Sabtu, 4 April 2026
Beranda blog Halaman 13301

Ada Perawatan IPA Sei Harapan, Beberapa Wilayah di Batam Alami Gangguan Suplai Air

0

batampos.co.id – PT Adhya Tirta Batam (ATB) secara berkala melakukan perawatan dan penggantian pipa transmisi di area Instalasi Pengolahan Air (IPA). IPA Sei Harapan salah satunya.

Yang akan dilakukan penggantian pipa header di area IPA.

“Pekerjaan penggantian pipa header akan di lakukan di IPA Sei Harapan. Pipanya memang sudah waktunya di ganti, mengingat secara teknis kondisi pipa yang sudah tidak handal lagi. Selama pekerjaan, IPA akan shutdown sementara waktu,” ujar Muflikhin Project Manager ATB, Jumat (19/5/2017).

Pekerjaan penggantian pipa header yang di lakukan oleh perusahaan air bersih swasta terbaik di Indonesia tersebut merupakan hal yang sangat.

Dimana pipa header termasuk jaringan pipa pangkal (pipa area hulu) pada jaringan transmisi. Melalui pipa header, air yang sudah siap di produksi dapat di alirkan ke pelanggan.

“Penggantian pipa header bertujuan untuk mengurangi resiko shutdown (off) pada IPA. Apabila pipa header rusak seperti bocor atau terganggu efeknya IPA akan shutdown. Termasuk secara teknis pipa yang sudah tidak maksimal lagi, perlu mendapatkan perawatan atau penggantian,” jelas Muflikhin lagi.

Sementara itu, Enriqo Moreno, Manager Corporate Communication ATB menambahkan, pekerjaan pemasangan pipa header akan dilakukan pada Selasa (23/5) mulai pukul 21.00 sampai selesai.

Tentunya selama pekerjaan berlangsung, IPA Sei Harapan akan berhenti beroperasi. Dengan pekerjaan ini IPA Sei Harapan yang mensuplai wilayah pelanggan mulai dari Tiban hingga Sekupang dan sekitarnya akan terdampak sementara.

“Antisipasi Shutdown IPA Sei Harapan, kami himbau kepada pelanggan di kawasan Tiban dan sekitarnya untuk bisa menampung air seperlunya, IPA Sei harapan akan Shutdown sementara waktu selama pekerjaan berlangsung,” jelas Enriqo.

Meski pekerjaan penggantian pipa akan diupayakan secepat mungkin di selesaikan, ia menegaskan pekerjaan tersebut akan berdampak pada gangguan suplai air kepada pelanggan.

Hampir seluruh wilayah Tiban dan sekitarnya yang mendapatkan suplai air dari IPA Sei Harapan akan mengalami gangguan suplai sementara.

“Wilayah-wilayah yang akan berdampak meliputi wilayah Delta Villa, Green Boulevard, Tiban Koperasi, Tiban Diamond, Tiban Palm, Taman Irene, Panorama, Tiban Housing, Tiban Permai. Termasuk wilayah Kav Tiban 2 & 3, Masyeba Permai, Tiban Pajak, Pesona, kav Rabayu, Kav Mentarau, Tg Sakinah, Nirwana, Tiban Mas 2, Tiban Point, Cipta Land, Tiban Makmur, Tiban Airis, Graha Tirta Indah, Riau Bertuah 1&2 , Melati Raya, Persero View Riau,Kav Tiban 4,” ujar Enriqo.

Ia melanjutkan, proses normalisasi usai pekerjaan tersebut akan berbeda pada setiap wilayah. Semakin dekat dan rendah lokasi pelanggan dari IPA, semakin cepat normalisasi suplai air. Oleh karena itu, agar pelanggan hilir lebih cepat menikmati air bersih, pelanggan hulu diharapkan dapat lebih bertoleransi.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang akan dialami pelanggan. Pekerjaan ini harus kami lakukan agar kontinuitas suplai air kepada pelanggan tetap berlangsung. Bagi pelanggan yang membutuhkan informasi terkait dampak dari pekerjaan tersebut, dapat menelepon ke Call Centre ATB melalui nomor 0778-467111,” tutupnya. (rilis)

Pertalite Batam, Kepri dan Riau Termahal se Indonesia

0
Petugas mengisi BBM Jenis Pertalite di SPBU Sukarno Hatta Tanjungpinang, Senin (15/5), F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang harga jual  Pertalite-nya rata-rata Rp 7.500 dan Rp 7.700 perliter. Harga pertalite di Batam justru lebih mahal yakni Rp 7.900 perliter (data di website resmi pertamina), harga ini sama dengan harga pertalite secara umum yang diterapkan di Provinsi Kepri dan di Provinsi Riau.

Area Manager Communication & Relations Sumbagut, Fitri Erika mengatakan perbedaan harga tersebut sangat berkaitan dengan penerapan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Menurutnya, pertamina dalam menjalankan tugasnya patuh terhadap aturan baik yang dikeluarkan pemerintah pusat maupun aturan di daerah.

