Kepadatan kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat yang melintas di Simpang Jam yang sedang dalam proses pembangunan flyover, Lubukbaja, Senin (12/9/2016). Jalur menuju Sekupangbakal dilengkapi jalur lambat khusus untuk kendaraan roda dua. Foto:Rezza Herdiyanto/Batam Pos
batampos.co.id – Pemerintah Kota (Pemko) Batam berencana membangun jalur lambat khusus roda dua sepanjang Jalan Gajah Mada, Sekupang. Sebab jalur tersebut kerap menimbulkan macet, terutama pada pagi dan sore hari.
Wali Kota Batam, Muhammad Rudi mengatakan dirinya sering mendapat masukan dari masyarakat tentang kondisi jalan menuju Sekupang. Masyarakat meminta pelebaran jalan atau solusi lain untuk mengatasi macet.
“Kita buat jalur lambat, sebagai alternatif mengatasi macet. Kita sampaikan ke pemerintah pusat,” kata Rudi di Batamcenter.
Menurut dia, proposal kepada pemerintah pusat telah disampaikan pekan lalu. Ia pun berharap proposal itu dapat disetujui hingga jalan yang kerap macet itu bisa teratasi.
“Kita titip sama legislator dan senator asal Kepri yang duduk di Senayan. Mudah-mudahan di Acc,” harap Rudi.
Menurut dia, anggaran daerah tidak mampu untuk membangun jalur baru di Batam, apalagi dengan adanya pengurangan dibeberapa anggaran. Karena itu pihaknya meminta dukungan dari pemerintah pusat untuk menjawab keinginan masyarakat.
“Kalau ada kecelakaan satu saja di situ (Jalan Gajah Mada) pasti macet total. Karena itu kita minta dukungan pemerintah pusat, karena anggaran kita tak cukup,” terang Rudi.
Sementara itu, pihaknya juga mewacanakan pembangunan jalan lingkar menelusuri tepian laut mulai dari Patam Lestari menuju Tanjung Uma, hal itu juga untuk mengurai kepadatan lalu lintas dari Sekupang-Batamcenter.
“Kalau proyek pelebaran tahun ini, secara umum sudah selesai semua,” sebut Rudi. (she)
batampos.co.id – Pemerintah Kota (Pemko) Batam akhirnya pasrah anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2017 Kota Batam berpatok pada pagu APBD 2016.
Meski begitu pihaknya akan tetap menyurati Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk meminta solusi terbaik atas permasalahan tersebut.
Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad mengatakan APBD 2017 tak mungkin lagi disahkan karena sudah memasuki tahun baru. Pihaknya pun tak bisa mengejar ketertinggalan untuk pengesahan APBD, sehingga dipastikan APBD 2017 akan berpatok pada pagu APBD 2016.
“Disahkan atau tidak sudah tutup buku. Kita tak mungkin mengejar dengan kecepatan tinggi karena sudah memasuki tahun 2017. Artinya kita akan memakai pagu anggaran 2016,” kata Amsakar disela menghadiri perayaan malam tahun baru di Dataran Engkuputri, Sabtu (31/12) malam.
Dikatakan dia, pihaknya cukup menggunakan peraturan walikota (perwako) untuk bisa memakai pagu APBD 2016. Hal itu dikarenakan sudah ada kerangka pasti dan bisa digunakan untuk APBD 2017.
“Cukup dengan perwako dan Perda untuk setiap SKPD,” ujar Amsakar.
Meski pasrah, Amsakar mengaku tim anggaran Pemko Batam masih akan melakukan pembahasan APBD 2017 dengan tim banggar DPRD Kota Batam. Pertemuan itu akan dilakukan pada 3 Januari 2017 untuk menyamakan pokok pikiran Pemko dan DPRD Kota Batam.
“Seperti apa pembahasaan itu, kita tunggu saja tanggal 3 Januari itu. Yang pasti kita menginginkan yang terbaik,” terang Amsakar.
Selain itu lanjut Amsakar, Pemko Batam juga akan menyurati Mendagri pada tanggal 3 Januari. Pihaknya akan menginformasikan langkah-langkah yang telah dilakukan Pemko dalam pembahasan KUA-PPAS hingga APBD 2017.
“Jadi hari Selasa (3/1) kita surati. Artinya kita informasikan semua yang dilakukan,” imbuhnya.
