ini.
Terpisah, putra pendiri PS Batam, yakni Barnov Sihite sangat menyesalkan PS Batam tidak mengikuti Piala Soeratin U-17 dan Linus 2017 beberapa waktu lalu.
Menurutnya, meski PS Batam sempat tersandung kasus dana bansos beberapa tahun silam, namun kepengurusan dan aktifitas PS Batam harus dihidupkan kembali.
“Saat ini kepengurusan PS Batam tidak jelas,” ujar Barnov kepada Batam Pos.
Barnov mengatakan, Kota Batam selaku yang menjadi tuan rumah di dua event sepakbola tersebut, harusnya bisa dimanfaatkan PS Batam untuk bangkit lagi dengan mengikuti ajang tersebut.
Hingga hari pendaftaran peserta terakhir, yakni tanggal 18 Agustus 2017 kemarin tidak ada tanda-tanda atau inisiatif dari PS Batam untuk ikut serta.
Mantan manajemen PS Batam era 2011-2012 ini menginginkan adanya kejelasan status PS Batam.
“Saya ingin mengembalikan masa kejayaan PS Batam seperti dulu. Itu karena klub ini pernah mengharumkan nama Batam maupun Kepri di persepakbolaan nasional,” kata Barnov.
Senada dengan Barnov, pelatih PS Batam di Piala Soeratin U-17 tahun 2016 lalu, Feri juga sangat menyayangkan absennya PS Batam dalam kancah persepakbolaan di Kepri.
“Harus ada orang-orang gila yang membangkitkan kembali PS Batam,” tutur Feri. (cr16)
batampos.co.id – Dinas Kesehatan Kota Batam menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Air Susu Ibu (ASI) ekslusif pada bayi. Perda yang mengatur pemberian ASI ini berisi beberapa poin dari mulai pemberian ASI saat lahir hingga pengadaan pojok ASI di setiap instansi.
“Karena melihat kebutuhan, dan masih rendahnya pencapaian ibu menyusui di Batam, makanya kami usulkan perda ASI ini,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, Selasa (5/12).
Didi menyebutkan Perda ini akan mengatur tentang larangan klinik maupun rumah sakit untuk memberikan susu formula pada saat bayi baru lahir.
“ASI pasti ada, hanya aja pengetahuan untuk mendapatkan ASI yang baik itu masih kurang. Mereka coba sekali karena tak keluar langsung mereka gunakan susu formula, padahal tidak ada asupan yang bisa menyaingi ASI,” terang Didi.
Saat ini di puskesmas sudah ada edukasi mengenai tata cara mendapatkan ASI usai melahirkan. Ibu hamil yang konsultasi akan diajarkan cara mendapatkan ASI untuk pertama kalinya. “Kan sudah ada konselingnya, jadi ibu-ibu tak usah khawatir jika ASInya tidak keluar,” beber pria yang juga berpropesi sebagai dokter kandungan ini.
Perda ini mengimbau kepada rumah sakit untuk tidak menyediakan susu formula, guna memaksimalkan pemberian ASI pada bayi. “Terutama dienam bulan pertama, karena bayi hanya ASI menjadi sumber asupan utama,” jelas mantan Direktur RSUD Bintan ini.
Selain mengatur terkait larangan pengadaan susu formula di rumah sakit dan klinik-klinik bersalin, Perda juga akan menjamin ketersediaan fasilitas khusus menyusui dan memerah ASI atau laktasi.
“Ada ASI corner juga, jadi meskipun bekerja ibu masih bisa diberikan kelonggaran untuk memberikan ASI,” sebutnya.
Pengesahaan Perda ASI ini juga menjdapat tanggapan yang baik dari Walikota Batam, Muhammad Rudi. “Pimpinan sangat mendukung hal ini, dan kami berharap pembahasan bersama DPRD bisa berjalan dengan baik, sehingga presentase pemberian ASI ekslusif bisa menjadi 70 persen,” harap Didi.(cr17)
batampos.co.id – Di tengah harga kebutuhan pokok yang masih tinggi. Bulog memastikan stok beras dan gula hingga akhir tahun tercukupi.
