batampos.co.id – Keresahan warga pemilik keramba ikan di kampung Pondok Tani, Tembesi, atas maraknya kasus pencurian ikan selama ini akhirnya terkuak.
Mereka akhirnya menangkap sendiri tiga dari lima orang kelompok pencuri ikan di keramba tempat ternak ikan Lele dan Mujair mereka, Minggu (19/12/2016) sekitar pukul 21.00 WIB. Tiga orang tersebut adalah, Rf, Ps, dan Al dan sudah diserahkan ke Polsek Sagulung untuk ditindak lanjuti.
Bersama tiga orang itu polisi juga mengamankan satu unit mobil Avansa dan satu buah sampan yang dipakai para pelaku.
Ketua RW 02, Pondok Tani Suroso menuturkan, ketiga pelaku yang diamankan ke kentor polisi itu merupakan pelaku yang berada diatas mobil Avansa.
“Katanya mereka ada lima orang, dua lagi di dalam keramba, tiga lainnya tunggu di mobil, tapi ketahuan warga makanya tiga orang itu yang ditangkap, dua yang lagi di dalam keramba kabur,” kata Suroso.
Ketiga pelaku itu kata Suroso diduga pelaku yang sama sebab selama ini pemilik keramba di lokasi tersebut sering kemalingan.
“Pakai mobil mereka datangnya, makanya kemungkinan sudah sering mereka ini ambil ikan warga di sini,” tutur Suroso.
Penangkapan tiga pelaku pencuri ikan itu tutur Suroso bermula dari kecurigaan warga setempat atas kedatangan sebuah mobil Avanza di kawasan pemukiman warga itu dengan membuka portal gerbang sendiri.
“Sudah pukul 21.00 WIB, portal sudah tutup tapi dibuka sendiri sama mereka tanpa permisi,” ujar Suroso.
Warga yang curiga lantas mengintai mobil yang melaju ke arah keramba itu. Selang tak berapa lama dari dalam mobil turun dua orang pria. Kedua pria tersebut membawa serta sampan kecil bersama ember dan mata pancing menuju ke dalam keramba.
Belum lama berada di dalam keramba, warga langsung menyergap. Namun dua pria yang ada di dalam keramba berhasil kabur.
Tiga pria yang berada di dalam mobil tak bisa melarikan diri sehingga diserahkan ke Mapolsek Sagulung untuk ditindak lanjuti. (eja)
Jamaris dan Irwanto, pegawai Disdukcapil Pemko Batam yang terjaring OTT, Senin (17/10/2016) lalu akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa (18/10/2016). Keduanya resmi tersangka kasus pungli. Foto: Cecep Mulyana/Batam Postersangka
batampos.co.id – Mantan Kepala Bidang Pencatatan Sipil Disduk Batam, Jamaris, dan staf Disduk Capil Irwanto, resmi menjadi tahanan Kejaksaan Tinggi Kepri setelah berkas perkaranya dinyatakan lengkap atau P21.
Penanganan Jamaris dan Irwanto menjadi kewenangan jaksa sejak Jumat (16/12/2016) lalu, setelah kedunya diserahkan ke Kejati Kepri.
Tak hanya tersangka, Polda Kepri juga telah menyerahkan seluruh barang bukti dari hasil operasi tangkap tangan (OTT) ke kejaksaan.
“Sudah kami kirimkan (tersangka dan barang bukti,red),” kata Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepri Kombes Pol, Eko Puji Nugroho, Senin (16/12/2016).
Polisi kata Eko, akan tetap memantau kasus ini hingga selesai karena menjadi prioritas pihaknya. Walaupun barang bukti uang hasil pungli tidak besar. Tapi pihak kepolisian menduga pungli mengganggu pelayanan masyarakat di Disduk.
Untuk pasal yang dikenakan, Eko mengatakan pihaknya menjerat kedua orang tersebut dengan pasal 368 KUHP dan Pasal 95 huruf B UU RI No 24 thn 2013 ttg Perubahan atas UU RI No 23 thn 2006 tentang Administrasi Kependudukan.
