Kamis, 2 April 2026
Beranda blog Halaman 13383

Kemenpar Gelar Asistensi Penthahelix di Belitung

0
foto: bwsuitebelitung.com

Bangka Belitung, salah satu dari 10 Bali Baru yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo itu akan menjadi tuang rumah kegiatan Asistensi MICE (MICE – Meetings, Inventions, Conferences, dan Exhibitions) tanggal 26 hingga 28 April 2019, mendatang.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti didampingi Kepala Bidang Penguatan Jejaring Kemenpar Hidayat mengatakan, acara ini dilaksanakan bagian dari komitmen Kemenpar untuk terus mengembangkan 10 Bali Baru.

Seperti diketahui, 10 Bali Baru tersebut adalah  Danau Toba (Sumut), Bangka Belitung (Babel), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu, dan Kota Tua (DKI Jakarta). Lainnya adalah Candi Borobudur (Jateng), Bromo-Tengger-Semeru (Jatim), Mandalika Lombok (NTB), Labuan Bajo (NTT), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara).

“Ini adalah bagian dari percepatan, untuk merealisasikan target Wisman dan Wisnus. Semua unsur penthahelix di Bangka Belitung kita kumpulkan di acara ini,” ujar Esthy.

Wanita berhijab itu memaparkan, undangan yang akan hadir di acara tersebut adalah, Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, Bappeda Kabupaten Belitung, Asososiasi Pariwisata, para pengelola objek wisata dan venue MICE di Bangka Belitung, akademisi yang terkait di bidang pariwisata khususnya MICE, Media, mahasiswa dan mahasiswi yang terkait dengan bidang studi pariwisata khususnya MICE, tokoh masyarakat dan Duta Wisata.

Menurut Esthy, sesuai acuan undang-undang, Industri MICE juga sebagai bagian dari Usaha Pariwisata. Hal tersebut ditegaskan dalam UU No.10/2009 tentang Kepariwisataan; Dimana pada pasal 14 (1) Usaha pariwisata meliputi, antara lain: (h) penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran.

Esthy mengatakan, dalam penjelasan Pasal 14 ayat 1 Huruf (h) yang dimaksud dengan “Usaha penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran,” adalah usaha yang memberikan jasa bagi suatu pertemuan sekelompok orang, menyelenggarakan perjalanan bagi karyawan dan mitra usaha sebagai imbalan atas prestasinya, serta menyelenggarakan pameran dalam rangka menyebarluaskan informasi dan promosi suatu barang dan jasa yang berskala nasional, regional, dan internasional.

“Oleh karena itu kami akan berkonsentrasi menggarap destinasi MICE, terutama di 10 Bali Baru” ujarnya. Hidayat menambahkan, MICE itu market-nya besar atau size-nya besar, spread atau spendingnya besar, dan sustainabilitasnya juga besar.

Kata Hidayat, sekarang adalah momentum sektor MICE untuk mengukir sejarah di pariwisata. Dan gambarannya sudah terlihat jelas sejak 2016. Hampir seluruh primadona devisa negara terjun bebas. Minyak dan gas bumi, batu bara, serta minyak kelapa sawit, sedang meredup. Sementara industri pariwisata nasional justru melompat tinggi dan membawa efek domino yang menggerakkan beragam bidang ekonomi.

“Banyak pihak mulai melirik destinasi MICE di Indonesia. Punya alam yang indah, dan paket yang menarik dengan kombinasi aktivitas MICE dan tourism,” ujar Hidayat.

Menteri Pariwisata Arief yahya mengatakan, MICE termasuk menggerakkan roda ekonomi. MICE jadi makin terlihat seksi lantaran jumlah pesertanya banyak, partisipannya adalah decision marker, length of stay-nya panjang, media coverage-nya luas dan spendingnya sangat tinggi. (*)

 

Garuda Indonesia Boyongan ke Terminal 3 Ultimate, per 1 Mei

0
Salah satu sudut terminal 3 ultimate Bandara Soetta. Sumber Foto: lapakfjbku.com

Terhitung mulai 1 Mei mendatang, penerbangan internasional Garuda Indonesia akan pindah ke terminal baru. Dari Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta (SHIA) ke Terminal 3 Ultimate.

Garuda Indonesia sebenarnya sudah menggunakan Terminal 3 Ultimate sejak Agustus 2016 untuk penerbangan domestik. Namun, mulai 1 Mei 2017 pukul 00.00, seluruh penerbangan internasional maskapai pembawa flag carrier itu akan dilayani di Terminal 3 Ultimate.

Pindah terminal ini, sudah disampaikan Menpar Arief Yahya saat Roadshow ke AP II lalu. Setelah itu, anggota SkyTeam juga akan berpindah ke Terminal 3 yang acap disebut Tourism Airport atau Gerbang Pariwisata Indonesia itu.

“Mulai 1 Mei 2017,  penerbangan Internasional Garuda Indonesia akan pindah dari Terminal 2 ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin.

Dia memerinci, untuk penumpang first class, business class, dan pemegang GarudaMiles Platinum dipersilakan menggunakan Gate 1 pada area keberangkatan. Sedangkan untuk penumpang kelas ekonomi agar menggunakan Gate 2 pada area keberangkatan.

Menurut Awaluddin, area check in Garuda Indonesia menempati area Island A. Untuk penumpang first class, business class dan pemegang GarudaMiles Platinum agar melakukan check in di Island A, konter nomor 1-13 atau konter premium Garuda Indonesia.