“Untuk dua item ini Alhamdulillah ketersediaannya aman,” kata Kepala Bulog Sub Drive Batam, Jamaludin, Selasa (5/12).
Ia menyebutkan berdasarkan stok yang ada saat ini kebutuhan akan gula dan beras diperkirakan bahkan aman hingga Februari 2018 mendatang.
“Untuk tiga bulan ke depan Batam masih aman, dan di jamin tak akan kesulitan mendapatkan beras dan gula,” sebut Jamal.
Saat ini, stok beras mencapai 1.600 ton PSO (public service obligation) dan 500 ton stok komersil. Stok tersebut bisa mencukupi hingga tiga bulan ke depan.
Sedangkan stok gula di gudang Bulog saat ini sebanyak 1.200 ton. Menurutnya, stok ini juga bisa memenuhi kebutuhan Batam untuk tiga bulan. Untuk harga gula saat ini dijual Rp 11.900 perkilogramnya.
Untuk memasarkan gula, masyarakat bisa megunjungi Rumah Pangan Kita (RPK) yang merupakan perpanjang tangan Bulog. Saat ini sedikitnya ada 335 RPK yang tersebar di seluruh Batam.
Harga komoditas yang dijual di RPK diawasi dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Sehingga diharapkan bisa mengontrol harga beras dan gula di tengah masyarakat.
Ia menambahkan meskipun gula dan beras tidak terlalu berpengaruh pada inflasi saat ini, pihaknya tetap memastikan ketersediaan gula dan beras, sehingga kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi.
“Beberapa waktu lalu kami juga ikut dalam pasar murah yang digelar Pemko Batam, tujuannnya membantu warga menjaga kestabilan harga gula yang sesuai HET,” tutupnya.(cr17)
batampos.co.id – Proses assessment atau proses pengujian untuk menentukan kapabilitas dari pejabat BP Batam tengah berlangsung saat ini di Mabes Polri.
“Tesnya sedang berlangsung di Mabes Polri. Tujuannya adalah untuk menentukan motivasi, komitmen kerja dan kemampuan memimpin,” kata Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo, Selasa (5/12) di Gedung Mall Pelayanan Publik.
BP Batam telah menyelenggarakan proses assesment pada 27 November dan 4 Desember 2017 nanti. Pesertanya diperkirakan mencapai sekitar 300 orang dan akan dilakukan secara transparan.
“BP Batam akan segera melakukannya karena kebutuhannya mendesak untuk meningkatkan investasi. November kami akan kirim untuk pejabat eselon II dan III,” paparnya.
Lukita menjelaskan proses yang akan dijalani akan berbeda tergantung dari jabatan yang tengah diduduki saat ini.
“Yang menangani audit dan pengamanan pasti beda. Tapi ada juga yang umum,” katanya.
BP Batam, kata Lukita, memang tengah mewacanakan untuk reorganisasi BP Batam.
“Ini semua untuk tingkatkan kapasitas SDM di BP. Kita tunggu saja hasilnya,” jelasnya.
Hasil dari proses assessment ini nantinya akan menentukan langkah Lukita dalam melakukan penyegaran di tubuh BP Batam.
“Dari hasil itu, bisa diketahui apakah perlu peningkatan rotasi atau butuh training lagi,” pungkasnya.(leo)
Warga antre mengurus KTP di Kecamatan Batuaji, Senin (13/11). Kota Batam saat ini mendapat blangko KTP Elektronik dari pusat. Penerimaan ini yang ke enam kali dari pusat pada tahun 2017. F Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Ribuan Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP el) yang sudah selesai dicetak oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Batam mengendap di kantor Kecamatan Sekupang.
“Sedikitnya seribu KTP el sudah selesai di cetak, dan tak diambil pemiliknya,” kata Camat Sekupang Muhammad Arman, Selasa (5/12).
Ribuan KTP el yang menumpuk ini merupakan pengajuan warga dari tahun lalu, dan sudah diselesaikan pada tahun ini.
“Kami sudah mengirimi pesan kepada nomor pemiliknya, namun belum direspon hingga saat ini, maka jadilah penumpukan,” kata dia.