Menurut dia, poin yang akan disampaikan adalah tentang tahapan penyusunan pagu anggaran 2017. Mulai dari pelaksanaan musrembang di Kelurahan, Kecamatan, forum SKPD hingga musrembang tingkat Kota.
“Kita sampaikan ke Mendagri seperti apa kronologis yang telah berjalan. Mulai mekanisme dan jadwal untuk pembahasan APBD yang belum final,” pungkas Amsakar. (she)
batampos.co.id – Ketua DPRD Batam, Nuryanto menyesalkan terlambatnya pengesahan APBD Batam 2017. Padahal, ia mengakui sudah jauh-jauh hari mengingatkan Pemerintahan Kota (Pemko) Batam untuk segera mengajukan pra Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Batam 2017.
“Kita sadar supaya tak terjadi keterlambatan, kita minta pemko mempersiapkan pra RKPD dan KUA-PPAS. Mei 2016 lalu. Tapi kenyataannya waktu pembahasan tidak menemukan kesepakatan sehingga terjadi tarik ulur berkepanjangan yang akhirnya menyebabkan keterlambatan,” ungkap Nuryanto, Minggu (1/1/2016).
Ia mengakui, keterlambatan sudah terlihat ketika pra KUA-PPAS baru diserahkan pemko pada September 2016 lalu. Bahkan, DPRD Batam berangkat ke Jakarta untuk berkonsultasi ke kementerian dalam negeri.
“Waktu itu pihak kemendagri minta data dan kita kasih data. Kapan KUA-PPAS diserahan,” tuturnya.
Namun demikian, DPRD tetap berusaha agar pembahasan ini bisa selesai tepat waktu. Hingga batas waktu yang ditentukan, APBD belum disahkan.
“Pembahasan APBD filosofinya kesepakatan. Makanya kita ceritakan kronologisnya ke kemendagri. Jadi tidak benar DPRD sandera APBD Batam,” ungkap Cak Nur.
Adanya tarik ulur pembahasan ini juga tidak lepas dari belum singkronisasinya banggar DPRD Batam dengan Tim Penganggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemko Batam. Dewan beranggapan, dalam penyusunan RKPD harusnya berasal dari aspirasi masyarakat, yakni musrenbang dan pokok-pokok pikiran DPRD.
“Dengan kejadian ini seolah-olah kami (DPRD) yang tidak melaksanakan amanah,” sesal Nuryanto.
Diakui Cak Nur, di tingkat pembahasan DPRD terkunci. tidak ada kata sepakat. Bahkan DPRD tak memiliki ruang. Padahal, katanya, pokok-pokok pemikiran DPRD menjadi keharusan dan kewajiban yang menjadi dasar pembangunan Kota Batam.
“Jadi tak benar kalau kita sengaja menyandera, karena kepentingan kami tak terakomodir. Jelas itu salah besar,” sesal politisi PDI Perjuangan tersebut.
Padahal, lanjutnya kepentingan DPRD, bagaimana membangun Kota Batam dan bukan untuk kepentingan dan golongan. “Jadi kenapa kami ingatin jauh-jauh hari, karena dari awal kami menyadari kesepakatan ada dinamikanya. Kalau kemarin cepat diserahkan, kan kita punya waktu untuk menyelesaikan,” imbuhnya.
“DPRD sebagai buggeting masak dibilang gak mau kerja. Ini menyangkut harkat dan martabat,” tegasnya. (rng)
batampos.co.id – Gol indah tercipta di laga ke-19 Liga Inggris yang mempertemukan Arsenal dengan Crystal palace, Minggu (1/1/2016).
Sang pencipta fol indah itu adalah striker Arsenal, Olivier Giroud, dengan gaya kalajengking menggunakan tumitnya. Fans menyebut kalau aksinya itu lebih indah ketimbang gol serupa yang diciptakan pemain Manchester United, Henrikh Mkhitaryan.
Gol ini sangat indah. Mirip dengan yang dilakukan Henrikh Mkhitaryan, tapi dianggap lebih sempurna.
Apalagi, gol yang dilakukan Mkhitaryan berbau offside. Hal ini disebut oleh fans Arsenal versi Giroud lebih sempurna.
Berikutcuitan fans The Gunners soal gol Giroud:
“Remember Mkhitaryan’s goal last week? No neither does anybody else now, GIROUD……” @Chris_Hassett80.
