Rabu, 1 April 2026
Beranda blog Halaman 13421

Pemkab Sukseskan Program e-Warong Kemensos RI

0

batampos.co.id – Pemkab Bintan, akan segera mendorong 3 Kecamatan yang ada di Kabupaten Bintan, sebagai daerah percontohan, guna mensukseskan program e-Warong Perdesaan (Program Warung Elektronik) dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Diantaranya, Kecamatan Toapaya, Kecamatan Teluk Sebong, serta Kecamatan Sri Kuala Lobam.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bintan Naharuddin, mengatakan alasan dipilihnya ketiga daerah tersebut, tentunya dikarenakan mempunyai akses internet yang lebih baik. Dimana hal itu merupakan syarat utama dalam penyaluran Program e-warong ke daerah.

Ia menjelaskan bantuan program e- warong tersebut merupakan bantuan dalam bentuk uang non tunai yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang tergabung dalam Program Keluarga Harapan (PKH).

“Nantinya masyarakat yang tergabung dalam program PKH non tunai ini akan mendapatkan kartu yang disubsidi setiap bulannya sebesar Rp 150 ribu,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Bintan, di Bandar Seri Bentan, Kamis (13/4).

Selain itu, kata Naharuddin dalam merealisasikan program tersebut, Kementerian Sosial RI juga menargetkan pada tahun 2019, sistem penyaluran bantuan yang termasuk dalam PKH, seperti RASTRA, KUBE, UEP, KIS dan KIP, di seluruh daerah di Indonesia dipastikan sudah berbasis internet, melalui Program e-Warong.

Maka dari itu, untuk daerah yang belum terakses internet, Dinas Sosial juga akan kembali mendata. Dimana dari data itu akan dilanjutkan oleh pemerintah daerah untuk di koordinasikan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, agar bisa segera menyiapkan koneksinya.

“Kartu Non Tunai tersebut bisa langsung di belanjakan di warung yang di koordinasikan di daerah. Namun hanya untuk membeli produk pangan yang sudah ditentukan jenisnya, yakni beras, gula, minyak goreng serta telur,” jelasnya.

Terpisah, Bupati Bintan Apri Sujadi, mengatakan terkait lemahnya interkoneksi internet di beberapa titik kawasan, khususnya Kecamatan Tambelan, dirinya telah menginstruksikan kepada jajarannya, melalui Dinas PMD, BPPD dan Bagian Kominfo, serta ditambah Dinas Sosial Kabupaten Bintan, untuk segera melaporkan ke Kementerian terkait, agar hal ini segera cepat diatasi.

Menurutnya, Pemkab Bintan saat ini juga mempunyai sejumlah program pelayanan kepada masyarakat yang tentunya membutuhkan dukungan akses penguatan jaringan internet, agar jalur birokrasi pelayanan dapat dengan cepat dilayani.

“Pemkab Bintan juga mempunyai program pelayanan serupa, seperti e-warong dari Kementerian Sosial ini. Dimana hal ini sangat membutuhkan akses internet yang kuat didaerah. Beberapa pelayanan yang akan kita gesa seperti e- puskesmas, e- desa, serta e-goverment yang akan berguna bagi pelayanan cepat kepada masyarakat,” ungkap Apri, usai melakukan kegiatan gotong royong di TPU Kijang, beberapa waktu lalu. (cr20)

Dukung Pertumbuhan Ekonomi, Pasar Tani Segera Dipercantik

0

batampos.co.id – Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, berencana segera merehab kembali Pasar Tani, yang menjadi tempat pendistribusian segala hasil pertanian, mulai dari sayur-sayuran, hingga buah-buahan dari masyarakat sekitar Toapaya.

Hal ini dilakukan, karena tampilan Pasar Tani saat ini dianggap belum menarik perhatian, sehingga penjualan hasil pertanian dari masyarakat masih belum maksimal.

“Insyaallah, secepatnya Pasar Tani segera direhab. Kami sudah mengusulkannya ke Musrembang Kemarin. Dan usulan itu salah satunya yang menjadi prioritas dari Kecamatan Toapaya,” ungkap Camat Toapaya, Riang Anggraini, di Agro Hermes Resort, Kamis (13/4).