“Untuk penumpang economy class lainnya agar check in di Island A, konter nomor 14-26,” sebut mantan direktur di Telkom itu.

Lebih lanjut Awaluddin menjelaskan, bagi para calon penumpang yang membawa bagasi berukuran besar atau oversize agar melakukan check in di Island A dan menuju konter OOG yang berada di antara Island C dan D. “Bersebelahan dengan lokasi OOG domestik,” sebutnya.

Khusus untuk konter check-in penerbangan internasional akan ditutup 60 menit sebelum waktu keberangkatan.

“Perhatikan waktu keberangkatan agar terhindar dari keterlambatan atau tertinggal pesawat,” pinta Awaluddin.

PT AP II juga menerapkan keamanan ekstra di Bandara 3 Ultimate. Selain pemeriksaan keamanan di pintu masuk menjelang check in, ada pula security check point jelang area ruang tunggu keberangkatan.

“Tersedia jalur pemeriksaan kemanan SkyPriority bagi penumpang first class, business class dan paltinum di sisi paling kanan,” katanya.

Sedangkan untuk area pemeriksaan imigrasi berada setelah pemeriksaan keamana kedua. Di area pemeriksaan imigrasi sini ada dua sistem yang diterapkan bagi penumpang warga negara Indonesia.

“Bagi penumpang WNI dapat menggunakan self-service counter atau pemeriksaan manual oleh petugas,” tuturnya.

Setelah melewati area pemeriksaan imigrasi, penumpang berada di area boarding lounge dan business class lounge. Bagi penumpang first class, business class dan pemegang GarudaMiles Platinum diarahkan turun menggunakan eskalator sisi kanan atau lift menuju lounge di Lantai Mezzanine.

“Penumpang economy class dapat turun menuju ke boarding lounge dengan menggunakan eskalator di sisi kiri  menuju ke Lantai 1 area boarding lounge,” kata Awaluddin menjelaskan.

Yang juga perlu diperhatikan penumpang internasional Garuda Indonesia di Terminal 3 Ultimate adalah gate. Saat ini Terminal 3 Internasional hanya mengoperasikan 6 gate, yaitu Gate 5 sampai dengan Gate 10. “Jadi mohon memeriksa boarding pass sesuai penerbangan,” pinta Awaluddin.

Dia mewanti-wanti para penumpang untuk memperhatikan waktu boarding. Sebab, Terminal 3 Ultimate memiliki area boarding lounge yang luas dan  terbuka.

Selain itu, jumlah papan pengumuman untuk boarding juga masih terbatas. “Maka penumpang disarankan duduk di area gate sesuai nomor penerbangan,” tuturnya.

Lantas, bagaimana dengan penumpang internasional Garuda yang baru tiba di Terminal 3? Para penumpang yang keluar dari pesawat akan diarahkan ke area pemeriksaan imigrasi. “Tersedia self-service counter atau menggunakan manual counter dengan pemeriksaan oleh petugas,” sebut Awaluddin.

Selanjutnya, penumpang menuju area pengambilan bagasi yang menyediakan enam conveyor belt. “Pastikan anda berada di conveyor belt sesuai nomor penerbangan. Selanjutnya keluar melalui area pemeriksaan Bea dan Cukai sebelum menuju keluar area kedatangan,” tuturnya.

Bagi penumpang yang menggunakan fasilitas penjemputan dengan kendaraan pribadi bisa keluar dari area bea cukai  melalui gedung parkir A pada area internasional yang berada di sebelah kanan sisi gedung terminal. Lokasi penjemputan ideal berada di lobi lantai 3.

“Sedangkan untuk pengguna moda transportasi umum bisa menggunakan bus di depan Gate 1-2, atau taksi di Gate 2-5 terminal kedatangan,” ujar Awaluddin. (**)

Wanita Ini Lakban Narkoba di Perut

0
Kapolresta Barelang AKBP Hengki (kanan) memberikan keterangan dan menunjukan barang bukti narkoba saat ekpos di Mapolresta Barelang, Rabu (26/4/2017). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Dua pengedar narkotika jenis sabu jaringan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lahat, Sumatera Utara, Ratna dan Indra ditangkap petugas Bea Cukai dan personel Satuan Narkoba Polresta Barelang. Dari keduanya, tim gabungan ini mengamankan 709 gram sabu siap edar dan 100 butir pil ekstasi.

Keduanya ditangkap terpisah, Ratna diamankan di Pelabuhan Internasional Batamcenter, Jumat (21/4/2017) lalu. Pada saat penangkapan itu, ia baru saja sampai di Batam dari Stulang Laut, Malaysia. Penangkapan terhadap Ratna, bermula pada saat ia melewati pintu x-ray pelabuhan.

“Setelah dia melakukan cop paspor, kemudian petugas bea cukai mencurigainya saat melewati pintu x-ray,” ujar Kapolresta Barelang AKBP Hengki, Rabu (26/4/2017) pagi.

Atas kecurigaan itu, kemudian dilakukan pemeriksaan oleh petugas Bea dan Cukai. Dari hasil pemeriksaan itu, ditemukan narkotika jenis sabu seberat 709 gram beserta 100 pil ekstasi di tubuhnya. Sabu di tubuh Ratna itu dikemas ke dalam 37 kantong plastik dan pil ekstasi dikemas ke dalam dua kantong plastik.