“The best ever scorpion goal. Better than #mkhitaryan version. Well played #giroud #AFCvCPFC,” @jmak316.
“I don’t want to hear about mkhitaryan scorpion kick goal anymore, giroud was the better of the two, what a goal!!,” @MarkWHUFC88
“MY WORD GIROUD TAKE A BOW!!! THAT’S EVEN BETTER THAN MKHITARYAN’s!,” @fpldrugs.
“What Henrikh Mkhitaryan can do, Olivier Giroud can do better. #Arsenal,” @acmoneyrozay.
“Giroud’s goal was better than Mkhitaryan’s. Goal of the season so far,” @JamesAssists. (ies/JPG)
Sejumlah TKA berbelanja pada saat jam istirahat di Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Foto: Imam Husein/Jawa Pos
batampos.co.id – Desa Morosi, Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara, dulu dikenal desa yang tenang. Masyarakatnya didominasi warga tempatan.
Namun tiga tahun belakangan suasana desa itu jadi berubah. Perusahaan Tiongkok beroperasi di sana dan mereka umumnya menjadi penonton saja, sebab pekerja didominasi WN Tiongkok.
Ya, Desa itu tampak lengang Jumat (30/12/2016) siang lalu. Hanya satu dua kendaraan truk dan mobil operasional proyek yang terlihat hilir mudik di jalan tanah (pengerasan) tersebut.
Mereka keluar masuk kawasan megaindustri Morosi. Di situ ada pembangunan pabrik besar pengolahan mineral (smelter) nikel dan PLTU yang dimulai tiga tahun lalu.
Kelengangan itu berubah pukul 15.00 Wita. Satu per satu pekerja semburat dari lokasi proyek. Baik pekerja lokal maupun TKA. Pekerja pribumi langsung pulang ke rumah masing-masing.
Sementara itu, para TKA menuju deretan kios semipermanen yang berjarak 100 meter dari pintu masuk proyek. Mayoritas beratap seng, asbes, dan daun sagu kering serta berdinding papan.
Deretan kios yang lebih mirip pasar templok itu dihuni warga setempat yang berjualan di sana. Barang yang dijual cukup lengkap. Ada perkakas rumah tangga seperti baskom, ember, gayung, gantungan baju, dan bak air. Beberapa kios juga menjual pulsa telepon, pulsa listrik, kartu perdana, sampai aksesori handphone. Namun, kios paling banyak digunakan sebagai warung.
Ada juga toko buah dan toko kelontong yang menjual galon air mineral isi ulang, mi instan, biskuit, dan kopi saset. Bukan hanya itu, penjual batu akik juga menghiasi deretan kios tersebut. Jasa rental mobil pun bisa ditemukan di area yang terletak satu jam perjalanan darat dari Kota Kendari itu. Ada pula kios yang khusus menjual minuman keras jenis bir.
Pasar dadakan tersebut ramai menjelang petang. Pantauan Jawa Pos, pukul 17.00–18.00 Wita, tidak banyak warga lokal yang mengunjungi kios-kios itu. Pembelinya mayoritas pekerja asing asal Tiongkok. Lebih dari 20 pekerja asing menuju kios-kios tersebut setiap menit. Artinya, sekitar 1.200 orang dalam satu jam saja.
Jumlah itu meningkat dua kali lipat setelah petang. Setiap menit ada puluhan pekerja asing yang keluar dari kawasan industri. Mereka berjalan bergerombol lima sampai sepuluh orang. Dari dandanannya, mayoritas identik dengan pekerja kasar atau unskilled worker. Penampilan mereka sangat sederhana. Bahkan bisa disebut kucel.
Sebagian besar mengenakan kaus oblong dan celana training. Ada pula yang memakai kemeja lusuh serta celana kain warna gelap. Sebagian besar pakai sandal jepit. Hanya sedikit pekerja yang mengenakan seragam proyek warna biru dan abu-abu serta bersepatu.
Semua pekerja asing itu menggunakan bahasa Mandarin saat berinteraksi satu sama lain. Tidak ada satu pun yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau Inggris. ”Mayoritas yang bekerja di pabrik itu (smelter) memang orang Tiongkok. Orang Indonesianya sedikit,” ujar Fahrudin, warga Desa Morosi.