“Harga pertalite dan pertamax sangat berpengaruh terhadap komponen PBBKB,” kata Fitri.

Dia memaparkan, berdasarkan peraturan presiden nomor 191 tahun 2014, PBBKB untuk jenis bahan bakar seperti premium maupun solar dikenakan 5 persen.

Sementara bahan bakar non subsidi seperti pertalite dan pertamax mengacu pada PBBKB yang ditetapkan daerah dan tertuang dalam peraturan daerah.

“Perda Kepri nomor 8 tahun 2012 menetapkan PBBKB 10 persen. Begitu juga di Riau 10 persen, dalam perda nomor 4 tahun 2015,” terangnya.

Menurutnya, hal ini berbeda dengan daerah lain yang menetapkan PBBKB lebih rendah dari dua daerah tersebut. Maka bukan hal yang tak mungkin harga pertalitenya pun lebih murah.

“Berbeda dengan wilayah Sumatera Utara atau Sumatera Barat yang menerapkan PBBKB 5 persen,” tutup dia. (cr13)

DPRD Batam, Pertamina jangan Arogan

0

Ilustrasi dokumen jpnn

batampos.co.id – Kebijakan Pertamina untuk pengurangan kuota premium, menuai kontra dari banyak pihak. Ketua DPRD Kota Batam, Nuryanto, mengakui bahwa kebijakan ini dirasa konyol, karena tidak ada sosialisasi yang disampaikan ke masyarakat.

Menurutnya, kebijakan yang dibuat bakal berdampak pada kemampuan daya beli masyarakat. Jika tiba-tiba dihapus, hal ini ditakutkan bakal menyebabkan keributan di lingkup konsumen.

“Sekarang yang ditanyakan, apakah masyarakat mampu kalau langsung dihilangkan? Ini seperti menggunakan kekuasaan untuk membuat kebijakan,” kata Nuryanto, kemarin.

Bahkan, dalam waktu yang dekat pihaknya akan meminta klarifikasi dari pertamina, dan diundang dalam pembahasan akan masalah ini.

“Kita akan disposisikan dengan Komisi I dulu. Yang jelas, Pertamina jangan arogan dalam membuat kebijakan,” ungkapnya.

Anggota Komisi II DPRD Batam, Uba Ingan Sigalingging mengaku belum mengetahui adanya pengurangan kuota premium. Menurutnya bila ini sudah dilakukan Pertamina jelas akan merugikan masyarakat. Mengingat situasi ekonomi Batam saat ini.

” Apa ditiadakan atau dibatasi kita belum tahu. Kita akan panggil disperindag untuk mempertanyakan,” tuturnya.

Sementara Yuli, pengawas SPBU Jodoh, mengatakan bahwa pada tahun lalu, SPBU Jodoh mendapat jatah sebanyak 20 KL perhari. Namun berselang waktu, terjadi pengurangan yang signifikan, dan sekarang hanya mendapat jatah antara 10KL sampai 8KL saja.

“Dulu 20 KL, terus 16 KL, terus 10 KL, sekarang antara 8 sampai 10KL,” katanya.

Untuk peminat Premium, ia mengaku sudah tak begitu banyak. Banyak konsumen BBM, yang sudah beralih ke Pertalite. “Dulu yang 5 hari habis, sekarang sehari sudah isi ulang. Kalau jatah Premium, kita setiap hari masih dapat. Ini lagi nunggu antrian di Pertamina,” tuturnya. (rng)

 

Target Retribusi Parkir Batam Sulit Tercapai

0
Seorang petugas parkir yang beroperasi di BCS Mall, Lubukbaja, Selasa (31/1). F.Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Target retribusi pajak tepi jalan sebesar Rp 30 miliar pada akhir 2017 ini bakal sulit tercapai. Pasalnya, pajak berlangganan yang menjadi pedongkrak PAD sektor pajak tersebut belum terealisasi sampai saat ini.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam, Yusfa Hendri mengaku kecil kemungkinan parkir berlangganan bisa diterapkan tahun ini. Apalagi mengingat ranperda yang menjadi payung hukum parkir masih dibahas di DPRD Kota Batam.

“Kita lihat saja nanti. Pansus DPRD meminta perpanjangan waktu pembahasan,” ujarnya, kemarin.

Menurut dia, estimasi awal pendapatan dari retribusi parkir Kota Batam ditargetkan sebesar Rp30 miliar, dengan perhitungan bisa menerapkan parkir berlangganan, namun dalam kenyataannya hal tersebut tidak bisa direalisasikan.

Kendati demikian, ia mengaku masih tetap berusaha semaksimal mungkin agar target pendapatan pada tahun angaran 2017 bisa tercapai.

“Belum bisa kita pastikan. Apakah nanti pakai pola lain, kita belum bisa pastikan,” tuturnya.

