Jumat, 1 Mei 2026
Beranda blog Halaman 14062

Keluarga Terduga Teroris Trauma

0

batampos.co.id – Penangkapan dan penahanan lima terduga teroris membuat pihak keluarga trauma dan tertekan. Terlebih hingga saat ini mereka tidak mengetahui keberadaan dan kelima terduga teroris jaringan KGRD tersebut.

“Sampai sekarang tak ada kabar atau pemberitahuan terkait keberadaan dan kondisi anak kami dari polisi. Katanya ditangkap tapi kok polisi nggak datang ke sini,” ujar Hamidin, ayah terduga teroris HGY, saat ditemui di rumahnya di Batuaji, Minggu (7/8).

Hamidin enggan banyak komentar saat ditemui koran Batam Pos. Bahkan dia tak mau menemui wartawan. Bersama istrinya, Hamidin hanya melayani percakapan dengan wartawan dari teras.

“Maaf Mas, benar-benar stres dan trauma kami sekarang. Jangan dulu tanya-tanya ya,” ujar Hamidin.  (eja)

Polisi Terus Telisik Jaringan Terduga Teroris

0
Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri dan Brimob Polda Kepri melakukan penggerbekan sebuah rumah terduga teroris di Perumahan Sakura Cluster  Batamcenter saat dilakukan penggeledahan, Jumat (5/8). dari penggeledahan tersebut polisi mengamankan sejumlah barang bukti.  F Cecep Mulyana/Batam Pos
Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri dan Brimob Polda Kepri melakukan penggerbekan sebuah rumah terduga teroris di Perumahan Sakura Cluster Batamcenter saat dilakukan penggeledahan, Jumat (5/8). dari penggeledahan tersebut polisi mengamankan sejumlah barang bukti. F Cecep Mulyana/Batam Pos

TIM Densus 88 Mabes Polri dan Polda Kepri terus memburu para terduga teroris jaringan Katibah (kelompok) GRD. Polisi menduga, jaringan baru ini tersebar di beberapa daerah lain di luar Batam.

“Bukan di Batam saja, dan tidak bisa dipastikan mereka dimana. Yang pasti target kita di Batam hanya lima saja,” kata Kapolda Kepri, Brigjen Pol Sam Budigusdian, usai menghadiri acara halal bihalal Punggowo di Stadion Temenggung Abdul Jamal, Batam, Minggu (7/8) sore.

Mantan Wakakorlantas Mabes Polri ini menjelaskan, saat ini kelima terduga teroris jaringan KGRD yang ditangkap di Batam Jumat (5/8) lalu masih menjalani pemeriksaan. Mereka masih ditahan di Batam, namun lokasinya dirahasiakan.

Untuk mengembangkan kasus ini, kata Sam, polisi juga memeriksa orang-orang terdekat kelima terduga teroris tersebut. Antara lain istri, anak, dan rekan mereka.

“Saat ini tim sedang memeriksa dan mengembangkannya,” tegasnya.

Sam menambahkan, dengan penangkapan kelima terduga teroris ini, masyarakat Batam diminta untuk tidak khawatir. Termasuk kepada wisatawan asing.

“Ini seharusnya kabar yang menggembirakan bagi kita. Ini suatu tindakan preventif dari Polri agar peristiwa besar tidak terjadi,” katanya.

Dalam kejadian ini, sambung Sam, anggotanya akan memfokuskan untuk mengamankan Batam. Agar ke depannya iklim investasi dan kerukunan masyarakat tetap terjaga.

Oleh karena itu, Sam mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keamanan di Batam.

“Peran masyarakat sangat dibutuhkan. Yang penting Batam tetap aman,” imbuhnya.

Disinggung soal dilepasnya seorang teduga terosis bernama M. Tegar Sucianto, Sam mengaku Tegar ditangkap saat mengendarai motor bersama terduga teroris bernama Hadi. Pria 19 tahun ini diketahui hanya sebagai rekan Hadi.

“Target hanya lima orang saja. Dan dia (Tegar) hanya temannya Hadi,” tutup Sam.

Seperti diketahui, Jumat (5/8) lalu Tim Densus 88 Mabes Polri bersama jajaran Polda Kepri menangkap enam terduga teroris kelompok KGRD di Batam.