Nah, kios-kios tadi sengaja didirikan seiring dengan makin banyaknya pekerja Tiongkok di kawasan tersebut. Bahkan, tidak jarang nama kios yang menggunakan tulisan aksara Latin dan aksara Han. Rumah Makan (RM) Berkah misalnya. Di bawah tulisan RM Berkah terdapat aksara Han yang artinya sama dengan nama RM.
”Untuk memudahkan saja. Karena pekerja yang beli di sini (kios) tidak ada yang bisa bahasa Indonesia,” ujar pria yang pernah jadi tukang jasa antar galon untuk pabrik smelter itu.
Kompleks pasar yang berada di jalan utama Desa Morosi tersebut selalu ramai pukul 17.00 sampai 21.00. ”Seperti pasar malam, jam segitu pekerja asing keluar dari kawasan proyek, cari makan dan belanja,” imbuhnya.
Setiap hari ada ribuan pekerja asing yang berbelanja di pasar tersebut. Mayoritas berjalan kaki. Sebagian membeli makanan instan untuk dibawa ke mes di dalam kawasan proyek. Lainnya membeli makanan siap saji di warung makan.
”Itu (jalan kaki) kebanyakan pekerja kasar. Kalau yang jabatannya level atas naik motor dan mobil, belanjanya ke Kendari,” jelas Fahrudin.
Saat berbelanja di pasar itu, para pekerja yang baru tiba dari negara asalnya biasanya akan membeli baskom untuk wadah air dan makanan. ”Karena mereka tidak mau pakai baskom bekas,” ucap Fahrudin yang punya usaha rental kendaraan.
Di pasar tersebut transaksi jual beli antara penjual dan pekerja Tiongkok lebih dominan menggunakan bahasa isyarat. Maklum, tidak semua pemilik kios bisa berbahasa Mandarin. Begitu juga sebaliknya, sangat minim pekerja asing yang bisa berbahasa Indonesia.
Di RM Hikmah milik Suminah, 42, misalnya, pekerja asing langsung menunjuk makanan yang akan dipesan.
Tidak sedikit pula pekerja asal Tiongkok yang memasak sendiri di dapur rumah makan. Selain keterbatasan bahasa, masak sendiri dilakukan pekerja asing agar cita rasa makanan yang dimakan sesuai dengan selera.
Caranya, mereka akan menunjuk bahan masakan dan alat masak yang akan diolah sendiri. Memasak biasanya dilakukan lebih dari dua pekerja. Masakan itu nanti disajikan untuk kelompok pekerja berjumlah empat hingga lima orang. ”Kalau ayam potong yang sudah cabut bulu Rp 70 ribu nanti dimasak sendiri sama mereka. Kalau satu porsi nasi bungkus Rp 17 ribu,” terang Suminah.
Untuk menentukan harga, beberapa pemilik kios sudah terbiasa menyebut angka dalam bahasa Mandarin. Untuk baskom seharga Rp 5.000, misalnya, penjual akan bilang bucet ke pekerja asal Tiongkok.
Namun, bila belum bisa berbahasa Mandarin, penjual akan menggunakan isyarat jari. Satu jari menunjukkan harga Rp 1.000, dua jari Rp 2.000, begitu seterusnya. ”Mereka juga banyak yang nawar kalau harganya kemahalan,” ujar Sungkowo, 50, warga setempat.
Pekerja asing Tiongkok di Morosi selama ini memang dikenal tertutup. Terutama soal pekerjaan dan gaji. Saat Jawa Pos mencoba berkomunikasi, mereka selalu menghindar. Mereka hanya mau menyebut nama dan daerah asal.
Selebihnya, mereka akan menunjukkan ekspresi menolak dengan bahasa Mandarin. ”Tidak mau, tidak mau,” ujar Liu Sandong, warga Tiongkok yang bekerja di proyek pembangunan smelter nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).
Ribuan pekerja asal Tiongkok itu menghidupkan perekonomian Desa Morosi. Namun, di sisi lain, ada potensi yang lepas karena seharusnya pekerjaan kasar bisa diisi orang Indonesia yang masih banyak yang menganggur. (tyo/c9/ang)
Bupati Lingga Alia Wello saat melantik pejabatnya di Makam Merah, akhor 2016 lalu. Masih ada beberapa PNS yang dinonjobkan Awe. Foto: hasbi / batampos
batampos.co.id – Sebanyak 25 Pegawai Negri Sipil (PNS) di jajaran Pemkab Lingga tidak mendapatkan jabatan apa-apa.
