TLB, Gubernur Nurdin Berubah Pikiran
Sistem Buka Tutup untuk THM, Warnet, Rumah Makan dan Pijat Plus
52 Napi Dipindahkan ke Lapas

Pendidikan Kepri Masih Timpang
Pemprov Bidik Tambahan PAD Rp 145 Miliar

Hari Ini, TCC Cinema XXI Dibuka

batampos.co.id – Cinema XXI kini hadir di Tanjungpinang City Center (TCC) Mall. Tayangan film perdana “Pirates of the Caribbean” akan disaksikan Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, Kamis (25/5).
Pemko Batam akan Perbaiki Taman Makam Pahlawan
batampos.co.id – Minimnya perawatan, membuat sejumlah fasilitas di Taman Makam Pahlawan, Batuaji rusak. Sejumlah fasilitas taman seperti kursi dan meja spot internet rusak, lampu taman mati spot internet yang tidak lagi berfungsi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kota Batam, Salim mengatakan sejumlah fasilitas yang ada di Taman Makam Pahlawan ini akan segera diperbaiki.
“Perbaikannya bulan Juni mendatang,” ujar Salim saat dikonfirmasi, Rabu (24/5).
Ia menyebutkan taman yang berada tak jauh dari Kampus Unrika ini menjadi salah satu yang diprioritaskan untuk diperbaiki dan dirawat, mengingat kerusakan fasilitas cukup parah. “Ada tiga taman yang diperbaiki tahun ini, ya salah satunya Taman Makam Pahlawan ini,” katanya.
Sementara kondisinya yang terbengkalai, banyak geng motor yang memanfaatkannya sebagai tempat nongkrong. Selain itu, kondisinya yang remang saat malam juga dimanfaatkan mereka untuk berlaku jahat, seperti begal, pemalakan dan lainnya.
“Di taman ini memang gelap. Makanya banyak kejahatan yang terjadi,” kata Ridwan warga Batuaji.
Dia mengatakan seharusnya tempat seperti makam pahlawan dijaga oleh pihak yang lebih profesional semisal aparat keamanan. Ia juga meminta kepada dinas maupun instansi terkait untuk segera memperbaikinya. “Sayang juga kalau terbengkalai begini,” ungkapnya. (cr19)
Pengelola Bus Bantah 43 Bus Belum Diuji KIR