Untuk itu, dalam waktu dekat ini, pihaknya akan mengumumkan nama-nama pemilik KTP el berdasarkan keluarahan masing-masing agar lelbih memudahkan warga untuk mengambil KTP mereka.
“Nanti KTP el akan kami sortir berdasarkan kelurahannya. Kami akan ajak seluruh lurah untuk turut menginformasikan kepada warga mereka untuk segera menjemput KTP el mereka,” terang mantan Sekretaris Camat Sekupang ini.
Ia menargetkan hingga akhir tahun nanti, KTP el yang menumpuk di kantor kecamatan bisa segera diambil oleh pemiliknya.
“Semakin cepat mereka ambil semakin baik, jadi kami tak ada beban jika KTP el tersebut hilang atau tercecer, karena ketersediaan blanko saat ini juga belum terlalu banyak,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Disdukcapil, Said Khaidar mengatakan sepanjang tahun ini sediktnya 64 ribu KTP el sudah rampung dicetak. Dari jumlah tersebut sudah 70 persen yang diambil pemiliknya. “Laporan dari camat memang masih banyak yang belum ambil, padahal sudah diinfokan,” kata dia.
Untuk itu, dia mengimbau kepada camat dan lurah untuk bekerjasama demi menyukseskan pendistribusian KTP tersebut.
“KTP ini data penting, jadi tolong yang sudah mendapat SMS untuk bisa mengambil KTP elnya,” imbau Said.(cr17)
Deputi 3 Bidang Pengusahaan Sarana Usaha Dwi Eko Winaryo memberikan penjelasan saat sosialisasi tentang perka 27 tahun 2017 kepada wartawan di Gedung BP Batam, Kamis (30/11). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Dalam minggu ini, revisi Peraturan Kepala (Perka) Badan Pengusahaan (BP) Batam 17/2016 mengenai jasa dan tarif pelabuhan akan segera terbit.
“Nota dinas dari kantor pelabuhan ke biro hukum sudah diantar hari ini. Dalam minggu ini insyaallah akan terbit,” kata Deputi III BP Batam, Dwianto Eko Winaryo di Gedung Mal Pelayanan Publik (MPP), Selasa (5/12).
Revisi Perka 17 ini mengubah banyak hal, khususnya penghapusan biaya tambat untuk pelabuhan terminal khusus (Tersus) dan Terminal Umum untuk Kepentingan Sendiri (TUKS).
“Tarif disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2016. Karena PP tersebut merupakan landasannya,” jelasnya lagi.
Setelah revisi Perka pelabuhan selesai, maka BP Batam akan membahas perubahan dari Perka 9/2017 tentang jenis dan tarif Kantor Pengelolaan Lahan BP Batam. Persoalan utama yang akan dibahas adalah mengenai tarif UWTO.
Dwi mengaku prosesnya akan sama seperti pembahasan revisi Perka 10 kemarin. “Kami akan bahas dulu dengan teman-teman dari stakeholder pemangku kepentingan sebelum diterbitkan,” ujarnya.
Menanggapi hal ini, Ketua INSA Batam, Osman Hasyim mengatakan dengan terbitnya revisi Perka ini maka dapat meningkatkan daya saing serta menggairahkan industri pelayaran dan maritim.
”Revisi Perka akan menggunakan PP 15/2016 sebagai landasan dan itu sudah sesuai keinginan dari asosiasi,” paparnya.
Tarif tambat yang tinggi menyebabkan Batam tidak kompetitif. Selain itu, khusus untuk kapal pelayaran rakyat (Pelra) dibebaskan dari pungutan labuh tambat. Osman mengatakan ide pembebasan tarif ini merupakan usulan yang sangat bagus.
“Sedangkan untuk pelabuhan biasa, tarif tambatnya sudah disesuaikan dengan PP 15/2016 sehingga tarifnya kompetitif dan mampu meningkatkan daya saing Batam,” jelasnya.(leo)
batampos.co.id – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menyatakan terus berkomitmen mendukung program pemerintah di sektor energi. Salah satu di antaranya adalah rencana pemerintah untuk merealisasikan pembentukan holding BUMN.