“Sabu itu disimpannya di dekat perutnya dengan cara dilakban,” jelasnya.

Atas temuan itu, kemudian petugas Bea dan Cukai menggelandang Ratna ke Kantor Bea dan Cukai di Batuampar, guna penyelidikan lebih lanjut. Dari keterangan Ratna, rencananya sabu dan pil ekstasi itu akan dibawanya ke Palembang dan akan diberikan kepada seseorang yang bernama Indra.

Mendapati keterangan dari Ratna, kemudian petugas Bea dan Cukai melakukan koordinasi dengan Satres Narkoba Polresta Barelang untuk membekuk Indra di Palembang. Pada Jumat (21/4), petugas Bea dan Cukai bersama dengan personil Polresta Barelang yang berjumlah 10 orang langsung berangkat menuju ke Palembang.

“Tersangka Indra ini kita tangkap pada Minggu (23/4) paginya,” jelas Hengki.

Sementara itu, sumber Batam Pos mengatakan, Ratna dan Indra dikendalikan oleh seseorang yang berada di dalam Lapas Lahat. Ratna, pengguna kelas berat, diminta oleh tahanan kasus narkoba itu untuk membeli sabu dan pil ekstasi ke Malaysia dan selanjutnya diberikan kepada Indra.

“Pengendalinya Fajar yang berada di Lapas Lahat. Sementara Indra ini, dia istilahnya hanya sebagai “gudang”. Setelah sabu itu diberikan Ratna, nanti Indra ini yang akan membagikannya sama pengedar,” kata sumber tersebut.

Ia juga menjelaskan, penangkapan terhadap Indra sempat terjadi tarik ulur. Tim gabungan meminta untuk Ratna bertransaksi dengan Indra di salah satu hotel mewah di Palembang. Namun, permintaan itu ditolak oleh Indra, ia bersikeras untuk melakukan transaksi di jalan.
“Setelah dibujuk, akhirnya Indra ini mau transaksi di hotel. Dia langsung diamankan setelah sabu dan pil ekstasi itu berada di tangannya. Mereka transaksinya di salah satu lobi hotel mewah,” ucapnya. (cr1)

Main Paralayang di Pantai Modangan Kabupaten Malang

0
Atlit Paralayang Persiapan Meluncur di Bukit Setinggi 250 meter (Falahi Mubarok/Jawa Pos Radar Malang)

Pantai Modangan, Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kab Malang memperkaya diri sebagai spot wisata dirgantara dengan mengusung paralayang.

Bila dibandingkan dengan Bukit Timbis di Bali dan Pantai Parangtritis, Jogjakarta, justru lokasi di Pantai Modangan ini sangat strategis.

Landasan pacunya yang terletak di atas tebing yang berbatasan langsung dengan bibir Pantai Modangan. Bahkan, para atlet terbang bebas menjuluki lokasi yang belum genap sebulan dibuka itu sebagai surganya paralayang.

Pasalnya, pantai dengan pasir putih sepanjang 1,06 kilometer tersebut bisa menjadi pendaratan yang nyaman para olahragawan Paralayang. Belum lagi birunya laut pantai selatan menjadi pemandangan yang menarik. Ditambah dengan perbukitan hijau yang membentang, hutan yang masih perawan, sampai air terjun yang terlihat jelas dari atas. “Itu kenapa saya berani menyebutnya sebagai surganya paralayang,” kata Ridwan Asnan, instruktur paralayang yang menjadi salah satu pembuka spot paralayang Pantai Modangan.

Kelebihan lain dari Pantai Mondangan ini diantaranya, pemandangan dari atas bukit Waung dengan ketinggian kurang lebih 210 meter dari permukaan air laut (mdpl) benar-benar menawan. “Kalau angin bagus, kami bisa bermain lama-lama di atas. Mulai jam 10 pagi sampai sore  terbang terus,” kata pria yang akrab disapa Abah ini.

Menurut dia, potensi Modangan sangat besar. Karena dari pencarian selama ini, mulai dari Trenggalek, Tulungagung, Blitar, hingga Jember, belum ada yang sebagus Mondangan. “Di sini ini yang baru saya temukan, sudah 20 tahun mencari lokasi untuk paralayang. Jadi kalau di sini tidak segera dibangun ya sayang,” kata dia.

Haris Effendy, salah satu atlet paralayang yang ikut membuka Paralayang di Modangan mengatakan, potensi pemuda daerah harus dikembangkan. “Saat ini kami membangun potensi pemuda desa sini untuk belajar olahraga paralayang. Kami ajarkan pada penduduk sini. Agar suatu saat nanti ada atlet Paralayang dari sini. Bagi saya itu sangat mungkin, jangan rendah diri meski hanya lulusan SD, atau latar belakang apapun. Asal ada kemauan semuanya bisa Paralayang,” kata dia.


Dua Atlit Paralayang di atas pantai Modangan (Falahi Mubarok/Jawa Pos Radar Malang)

Pria yang juga Staff Dinas Pariwisata Kota Batu itu menambahkan, baginya di Modangan ini adalah aset besar. “Jangan sampai pemudanya hanya duduk manis, ini butuh semua peran. Ada potensi besar harus di kembangkan bersama,” ujar Haris.