Sebelumnya, guna mengejar target yang terbilang cukup besar tersebut, dishub melakukan evaluasi dengan menambah jumlah titik parkir. Dari sebelumnya ada 202 titik parkir, sekarang menjadi 555 titik parkir. tersebar di Batam.

Sementara itu, berdasarkan hasil laporan kinerja Dishub pada triwulan pertama pendapatan retribusi parkir baru berada diangka Rp 935 juta atau baru 3,3 persen dari target sebesar Rp 30 miliar.

Anggota DPRD Batam Uba Ingan Sigalingging mengaku pesimis jika target parkir bisa tercapai di akhir tahun. Dan bahkan ia mengaku dibanding periode yang sama tahun lalu, target pendapatan malah bisa mencapai angka Rp 1 miliar.

“Ini yang kita sayangkan. Target sangat jauh dari harapan,” tuturnya.

Ia menilai, dishub harus aktif meminta kerjasama parkir berlangganan dengan Polda Kepri. “Kalau memang gagal. Kita minta lagi, apakah ada syarat yang kurang atau bagaimana. Daerah lain bisa kenapa Batam tak bisa,” tegas Uba. (rng)

Walikota Batam Bicara tentang KEK, bila Itu Terjadi Ia Minta Kewenangan untuk….

0
Walikota Batam, Muhammad Rudi. foto:cecep mulyana/batampos

batampos.co.id – Jika pemerintah resmi menetapkan status Batam jadi KEK, Wali Kota Batam Muhammad Rudi meminta urusan menyangkut masyarakat termasuk tentang lahan harus dikelola Pemerintah Kota (Pemko) Batam.

Yang diluar KEK semua ke kami, termasuk lahan harus ke kami,” ucap Rudi kepada Batam Pos usai menghadiri acara Dharmasanti Waisak Batam di Pasifik Hotel, Minggu (21/5).

Menurutnya, keinginan tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya terkait lahan selama ini tidak dikelola Pemko Batam. Walau demikian, dia mengaku persoalan tersebut tak membuat pihaknya tidak melakukan pembangunan dan melayani masyarakat.

“Pelayanan ke masyarakat selama ini sudah jalan, hanya lahan yang hari ini tak jalan,” katanya.

Sementara itu, segala urusan yang berkaitan kawasan dalam KEK, Rudi mengaku siap menyerahkan ke pihaknya yang kelak yang akan mengelola KEK atau Badan Pengusahaan (BP) Batam. Komitmen penyerahan tersebut telah dia sampaikan ke pemerintah pusat.

“Saya sudah komit ke menko (perekonomian), dia tanya kalau jadi KEK anda (saya) siap serahkan kekuasaan. Saya bilang bikin sekarangpun saya tandatangan,” katanya.

Dia berharap keputusan terkait tumpang tindih kewenangan di Batam cepat terealisasi. Untuk itu, dia melapor ke Menko Perekonomian Darmin Nasution juga Presiden Joko Widodo tentang ekonomi Batam yang tengah lesu.

“Apa kondisi ini harus bertahan terus, tidakkan kasihan rakyat menjerit. Apa tindakan menko (setelah dilapor) saya tak bisa dahului beliau, tapi saya minta tindakan lebih cepat,” harapnya.

Dia mengatakan sembari menunggu transisi menuju KEK, hal yang kini perlu diperbaiki dengan segera adalah perizinan. Agar ekonomi tetap stabil, ia meminta tak boleh ada perizinan yang mandek di semua lembaga pemerintah di Batam.

“Misal, transisi enam bulan jangan tunggu enam bulan baru yang lain jalan. Layanan di mana saja, saya tak sebut organiknya (instansi), seperti IPH itu tak boleh mandek,” ucap dia.

Dia pun mengaku tak gusar jika komposisi KEK kelak banyak, asal pihak yang ditunjuk mengelola KEK mampu. Menurutnya, semakin banyak industri menggairahkan ekonomi Batam.

“Semakin banyak KEK, semakin jalan industri, semakin suka saya. Kalau ini jalan uang kita berputar, rakyat bisa kerja. Yang penting jelas kewenangannya,” pungkasnya. (cr13)

Menelusuri Harta Bawah Laut Bawean (2)

0
Bagian mesin dan tuas pemutar masih terlihat utuh di kedalaman tujuh meter. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

batampos.co.id – Kapal karam yang berada di antara Pulau Nusa dan Pulau Cina itu sudah sering diganggu para penambang besi tua. Sebagian besar bagian kapal telah dicuri. Dari bangkai kapal yang tersisa tersebut, peneliti Balai Arkeologi Jogjakarta berupaya merangkai asal usul dan sejarah kapal.
——
Penyelaman dilakukan setelah tim menembus hujan dan ombak selama dua jam Sabtu (6/5/2017). Sesampainya di lokasi penyelaman, buoy atau bola pelampung dilemparkan sebagai penanda koordinat. Sepuluh meter dari bola berwarna oranye itu, kru perahu melempar jangkar.