Mantan kepala badan kepegawaian dan diklat (BKD) Lingga, Syamsudi menyarankan kepada mereka yang nonjob langsung menemui Bupati Lingga Alias Wello, jika merasa ada yang kurang pas.
Selama 12 Tahun menjabat sebagai kepala BKD, Syamsudi tentunya paham betul kinerja dan lika-liku perjalan karir pejabat dikabupaten Lingga. Namun untuk kali ini, Syamsudi secara tegas mengatakan tak tau pasti sebab di nonjob kannya 25 pejabat maupun sanksi jabatan.
“Untuk soal itu kita juga tidak tahu. Kami (BKD) hanya merekap data, soal itu ketua Tim mungkin lebih mengetahui atau juga dengan Bupati Lingga sendiri. Saya sendiri juga tidak masuk dalam tim Baperjakat,” ungkap Syamsudi mantan Kepala BKD Lingga.
Mantan kepala BKD tersebut menyebutkan pihaknya hanya merekap data para pejabat yang dilantik oleh Bupati Lingga yang berlangsung di Sawah Sungai Besar, kecamatan Lingga Utara. Sejumlah nama dari 25 pejabat yang dinonjobkan beberapa waktu lalu juga telah datang berkonsultasi dengan BKD.
Untuk itu, Syamsudi sarankan puluhan pejabat nonjob terkait langsung menemui Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat (Baperjakat) dan Bupati Lingga.
Ditempat lain, Ketua Baperjakat kabupaten Lingga Said Parman yang dikonfirmasi terkait hal belum mau berkomentar banyak. Ia menyarankan agar hal ini dikonfirmasi kepada staf khusus bupati Lingga di bidang Hukum dan Pemerintahan Rudi Purwonegroho, staf khusus bidang Pendidikan bupati Lingga Said Hamid dan Kabag Umum Armia yang menurut Said tau banyak soal penempatan jabatan promosi maupun nonjob pegawai.
“Tanyakan ke pak Rudi, Said Hamid dan Armia. Saya No Comment lah dulu,” jawab Said Parman singkat.
Sementara staf khusus Bidang Hukum dan Pemerintahan Rudi ketika dikonfirmasi Batam Pos mengatakan terkait nonjob tersebut menjadi kewenangan bupati. Staf Khusus terangnya hanya memberikan pandangan.
“Kewenangan pelantikan hak Pak Bupati,” jawabnya.
Pantauan dilapangan dalam kegiatan pelantikan beberapa waktu lalu wakil Bupati Lingga Muhammad Nizar nampak tak hadir. Sampai berita ini ditulis belum ada keterangan pasti terkait tidak hadirnya wabup Lingga tersebut yang menurut informasi juga berada di Lingga. (mhb)
Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim menyambut wisatawan pertama asal Malaysia yang berkunjung ke Karimun, Minggu pagi (1/1/2017). Foto: tri/batampos
batampos.co.id – Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim menyambut tamu wisatawan manca negara (wisman) asal Malaysia yang pertama kali menginjakkan kaki di Karimun di tahun baru 2017, Minggu (1/1/2017).
Ia mengucapkan terimakasih kepada para wisman yang berkunjung ke Karimun diawal tahun ini.
” i tahun ini, kita akan membenahi objek-objek wisata yang ada di Karimun. Seperti di air terjun, air panas maupun tempat-tempat wisata bersejarah yang tidak jauh lokasinya. Sebagai daya tarik untuk wisman, berkunjungi ke Karimun,” ucap orang nomor dua di Kabupaten Karimun ini.
Selanjutnya, paling penting bagaimana kondisi Karimun yang kondusif dan aman. Sehingga, menjadi daya tarik bagi wisman untuk berkunjung ke Karimun. Untuk menjaga kekondusifan Karimun ini, bukan hanya pihak keamanan saja namun semua pihak harus berperan serta.
” Paling penting, jaga kebersihan agar para tamu nyaman berkunjung. Selamat kepada bapak dan ibu yang sudah berkunjung ke Karimun diawal tahun 2017, sebagai tanda bahwa wisman masih percaya terhadap Karimun,” ungkapnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Karimun H Syuryaminsyah mengatakan, bagi para wisman yang berkunjung ke Karimun pada hari pertama di tahun 2017 ini. Para wisman secara otomatis akan mendapatkan, voucher menginap secara gratis selama satu hari. Agenda ini, sebagai agenda tahun yang untuk menyambut para wisman disaat awal tahun.