Riang menjelaskan usulan tersebut, tentunya menjadi prioritas dikarenakan letak geografis Kecamatan Toapaya, yang sesuai dengan tujuannya, yakni Agropolitan. Dimana secara umum masyarakat di Toapaya, lebih didominasi berprofesi sebagai petani.

“Rata-rata sih masyarakat kami umumnya bertani. Itu pun didukung dengan wilayah yang hampir sebagian banyak lahan hijau. Sehingga pertumbuhan ekonominya lebih didominasi dari hasil pertanian,” jelasnya.

Menurutnya kondisi Pasar Tani, belum begitu menarik. Hal ini dapat dilihat dari minat pembeli serta penjual yang masih minim, sehingga penjualan dari hasil pertanian yang dihasilkan di Kecamatan Toapaya, belum maksimal.

“Sejauh ini kami melihat pasar tani belum memberikan peran yang maksimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi disini (Kecamatan Toapaya, red). Untuk itu, kami ingin mempercantik lagi desainnya, dan akan di pindahkan agak kedepan, sehingga akan lebih menarik minat pengunjung untuk membeli hasil pertanian masyarakat kita,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Riang, kekurangan lain yang masih menjadi kendala bagi masyarakat di Kecamatan Toapaya, adalah kersediaan pupuk bersubsidi yang sangat terbatas, sehingga menyulitkan masyarakat sekitar untuk bertani.

Namun, terkait dengan kekurangan persediaan pupuk bersubsidi ini, pihaknya juga sudah menyampaikan hal tersebut ke Pemkab Bintan, untuk selanjutnya dicarikan solusi.

“Kami sudah sampaikan persoalan ini ke pemerintah daerah. Mudah-mudahan ketersediaan pupuk ini bisa segera diatasi dengan cepat,” ungkapnya.

Riang juga menambahkan permasalahan tak kalah pentingnya yang masih terjadi di Kecamatan Toapaya, yakni ketersediaan lampu jalan yang masih belum mendukung.
Hal ini dikarenakan Jalan Lintas Barat tersebut merupakan jalan Nasional, sehingga pemerintah daerah belum bisa melakukan pengadaan lampu jalan disepanjang jalan lintas tersebut.

“Karena statusnya jalan nasional, pemerintah daerah belum bisa menganggarkan penyediaannya. Namun persoalan ini akan disampaikan ke Satuan Kerja (Satker) Kementerian terkait, untuk segera diajukan ke Musrembang Nasional. Mudah-mudahan bisa segera tercapai, agar penerangan jalan, khususnya di Kecamatan Toapaya, bisa terealisasi,” imbuhnya. (cr20)

Di Batam Ada SD Negeri Belajar hanya 2,5 Jam Saja

0
ilustrasi Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Tidak hanya dua sesi, sejumlah sekolah negeri di Batam bahkan menerapkan sistem tiga shift. Seperti yang terjadi di SDN 006 Seibeduk, Batam. Dengan jumlah murid sebanyak 1.511 anak, sekolah tersebut terpaksa membagi waktu belajar dalam tiga sesi per hari.

“Mau bagaimana lagi? Kelas kurang, guru juga kurang, tapi tuntutan orang tua yang memaksa anaknya masuk SD negeri sudah tidak dapat terbendung,” kata Kepala SDN 006 Seibeduk, Anwar, kemarin.

Dengan sistem tiga sesi ini, praktis jam belajar murid SDN 006 menjadi sangat singkat. Hanya 2,5 jam per hari.

Shift satu masuk dari pukul 07.30 sampai jam 10.00 WIB. Kemudian bergantian dengan sesi dua dari jam 10.00 sampai 12.30 WIB. Selanjutnya masuk kelas 5 dan 6.

“Jam pelajaran selesai sampai pukul 17.00 WIB,” kata Anwar.

Anwar menjelaskan, kondisi ini semakin buruk karena minimnya tenaga pendidik di sekolahnya. Dengan jumlah murid yang mencapai 1.511 anak, jumlah guru yang ada hanya 27 orang. Sehingga guru-guru mata pelajaran dijadikan guru kelas. Dengan kata lain, satu guru mengajar semua mata pelajaran.