PT Citra Shipyard Lebih Awal Rampungkan KN Masalembo dan KN Nipa

batampos.co.id – Dua kapal kenavigasian pesanan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan RI tahun 2016 lalu, telah rampung dikerjakan oleh PT Citra Shipyarad Batam. Dua unit kapal tersebut adalah kapal kelas I kenavigasian H 301 KN Masalembo dan KN H-302 KN Nipa.
Kedua kapal tersebut resmi diluncurkan oleh Dirjen Perhubungan Laut Antonius Tonny Budiono, Gubernur Kepri Nurdin Basirun dan jajaran petinggi PT Citra Shipyard di galangan kapal PT Citra Shipyard, Seilekop, Sagulung, Rabu (24/5).
Direkrut PT Citra Shipyard Ali Ulai melalui General Manajernya Abi menuturkan, dua unit kapal tersebut mulai dikerjakan sejak Maret 2016 lalu yang ditandai dengan acara Keel Lying atau peletakan lunas. Kapal tersebut dibangun dengan spesifikasi sebagai kapal kenavigasian yang bertujuan untuk mengatur lalu lintas pelayaran di periaran Indonesia.
“Ini murni buatan anak bangsa. Keberhasilan ini (membangun dua kapal tersebut) adalah keberhasilan kita semua,” ujar Abi, kemarin.
Kedua kapal tersebut sukses dikerjakan sesuai spesifikasi yang ditentutan sebagai kapal kenavigasian dan penyelesaiannya lebih cepat empat bulan dari waktu dijadwalkan pada awal kontrak.
“Kontrak awal tanggal 25 Desember 2015. Batas kontra jatuh pada tanggal 29 Oktober 2017. Tapi sekarang sudah rampung dan rencananya dua kapal ini akan segera kami serahkan (delivery) pada Juli mendatang,” ujar Abi.
Kesuksesan membuat dua kapal lebih awal itu, sambung Abi merupakan wujud dari komitmen PT Citra Shipyard untuk mengedepankan mutu dan ketepatan waktu pengerjaan.
“Dengan komitmen ini kami ingin menunjukan kalau kami bisa dipercaya dan mampu bersaing dengan industri galangan kapal lainnya baik nasional ataupun internasional,” ujar Abi.
Antonius Tonny Budiono dalam arahannya menyambut baik kesuksesan PT Citra Shipyard yang lebih awal menyelesaikan dua kapal tersebut. Dia berharap kedepannya PT Citra tetap memegang komitmen tersebut agar tetap dipercaya baik di dalam negeri ataupun di kanca internasional.
“Kami apresiasi itu dan ini sangat baik. Kedepannya tetap menjaga komitmen ini,” ujarnya.
Kedua kapal yang sudah siap digunakan itu, kata Antonio, akan ditempatkan di pangkalan distrik navigasi Surabaya untuk KN Masalembo dan di pangkalan distrik navigasi Tanjungpinang untuk KN Nipa.
“Dua kapal ini akan menjadi kapal andalan sebagai kapal navigasi di wilayah kerja mereka nanti. Dua kapal ini cukup canggih dan kami optimis akan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik nanti,” ujar Antonius.
Pengadaan kedua kapal tersebut merupakan tindak lanjut dari komitmen Dirjen Perhubungan Laut, Kemhub RI untuk melengkapi kekurangan armada kapal kenavigasian di Indonesia yang selama ini masih kurang.
“Masih banyak kekurangan. Aktifitas kemaritiman semakin meningkat. Arus pelayaran terus bertambah memang sudah seharusnya diadakan kapal-kapal baru seperti ini,” tutur Antonius.
Gubernur Kepri Nurdin Basirun juga menyambut baik pengadaan dua kapal kenavigasian itu. KN Nipa yang akan ditempatkan di wilayah periaran Kepri diharapkan mampu mendukung kelancaran sistem pelayaran di provinsi yang sebagian besar wilayahnya adalah periaran ini.
“Kepri ini didominasi wilayah periaran dan menjadi gerbang keluar masuk ke sejumlah negara tetangga, jadi dengan adanya kapal navigasi ini kami sangat berterima kasih. Kami berharap agar satu kapal kenavigasian yang akan ditempatkan di Kepri mampu menjaga keamanan pelayaran dengan baik serta turut mendukung kemajuan sektor kemaritiman di Kepri nantinya,” ujar Nurdin.
Kepada PT Citra Shipyard, Nurdin juga berharap agar tetap menunjukan kualitas produksi yang baik agar semakin dipercaya kedepannya.
“Apalagi ini dikerjakan anak-anak bangsa. Kepercayaan ini harus tetap dijaga kedepannya,” pesan Nurdin. (eja)
Manado International Conference on Tourism Catat Investasi Senilai Rp 5,2 Triliun
Manado International Conference on Tourism (MICT) yang digelar, Rabu, 24 Mei 2017 ini, menghasilkan kesepakatan bisnis senilai USD 400 juta, atau jika menggunakan asumsi 1 USD sama dengan Rp 13.000, angkanya menjadi Rp 5,2 Triliun.
Menpar Arief Yahya menyebut pengembangan destinasi itu rumusnya 3A, Atraksi, Akses dan Amenitas.
Isu di Sulut itu, ketiga-tiganya sudah kritis. Akses udara, perlu Airports dengan kapasitas besar, dan Airlines yang lebih banyak daya angkutnya.