Dan sebagai informasi, kunjungan wisman ke Karimun pada tahun 2016 terjadi peningkatkan sekitar 0,43 persen. Dimana jumlah kunjungan 81.761 wisman di tahun 2014 kemudian tahun 2016 ada 82.198 wisman terjadi kenaikan sekitar 437 wisman. Dan di tahun 2017 ini, diharapkan terjadi kenaikan dengan berbagai agenda pariwisata di Karimun ini.
”Nanti, pada bulan Februari ada agenda besar yaitu festival barongsai dan lampu lampion. Dan festival reog ponorogo yang diharapkan bisa menyedot wisman dari dua negara tetangga,” ungkapnya.
Ditempat yang sama salah seorang wisman asal Malaysia Wahib Bin Musiran mengungkapkan, dirinya merasa nyaman berkunjung ke Karimun. Karena, budaya maupun bahasa sama dengan tanah kelahiranya di Malaysia. Selain itu, suasana di Karimun sangat berbeda di wilayah lain di Kepri.
” Nyaman disini. Masih ada rasa kekeluargaan, serta kondisi wilayah hampir sama di kampung saya,” singkatnya.
Pantauan di lapangan, sekitar pukul 08.00 WIB kapal feri pertama dari Kukup Malaysia dan Singapura, para wisman diberikan kalung bunga dan telor yang dirangkai oleh Wakil Bupati Karimun H Anwar Hasyim ketika turun dari kapal. Dengan disambut, tarian kompang, barongsai dan reog.
Dan dilanjutkan penjamuan sarapan di sekitar pelabuhan International Tanjungbalai Karimun dengan makanan tradisional khas melayu, seperti nasi lemak, mie siam, maupun makanan ringan khas melayu. (tri)
batampos.co.id – Jajaran Satreskrim Polres Tanjungpinang, meringkus RA alias KH, 35, pelaku percobaan pemerkosaan dan pemerasan terhadap RK, 20, pada Sabtu (31/12/2016) sore. Tidak ada perlawan yang dilakukan pelaku saat ditangkap petugas.
Kapolres Tanjungpinang, AKBP Joko Bintoro, melalui Kasat Reskrim AKP Andri Kurniawan, mengatakan penangkapan terhadap pelaku dilakukan setelah mendapatkan laporan dari korban. Dari situ pihaknya melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil membekuk pelaku di Jalan Ganet.
”Kejadiannya pada 18 Desember lalu. Saat itu korban sedang bersama temannya AG, berada di bundaran II Dompak sekira pukul 18.20 WIB. Pelaku tiba-tiba datang dan menuduh korban bersama teman prianya tersebut berbuat mesum,” ujar Andri, Minggu (1/1/2016).
Dilanjutkan Andri, selain menuduh berbuat mesum, pelaku memaksa korban dan teman prianya tersebut untuk menyerahkan KTP dan handpone. Selain itu, pelaku juga mengancam akan membawa mereka berdua ke pos untuk diserahkan kepada rekan pelaku supaya dihajar.
Korban meminta kepada pelaku agar tidak dibawa ke tempat teman-teman pelaku. Karena mereka tidak berbuat sebagaimana yang dituduhkan pelaku. Pelaku pun meminta uang kepada korban dan temannya tersebut masing-masing Rp 250 ribu.
”Namun mereka (korban) tidak memberikan uang yang diminta oleh pelaku, karena mereka tidak membawa uang sebanyak yang diminta oleh pelaku,” kata Andri.
Saat itu, sambung Andri, korban pun berusaha melarikan diri dengan sepeda motornya. Tetapi pelaku langsung memegang motor dan menarik korban. Pelaku kemudian meminta kunci motor korban dan mengajak korban untuk naik ke sepeda motor korban dengan alasan untuk membeli makanan ringan dengan meninggalkan teman prianya di bundaran tersebut.