Buoy itu terhubung dengan tali tambang yang diberi pemberat batu karang seukuran bola basket. Tali yang bergelantungan tersebut menjadi titik pandu para penyelam. Di sanalah titik selam sekaligus titik kembali ke permukaan.

Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 12.30. Sinar mentari beberapa kali menghilang terhalang mendung. Karena itu, pengambilan gambar di bawah laut membutuhkan bantuan lampu senter. Tim pengambil gambar sudah menyiapkannya.

Seluruh arkeolog segera menyiapkan peralatan menyelam mereka. Tabung scubasiap dipasang dengan slang dan masker selam. Sebelum peralatan itu terpasang, para peneliti harus melakukan pemanasan ringan di atas geladak perahu yang goyang-goyang.

Ada dua tim penyelam yang terjun. Fotografer Jawa Pos Guslan Gumilang mendapat kesempatan pertama mengabadikan bagian-bagian kapal yang tersisa. Dia ditemani Ahmad Surya Ramadhan yang bertugas sebagai safety diver dan Fauzi Hendrawan sebagai teknisi. Fauzi membawa berbagai alat bantu penelitian seperti alat tulis bawah air, roll meter (meteran gulung), hingga busur skala.

Lokasi pertama yang mereka terjuni adalah dua bongkahan terbesar yang ada di tengah kapal. Terdapat mesin kapal dan dua buah boiler atau ketel uap. Tidak banyak terumbu karang yang menempel di dinding besi mesin itu. Karang-karang tersebut sudah dirusak oleh para penambang besi tua.

Madha, panggilan akrab Ramadhan, mengambil rollmeter yang dibawa Fauzi. Dia mengukur panjang mesin dan boiler kapal itu. Panjangnya mencapai 18 meter. Besinya begitu tebal sehingga para penambang tidak sempat memotongnya. Mesin tersebut terhubung dengan tuas dan propeller atau baling-baling di sisi utara.

Di sisi selatan terdapat dua bongkahan tangki boiler. Bentuknya persegi panjang dengan sisi kanan-kiri yang melengkung. Terdapat ruangan gelap di dalam boiler itu. Masing-masing boiler memiliki panjang 4,5 meter dengan lebar 3 meter. Tidak begitu jelas berapa tingginya. Sebab, beberapa bagiannya telah terbenam ke dasar laut.

Butuh Perlindungan (Grafis: Erie Dini/Jawa Pos/JawaPos.com)

Sebelum ada penambangan (yang tentu liar), banyak sekali batu karang yang tumbuh bersama anemon di sana. Ada ikan badut yang berenang di antara rumbai-rumbai anemon yang beracun itu. Ikan-ikan kecil dengan berbagai macam warna juga berseliweran mengitari terumbu karang yang tumbuh sehat. Pemandangan tersebut tidak terlihat lagi di sana.

Namun, peneliti tampaknya mulai menemukan harapan baru. Karang-karang mulai tumbuh lagi di dalam tangki boiler. Setelah tiga tahun ditinggal oleh para penambang besi, sebuah karang api (fire coral) mulai tumbuh tersembunyi.

Karang itu memiliki banyak cabang yang menjulur seperti semburan api. Terdapat sejumlah ikan kecil yang berlindung di karang yang cukup tajam tersebut. Dibutuhkan puluhan tahun agar besi-besi kapal itu kembali diselimuti terumbu karang yang sehat. Syaratnya, tidak ada lagi aktivitas penambangan di sana.

Tak jauh dari lokasi penyelaman, Fauzi tampaknya penasaran dengan bongkahan berbentuk kotak di dasar laut. Warna merah kecokelatan terlihat dari perairan hijau itu. Bongkahan kotak tersebut mulai ditumbuhi lapisan karang tipis.

Setelah diangkat, bongkahan itu ternyata batu bata. Namun, ukurannya lebih besar ketimbang batu bata yang ada saat ini. Dia menaikkan batu tersebut ke atas perahu untuk diteliti nanti.

Batu itu lalu menjadi tontonan bagi tim peneliti yang tidak ikut menyelam.

”Lho ini mirip bata yang ada di benteng Lodewijk di Mengare Gresik,” ujar Iling Khairil Anwar, arkeolog asli Bawean, secara spontan.

Pria yang juga menjabat Kasi Purbakala dan Kesejarahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gresik itu sangat girang. Batu tersebut bisa jadi alat untuk melacak informasi tentang kapal itu. Setelah diukur, batu tersebut memiliki lebar 14 sentimeter dengan panjang 23 sentimeter. Batu bata itu tidak terlalu tebal. Hanya 4 sentimeter tingginya.

Untuk membuktikan batu itu sama dengan yang dipakai di benteng tersebut, perlu dilakukan penelitian lanjutan. Batu itu bakal diteliti di laboratorium untuk memastikan kandungannya.