Isi pasal tersebut bahwa setiap pejabat dan petugas pada desa/kelurahan, kecamatan, UPT instansi pelaksana dan instansi pelaksana yang memerintahkan dan atau memfasilitasi dan atau melakukan pungutan biaya kepada penduduk dalam pengurusan dan penerbitan dokumen kependudukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79.A (Pengurusan dan penerbitan dokumen kependudukan tidak dipungut biaya), terancam pidana 6 tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.
“Selain itu juga kami jerat mengani pasal di UU Tipikor,” katanya.
Selama penyidikan, kedua tersangka mengaku bahwa dana pungli itu hanya dinikmati sendiri. Namun Eko berharap, ada fakta baru terungkap nantinya di persidangan.
Jamaris dan Irwanto tertangkap tangan akibat pungli oleh pihak Polda Kepri pada 17 Oktober lalu di Kantor Dinas Kependudukan Kota Batam. Dari penyelidikan awal, modus yang digunakan yakni menerima sejumlah uang sebagai pelincin pengurusan dokumen di Dinas Kependudukan Kota Batam. (ska)
Ilustrasi seorang guru TPA sedang mengajarkan seorang anak mengaji. Foto: hidayatullah.com
batampos.co.id – Rapat paripurna masa persidangan I tahun sidang 2016 tentang laporan reses DPRD Kota Batam tidak hanya menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur. Hasil pertemuan fraksi dengan warga juga banyak yang meminta penempatan tenaga guru dan tenaga medis orang tempatan untuk diwilayah hinterland.
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Batam, Mesrawati Tampubolon mengatakan, pemerintah harus menempatkan tenaga guru dan kesehatan dengan memprioritaskan orang tempatan di pulau-pulau. Alasanya, mereka yang ditempatkan saat ini banyak yang tidak bertahan lama.
“Pemerintah Kota Batam agar mempriortaskan tenaga guru dan kesehatan orang-orang hinterland. Saat ini, orang yang datang kebanyakan tidak betah. Jadi mereka yang tinggal di pulau untuk diprioritaskan,” terang Mesrawati, saat memberikan laporan, Senin (19/12/2016).
Diakui, kebutuhan infrastruktur di tengah masyarakat dalam laporan reses memang sangat banyak. Hal ini bukan hanya didapat dari permintaan warga namun peninjauan yang dilakukan anggota DPRD Batam masih banyak ditemukan.
“Kebutuhan infrastruktur masih sangat banyak, baik infrastruktur dasar maupun pendukung. Kita telah mengklasifikasi, kebutuhan itu seperti jalan, listrik, sanitasi, mushalla dan lain sebagainya,” katanya.
Ia berharap, laporan ini dapat ditindaklanjuti pemerintah daerah. Karena laporan reses merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam menentukan arah kebijkan pembangunan.
Hal senada disampaikan anggota Fraksi PKS, Sukaryo. Laporan reses yang disampaikan fraksi DPRD agar muncul dalam pembahasan Kebijakan Umum Aggaran Plafon Prioritas Anggaran Sememntara (KUA PPAS) yang saat ini sedang dibahas.
“Harus menegaskan bahan ini tidak terpisahkan dalam pembangunan. Dan harus muncul dalam KUA PPAS dalam pembangunan. Ini poin yang perlu dicatat dan tercermin dalam KUA PPAS,” kata Sukaryo. (rng)
PH memeluk putranya, Fi, 17, yang tewas diamuk massa karena diduga hendak mencuri kendaraan bermotor, Senin (19/12/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Fi dan Ri, dua pelajar SMA di Batuaji tewas diamuk massa di perumahan Citra Pandawa, Batuaji, Senin (19/12/2016) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.
Kedua remaja berusia 17 tahun tersebut ketahuan hendak mencuri sepeda motor Satria FU BP 6903 FH milik Adi Chandra, warga perumahan Citra Pandawa di blok 4, RT 01/ RW 02, kelurahan Buliang, Batuaji.
Keduanya awalnya masih bernafas beberapa saat setelah diamuk massa dan sempat dilarikan ke Intalasi Gawat darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batuaji. Namun nyawa keduanya tak tertolong.
Diduga keduanya tewas akibat hantaman benda tumpul di sekujur tubuh mereka. Fi lebih dahulu meninggal dunia sekitar pukul 07.00 WIB, sementara Ri menyusul sekitar pukul 15.00 WIB sore.