Senada dikatakan, Budi Utomo kepala Desa Sumberoto mengatakan, berharap nantinya ada bantuan untuk  pengembangan Paralayang Modangan. “Terutama akses jalan, kalau hanya Desa yang membangun jalan akses, pasti berat,” katanya.

Sementara Made Arya Wedanthara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang mengatakan mendukung sepenuhnya aktifitas destinasi wisata baru di Pantai Modangan. “Kami akan support. Karena itu memang destinasi wisata pantai  baru, apalagi untuk olahraga dirgantara. Jadi masih akan kami survei untuk fasilitas jalan yang menuju ke sana,” katanya.

Menpar Arief Yahya berharap destinasi baru itu segera mendapat perhatian, minimal oleh Pemkab dan Pemprov. Agar segera dicarikan solusi untuk 3A, Atraksi, Akses dan Amenitas. Rumus 3A milik Menteri Arief Yahya itu adalah prasyarat sebuah destinasi dikembangkan. “Ketiganya harus utuh terintegrasi dengan baik! ” ujar Arief Yahya.  (*)

Ini Tujuh Titik Jalan yang Akan Dilebarkan

0

batampos.co.id – Dinas Bina Marga (DBM) Kota Batam masih fokus mengerjakan tujuh proyek pelebaran jalan sepanjang 10.550 meter pada tahun 2017 ini. Sehingga pengaspalan dua proyek pelebaran jalan yang sudah selesai dikerjakan pada tahun 2016 akan dilakukan bertahap.
“Kita lakukan bertahap. Sebagai contoh simpang BNI ke Bundaran Madani, kita tuntaskan sekalian pengaspalan. Hanya saja sebelum diaspal, kita tambah dulu lebarnya,” kata Kepala Dinas Bina Marga (DBM) Kota Batam, Yumasnur, Rabu (26/4/2017).

Yumasnur menyebutkan, jalan tersebut saat ini masih tiga lajur, dan masih dalam tahap pengerjaan menjadi empat lajur. “Setelah itu (empat jalur) baru diaspal. Sesuai target, pelebaran dan pengaspalan selesai tahun ini juga,” janjinya.

Kemudian dari simpang CIMB Niaga menuju Pelita pada tahun ini direncanakan selesai pengaspalan. Lalu, simpang Planet menuju simpang The Hill akan dibuka dan dilebarkan. “Belum langsung diaspal,” tuturnya.

Sama halnya dengan simpang Telkom-Irinko, jalan dibuka dulu, kemudian dilebarkan sebelum akhirnya diaspal. “Sebagian jalan sudah ada yang dicor, cuma bertahap. Sesuai kemampuan keuangan daerah,” jelasnya.

Tujuh titik pelebaran jalan yakni Simpang Lippo-Pelita Telkom sepanjang 800 meter, underpas-Simpang Telkom-Irinko 1.450 meter, bundaran Hotel Planet-Simpang The Hill 800 meter, Simpang Baloi Center-Simpang Apartemen Harmoni 1.500 meter. Dua program lanjutan, yakni Simpang BNI-Bundaran Marina 1.500 meter, Simpang Jam-Simpang BNI 1.500 meter dan satu jalan dibangun oleh Dinas Provinsi Kepri, yaitu Simpang Frenki-Simpang BNI-underpas sepanjang 3 kilometer.

“Pembangunan dan pelebaran jalan ini diharapkan bisa mengurai kemcetan yang sering terjadi di Kota Batam,” sebut Yumasnur. (rng)

Gula Rafinasi Bebas Beredar, Ini Ciri-cirinya

0

batampos.co.id – Masyarakat Kota Batam harus lebih hati-hati membeli gula. Sebab, gula rafinasi banyak beredar dan dijual bebas. Padahal, gula kristal putih yang masih mentah dan telah mengalami proses pemurnian untuk menghilangkan molase ini, tidak layak dikonsumsi karena kandungan glukosanya sangat tinggi.

Ketua Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (DPP APEGTI) Kepri, Nurbaini mengatakan, peredaran gula rafinasi di Kepri, khususnya Batam cukup mengkhawatirkan.

ilustrasi

“Kepri dan Batam sama saja, hampir seluruh wilayah tersebar gula rafinasi. Banyak dijual di pasar dan supermarket,” kata Nurbaini di Hotel Harris, Rabu (26/4/2017).

Dikatakannya, kandungan yang ada pada gula rafinasi sangat berbahaya. “Gula ini sangat berbahaya, apalagi kalau dikonsumsi rutin. Bisa menyebabkan kematian,” terangnya.

Secara kasat mata ada perbedaan antara gula layak konsumsi dengan rafinasi. Gula rafinasi memiliki tekstur yang halus, antara satu butir dengan butir lainya tidak sama. Bahkan, jika dipegang ada yang berbentuk serbuk atau tepung.

“Warna gula rafinasi ada dua, putih dan kuning. Kalau beli gula, lihat teksturnya,” kata Nurbaini mengingatkan.

Menurut dia, hampir seluruh gula rafinasi didatangkan dari luar Indonesia secara ilegal. Padahal pemerintah Indonesia melarang impor gula. “Gula ini bukan disalurkan melalui Bulog (Badan Urusan Logistik), tapi biasanya masuk dari luar negeri. Karena itu banyak yang di-packing menggunakan bungkus palsu,” bebernya.