Djoko Mulyono: Hampir di Setiap Kecamatan Ada Tumpukan Sampah

0
Sampah meluber di Jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang, Batuaji, Senin (11/7/2016). Banyak sampah yang tidak diangkut oleh DKP di berbagai titik yang mengakibatkan penumpukan dan bau menyengat. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Sampah meluber di Jalan. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Permasalahan sampah di Kota Batam seperti tak pernah habisnya. Tak hanya di hari-hari libur saja, akhir pekan pun sampah menumpuk dan berserakan di perumahan. Kondisi ini kian membuktikan Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang bertanggungjawab tak mampu menyelesaikan masalahnya.

Ketua Komisi III DPRD Batam, Djoko Mulyono mengaku hampir setiap Kecamatan ada tumpukan sampah, baik yang ada di perumahan maupun jalanan umum. Padahal, Dinas Kebersihan dan Pertamanan sudah di-back up pihak ketiga, bahkan dibantu Kecamatan. Namun permasalahan sampah tidak ada habisnya.

“Ini akibat sistem pengangkutan buruk,” kata Djoko beberapa waktu lalu.

Terkait anggaran, politisi Partai berlambang beringin ini mengaku, anggaran DKP sangat besar, yakni di atas Rp 300 miliar. Bahkan, dari temuan dan evaluasi Pansus, pengelolaan sampah yang dilakukan pihak swasta lebih baik, ketimbang DKP yang terlihat kedodoran dan jauh dari harapan.

Anggota Komisi III lainnya, Muhammad Yunus Muda menambahkan, anggaran besar DKP berbading terbalik dengan hasilnya. Untuk pengakutan saja, Pemko Batam menganggarkan Rp 110 miliar per tahun, jumlah yang hampir sama dengan anggaran pengelolaan sampah di Kota Surabaya sebesar Rp 130 miliar.

“Kota Surabaya penduduk yang mencapai 3 miliar hasilnya sangat memuaskan,” tuturnya.

Hasil ini, lanjutnya, tak lepas dari peran pemerintah daerah yang memberikan kesempatan pihak ketiga untuk mengelola sampah. Sekitar 60 persen yang diswakelolakan, sisanya diberikan kepada pihak ketiga. “Ada perbandingan antara pihak ketiga dan swakelola,” sebut Yunus.

Selain pengakutan sampah, permasalahan sampah lainnya yang dihadapi DKP ialah retribusi sampah, hingga hari ini juga tidak pernah mencapai target dan cenderung bermasalah. Begitu juga pengelolaan tenaga penyapu jalan, yang setiap tahunnya menyedot anggaran masih jauh dari harapan.

“Dana besar tapi kinerja lemah,” pungkasnya. (rng)

DPRD Batam: Pemko Harus Berani Tolak Imigran

0

Nuryanto -F Cecep Mulyana (1)batampos.co.id – Semakin hari, jumlah pencari suaka di Batam terus bertambah. Selain di Hotel Kolekta Batam, Taman Aspirasi, depan Gedung DPRD Batam, juga menjadi lokasi tempat tinggal para imigran dari Timur Tengah tersebut.

Para imigran yang berada di Hotel Kolekta tergolong beruntung, karena dibiayai dan menjadi tanggungjawab UNHCR. Berbanding terbalik bagi mereka yang berada Taman Aspirasi, terkatung-katung dan tak jelas arah dan tujuannya.

Ironisnya lagi, International Organization for Migration atau Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang sebelumnya menjadi tanggungjawab mereka, lepas tangan dan melayangkan surat resmi kepada pihak DPRD Kota Batam.

Isi dalam surat IOM melalui Imigrasi itu menyebutkan jika imigran ini di luar tanggungjawab mereka.

“IOM tak lagi memberikan biaya bagi mereka yang ada di Taman Aspirasi, Batam Center,” ujar Ketua DPRD Batam, Nuryanto, kemarin.

Menanggapi hal ini, politisi PDIP itu mengaku akan memberikan rekomendasi ke Walikota, agar bisa berkoordinasi dengan badan-badan di muspida. Di sisi lain pemko Batam perlu mengambil sikap dengan berkoordinasi dengan pusat.

“IOM sudah tak tanggungjawab lagi. Makanya Pemko harus ambil sikap tegas,” ucapnya.

Ia juga mengeluhkan keberadaan pengungsi itu di Batam. Alasannya, tak ada tempat untuk penempatan mereka.

Bila perlu pemko harus menutup ruang gerak bagi imigran ini. Pasalnya apabila kita kasih harapan maka Kota Batam akan semakin diserbu para pencari suaka. “Kalau perlu stop mereka, karena Batam bukan tempat mereka,” pungkasnya.