”Perbuatan percobaan pemerkosaan itu terjadi di semak-semak dekat bawah kantor DPRD Provinsi Kepri. Pelaku sempat berkata ‘Sudah diam, ikuti aja, masih perawan gak,’ sambil memegang bagian tubuh korban dan sempat ditepis korban. Pelaku juga sempat membuka celananya dan juga celana korban. Ketika ada kesempatan, korban langsung melarikan diri dengan motornya dan meninggalkan pelaku di semak-semak itu,” jelasnya.
Dari tangan tersangka, terang Andri, pihaknya berhasil menyita barang bukti satu unit handpone Samsung Duos warna merah muda dan juga satu unit sepeda motor Honda Beat BP 2635 CT milik pelaku.
”Akibat perbuatannya yang diduga telah melakukan Pencabulan atau Percobaan Perkosaan atau Pemerasan sebagaimana dimaksud dalam pasal pasal 289 KUHPidana atau pasal 285 KUH Pidana Jo pasal 53 KUH Pidana atau pasal 368 KUH Pidana dengan ancaman hukuman diatas lima tahun,” pungkas Andri.’(ias)
Basarnas Tanjungpinang mengantarkan mayat bertato tanpa indetitas ke RSUP Kepri, Batu 8, Tanjungpinang, kemarin. Foto: Humas Polsek Gunung Kijang.
batampos.co.id – Warga Desa Malang Rapat menemukan mayat tanpa busana dalam kondisi terapung di Perairan Depan Pantai Pulau Pucung, Jalan Wisata Bahari, Batu 47, Kecamatan Gunung Kijang, Sabtu (31/12/2016) sekitar pukul 05.30 WIB. Mayat tersebut mempunyai ciri tato di tubuhnya.
“Warga sedang melakukan pencarian jasad nelayan Tanjungpinang yang tenggelam. Tapi yang kami temukan malah mayat orang lain dalam kondisi terapung,” ujar Kades Malang Rapat, Yusran Munir ketika dikonfirmasi, Minggu (1/1/2017).
Dikatakannya, semenjak kabar hilangnya Yulizar, 45, nelayan asal Kampung Bulang, Jalan Sultan Sulaiman, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, warganya bersama tim gabungan dari Basarnas Tanjungpinang, Babinsa Bintan, TNI AL dan Polsek Gunung Kijang melakukan pencarian dengan menyisir perairan dari Kecamatan Teluk Sebong, Gunung Kijang hingga Bintan Pesisir. Yulizar tenggelam digulung ombak ketika sedang menarik pompong di Perairan Depan Pulau Pucung 29 Desember 2016.
Ketika hari ketiga pencarian hendak dilakukan, kata dia, warganya malah menemukan mayat yang hanya mengenakan celana dalam dan bertato dalam kondisi terapung. Perkiraan mereka mayat yang ditemukan itu jasad nelayan tenggelam sehingga dilaporkan kepada keluarga korban. Namun ketika dilakukan pengecekan, ternyata mayat itu bukanlah jasad nelayan tersebut melainkan orang lain yang tak dikenal. Sehingga mayat itupun dibawa ke Kamar Mayat RSUP Kepri, Batu 8, Kota Tanjungpinang.
“Kata keluarga korban, Yulizar tidak memiliki tato jadi mayat yang dijumpai itu bukanlah jasad nelayan. Kemungkinan mayat bertato itu korban pembunuhan. Jadi kami umumkan saja melalui RRI agar masyarakat yang merasa kehilangan sanak keluarga bisa datangi RSUP Kepri,” bebernya.
Hal senada diakui oleh istri korban, Mauliza, 40. Bahwa mayat yang baru ditemukan itu bukanlah jasad suaminya melainkan orang lain. Sebab suaminya tidak memiliki tato dan tubuhnya lebih tinggi dibandingkan mayat yang dijumpai tersebut.
“Suami saya tak pernah memiliki tato. Kemudian tingginya capai 178 centimeter. Sedangkan mayat yang dijumpai tak seperti ciri-ciri suami saya,” akunya.
Sementara Kapolsek Gunung Kijang, AKP Hendriyal membenarkan bahwa mayat yang belum diketahui indetitasnya itu bukanlah jasadnya nelayan yang dikabarkan tenggelam dan hilang. Sebab ciri-ciri fisiknya sangat berbeda jauh dengan nelayan asal Tanjungpinang itu.
“Karena tak ditemukan indetitas serta belum diketahui asal usulnya, mayat yang baru dijumpai itu kita titipkan di Kamar Mayat RSUP Kepri,” katanya.