Karena itu, ia berharap masyarakat lebih awas dalam membeli dan mengkonsumsi gula. Jika membeli, lihatlah bungkus yang ada tanda SNI (Standar Nasional Indonesia) dan memiliki tekstur yang sama. “Biasanya jelang bulan puasa ini, makin banyak beredar. Dan kita minta masyarakat waspada,” sebutnya.

Untuk itu, Nurbaini berencana meminta bantuan Gubernur Kepri dalam hal pengawasan keberadaan gula rafinasi di Kepri. Tim tersebut bisa melibatkan berbagai instansi mulai Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag), Bea dan Cukai, Kepolisian hingga TNI.

“Masih akan kita ajukan untuk pembentukan tim monitoring. Kenapa baru sekarang, karena saya baru dilantik beberapa bulan ini. Dan pengawasan ini harus secepatnya dilakukan,” jelas Nurbaini. (she)

Air Terjun di Tengah Kota Semarang

0

Berada di RT 4 RW 4 Desa Karang Joho, Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, terdapat sebuah curug atau air tejun yang belakangan ini heboh di jagad media sosial. Namanya: Curug Karang Joho.

Kini sedang nge-hits setelah ramai dikunjungi masyarakat. Memiliki ketinggian 20 meter, seakan menjadi oase tersendiri bagi warga perkotaan yang menginginkan suasana gemercik air dan suasana pedesaan.

Sebetulnya, lokasi curug tersebut tidak jauh dari perkampungan. Namun cukup tersembunyi karena terletak di cekungan bukit dan tertutup rimbun pepohonan. Untuk menuju lokasi, dari Semarang menuju arah Lapas Kedungpane lalu masuk jalan arah Gondoriyo sampai jembatan Sungai Gondoriyo. Dari situ melewati gang Kampung Gondoriyo RT 4 RW 4 yang merupakan gang buntu berbatasan dengan tebing berbukit.

Pemkot Semarang juga sudah memperlebar jalan akses utama menuju curug sehingga kendaraan roda empat pun sampai lokasi. Ketua RW 4 Kelurahan Gondoriyo, Ali Ihsan menyampaikan sebetulnya warga setempat sudah lama mengetahui curug ini. Hanya saja belum terbesit akan potensinya sebagai obyek wisata.

“Warga setiap hari melintasi jalanan curug, bahkan memanfaatkan air curug untuk memandikan kerbau. Tapi warga menganggap ini aliran air sungai biasa,” katanya.

Dia juga baru sadar ada informasi viral di media sosial telah mengangkat pamor Curug Karang Joho. Sehingga sekarang menjadi obyek wisata yang ramai. Sabtu- Minggu pengunjung mencapai 300-400 orang. “Ada yang selfie, duduk-duduk menikmati alam, bahkan anak-anak juga mandi di bawah aliran curug yang curam,” katanya.

Dia mengatakan aliran sungai dijamin aman karena sungai Gondoriyo yang merupakan daerah aliran sungai (DAS) dari beberapa sungai kecil yang berada di daerah Bukit Semarang Baru (BSB).

“Kami bersama komunitas DAS sudah susur aliran sungai, dan aman dari hulu, jadi pengunjung tak usah khawatir, jika hujan hanya air yang tampak keruh,” katanya.

foto: pictaram.com

Selain menikmati aliran air curug, pengunjung bisa santai duduk di bebatuan besar sungai. Warga sekitar juga telah membuka akses jalan menuju curug dengan tangga bambu dan penataan jalan karena menuju lokasi jalanan sedikit curam.

“Karena ini tanah beberapa warga, kami telah rembugan untuk adanya pembebasan tanah. Karena setelah dikaji dari Kelompok Sadar Wisata, disini bisa dikembangkan menjadi beberapa atraksi seperti rafting, outbond, flying fox dan water boom,” ujarnya.

Curug Joho juga dilengkapi dengan eksotisme berupa gua kuno. Konon di dalam gua terdapat arca-arca. Dimana jaman dahulu difungsikan sebagai tempat berlindung saat peperangan. Gua tersebut juga diyakini warga memiliki kekuatan gaib sebagai pintu menembus ke daerah Kaliwungu Kendal.

“Gua dalamnya 4 meter, ada patung arca meski sudah rusak, diatas gua ada aliran air sebagai aliran irigasi dimana disambung dengan kayu jati kuno dengan penanda batu besar diatas bukit,” katanya.

Dia juga menyebut keberadaan kayu jati itu sebagai talang pengambung air yang sudah ada sejak lama. “Bahkan orang tua saya juga tak tahu ceritanya karena memang sudah ada sejak nenek moyang,” katanya.

Dia bersama warga tiga kelurahan yakni Gondoriyo, Wates, dan Beringin kini tengah mengkonsep sebuah destinasi wisata alam-budaya. Dimana di tiap tahunnya sudah ada atraksi gelar budaya berupa resik-resik selokan irigasi sawah.

“Kedepan akan kami buat semacam kirab budaya, ada ceritanya, dan ini sebenarnya sudah turun temurun dilakukan tiap tahun, hanya saja akan kita konsep yang lebih bagus dan menarik,” ujarnya.

Seorang pengunjung Artika Mayang (18), mengaku surprise dengan adanya Curug Karang Joho yang berada masih disekitaran perkotaan. Informasi dia dapat dari media sosial Instagram dan Facebook.

“Lokasinya gampang dituju, ini bagus untuk wisata perkotaan, tempatnya unik karena menyimpan potensi wisara yang besar dan bisa dikembangkan,” katanya.