“Sedangkan Amenitas, saat ini sangat kurang hotel di Manado! Atraksi juga harus ditambah, agar orang stay lebih lama di Sulut,” jelas Arief Yahya.
Investari di akses maupun amenitas itu menjadi isu di pariwisata Sulut. Kegiatan ini diprakarsai Badan Koordinasi Penanaman Modal, didukung Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Pricewaterhouse Coopers, Broadway Malyan dan International Reseach Development Indonesia.
Kesepakatan tersebut terdiri dari kerjasama bisnis yakni kerjasama investasi antara PMA Tiongkok dengan perusahaan Indonesia terkait pembangunan di Manado Selatan untuk hotel, apartemen, shopping mall dan diving center senilai USD 200 juta dan penyerahan izin perluasan investasi kepada PMA Amerika Serikat terkait akomodasi cottage dan pariwisata di Raja Ampat senilai USD 200 juta.
Selain itu, juga ditandatangani kerjasama antara Dalian Maritime University (Tiongkok) dengan 5 universitas di Indonesia (ITB, Universitas Sam Ratulangi, Politeknik Negeri Manado, Universitas Hasanuddin dan Universitas Negeri Manado).
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong mengakui kesepakatan bisnis yang dihasilkan itu merupakan salah satu bukti nyata menggeliatnya investasi di sektor Pariwisata di Indonesia.
“Dua kesepakatan bisnis serta satu kesepakatan terkait dengan pendidikan tersebut merupakan bukti nyata upaya pemerintah untuk meningkatkan investasi di sektor pariwisata dan maritim,” ujarnya dalam konferensi pers Invest Manado di Hotel Sintesa Peninsula, Rabu (24/5).
Menurut Thomas, nilai yang dihasilkan oleh kesepakatan bisnis tersebut diluar dari kesepakatan yang dapat diperoleh dalam kegiatan one on one meeting yang hingga kini telah terkonfirmasi diikuti oleh 37 perusahaan dari Tiongkok, Jepang, Singapura, Australia, Persatuan Emirat Arab, dan Korea Selatan.
“Dalam forum one on one meeting mereka akan dipertemukan dengan perusahaan maupun pemerintah daerah secara langsung untuk membahas mengenai minat investasi mereka,” lanjutnya.
Selain itu, terdapat 7 perwakilan kedutaan besar serta asosiasi bisnis asing dari Tiongkok, Thailand, Australia, dan Jepang yang juga akan memanfaatkan kesempatan one on one meeting dengan berbagai pihak terkait investasi pariwisata di Indonesia. Kegiatan Invest Manado bertujuan untuk memberikan gambaran destinasi investasi di Sulawesi Utara sekaligus mempopulerkan tujuan pariwisata di Manado.
Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan bahwa l isu konektifitas menjadi penting untuk menopang pertumbuhan sektor pariwisata Sulut.
“Isu konektifitas tersebut menyangkut One Belt One Road (OBOR) yang dicanangkan oleh Presiden Xi Jinping yang didalamnya terdapat empat komponen utama yakni kawasan industri, pembangunan kota baru, pembangunan airport dan pelabuhan baru serta destinasi pariwisata,” lanjutnya.
Arief menilai potensi konektifitas tersebut akan sangat besar apabila dapat dikapitalisasikan dalam suatu proyek investasi bersama baik dengan Tiongkok maupun dengan investor dari negara-negara lainnya.
“Contohnya untuk rute kapal pesiar (Cruise Ship) bisa dikembangkan dari Bali ke Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, Banggai, Toegan, kemudian ke Bunaken, selanjutnya Morotai, Raja Ampat dan terakhir di Tual,” ungkapnya.
Senada dengan Menteri Pariwisata, Staf Ahli Menteri Perhubungan Wihana Kirana Jaya menyampaikan bahwa lima isu strategis yang saling terkait dalam melakukan sinergi konektifitas dan pariwisata di Sulawesi Utara adalah perekonomian global, perekonomian Indonesia, konektifitas, sektor pariwisata serta destinasi pariwisata yang dapat diakses dengan mudah.
Sedangkan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey selaku kepala daerah menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi investor di sektor pariwisata yang akan mengembangkan destinasi pariwisata di Sulawesi Utara.
“Sulut dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5% sejak 2010 hingga 2016 menunjukkan bahwa perekonomian Sulut sangat prospektif dan menarik bagi investasi baik asing maupun domestik,” ungkapnya.
Dari data BKPM, investasi asing (FDI) di sektor pariwisata terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 tercatat investasi di sektor pariwisata hanya USD 673,1 juta naik tipis menjadi USD 732,5 juta pada tahun 2015, naik drastis 63% menjadi USD 1,19 miliar pada tahun 2016. Hingga kuartal pertama tahun 2017, investasi asing di sektor pariwisata mencapai USD 440 juta. (*)