“Butuh penyesuaian dan penambahan guru, kasian juga tenaga pengajar kalau sudah begini,” ungkapnya.

Kondisi ini, menurutnya, tidak bisa diantisipasi dengan mudah dan mau tidak mau harus dilaksanakan. “Jika saya bisa berpesan, pemerintah bisa membuat sekolah baru atau menambah ruang kelas baru beserta tenaga didik baru,” tuturnya.

Mengenai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, ia mengatakan akan membuka empat kelas saja. “Kita berusaha mengurangi perlahan-lahan, agar proses belajar mengajar jadi lebih efektif,” ucapnya.

Dia juga mengutamakan peserta didik dengan usia tujuh tahun ke atas. Upaya ini diambil untuk memeratakan jumlah siswa baru yang akan masuk di sekolah negeri.

Selain SDN 006, SDN 005 Batam juga menerapkan sistem tiga sesi. Sementara beberapa sekolah swasta di Batam juga sudah ada yang menjalankan sistem sekolah double shift karena banyaknya jumlah siswa. (cr17/rng/cr13/jpg/cr18)

Pak Menteri, Kepri Perlu Tempo 2 Tahun untuk Siapkan Kelas

0
ilustrasi

batampos.co.id – Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Disdik Kepri, Atma Dinata, sistem sekolah dua shift di Kepri tidak bisa dihapus begitu saja. Setidaknya, kata dia, perlu waktu dua tahun untuk mempersiapkan diri menyambut kebijakan Kemendikbud itu.

“Tentu membutuhkan proses. Karena terbatasnya daya tampung sekolah,” ujar Atma di Tanjungpinang, Jumat (14/3).

Atma mengakui, sistem sekolah dua shif -atau bahkan tiga shift- sangat merugikan siswa. Sebab jam belajar mereka menjadi sangat singkat. Apalagi bagi yang masuk di shift sore, suasana belajar mengajar dipastikan tidak kondusif lagi.

Dia mengatakan, aksesabilitas dan kualitas pendidikan menjadi catatan penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kepri 2016-2021. Pihaknya berencana membangun setidaknya 300 ruang kelas baru (RKB) dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

Tahun ini, Disdik Kepri berencana merampungkan pembangunan sembilan sekolah baru. Baik itu SMA, SMK, maupun Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Di Batam kebagian pembangunan SMA Negeri 18, 19, 21, dan SMK Belungut. Selain itu ada juga satu unit SLB di Batam,” jelas Atma.

Sementara untuk Karimun, Disdik Kepri akan membangun satu SMA, satu SMK di Kundur, dan satu SLB.  Kemudian di Kabupaten Lingga akan dibangun satu SLB. Sedangkan untuk Tanjungpinang akan dilanjutkan pembangunan satu SMA dan SMK.

Disdik Kepri juga terus menambah jumlah ruang kelas baru (RKB). Tahun ini ada 96 RKB yang akan diselesaikan pembangunannya. Pembangunan sarana pendidikan, kata Atma, memang menjadi prioritas karena anggaran untuk Dinas Pendidikan dalam APBD Kepri 2017 ini cukup besar, yakni Rp 584,45 miliar.  (cr17/rng/cr13/jpg/cr18)

DPRD Batam Senang Sekolah Duoble Shift Dihapus

0

batampos.co.id – Ketua Komisi IV DPRD Batam, Riky Indrakari, menyambut baik rencana penghapusan sistem sekolah dua shift. Namun menurut Riky, sistem ini muncul bukan semata-mata karena timpangnya jumlah anak usia sekolah dengan ruang kelas yang tersedia.

Politikus PKS ini menilai, membeludaknya jumlah siswa di sekolah negeri terjadi karena Disdik Batam tak melibatkan sekolah swasta saat penerimaan siswa baru. Menurut dia, ada kesan sekolah negeri ingin menampung sebanyak-banyaknya siswa. Padahal masih banyak sekolah swasta yang justru kekurangan siswa setiap tahun ajaran baru.