Menpar Arief Yahya mengingatkan, sebagai destinasi yang baru dikenal, sebaiknya dijaga bersama. Jangan sampai ruaak, jika perlu diperbaiki fasilitas publiknya.

“Semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,” ujar Arief Yahya. (*)

Tempat Pembuangan Akhir Sampah Jadi Destinasi Wisata

0

Pembaca, rupanya Tempat Pembuangan Akhir Sampah bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata.

Contohnya  di TPA Sukoharjo, Kabupaten Pati Jawa Tengah.

Jika umumnya TPA kumuh dan bau tak sedap, tapi TPA di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo ini malah menjadi obyek wisata. Kok bisa?

Ya, TPA ini disulap menjadi arena hiburan satwa dan mainan anak.  Mereka sukses mengubah image TPA menjadi obyek wisata, dan ini membuat masyarakat berbondong-bondong mencari hiburan di TPA seluas 12,5 hektar tersebut.

Hampir setiap harinya, ratusan orang baik personal maupun rombongan sekolah mengunjungi lokasi sampah yang sudah mirip kebun binatang itu. Banyak aneka satwa yang dipelihara disana. Ada aneka burung, kera, ayam, kijang dll. Arena mainan anak, tanaman buah dan berbagai jenis bunga taman. Dilengkapi wahana bermain seluas 1 ha, lapangan tembak, musholla, MC, dan kios yang menjual jajanan dan oleh oleh.

“Para penjual jajanan itu merupakan pihak keluarga para pekerja yang bekerja di TPA Sukoharjo,” kata pengelola TPA Sukoharjo, Agus Sudarmono sambil merinci jumlah petugas yang dilibatkan dalam pengelolaan TPA itu.

Pekerja yang terlibat terdiri 18 orang tenaga harian dan 4 PNS dari DPUPR Pati. Mereka ini yang mengelola TPA, dari bagian penggalian lubang, pengelolaan gas metan, perawatan hewan dan taman, serta timbangan sampah.

Menurut Agus, TPA Sukoharjo setiap harinya menampung 60 ton sampah yang berasal dari kota Pati, kecamatan Wedarijaksa, Trangkil dan Gabus.

“Tetapi kalau pas ada hari besar nasional atau keagamaan, terjadi peningkatan sampai 20%” ujar alumnus Universitas Widya Mataram Yogyakarta ini.

foto: aps18.com

Adapun sampah yang berasal dari Kecamatan Juwana yang jumlahnya diperkirakan mencapai 20 ton, dikelola TPA Pekuwon. Sedang sampah dari Kecamatan Tayu dan Margoyoso ditangani di TPA Sampok Kecamatan Gunungwungkal. TPA Sukoharjo dibuat pada tahun 1985 oleh mantan Bupati Pati Saoedji.

Kemudian ditata lebih rapi sejak tahun 1994. Kemudian sejak tahun 2002, dikelola maksimal pihak DPU Pati, karena untuk mendukung penilaian Adipura.

Hasilnya memang sangat luar biasa. Karena pada tahun 2017 atau masuk tahun ke delapan dalam partisipasi (penilaian) Adipura, posisi TPA Sukoharjo ternyata mampu menghantarkan kabupaten Pati merebut juara kategori kota kecil.

Pada awalnya, TPA Sukoharjo menangani sampah dengan sistim Open Dumping. Yaitu sampah ditumpuk dan tidak ditutup. Lalu ditangani dengan sistim Control Landfield, yakni gundukan sampah ditutup dengan jeda waktu setiap dua hari sekali.

“Penutupan sampah dimaksudkan supaya mematikan perkembangan lalat dan menyalurkan gas” katanya.

Sekarang TPA Sukoharjo menggunakan sistim Sanitary Landield. Sistem ini memasukkan sampah ke dalam lobang namun hanya sampah jenis organik atau yang terdiri dari daun saja.

Kepala DPUPR Pati, Ir H. Suharyono menambahkan, anggaran untuk Sanitary Landfiled didapat dari bantuan APBN sebesar Rp. 15 miliar.

“Namun untuk penambahan jumlah satwa ternyata sulit dilakukan, karena jika mau menambah harus ada ijin khusus dari Menteri Lingkungan Hidup,” kata Suharyono.

Adapun sampah di TPA Sukoharjo ini diolah di tiga kawasan. Zona pertama dan ke dua sudah tidak aktif lagi karena lobangnya sudah ditutup. Sehingga yang aktif hanya di zona seluas 1,5 ha. Pelobangan mencapai kedalaman 12 meter.

Lalu dibuatkan tanggul setinggi 15 m (sistim terasiring) karena untuk menahan bau dan lalat. Keberadaan TPA Sukoharjo Pati saat ini menjadi yang terbaik di pulau Jawa, karena berhasil mengalahkan pengelolaan sampah di Bandargebang Jakarta Timur. Maka tidak heran kalau TPA Sukoharjo sekarang ini berubah menjadi distinasi wisata baru.

Menpar Arief Yahya menyebut, pengelolaan sampah itu sangat penting dan mendesak di semua kota. Healty and Hygiene itu satu dari 14 pilar yang dikalibrasi TTCI Travel and Tourism Competitiveness Index, oleh WEF World Economic Forum.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, maka ini menjadi faktor pelemahan daya saing pariwisata Indonesia,” kata Arief Yahya.