Fi dan Ri yang belakangan diketahui sesama warga Pasir Putih, dan masih berstatus pelajar SMA di wilayah Batuaji itu diamuk massa karena teriakan Adi bahwa ada maling di rumahnya.
Warga Citra Pandawa yang sudah geram dengan maraknya aksi pencurian selama inipun bangun dan berbondong-bondong menguber keduanya. Fi dan Ri tak bisa melarikan diri dari komplek perumahan itu sehingga keduanya babak belur diamuk massa hingga sekarat.
“Satu lari ke arah Pandawa depan. Satu lari ke arah Pandawa belakang, tapi warga sudah ramai dan keluar rumah semua makanya mereka tak lolos,” ujar Iwan, salah seorang warga.
Sebelum dibawa ke RSUD, Fi dan Ri sempat dibawa massa ke lapangan posyandu di perumahan tersebut untuk dimintai keterangan, namun karena sudah sekarat keduanya akhirnya dilarikan ke RSUD.
“Sudah sekarat mereka saat dibawa ke sini, makanya langsung dibawa ke rumah sakit,” ujar Feni, warga lainnya.
Saat tiba di IGD RSUD, Fi dan Ri memang dalam kondisi sekarat dan tak sadarkan diri. Keduanya sama-sama mendapat pertolongan medis namun sekitar pukul 07.00 WIB pagi kemarin, Firdaus menghembuskan nafas terakhirnya di ruangan IGD.
“Sama-sama kritis kedua pasien saat tiba. Satu meninggal pagi tadi dan satu lagi sekitar pukul 15.00 WIB,” ujar dokter residen forensik RSUD, dr Agung, kemarin.
Penyebab tewasnya kedua remaja itu, diduga karena hantaman benda tumpul di sekujur tubuh mereka.
“Ada banyak memar bekas hantaman benda tumpul, termasuk di kepala kedua pasien ini. Mungkin itu yang membuatnya meninggal,” ujarnya.
Sedangkan pemilik motor yang hendak dicuri, Adi kepada polisi, malam sebelum kejadian itu dia dibangunkan oleh istrinya yang mendengar suara bunyi benda jatuh di teras rumahnya. Itu membuat Adi teringat akan sepeda motornya yang parkir di teras rumah. Adi kemudian beranjak dari tempat tidurnya keluar rumah dan melihat dua pria sedang berada di depan rumahnya.
“Satu sudah duduk diatas motor saya dan kunci kontak motor saya sudah dijebol, satu lagi duduk nunggu diatas sepeda motor mereka di luar teras,” ujar Adi kepada polisi.
Melihat itu Adi berusaha mendekat namun kedua pria asing itu malah kabur sehingga dia berteriak maling.
Kapolsek Batuaji Kompol Sujoko membenarkan kejadian itu. Kedua remaja yang diamuk massa meninggal dunia meskipun sebelumnya sempat mendapat perawatan medis di RSUD.
“Informasinya seperti itu (diamuk massa karena mencoba mencuri sepeda motor warga), tapi akan kami dalami lagi. Dua-duanya meninggal dunia,” ujar Sujoko.
Untuk mendalami kasus tersebut selain melakukan visum terhadap kedua korban yang meninggal, polisi juga telah mengamankan sejumlah barang bukti baik itu sepeda motor yang akan dicuri ataupun benda-benda seperti kayu dan batu yang ada di lokasi kejadian.
“Kami sudah ke lokasi kejadian dan beberapa barang bukti sudah kami amankan termasuk memeriksa saksi-saksi di TKP. Ini tetap akan kami dalami lagi,” tutur Sujoko.
Kejadian itu membuat GS dan PH, orangtua Fi yang sempat terpantau mendatangi kamar jenazah RSUD kemarin terpukul. Mereka tak menyangka bahwa putera pertama mereka itu berakhir seperti itu.
“Kenapa bisa begini nak. Bangun nak, jangan tinggalin mama nak,” teriak PH di kamar Jenazah RSUD.
Keluarga besar Fi tak terima dengan kejadian itu dan berencana akan memproses lanjut kasus yang menyebabkan Fi tewas itu.