“Sekolah negeri itu ibarat sampan yang memaksakan semua penumpang boleh masuk. Akhirnya tenggelam sampan itu,” kata Riky, Jumat (14/4).

Karenanya, Riky berharap Dinas Pendidikan Kota Batam melibatkan sekolah swasta setiap penerimaan siswa baru. Caranya, setiap sekolah swasta penerima dana bantuan operasional sekolah (BOS) wajib ikut menampung siswa bina lingkungan dan siswa kurang mampu.

Dengan sistem ini, Riky yakin sistem sekolah dua shif bisa diminimalisir. Dia menyebut, saat ini hampir 99 persen sekolah swasta di Batam mendapat dana BOS dan dana insentif guru dari APBD Kota Batam. Bahkan Riky mengklaim, insentif untuk guru swasta di Batam merupakan yang terbesar di Indonesia.

Ketika sudah menerima dan aBOS dan insentif dari APBD, sekolah swasta harus memberikan kontribusi membantu program wajib belajar. Caranya dengan memberikan pembebasan biaya SPP dan uang pangkal bagi siswa bina lingkungan dan siswa tidak mampu.

“Sekolah Hidayatullah salah satu sekolah swasta yang telah menerapkan. Ini bisa jadi contoh sekolah swasta lainnya,” tuturnya.

Guna mewujudkan sitem tersebut, Komisi IV berencana merevisi Perda Nomor 4 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pendidikan yang memuat tentang kewajiban kotribusi sekolah swasta penerima dana BOS. Nantinya akan dibuat semacam klausul dan masuk dalam pengawasan dan evaluasi Dinas Pendidikan. Jadi sekolah swasta penerima dana BOS juga harus melaporkan berapa persen anak tak mampu dan anak bina lingkungan yang ditampungnya.

“Ditampung dimaksud ialah membebaskan uang pangkal dan SPP tadi. Dan nanti bila ada sekolah yang tidak melaksanakan ini, kita anggap mereka sudah mampu. Ke depan kita rekomendasikan ke Kemendigbud untuk tidak menerima bantuan BOS lagi,” tegasnya.

Rencana penghapusan sistem sekolah dua sesi ini juga disambut baik pihak sekolah. Apalagi jika Kemendikbud benar-benar membantu membanggun sekolah baru di Batam.

ilustrasi Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

“Bagus sebenarnya, jadi pemerataan pendidikan itu ada,” kata Mujid Juma, Kepala SMA Negeri 8 Batam yang kini menerapkan sistem dua sesi.

Namun Mujid mengatakan, wacana penghapusan sistem dua sesi ini bisa menimbulkan gejolak baru. Seperti di SMAN 8 Batam sendiri. Sebagai sekolah unggulan yang berdiri di kawasan padat penduduk, SMAN 8 Batam selalu kebanjiran siswa baru setiap tahun. Jika sistem dua shift dihapus, maka dia memastikan akan banyak siswa yang tak tertampung.

Dia menagatakan, saat ini di SMAN 8 Batam terdapat 44 rombongan belajar. Sementara ruang kelas yang tersedia hanya 26 ruang, ini belum termasuk alih fungsi laboratorium yang diajdikan ruang belajar. “Kalau sama laboratorium jadi 34 ruang belajar, jadi 10  yang kurang,” kata dia. (cr17/rng/cr13/jpg/cr18)

80 Persen Sekolah di Batam Terapkan Sistem Dua Sesi

0

batampos.co.id – Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghapus sistem sekolah dua shift tak bisa diberlakukan di Batam. Sebab saat ini sekitar 80 persen sekolah negeri di Batam menerapkan sistem belajar dua sesi karena terbatasnya ruang kelas.

“Kita tidak bisa, karena double shift itu alternatif,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, Muslim Bidin, Jumat (14/4).

Bahkan, kata Muslim, ada beberapa sekolah yang membagi jam belajarnya dalam tiga sesi. Seperti SDN 005 dan SDN 006 Seibeduk.

“Mau tidak mau harus kami lakukan, karena desakan dari orangtua murid juga. Harusnya mereka sadar, daya tampung sekolah negeri terbatas,” keluhnya.