’’Dari hasil laboratorium itu, bakal diketahui informasi darimana batu tersebut diproduksi. Bisa juga diketahui akan dibawa ke mana batu-batu itu,” terang alumnus Universitas Udayana tersebut.

Fauzi kembali diminta mencari batu bata lain. Saat kembali ke permukaan, dia sudah membawa bongkahan lain. Wujudnya berupa ubin marmer yang sudah pecah. Ya, hanya dua batu itulah yang ditemukan. Diduga, masih banyak muatan yang belum terekspos. Sebab, sebagian besar bagian kapal sudah terendam lumpur dan pasir.

Pertanyaan selanjutnya, akan dibawa ke mana material bangunan itu? Bila melihat lokasi baling-baling kapal di sisi utara, kapal tersebut jelas menuju ke selatan. Artinya, kapal itu hendak menuju ke Pulau Bawean.

Beban berat pada kapal jelas membuat lambung kapal lebih masuk ke air. Saat melintasi perairan dalam, tentu hal itu bukan masalah. Namun, Bawean punya banyak gugusan terumbu karang.

Nakhoda yang tidak mengetahui seluk-beluk perairan Bawean pasti tidak bisa memilih jalur mana yang lebih aman. Kapal sepanjang 70 meter lebih itu pun akhirnya tersangkut. Lambung kapal robek.

Saat membentur karang, nakhoda tampaknya berusaha memutar haluan ke barat. Akibatnya, kapal tersebut sedikit condong ke barat daya. Namun, Bawean masih jauh. Pulau Nusa dan Cina yang ada di dekat lokasi kecelakaan juga tidak berpenghuni. Tidak ada pertolongan yang datang.

Ketua tim penelitian arkeologi maritim Bawean Hery Priswanto ikut menyelam di tim kedua. Dia juga mengumpulkan foto-foto detail pecahan kapal. Dia menerangkan, informasi-informasi yang didapat akan diteliti begitu tim kembali ke Jogjakarta. Foto-foto kapal tersebut bakal ditanyakan kepada ahli perkapalan.

”Nanti kami serahkan kepada ahlinya,” jelas pria asal Surabaya itu.

Hari itu, tim kembali dengan senyum lebar. Penyelaman kali ini membuahkan hasil yang memuaskan. Esok penyelaman masih dilakukan di barat Bawean. Namun,penyelaman selanjutnya lebih berat. Mereka akan mencari kapal di laut dalam. (*/c6/dos)

Menelusuri Harta Bawah Laut Bawean (1)

0

Hery Priswanto (tiga dari kanan) melakukan briefing kepada tim peneliti arkeologi maritim Pulau Bawean 2017 akan meneliti bawah laut tentang kapal karam abad 19. Dari kiri, Heny Budi, Alifah, Khairil Anwar (kanan) dan Ahmad Surya Ramadhan. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

PAGI benar tim Balai Arkeologi Jogjakarta berkumpul di Pelabuhan Gresik. Azan Subuh saja belum berkumandang pagi itu, Kamis (4/5/2017). Mengapa harus buru-buru? Toh, kapal cepat Express Bahari juga baru berangkat ke Bawean pada pukul 09.00.

Kedatangan pagi itu beralasan. Mereka harus mencuri waktu untuk memasukkan barang. Ruang bagasi kapal harus benar-benar kosong untuk mendapatkan tempat paling oke.

Sebab, bawaan seabrek. Terdapat delapan scuba set (peralatan selam) yang harus diangkut dengan dua mobil. Ada baju selam, sepatu katak, tabung oksigen beserta regulator dan slang penghubungnya. Alat-alat itu masih ditambah tas dan koper pribadi milik 12 anggota rombongan peneliti dan penyelam.

Semuanya harus dikumpulkan jadi satu. Sebab, bila ada tas yang terbawa orang, agenda ekspedisi Pulau Bawean bisa kacau. Misalnya, tabung-tabung sudah terbawa, tapi regulatornya hilang. Agenda penyelaman tak bisa terwujud. Padahal, inti perjalanan itu adalah penelitian bawah laut.

Setelah seluruh barang terkumpul di bagasi, tim itu mampir ke rumah Iling Khairil Anwar. Iling adalah arkeolog asal Bawean yang kini menjadi kepala Seksi Purbakala dan Kesejarahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gresik. Pengetahuan Iling tentang Pulau Putri, sebutan lain Bawean, menjadi kompas bagi tim Balar.

Kapal akhirnya berangkat pukul 09.02. Hampir tidak ada satu pun kursi yang tersisa. Setelah satu jam perjalanan, Pulau Jawa dan Madura perlahan hilang dari pandangan. Yang terlihat hanya lautan. Tanpa batas. Seolah menyatu dengan angkasa di sudut-sudutnya.

Setelah tiga setengah jam berlayar, kami akhirnya menapakkan kaki di Bawean. Pulau Seribu Bukit itu diselimuti mendung. Awan kelabu menutupi puncak-puncak bukit nan hijau tersebut. Tim balar berharap cuaca ganas tidak menemani selama penelitian.