“Kita punya hukum kenapa main hakim sendiri. Harus dilaporkan balik ini,” ujar salah satu anggota keluarga Fi di kamar Jenazah. (eja/bp)
Warga mengevakuasi mayat Ajie Novri Pangestu Samosir yang tenggelam di bekas galian,Serkuit Capung, Seitemiang, Tanjungriau, Sekupang, Senin (19/12/2016). Foto: Kompol Ferry Aprizon untuk Batam Pos
batampos.co.id – Kematian Ajie Novri Pangestu Samosir, pelajar SMP Negeri 35 Batam, akibat tenggelam di dasar kolam berlumpur di Seitemiang, Sekupang, Senin siang (19/12/2016) membawa duka mendalam bagi adiknya, Lutfi, 13.
Lutfi menuturkan pagi harinya sang kakak sempat mengajak dirinya untuk ikut ke arena balap motor yang berada di Capung, Seitemiang itu.
“Dek, kamu mau ikut abang nga, main motor seperti pembalap di Marina,” kata perempuan berjilbab itu menirukan perkataan sang kakak.
Ajakan tersebut ditolak Lutfi. Ia tak menyangka ajakan sang kakak itu merupakan yang terakhir. Ajie memang suka mengajak adiknya jalan-jalan di tempat-tempat yang menurutnya menarik.
Tanpa Lutfi, Ajie tetap keluar rumah. Menurut keterangan sahabat korban, Restu Perdia, Ajie bersama enam temannya sempat bermain di salah satu warnet yang berada di Perumahan Puskopkar, Batuaji. Setelah itu mereka memutuskan berenang di kolam tersebut.
“Setelah main, mereka menuju Capung untuk bermain, namun karena melihat kolam mereka memutuskan untuk berenang. Setelah satu jam berenang, korban tidak tampak, dan sahabatnya teriak minta tolong. Warga yang berada dekat kolam langsung membantu mencari korban,” ujar Kompol Ferry Aprizon, kapolsek Sekupang.
Butuh waktu 2 jam untuk menemukan jasad Ajie. “Akhirnya ditemukan di dasar kolam,” kata Kapolsek. (cr17)
batampos.co.id – Kapolda Kepri Sam Budigusdian akan menerima kenaikan pangkat dari Brigadir Jenderal menjadi Inspektur Jenderal seiring perubahan status Polda Kepri dari tipe B menjadi tipe A. Sam akan menyandang dua bintang di pundaknya, Upacara kenaikan pangkat akan digelar hari ini (20/12) di Mabes Polri.
“Pak Kapolda nanti pangkatnya bintang dua dan Wakapolda bintang satu,” ungkap Kabid Humas Polda Kepri, AKBP S Erlangga, kemarin (19/12).
Erlangga mengatakan, direncanakan upacara kenaikan pangkat ini akan dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Demikian juga dengan peresmian kenaikan tipe Polda Kepri menjadi tipe A, dijadwalkan akan diresmikan langsung oleh Kapolri pada Januari tahun depan.
“Memang Pak Kapolri ingin meresmikan sendiri,” katanya.
Erlangga menambahkan, pada saat ini beberapa posisi di jajaran direktorat Polda Kepri telah berganti dengan yang berpangkat Kombes Senior. “Beberapa posisi dir (direktur) dan wadir (wakil direktur) sudah ada pergantian kemarin,” imbuhnya
Sebelumnya, Kapolda Kepri Brigjend Pol Sam Budigusdian mengatakan pihaknya terus berbenah menyusul kenaikan tipe Polda Kepri. Mulai dari pembangunan Rumah Sakit Bayangkara hingga pendirian Sekolah Polisi Negara (SPN).
Menurut dia, sudah selayaknya status Polda Kepri naik menjadi tipe A. Sebab beban kerja di Kepri memang cukup tinggi.
Nantinya, kata Kapolda, tipe Polda Kepri akan mirip dengan yang ada di Sumatera Utara. Kemungkinan juga akan adanya penambahan personel yang memadai dan mumpuni.
“Tentu ada,” ujarnya singkat.
Ia menegaskan poin penting penilaian naiknya tipe Polda Kepri berdasarkan pada kondisi wilayah hukum yang berbatasan langsung dengan beberapa negara tetangga. Lalu luasnya wilayah laut dibandingkan daratan, juga menjadi salah satu penilaian.