Menurut Muslim, kondisi ini terjadi karena tingginya pertambahan jumlah anak usia sekolah. Angka tersebut tak sebanding dengan jumlah ruang kelas yang tersedia.

Situasi ini menjadi dilema bagi Dinas Pendidikan. Jika tidak ditampung, banyak anak yang akan kehilangan kesempatan belajar meski usianya sudah memenuhi syarat. Namun jika dipaksakan, makan konsekuensinya akan terjadi kekurangan ruang kelas. Sehingga sistem belajar dua sesi menjadi satu-satunya solusi saat ini.

“Setiap tahun dua hingga tiga ribu pertumbuhan anak usia sekolah, sedangkan bangunan sekolah tidak (sebanding dengan jumlah itu),” ujar pria kelahiran 12 April 1958 ini.

Selain karena tingginya pertumbuhan penduduk usia sekolah, membeludaknya siswa di sekolah negeri ini karena sebagian besar orang tua memaksakan anaknya masuk sekolah negeri. Hal ini dikarenakan konsep sekolah murah, bahkan gratis, di sekolah pemerintah.

Padahal, kata Muslim, banyak orang tua siswa yang sebenarnya mampu menyekolahkan anak mereka di sekolah swasta. “Semua mengaku tidak mampu, hal ini terlihat dari proses penerimaan siswa baru,” ujar Muslim.

Muslim mengakui, sistem belajar dua sesi memang tidak efektif. Karena selain tidak kondusif, jam belajar siswa juga relatif lebih singkat.

ilustrasi

Namun jika sistem ini dihapuskan, makan dia memastikan setiap tahunnya akan ada ribuan anak-anak usia sekolah yang tak bisa sekolah. Kecuali jika mereka mau masuk ke sekolah swasta. Meski begitu, ia tak bisa menjamin sekolah swasta bakal mampu menampung semua anak usia sekolah yang tak tertampun di sekolah pemerintah.

“Ini berat, maka dari itu double shift tetap menjadi solusi hingga saat ini,” jelasnya.

Pria kelahiran Rempangcate, Batam, ini mengaku sudah menyampaikan kondisi tersebut kepada Kemendikbud. Kata dia, pihak kementerian memaklumi persoalan ini karena Batam merupakan daerah industri.

“Sudah pernah dibicarakan, dan mereka memaklumi,” sebutnya.

Mengenai bantuan pembangunan gedung sekolah yang ditawarkan Kemendikbud, Muslim juga menyebut hal itu tidak akan mudah. Sebab masalah yang dihadapi Batam saat ini bukan pada kekurangan anggaran, melainkan ketiadaan lahan untuk membangu sekolah.

“Inilah permasalahan yang tengah dihadapi Batam. Bangun sekolah tidak harus nunggu dari pusat, asalkan lahan ada kami bisa bangun,” ucapnya.

Meski begitu, Muslim mengaku sangat mendukung rencana dan kebijakan Kemendikbud itu. Menurut dia, Pemko Batam harus merespon tawaran itu dengan menyediakan lahan. Sehingga akan semakin banyak sekolah yang akan dibangun di Batam, baik oleh pemerintah pusat maupun oleh Pemko Batam.

“Alhamdulillah, setidaknya pusat menawarkan solusi,” kata pria yang sudah 10 tahun menjadi kepala Dinas Pendidikan Kota Batam ini. (cr17/rng/cr13/jpg/cr18)

Wisatawan Serbu Vihara Patung Seribu

0
Libur panjang di akhir pekan ini banyak pelancong dari luar kota yang mendatangi Vihara Patung Seribu di Tanjungpinang. F. Fara

batampos.co.id – Libur akhir pekan panjang cukup menarik dihabiskan di Tanjungpinang. Setidaknya begitu pendapat para pelancong yang mulai berdatangan ke ibu kota provinsi ini, Jumat (14/4) kemarin. Sejumlah destinasi mendadak dipenuhi wisatawan. Tapi tidak ada yang lebih riuh dari Vihara Patung Seribu di kawasan kilometer 15.