Di pinggir dermaga, sinar mentari masih sedikit menyinari. Sudah banyak buruh angkut yang menunggu di dermaga. Mereka sudah dipesan penduduk asli Bawean yang pulang kampung.

Cara Sampai ke Bawean (Grafis: Erie Dini/Jawa Pos/JawaPos.com)

Untung, tim balar sudah menyewa mobil jauh-jauh hari. Bila tidak, perjalanan 5 kilometer menuju penginapan harus ditempuh dengan jalan kaki.

Saking banyaknya barang, mobil pengangkut harus dua kali bolak-balik. Setelah itu, giliran orang-orangnya yang diangkut.

Namun, mobil tidak langsung bertolak ke utara, menuju penginapan Bahagia di dekat Alun-Alun Bawean, tempat tinggal kami.

Kami terus saja ke timur menuju pesanggrahan milik Pemkab Gresik. Sudah ada jamuan makanan laut yang melimpah di gedung peninggalan Belanda tersebut. Cumi-cumi, cakalang asap, sup kepala ikan, dan sambal udang. Cocok dengan perut yang sudah minta diisi. Menu itu pun nyaris tak bersisa. Terlebih, hidangan tersebut dilengkapi minuman dingin gula aren khas Bawean.

Tiga puluh menit setelah mengisi perut, tim langsung melakukan rapat koordinasi. Rapat dilakukan di ruang belakang pesanggrahan.

***

Hery Priswanto adalah ketua penelitian arkeologi maritim Pulau Bawean. Karena itu, dia sudah tidak asing lagi dengan pulau yang berjarak 120 kilometer di utara Gresik tersebut. Sudah tiga kali dia menyambangi Pulau Putri.

Proyek jangka panjang itu dirintisnya sejak 2015 hingga 2019. Tahun lalu peneliti mendapatkan hasil signifikan. Ada satu kapal yang ditemukan di dasar laut, di timur Bawean.

Kapal itu ditemukan di antara Pulau Gili dan Pulau Nusa. Selain itu, ditemukan sebaran keramik asing di sejumlah desa. Mulai di Sawah Mulya, Sungai Rujing, Pudakit, Kumalasa, Gunung Teguh, Sidogedungbatu, Teluk Dalam, dan Kepuh Teluk. Nah, penelitian kali ini mendalami temuan sebelumnya.

Namun, beberapa anggota tim terbilang baru. Meski begitu, ilmu mereka mumpuni. Punya pemahaman khusus di masing-masing bidang ilmu.

Wakil Kepala Balar Jogjakarta Tri Marhaeni punya keahlian tentang keramik kuno. Ada juga Alifah, anggota tim yang ahli di bidang arkeologi prasejarah. Dia adalah pakar zaman batu. Pakar tentang zaman batu. Bukan pakar dari zaman batu, hehehe… Dan, peranti purba itu juga ditemukan di Bawean.

Heny Budi, peneliti Institut Teknologi Yogyakarta (INY) jurusan teknik kelautan, juga turun tangan. Dia bertugas mengidentifikasi karakter terumbu karang, jenisnya, hingga biota laut yang hidup di ekosistem tersebut.

”Karang masif itu karang yang berbahaya bagi kapal. Apa di sini banyak karang jenis itu?” tanya Heny kepada Hery yang sedang menjelaskan peta Bawean. ”Nanti bisa lihat sendiri saat survei lapangan, Mbak,” jawab Hery.

Pria asal Surabaya itu menerangkan rute penelitian dari Bawean bagian barat. Tepatnya, di dekat Pulau Cina dan Pulau Nusa. Di sana ada sisa bangkai kapal yang ditemukan tahun lalu. Pecahan kapal tersebut membentuk serpihan yang memanjang hingga 72 meter. Tapi, sisa kapal apa itu? Entah. Masih belum teridentifikasi.

Nah, tugas tim penelitian adalah menentukan jenis dan asal kapal. ”Nanti tim merekam data fisik, bentuk, dan karakter tinggalan arkeologi bawah air di sana,” ujar Hery. Jarinya bergerak menunjuk titik penyelaman di peta Bawean yang tertempel di dinding pesanggrahan.

Sementara itu, di sisi timur Pulau Bawean terdapat kapal karam yang teridentifikasi sebagai SS (steam ship) Bengal. Bangkai kapal uap tersebut ditemukan dua tahun lalu.

Menurut catatan Dictionary of Disaster at the Sea during the Age of Steam karya Charles Hocking, pada 1969, terdapat empat kapal yang tenggelam di perairan Bawean. Selain SS Bengal, terdapat kapal Janbi Maru, Langkoeas, dan Leeds City. Tiga terakhir tidak diketahui keberadaannya.

”Kapal-kapal itu masih misteri,” ujar alumnus Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Posisi kapal-kapal tersebut sejatinya sudah diincar dengan memakai titik koordinat. Dan itu rahasia. Tujuannya, tidak ada pencuri yang memanfaatkan data tersebut untuk menggarong bangkai kapal.