Selain itu, sampah bisa diubah menjadi energi listrik atau green energy. Mengubah gas metan yang bisa merusak lingkungan, menjadi energi yang ramah lingkungan. Juga bisa menjadi kompos yang bermanfaat buat tanaman.

“Saya kira sudah saatnya semua kota memikirkan manajemen sampah yang baik dan sehat,” kata Arief Yahya. (*)

Kemenpar Mencari Formula Mengembangkan Wisata Budaya

0

Kemenpar menggelar acara FDG (focus group discussion) di Hotel Akmani, 25-27 April 2017. Tujuannya merumuskan formulasi percepatannya wisata budaya.

Terutama Penyusunan Pedoman Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Program di 10 Destinasi Prioritas yang oleh Menpar Arief Yahya sering dinamai 10 Bali Baru.

“Kami ingin mencari solusi problem bottlenecking Bidang Promosi Budaya di 10 destinasi prioritas. Tahun 2017 ini harus clear semuanya,” ujar Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti, yang didampingi Plt Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, Hariyanto, Rabu (26/4).

Urusan budaya memang tak ingin dilewatkan begitu saja oleh Esthy. Maklum, 60 persen wisman yang datang ke Indonesia karena budaya. Sebanyak 35 persen karena alam atau nature, dan 5 persen man made, seperti MICE -meeting, incentive, conference-exhibition, lalu sport tourism, showbiz, dan buatan manusia yang lain.

Potensinya? Sangat besar. Ragam budaya di Indonesia sangat kaya. Setidaknya ada 1.340 suku bangsa yang bisa dieksplor di lebih dari 17.000 pulau, 34 propinsi, 416 Kabupaten dan 98 kota di Indonesia. Ribuan suku tadi juga menyimpan 583 bahasa dan dialek yang berbeda-beda. Ditambah lagi, 8 world heritage sites by UNESCO ada di sini.

Empat di antaranya cultural. Sementara empat lainnuya dari unsu natural. “Kalau dari sisi atraksi, maka budaya kita sudah sangat kuat,” ujar Esthy.

Semua  stakeholder yang terkait budaya dan destinasi prioritas pun diajak berdiskusi. Sharing info. Sharing knowledge. Semangatnya satu. Indonesia Incorporated: for better cultural.

Benchmarkingnya bisa melihat Thailand dan Malaysia. Mereka sangat serius menggarap budaya. Hasilnya ternyata sangat dahsyat,” ujar  PIC Kota Tua dan Kepulauan Seribu Kemenpar, Dodi Riadi.

Untuk urusan ini, Dodi memilih mengarahkan pandangan pada Sukhothai Old City Thailand yang sudah ditetapkan sebagai UNESCO Heritage Site. Saat digarap serius dengan standar dunia, di 2014 saja destinasi budaya di Thailand itu dikunjungi 1 juta wisman dalam satu tahun.

Kota Malaka dan Georgetown Penang di Malaysia juga tak kalah okenya. Sebagai UNESCO Heritage Site, destinasi tadi dikunjungi 3,9 juta wisman pada 2014 silam. Raihannya sangat kontras bila dibanding dengan capaian Kota Tua Jakarta di tahun yang sama. Sebagai The Most Unique Historical Site yang menjadi UNESCO nomine, kawasan Kota Tua Jakarta hanya mampu menyedot 116.461 wisman per tahun.

“Kita kurang kreatif. Tak punya calender of event. Setiap destinasi pariwisata, sejarah, religi, seni dan tradisi di Indonesia harus memanfaatkan unique resources of culture in Indonesia melalui destination management. Tata kelola destinasi wisata sejarah, religi dan seni budaya agar mampu bersaing di internasional dan mencapai value terbaik,” ujar Dodi.

Sadar  tak bisa berjalan sendirian, unsur Pentahelix pun lain pun ikut diajak bergotong royong menuntaskan masalah ini. Istilahnya Indonesia Incorporated. Hasilnya? Focus, speed dan diferentation menjadi competative strategy yang ingin didorong. Fokusnya mengarah ke wisata sejarah, religi, seni dan tradisi. Ini dibidik lantaran portofolio culture tourism yang memiliki revenue growth dan value tinggi.

Setelah itu, unsur speed juga tak boleh ditinggalkan. Semua lini harus cepat memberikan kemudahan dan informasi bagi wisatawan sejarah, religi, tradisi dan seni budaya.

Satunya lagi differentation. Ada unsur pembeda. Harus ada pengembangan tourist product di wisata sejarah, religi, tradisi dan seni budaya. “Caranya bisa melalui partnership antara pemerintah daerah dengan pelaku industri pariwisata budaya. Harus ada total collaboration dengan semua lini,” ujar  Dodi.

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, ikut menyimak FGD ini. Menurutnya, budaya sangat penting  untuk membangun sebuah kawasan pariwisata.

“Sejak mendesain awal, kami melihat sisi budaya sebagai sebuah kekuatan. Semakin suatu budaya dilestarikan, maka akan semakin menyejahterakan masyarakatnya. Ini dapat dikaitkan dengan komersialisasi budaya yang bisa menarik orang dan membuat mereka mau membayar,” ucap Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI.

Cara menjadi pemenang yang terbaik, tercepat dan paling cerdas adalah benchmark. Menempatkan rival atau pesaing sebagai tolak ukur. Kemudian melihat apa yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh lawan.