Di vihara yang baru beberapa waktu lalu diresmikan Gubernur Nurdin ini sudah ramai sejak pagi. Parkiran mobil dan motor juga terlihat sejak dibuka sekitar pukul 09.00 WIB. Semakin siang semakin ramai orang yang datang. Beberapa datang berdua, tidak sedikit yang bersama keluarga.

Siti Fatimah, misalnya. Ibu empat anak ini datang bersama suami dan anak-anaknya dari Batam. “Kami sewa mobil dan keliling Tanjungpinang. Ke Vihara Patung Seribu ini juga tahu dari Instagram,” kata Siti pada Batam Pos.

Mendatangi Tanjungpinang sebenarnya adalah hal biasa bagi Siti. Tetapi ketika putri sulungnya memberi tahu soal vihara ini, ia berdiskusi dengan suaminya agar dapat berlibur ke Tanjungpinang. Terlebih anak-anaknya juga belum pernah melihat vihara yang kini boleh dikata sebagai destinasi utama wisata di Tanjungpinang ini.

“Anak-anak langsung antusias diajak berlibur ke sini. Besok baru kami mau ke Trikora,” ucap perempuan yang seorang pegawai negeri di Batam ini.

Pelancong yang menyerbu Vihara Patung Seribu bukan hanya dari Batam, tapi bahkan ada beberapa dari jauh luar kota. Andika dan Eva, adalah pasangan suami istri yang datang dari Surabaya. Kebetulan, mereka diundang oleh kolega kerjanya di Tanjungpinang untuk menghabiskan libur panjang.

“Terus diajak ke sini. Tempatnya bagus dan bersih,” kata Eva diamini Andika.

Roni, juru parkir di kawasan Vihara Patung Seribu menuturkan puncak kunjungan akan terjadi pada Sabtu atau Minggu sebagai akhir dari libur panjang pada pekan ini. Biasanya, tak putus-putus kendaraan para wisatawan datang hingga petang.

“Kalau besok pasti kerja keras kami,” kelakarnya. (aya)

Goyang Lidah pada Pesona Kuliner NTB di Mandalika

0
Plecing Kangkung
foto: http://lombokmandalika.co.id

Perhelatan “Kuliner Tradisional Nusa Tenggara Barat” terlaksana sukses menggoyang para pengunjung yang hadir ke salah satu destinasi prioritas Kemenpar, Mandalika, 13 April 2017.

“Meriah dan ramai, semua menikmati hidangan, karena acara ini dikombinasi dengan pentas dangdut Juwita Bahar, dan semua ikut bergoyang,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti yang juga didampingi Kasubid Spa dan Kuliner Kemenpar Suheriyah.

Wanita yang akrab dipanggil Erry itu menjelaskan, acara yang digelar di Kawasan Bukit Mandalika, Pantai Kuta Lombok itu dikombinasikan dengan berbagai acara. “Kami kombinasikan dengan mengambil moment acara pemberian hadiah pemenang etape 1 Tour De Lombok Mandalika, yang pesertanya terdiri dari 21 negara termasuk Indonesia dengan 1500 pesepeda. Kita tebarkan nikmatnya kuliner kepada semua peserta,” ujar Ery.

Lokasi yang memiliki luas garis pantai sepanjang 7200 meter di Desa Kuta Kecamatan Pujut Lombok Tengah NTB itu mempromosikan Kuliner Lombok Mandalika disamping 15 stand kuliner khas Lombok, diadakan pula hiburan dari artis penyanyi. Ery memaparkan, berbicara tentang Kuliner Tradisional, Lombok tidak usah diragukan lagi, “Ayam Taliwang” sudah sangat terkenal diseantero nusantara kelezatannya, yaitu olahan ayam kampungmuda yang disajikan bersama plecing kangkung.

“Apalagi kangkung Lombok berbeda dengan kangkung biasa, memiliki batang dan ranting panjang besar, dengan daun yang lebih hijau dan lebar. Kuliner Lombok lainnya dengan bahan ayam lainnya yaitu “Ayam Rarang” dengan olahan bumbu khas Lombok Timur mungkin belum banyak diketahui orang, yang lezatnya tidak kalah dengan ayam taliwang,” jelas wanita berhijab itu.