“Penduduk Kepri juga cukup heterogen,” ujarnya.
Seperti diketahui, selain Polda Kepri, Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga menaikkan status dua Polda lainnya. Yakni Polda Riau dan Polda Lampung.
“Kami usulkan Polda yang statusnya naik tipologinya yaitu polda kepulauan Riau, Polda Lampung, dan Polda Riau,” kata Tito yang didampingi Menteri Pendayaan Aparatur Negara (Men PAN) Asman Abnur, beberapa waktu lalu.
Dia menerangkan, dinaikannya ketiga polda tersebut dikarenakan teritorialnya berada di perbatasan, dan dilihat meningkatnya kerawanan kejahatan. “Kenaikan tipe juga dilihat dari kerawanan wilayah kerja,” jelasnya. (cr1)
Warga mengevakuasi mayat Ajie Novri Pangestu Samosir yang tenggelam di bekas galian,Serkuit Capung, Seitemiang, Tanjungriau, Sekupang, Senin (19/12/2016). Foto: Kompol Ferry Aprizon untuk Batam Pos
batampos.co.id – Ajie Novri Pangestu Samosir, pelajar kelas IX SMP Negeri 35 Batuaji, Batam, Kepri, ditemukan tidak bernyawa di kolam bekas galian Capung, Seitemiang, Senin (19/12/2016) sekitar pukul 13.30 WIB.
Remaja 16 tahun ini ditemukan warga setelah menyelam di kolam bekas galian tersebut selama kurang lebih dua jam.
“Saat ditemukan tubuh korban berada di dasar kolam,” kata Kapolsek Sekupang, Kompol Ferry Aprizon, Seperti diberitakan di koran Batam Pos, Selasa (20/12/2016).
Pencarian berlangsung kurang lebih dua jam ini dibantu oleh warga yang berada di sekitar tempat kejadian. Kolam buatan berukuruan 100 kali 50 meter ini, merupakan bekas galian dan rencananya akan dijadikan kolam ikan.
Menurut keterangan sahabat korban, Restu Perdia, sebelumnya korban bersama enam temannya sempat bermain di salah satu warnet yang berada di Perumahan Puskopkar, Batuaji, sebelum akhirnya memutuskan berenang di kolam tersebut.
“Setelah main, mereka menuju Capung untuk bermain, namun karena melihat kolam mereka memutuskan untuk berenang. Setelah satu jam berenang, korban tidak tampak, dan sahabatnya teriak minta tolong. Warga yang berada dekat kolam langsung membantu mencari korban,” jelas pria yang pernah menjabat Kasat Sabhara Polresta Barelang ini.
Setelah melakukan pencarian selama dua jam, akhirnya korban ditemukan dan langsung dibawa ke Rumah Sakit BP Batam, Sekupang.
Sementara itu, ayah korban, Hasnan Samosir terlihat sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa putra keduanya tersebut. Sesekali terlihat dia mengusap-usap kepala korban yang tengah terbaring kaku di kamar jenazah. Raut kesedihan begitu terlihat ketika dia memandangi wajah putra kesayangannya itu.
Pantauan Batam Pos di lokasi kejadian, kolam berukuran 100 kali 50 meter itu, memiliki kedalaman enam meter dipenuhi air. Tidak ada pagar atau tulisan larangan berenang di sekitar kolam.
Salah seorang warga, Badrun mengatakan kolam bekas galian ini memang sering digunakan oleh anak-anak untuk berenang. “Sering dan banyak yang berenang juga, karena ga dipagari juga,” kata dia.
Dia juga tidak mengetahui pemilik lahan bekas galian tersebut. “Tidak tahu punya siapa,” sebutnya lagi.
Sebelumnya, kolam bekas galian juga menelan korban jiwa bocah berusia 10 tahun di kolam bekas galian di kawasan Simpang Nato, Sagulung, beberapa waktu lalu. (cr17/nas/JPG)
batampos.co.id – Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Batam, Yumasnur mengatakan akan segera melakukan perluasan drainase, salah satunya adalah drainase yang berada di sepanjang Pasar Tiban Center hingga Perumahan Mc Dermot, Tiban.