Namun, titik tersebut bisa saja meleset. Karena itu, penyelaman tersebut juga dibantu para nelayan Bawean yang mengantar kami.

Hampir di seluruh kawasan Bawean memang ada kapal yang tenggelam. Usianya sudah tua banget. Ada yang menghuni dasar lautan selama seabad lebih. Sebab, banyak kapal yang karam pada era 1800-an. Saat Belanda menjadikan Bawean sebagai pangkalan laut. Semakin tinggi lalu lintas laut, kemungkinan kapal karam juga kian tinggi.

Bawean memegang peran penting dalam jalur pelayaran masa lalu. Bukan karena kekayaan alamnya yang bisa diperjualbelikan. Melainkan letaknya yang strategis sebagai tempat transit pelayaran masa lalu. Tidak mengherankan, pulau kecil itu diperebutkan sejak zaman Majapahit.

Banyak sisa perdagangan masa lalu. Salah satunya fragmen keramik dari Dinasti Ming dan Qing yang berserakan di Teluk Diponggo. Diduga, pecahan keramik itu berasal dari kapal karam yang berada tak jauh dari bibir pantai.

Namun, harta yang dikuak memang masih banyak. Berserak di dalam lautan. Menunggu dikunjungi, menanti dilestarikan… (Salman Muhiddin/c6/dos)

Suplai Premium Turun 100 KL Per Hari

0
Ilustrasi dokumen jpnn

batampos.co.id – Penyaluran rata-rata harian premium di Batam yang sebelumnya 450 kilo liter (KL) perhari, kini tiba-tiba turun jadi 350 KL perhari. Officer Communication & Relations Pertamina Sumbagut, Arya Yusa Dwicandra menyebutkan tren tersebut terjadi sejak seminggu terakhir.

“Kalau mau tahu berapa potretnya sekarang ya segitu, perminggu ini (penyalurannya turun),” kata Arya, saat dikonfirmasi Sabtu (20/5).

Ia mengatakan, semenjak premium tidak lagi disubsidi perubahan suplai premium merujuk pada permintaan atau kebutuhan premium, semakin tinggi permintaan semakin tinggi juga pertamina menyalurkan premium. Ini berbeda dengan tahun sebelumnya sebelum disubsidi premium masih ditentukan kuotanya.

“Sistem bukan seperti dulu waktu subsidi yang pakai kuota, sekarang berapa demand-nya segitulah yang kita supply. Misalkan hari ini Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) minta sekian, kita kirim (yang sesuai),” terang dia.

Menurutnya, dengan mekanisme yang demikian, jumlah penyaluran premium pada suatu kondisi bukan hal yang mutlak. Artinya sewaktu-waktu akan berubah sesuai dengan permintaan pasar. “Penyaluran kita potretnya mingguan, artinya naik turun itu bukan berarti potret tahunan. Waktu 450 KL disampaikan saat tingginya kebutuhan premium. Jadi nggak bisa dibanding dengan tahun lalu berapa atau beberapa waktu lalu,” papar dia.

Ke depan, angka penyaluran pun demikian akan berubah sesuai dengan kebutuhan. Arya mencontohkan, penurunan akan terjadi seperti menjelang ramadan sekarang. Ini merupakan tren rutin tahunan. “Nanti naik lagi H-3 hingga H+4, ini puncaknya penyaluran,” terangnya.

Ditanya, apakah ada penurunan suplai premium seiring desas desus premium dihapus, Arya menolak berkomentar banyak, pasalnya yang punya wewenang terkait hal tersebut merupakan ranahnya pemerintah dalam hal ini Kementrian energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Yang pasti sesuai dengan Peraturan Presiden 191 tahun 2014 premium masih tetap ada karena jenis bahan bakar ini merupakan penugasan pemerintah, walau tidak disubsidi lagi,” kata dia, Jumat (19/5).

Arya menambahkan, kini angka penyaluran premium juga masih tinggi banding pertalite. Jika premium 350 KL perhari, pertalite yakni 265 KL perhari. ” Kalau mau dihapus? buktinya sekarang penyaluran premium masih diatas pertalite,” ucapnya.

Dia mengatakan, kekosongan premium yang kerap terjadi di beberapa SPBU di Batam selama ini disebabkan karena arus distribusi yang terhambat. Mengingat Kepri tempat Batam berada merupakan daerah kepulauan. “Ini kendala utamanya, mau tak mau kapal harus jadi transportasi utama,” imbuhnya. (cr13)

Polisi Tangkap Pencuri Ponsel di Warnet

0
ilustrasi

batampos.co.id – Seorang pemuda harus berurusan dengan pihak kepolisian lantaran mencuri ponsel di warnet Style 2, Kamis (4/5) lalu. Tersangka adalah Piromli alias Romli, 37 warga Perumahan Karisma, Sagulung.