Kata Ery, NTB dijuluki bumi sejuta sapi, maka banyak makanan dengan bahan olahan daging sapi, seperti yang paling terkenal adalah “Sate Rembiga” disajikan mirip dengan sate Maranggi namun tentunya dengan citarasa berbeda. Sate tanpa bumbu kacang ini memiliki citarasa yang khas.

“Sate lainnya adalah “Sate Balayak” yang juga berbahan daging sapi disajikan bersama lontong berbahan beras ketan. Semua ada di acara ini,” ujar Ery. Menteri Pariwisata Arief Yahya terus memantau dan mengamati detail promosi pariwisata nusantara dengan segala  terobosan terbarunya untuk mensosialisasikan program Pesona Indonesia.

Salah satunya kampanye Pesona Indonesia melalui wisata kuliner di 10 destinasi wisataprioritas yang telah ditetapkan, salah satunya adalah Mandalika Nusa Tenggara Barat. Selain itu kawasan Mandalika yang sudah ditetapkan sebagai KEK pariwisata juga sedang dikebut untuk menjadi Amenitas dan Atraksi baru.

“Kalau akses, atraksi dan amenitas sudah hebat tinggal dipromosikan di mancanegara. Harus berkelas international,” kata Menpar Arief.

Seperti diketahui, Kemenpar mentargetkan kunjungan Wisman sampai th, 2019 sebanyak 20 juta dan pergerakan Wisnus 265 juta. Sekedar gambaran kunjungan wisatawan nusantara ke Lombok terus meningkat usai dinobatkannya Lombok sebagai The Best Halal Destination Award 2015 dan The Best Halal Honeymoon 2015 di Abudabi.

Ini menguntungkan bagi Nusa Tenggara Barat karena membuat banyak orang yang mulai melirik Lombok sebagai destinasi baru.

Data yang ada di Kementerian Pariwisata, menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) di NTB terus meningkat, dari tahun ketahun. Pada tahun 2013 mencapai 2,49 jta wisnus, kemudian pada tahun 2014 jumlah kunjungan wisnus ke NTB meningkat menjadi 2,51 juta wisnus, dan tahun 2015 kembali naik menjadi 3,01 juta orang. (*)

Satu Keluarga Keracunan Makan Jamur

0

 

dr Akmal sedang memeriksa kondisi Deden, yang terbaring lemas, di RSUD Bintan, akibat keracunan makan, Jumat (14/4). F. Choky Nainggolan/Batam Pos

batampos.co.id – Satu keluarga di Kampung Rejo, Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kijang, Bintan Timur, Akibat mengalami keracunan makanan usai menyantap jamur segar masakan sang nenek, Kamis (13/4), sekitar pukul 17.00 WIB.

Ketiga korban yang dilarikan tersebut diantaranya, Deden, 14, Rony, 12, dan Muhyadi 80.

Salah satu korban keracunan Deden, mengaku setelah memakan jamur yang ditumis sang nenek kepalanya tiba-tiba pusing, lalu muntah-muntah, dan pingsan.

“Nggak tahu, habis makan jamur itu tiba-tiba kepalaku sakit sekali. Padahal jamur itu sering aku makan,” ungkapnya saat ditemui di ruang perawatan anak, di RSUD Kijang, Jumat (14/4).

Deden menjelaskan jamur segar yang dimasak oleh nenek itu, awalnya dibawa pulang oleh kakeknya Muhyadi, dari kebun. Tak ada firasat apapun kalau jamur itu beracun. Nenek pun langsung memasaknya untuk dikonsumsi bersama.

“Setelah ditumis nenek, kami langsung makan jamur itu. Tapi tidak sekaligus. Ganti-gantian,” tuturnya.

“Habis memakan jamur barat buatan nenek itu, kira-kira satu jam kemudian mata terasa berat. Kepala juga pusing, dan badan tiba-tiba lemas. Bahkan Adik, dan kakek juga merasakan hal yang sama,” katanya lagi.