“Kondisi drainase mengalami penyempitan, tapi sekarang sudah kita lakukan pelebaran seluas dua meter,” kata dia, Minggu (18/12).
Untuk sisi kanan drainase sudah selesai, selanjutnya menunggu tahun depan untuk dibangun batu miring sebagai pembatas drainase dengan lahan yang berada di sebelahnya.
Dia menambahkan, pelebaran tidak hanya dilakukan di bagian kanan drainase, melainkan juga di bagian kiri drainase. Di kiri drainase akan dilakukan pelebaran sekitar satu meter.
“Kendalanya, banyak kios yang berdiri di tepi drainase, jadi kami harus tunggu pembongkaran dulu,” sebut pria yang akrab disapa Yu ini.
Sementara itu, lurah Tiban Indah, Yudi Suprapto mengatakan pemilik kios yang berada di tepi drainase sudah mulai membongkar kios mereka. Sebelumnya, lanjut dia pedagang sudah diberitahu mengenai pelebaran yang akan dilakukan oleh dinas PU.
“Sudah kami beritahu, dan mereka setuju. Bahkan beberapa diantara mereka sudah mulai membongkar kios secara sukarela. Karena ini demi kenyamanan warga juga, terutama saat turun hujan,” jelasnya.
Pantauan Batam Pos di lapangan, beberapa pemilik kios mulai merobohkan bangunan yang berda di tepi drainase. Bangunan permanen saat ini mulai rata dengan tanah.(cr17)
batampos.co.id – Kepala Dinas Kelautan Perikanan Pertanian dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam, Husnaini mengatakan terjadi peningkatan permintaa terhadap kebutuhan sayuran di Kota Batam.
Data dari KP2K Kota Batam menyebutkan selama tahun 2015 jumlah kebutuhan masyarakat akan sayuran sebanyak 49 ton sedangkan produksi hanya 25 ton.
“Produksi kita belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata dia.
Tingginya permintaan ini tidak sebanding dengan jumlah produksi sayuran yang dihasilkan petani di Batam. Karenanya, pemerintah harus mendatangkan sayuran dari luar pulau Batam seperti, Medan, dan Pulau Sumatera, Tanjungpinang.
Harga sayuran yang melambung disebabkan beberapa faktor diantara, mahalnya ongkos dari daerah asal, kondisi cuaca yang buruk, sehingga mempengaruhi produksi sayuran.
Pemerintah juga terus berusaha untuk menekan tingginya harga sayuran di Batam, salah satunya dengan membuka lahan pertanian di tiga pulau sekaligus. Tidak hanya sayuran tetapi juga untuk perikanan.
“Masih kami kaji, ke depan kami harapkan Batam bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan sayur,” harap perempuan yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Program KP2K ini. (cr17)
batampos.co.id – Jumlah narapidana (Napi) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II Batam di Barelang kelebihan beban. Saat ini dihuni 1.450-an napi.
Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan (Binadik) Lapas Batam, Rommy mengatakan, “kapasitas napi disini sudah lebih 300 persen.”
Untuk mencegah ledakan warga binaan di dalam lapas itu, selain berharap agar aparat penegak hukum membasmi tuntas pelaku pengendar narkoba sebab mayoritas penghuni ialah terpidana kasus narkoba, juga berharap agar mereka yang memakai narkoba dipertimbangkan lagi terkait hukumnya.
“Kalau bisa di rehabilitasi saja atau buatlah lapas khusus narkoba agar semuanya jangan tertumpuk disini,” kata Rommy.
Kondisi lapas Batam saat ini sambung Rommy memang sudah tak seimbang lagi. Dalam satu kamar, napi yang harus dikurung lebih dari angka 20 orang. Padahal daya tampung ideal untuk satu kamar di blok penjara hanya 12 orang saja.
Ini menjadi keluhan serius warga binaan disana sebab kapasitas dalam satu ruangan yang mencapai diatas 20 an membuat mereka tak nyaman. Untuk tidur saja mereka harus bergantian.
“Kadang sampai ke toilet kalau mau tidur, memang sudah terlalu banyak,” ujar Akim salah seorang, Napi kepada Batam Pos belum lama ini. (eja)