“Pelaku berhasil ditangkap pada malam yang sama saat dia melakukan pencurian,” ujar Kapolresta Barelang AKBP Hengki.

Tersangka mencuri sebuah ponsel milik salah seorang pengunjung warnet, Teguh Arda Cahyono. Awalnya tersangka mendatangi warnet sebagai seorang konsumen untuk bermain game. Sedangkan korban berada tepat di depan korban.

“Pelaku tiba-tiba datang dari arah depan dan mengambil hape korban dan mengancam korban dengan pisau,” kata Hengki.

Korban yang ketakutan karena mendapatkan ancaman itu, kemudian menyerahkan ponsel miliknya dan pelaku langsung kabur dengan menggunakan sepeda motor. Korban dan beberapa pengunjung lainnya sempat mencoba mengejar tersangka namun tidak berhasil. Kejadian tersebut lantas dilaporkan ke Polsek Sagulung.

“Setelah mendapatkan laporan itu, kemudian kita lakukan penyelidikan dan pelaku berhasil kita tangkap tidak lama setelah kejadian,” ucapnya.

Setelah diamankan polisi, tersangka mengaku jika uang hasil penjualan ponsel itu digunakannya untuk keperluannya sehari-hari dan membayar hutang. Ia mengaku telah mencoba untuk meminjam uang kepada teman-temannya, namun uang itu tidak kunjung ia dapatkan.

“Selama ini saya tidak bekerja. Sebelumnya saya kerja kuli bangunan, tapi uangnya tidak cukup untuk makan,” akunya.

Atas perbuartannya, Piromli dikenakan pasal 365 KUHP dengan ancaman kurungan penjara selama 9 tahun penjara. (cr1)

Polisi Bekuk Tiga Pelaku Perampokan

0

batampos.co.id – Jajaran Polsek Batuaji membekuk tiga perampok yang beraksi di jalan raya depan kawasan Bintang Industri III, Batuaji, Sabtu (15/4) lalu. Mereka adalah Hamsa Gosi, 34, Rasiman, 28 dan Doni Abdi, 20. Satu rekan mereka lainnya, Fuad telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) polisi.

Kapolresta Barelang AKBP Hengki menjelaskan kronologis kejadian ini bermula pada saat korban, Risa Bionia melewati jalan raya depan pintu tiga Bintang Industri bersama dengan rekannya Diva. Kemudian, dua dari orang pelaku langsung memepet sepeda motor korban dan menghentikan korban.

“Saat itu, pelaku langsung menarik kunci sepeda motor korban. Posisinya, pada saat kejadian jalanan sedang sepi,” ujar Hengki.

Setelah mencabut kunci sepeda motor korban, kemudian salah satu pelaku turun dari sepeda motornya dan mendorong sepeda motor korban ke tempat yang sepi. Disana, pelaku mengancam akan membunuh korban dan teman prianya, jika tidak menuruti permintaan pelaku.

“Korban juga diancam diperkosa dan membunuh pacarnya jika berusaha melawan. Pelak mengancam korban dengan menggunakan senjata tajam,” ucap Hengki.

Mendapati ancaman itu, korban dan rekannya Diva yang ketakutan karena mendapatkan ancaman, kemudian mereka menyerahkan ponsel miliknya masing-masing kepada pelaku. Akibat kejadian ini, kedua korban mengadu ke Polsek Batuaji karena mengalami kerugian sebesar Rp. 4 juta.

“Setelah mendapatkan laporan, kemudian Unit Opsnal melakukan penyelidikan ke tempat pertemuan dengan pelaku apabila hendak melakukan aksinya. Setelah dilakukan penyelidikan, akhirnya pelaku berhasil kita tangkap pada Selasa tanggal 9 Mei kemarin,” tuturnya.

Pada penangkapan pertama itu, Unit Opsnal berhasil mengamankan Hamsa Gosi dari rumahnya di Perumahan Marina View Batuaji. Dari rumah pelaku, polisi berhasil mengamankan ponsel merek iPhone tipe 5S milik korban Diva.

“Kemudian, langsung kami interogasi tergadap pelaku Hamsda ini. Dari keterangannya, pada malam itu mereka beraksi sebanyak empat orang,” ucapnya.

Dari keterangan Hamsa, Unit Opsnal Polsek Batuaji kembali melakukan penyelidikan dan menangkap dua orang rekan Hamsa di rumah mereka masing-masing yang berada di Perumahan Kota Mas, Batuaji yakni Rasiman dan Doni Abdi ditangkap di kawasan punggur.

“Kita masih mencari satu rekan mereka lagi yang masih belum tertangkap. Dari introgasi terhadap pelaku, mereka telah melakukan aksinya sebanyak tiga kali di kawasan yang sama,” kata Hengki.

Hengki menambahkan, pelaku dijerat dengan pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan kekeeeeersan dan diancam selama 9 tahun penjara. (cr1)