Ciri-ciri mayat yang baru dijumpai itu, kata dia, berjenis kelamin pria serta memiliki tato di sebelah bahu lengan kanan dan di bawah pusat. Kemudian tinggi badannya sekitar 165 Cm dan diperkirakan berusia 42 tahun. Ketika dijumpai mayat tersebut tanpa mengenakan busana atau hanya menggunakan celana dalam warna biru donker saja.
“Diperkirakan mayat ini sudah terapung selama 3-4 hari. Sebab kondisi seluruh tubuhnya sudah rusak dan baunya sangat busuk,” ungkapnya. (ary)
Kepala Dispar Kepri, Buralimar dan GGM PT BRC, Abdul Wahab bersama masyarakat dan turis merayakan detik-detik pergantian tahun baru dengan berjoged bersama di Area Pantai Lagoi Bay, Kawasan Pariwisata Lagoi, Kecamatan Gunung Kijang, Sabtu (31/12/2016) hingga Minggu (1/1/2017). malam. Foto: Harry/batampos
batampos.co.id – Ribuan warga yang berasal dari Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang serta turis asing sangat antusias menyaksikan dan mengikuti seluruh acara yang dikemas spektakuler oleh PT Bintan Resort Cakrawala (BRC) di Area Pantai Lagoi Bay, Kawasan Pariwisata Lagoi, Kecamatan Gunung Kijang, Sabtu (31/12/2016) malam.
Pantauan di lapangan, pejabat-pejabat teras atas hingga aparatur tingkat desa, terpukau dan tercengang menyaksikan acara yang bertajuk “Glow Night Party By The Beach” itu. Konsep maupun rancangan lokasi pesta malamnya yang menarik dan megah juga berhasil membuat pengunjung tumpah ruah dari pelantaran plaza hingga pantai di Area Lagoi Bay.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kepri, Buralimar, mengakui dirinya sangat terpukau bahkan tercengang menyaksikan seluruh acara yang digelar PT BRC dalam merayakan tahun baru. Sebab acara dengan konsep dan rancangan yang megah seperti ini hanya disajikan khusus untuk masyarakat.
“Saya aja tercengang melihat acara tahun baru di sini. Memang hebatlah PT BRC, semua yang disediakan hanya untuk masyarakat,” ujarnya.
Dikatakannya, ada satu hal yang membuat dirinya sangat terpesona dengan perayaan tahun baru kali ini. Yaitu turis-turis asing mau berbaur dan merayakan momen yang penting dengan ribuan masyarakat tempatan. Ini menjadi bukti kehebatan dan inovasi andal yang diterapkan PT BRC. Sebab mampu menyatukan rasa dan persepsi antara orang luar dan lokal.
Dengan cara seperti ini, kata dia, Kawasan Pariwisata Lagoi akan lebih dikenal lagi bahkan keinginan Bintan menjadi destinasi wisata dunia sudah diujung mata. Karena selain banyaknya even-even olahraga berkelas dunia yang selalu ditaja setiap tahunnya, penduduknya dikenal dengan sopan santun dan ramah tamah.
“Turis asing sudah sangat merasakan kehangatan dan kedekatan dengan masyarakat Bintan. Jika ini terus dijaga, kita yakin Bali dan Jakarta akan berada di bawah Bintan dalam menyumbang kunjungan wisatawan,” katanya.
Group General Manager (GGM) PT BRC, Abdul Wahab mengatakan berbagai acara sengaja dikemas PT BRC untuk menghibur masyarakat Bintan-Tanjungpinang dalam merayakan pergantian tahun baru kali ini. Acara itu dari permaianan games, pentas musik hingga band-band dan Dj lokal.
“Kita ingin masyarakat dekat dan selalu merasakan keberadaan PT BRC. Sebab tanpa masyarakat kita bukan apa-apa,” sebutnya.
Kedepannya, kata dia, PT BRC akan lebih giat lagi membuat acara hiburan untuk masyarakat Bintan. Bahkan even-even berkelas dunia nantinya akan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dengan kerjasama itu semua keinginan Bintan menjadi destinasi wisata dunia akan mudah tercapai.
“Kita akan terus peduli dengan masyarakat Bintan. Namun kita mohonkan dukungannya agar Lagoi terus berkembang pesat dan menjadi pertama di Indonesia,” pungkasnya. (ary)