Membandingkan dengan yang kita lakukan. Lalu dengan cara apa bisa mengalahkan rival di regional yang sama? Bagaimana mengejar ketertinggalan? “Benchmarking dengan Thailand dan Malaysia sudah tepat. Acara pertunjukan budaya dalam bentuk festival atau apapun bentuknya, yang melibatkan banyak penonton, sangat diperlukan. Ini akan membuat daerah menerima pendapatan. Jadi, semakin banyak festival maka akan semakin sejahtera, dengan syarat cultural event itu harus punya comercial value,” katanya.

Contoh riilnya sudah ada. Di Indonesia, ada Bali dan Kepri yang memiliki pendapatan per kapita tertinggi di Indonesia. Begitu juga Banyuwangi dan Solo. “Bali, Kepri, Solo dan Banyuwangi mampu memanfaatkan potensi budaya dan alam mereka menjadi barang komersial yang menyejahterakan dalam bidang ekonomi,” ucap menteri asal Banyuwangi itu.

Selain menyejahterakan dalam bidang ekonomi, komersialisasi budaya dan potensi alam juga bisa membuat masyarakatnya bahagia. “Bali juga termasuk daerah dengan indeks kebahagiaan tertinggi. Nilai perekonomian dan kebahagiaan itu yang menyejahterakan,” pungkasnya. (*)

 

Kemen PU-PR Bantu Realisasikan Homestay Danau Toba, Tanjung Lesung dan Bromo-Semeru-Tengger

0

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU PR) melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan dan BTN yang ikut ambil bagian pada pergerakan pariwisata tanah air.

Langkah konkritnya, menggarap Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah tidak layak huni di sekitar lokasi wisata Danau Toba, Tanjung Lesung  dan Bromo-Semeru-Tengger. Di tiap masing-masing lokasi wisata tersebut akan ada 100 rumah yang mendapatkan BSPS dengan nilai Rp 15 juta per rumah.

“Tahun 2017 ini kami akan start. Kami akan fokus menggarap homestay di sekitar lokasi wisata Danau Toba, Tanjung Lesung dan Bromo-Semeru-Tengger,” papar Direktur Perencanaan Penyediaan Perumahan Ditjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, Dedy Permadi, Rabu (26/4).

Kucuran dana pun siap digelontorkan. Masing masing lokasi tersebut nantinya akan diberikan stimulan dalam program BSPS sekitar 100 rumah dengan bantuan sekitar Rp 15 juta per rumah.

Yang dibidik, apalagi kalau bukan peningkatan kualitas rumah penerima bantuan di wilayah destinasi wisata. Levelnya akan didorong naik kelas. Dari yang sebelumnya tidak layak huni menjadi layak huni.

“Dana maksimal per rumah mencapai Rp 15  juta dengan kriteria rumah rusak berat. Output kegiatan kami, rumah tesebut menjadi layak huni dan outcome-nya rumah tersebut bisa terhuni,” katanya.

Kementerian PUPR juga terus berupaya agar kegiatan terkait program infrastruktur dan perumahan bisa disinkronkan serta mendukung kegiatan di Kementerian lain seperti di Kementerian Pariwisata.

Dengan adanya bedah rumah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas tempat tinggalnya sehingga dapat membantu menarik wisatawan untuk berkunjung sekaligus mendukung Program Satu Juta Rumah.

ilustrasi

“Salah satu syarat dari kami untuk dapat memperoleh bantuan stimulan adalah rumah dan tanah tersebut milik sendiri. Ini untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dengan penghasilan maksimal Rp 2,3 juta,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR, Taufik Widjoyono juga ikut mengamin. Usai melakukan penandatanganan kerjasama antara Kementerian PUPR dan Bank BTN, dia menyampaikan bahwa bantuan stimulan atau bedah rumah dilakukan untuk meningkatkan kualitas rumah-rumah warga di sekitar lokasi destinasi wisata di Indonesia.

“Jika rumah masyarakat kondisinya baik dan sanitasinya juga baik tentu bisa menjadi homestay-homastay baru yang dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung,” katanya.

Direktur Utama BTN, Maryono mengatakan, BTN juga akan membiayai rumah-rumah penduduk yang dapat dijadikan sentra bisnis kepariwisataan di tiap destinasi. Menurutnya, kegiatan bedah rumah merupakan salah satu bagian dari Program Satu Juta Rumah dan untuk melaksanakan program itu BTN berikan fasilitas membangun rumah di 10 destinasi wisata.

Misalnya, ia melanjutkan, di 10 destinasi itu di sekelilingnya ada rumah-rumah dan toko yang bisa menjual souvenir, restoran, dan lain sebagainya, itu yang dibiayai melalui KPR (kredit pemilikan rumah).

Menpar Arief Yahya ikutan happy melihat keseriusan Kemen PU PR dan BTN dalam mensupport program prioritas Kemenpar 2017. Rumah layak huni tadi, menurut Menpar, bisa difungsikan sebagai penggerak ekonomi warga sekitar destinasi dengan disewakan kepada para wisatawan atau dijadikan tempat berjualan.

“Ini bisa membawa dampak ekonomi yang cukup besar. Jika rumah layak huni yang akan dibangun oleh BTN dan Kementerian PUPR itu disewakan dengan harga Rp 200 ribu semalam, maka pemilik rumah meraup keuntungan Rp800 ribu jika dua malam disewa pada tiap akhir pekan,” ucap Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI. (*)