Sementara itu, Kepala RSUD Kijang Benni Anthoni melalui dokter jaga bagian UGD, dr Akmal menjelaskan ketiga pasien yang dirawat saat ini kondisinya sudah membaik.

Pemeriksaan intensif juga sudah dilakukan, mulai dari pengecekan darah, hingga gilas lambung untuk mengeluarkan semua yang sudah dimakan pada saat itu. Sehingga dampak dari racun yang ada didalam tubuh tersebut dapat diminimalisir.

“Pada saat kami melakukan gilas lambung, memang ada kotoran berwarna hitam yang keluar. Mungkin itu lah jamur yang dimakan mereka. Tapi dari ketiga yang dirawat disini (RSUD, red) Deden yang paling parah dan memang harus dirawat intensif, karena sempat pitam namun tak sampai pingsan,” jelasnya.

dr Akmal menambahkan ketiga korban keracunan ini diperkirakan sudah bisa pulang besok (hari ini, red), karena harus memulihkan dulu kondisi tubuh yang masih lemas, akibat efek dari racun tersebut.

“Besok mungkin mereka semua sudah bisa pulang. Saat ini masih dirawat disini untuk mendapatkan infus dulu, biar daya tahan tubuhnya kuat lagi,” imbuhnya

Diketahui jamur segar yang dimakan oleh Deden dan keluarganya itu biasa sering disebut jamur barat. Jamur ini biasa ditemukan di bawah semak atau bekas kayu mati. Paling sering ditemukan saat musim hujan. (cr20)

 

Empat Hari Air PDAM Tak Jalan

0
Pipa milik PDAM Tirta Kepri bocor di Jalan Bridgen Katamso, Batu 3, Tanjungpinang. Diduga akibat pipa bocor tersebut air bersih tak tersuplay ke rumah warga selama empat hari. F. Batampos.

batampos.co.id – Warga Batu 3 Jalan Bridgen Katamso, Gang Tembesu mengeluhkan buruknya pelayanan yang diberikan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri. Sebab sudah empat hari penyelupaian air bersih dari perpipaan ke rumah warga terhenti. Sehingga warga terpaksa membeli air dari orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Pelayanan yang diberikan PDAM kurang memuaskan. Karena selama empat hari air tak jalan ke rumah kami. Maka kami terpaksa beli air diluar untuk memenuhi kebutuhan dapur dan mandi,” ujar Warga Batu 3, Intan ketika dikonfirmasi, Jumat (14/4).

Dikatakan Intan, dia sudah lima tahun menjadi langganan tetap PDAM. Selama berlanganan dia selalu membayar biaya jasa penggunaan air tepat waktu. Namun air yang disuplay PDAM kerumahnya sering tersendat-sendat bahkan terhenti selama berhari-hari.

Tidak hanya itu saja, kata Intan air yang disuplay melalui perpipaan juga kurang deras. Kemudian kondisi airnya terkadang berwarna menguning. Sehingga air tersebut tak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur melainkan hanya sekedar untuk mandi dan mencuci.

“Kami harapkan PDAM dapat meningkatkan pelayanan kepada warga khususnya pelanggan lama. Karena warga sudah mempercayai PDAM sebagai perusahaan yang dapat memenuhi kebutuhan air bagi pelanggannya,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik mengatakan dirinya tidak mengatahui adanya permasalahan terhentinya penyuplaian air bersih di Gang Tembesu. Sebab dia belum menerima laporan terkait keluhan warga dari petugas dilapangan.

“Saya belum terima laporan itu. Nanti saya suruh anggota cek ke Gang Tembesu,” katanya.

Ditanya pipa bocor yang mengakibatkan terhentinya penyuplaian air ke rumah warga, Abdul Kholik mengaku belum bisa memastikan sebab dan akibatnya air tak tersuplay dari perpipaan ke rumah warga. Namun dia berjanji masalah suplay air ini akan diselesaikan secepatnya.

“Saya belum tau. Jika ada pipa bocor pasti akan kita tangani. Anggota saya nanti yang turun langsung ke lokasi untuk menyelesaikan masalah itu,” ungkapnya. (ary)