“Kami berkeyakinan pembentukan holding BUMN dalam upaya melakukan konsolidasi pengelolaan gas bumi akan memberikan banyak manfaat bagi negara dan masyarakat banyak,” kata Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama, di Jakarta, Rabu (6/12).
Seperti diketahui, Kementerian BUMN memiliki rencana untuk membentuk holding BUMN energi. Saat ini, selain PT PGN, BUMN energi yang ada di Indonesia adalah PT Pertamina (Persero). Rencananya, Kementerian BUMN memproyeksikan PT Pertamina sebagai induk holding migas.
Menurut Hutama, pada dasarnya PGN meyakini semangat pembentukan holding migas ini untuk mencegah dualisme pengelolaan hilir gas bumi domestik. “Pembentukan holding migas ini tentu sebagai salah satu cara menghindari duplikasi pengelolaan hilir gas bumi,” kata Hutama.
Saat ini, Pertamina memiliki anak usaha yang juga bergerak di bidang usaha gas bumi, yakni PT Pertagas. “Dengan holding ini, Pertagas akan dilebur ke PGN, kemudian PGN menjadi anak usaha dari PT Pertamina,” ujar Hutama. Hal ini mutlak dilakukan untuk mencapai tujuan holding.
Pernyataan Hutama merujuk skema yang pernah disampaikan oleh Kementerian BUMN dalam berbagai kesempatan. Menurut skema tersebut, saham seri B milik negara di PGN yang mencapai 57 % akan dialihkan ke Pertamina. Sementara itu, 100 % saham Pertagas akan dialihkan ke PGN.
PGN melihat penyatuan Pertagas ke PGN ini akan menjadikan satu entitas yang solid untuk mendukung pengelolaan energi nasional. “Selain dapat mempercepat pembangunan infrastruktur gas yang terintegrasi, penyatuan ini dapat mencapai distribusi gas yang lebih merata,” kata Hutama.
Meski demikian, sebagai perusahaan milik negara sekaligus perusahaan public yang tunduk terhadap peraturan OJK dan juga harus bertanggung jawab kepada pemegang saham minoritas, PGN menunggu proses yang masih berlangsung di pemerintah.
“Saat ini kami masih menunggu arahan dan terus berkoordinasi dengan pihak Kementerian BUMN terkait rencana PGN ke depan,” tutup Hutama. (arm)
batampos.co.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Hang Nadim Batam menyebutkan hujan lokal dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai petir serta angin kencang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Batam.
Hal ini disebabkan adanya daerah bertekanan rendah di sekitar utara Pulau Sumatera yang menyebabkan banyaknya massa udara yang menuju ke wilayah tersebut sehingga uap air di sekitar wilayah Kepri menjadi berkurang. Namun, prakiraan nilai kelembapan udara di lapisan atas yang cukup tinggi masih berpotensi membentuk awan-awan konvektif yang menghasilkan hujan.
“Secara umum kondisi cuaca esok hari, Rabu (6/12) diprakirakan berpotensi terjadi hujan lokal yang dapat disertai petir dan angin kencang,” kata Kasi Datin BMKG Hang Nadim, Suratman.
Kondisi ini, menurut dia, masih kondusif untuk akivitas transportasi darat dan udara, untuk transportasi laut dan aktifitas kelautan diimbau untuk berhati-hati terhadap gelombang laut yang tinggi di wilayah perairan Natuna dan Anambas.
“Serta arus laut yang kuat di seluruh wilayah perairan Kepri,” lanjut dia.
Untuk wilayah Batam suhu udara 25 derajat celcius sampai 32 derajat celcius, ditambah dengan kecepatan angin mencapai 30 KM per jam. Kelembaban 65 persen sampai 95 persen.
Sebelumnya, hujan deras dan angin puting beliung yang menerjang lima rumah di kavling, Sei Lekop, Batam. Akibatnya, kondisi enam rumah tersebut rusak parah. Atap rumah habis total diterbangkan oleh angin puting beliung. (rng)