Pantauan Batam Pos, para imigran itu tinggal tinggal di Taman Aspirasi, karena tak medapatkan tempat penampungan. Dalam keseharianya, imigran ini tidur di taman dengan mendirikan tenda beralasakan spanduk dan kertas kardus.

Dan bila mana usai magrib, mereka pindah ke parkiran DPRD Batam. Area lantai, DPRD menjadi tempat beristirahat mereka. Sebelum jam masuk pegawai dan anggota DPRD, mereka sudah pindah ke Taman Aspirasi, tak jauh dari sana.

Salah satu imigran mengaku, sudah lebih tiga bulan tinggal di Batam. Mereka berharap pemerintah dan PBB dalam hal ini lembaga yang menangani masalah imigran untuk memberikan bantuan suaka. (rng)

Tak Mungkin Anak Kami Masuk Jaringan Terorisme

0
Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri dan Brimob Polda Kepri melakukan penggerbekan sebuah rumah terduga teroris di Perumahan Sakura Cluster  Batamcenter saat dilakukan penggeledahan, Jumat (5/8). dari penggeledahan tersebut polisi mengamankan sejumlah barang bukti.  F Cecep Mulyana/Batam Pos
Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri dan Brimob Polda Kepri melakukan penggeledahan sebuah rumah terduga jaringan teroris di Perumahan Botania 1 Cluster Sakura Batamcenter, Jumat (5/8/2016).  Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Orangtua terduga jaringan terorisme Bahrum Naim yang diamankan Tim Densus 88 di Batam, Jumat pagi (5/8/2016) rata-rata tak percaya anak mereka bagian dari jaringan terorisme. Apalagi rata-rata masih tinggal serumah dan tahu persis karakter anak mereka.

Hmd dan Drm, ayah dan ibu, HGY (20), salah satu dari enam orang yang diamankan Densus 88 karena Densus menyebutnya terduga jaringan terorisme kelompok Bahrum Naim, mengaku sangat terpukul dan tak yakin putra pertamanya itu terlibat jaringan terorisme.

”Tak tahu apa salah anak kami. Ditangkap tapi tak ada pemberitahuan sama sekali. Kami ingin tahu yang sebenarnya pak. Kalau dia salah, paling tidak datang dan kasi tahu biar kami tahu.” ujar Drm, ibu HGY, kepada wartawan, Sabtu (6/8/2016).

Sang ayah, Hmd, juga berharap kepada Densus 88 secepatnya memberikan informasi pasti terkait penangkapan anak pertamanya itu.

”Ya kalau salah dia silakan ditahan. Jujur saja kami dapat informasi ini semua dari media. Dari kepolisian sama sekali tak ada,” ujar Hmd.

Sampai siang kemarin, keluarganya hilang kontak dengan HGY. Ponsel HGY tidak bisa dihubungi dan keberadaan HGY juga tidak diketahui pasti. ”Mau ketemu dia dimana, kamipun bingung,” ujar Hmd.

Kejadian itu diakuinya membuat keluarganya terpukul. Pasalnya informasi yang menyebutkan HYG terlibat dalam jaringan terorisme hal yang tak disangka sama sekali.

HGY menurutnya pemuda baik dan penurut. Memiliki bawaan pendiam, HGY memang rajin dan tekun dalam urusan agama, sehingga dia yakin anaknya itu tak mungkin terlibat dalam jaringan teroris seperti yang disangkakan.

Setiap malam HGY memang pamit ngaji, namun kedua orangtua HGY ini menilai wajar jika seorang muslim menuntut ilmu secara terus menerus.

”Keluar setelah isya. Apalagi kalau malam Jumat. Namanya orang mau beribadah ya tak mungkin saya larang,” ujarnya.

Setiap keluar untuk ngaji, Hadi membawa satu tas kecil berisikan buku-buku agama dan Alquran. Ayah HGY mengangap wajar jika anaknya menuntur ilmu agam karena dia sebagai seorang muslim. (cr14/eja/ska)

Tak Terbukti Terduga Jaringan Teroris, Tegar Dilepas Densus 88

0
Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri dan Brimob Polda Kepri melakukan penggerbekan sebuah rumah terduga teroris di Perumahan Sakura Cluster  Batamcenter saat dilakukan penggeledahan, Jumat (5/8). dari penggeledahan tersebut polisi mengamankan sejumlah barang bukti.  F Cecep Mulyana/Batam Pos
Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri dan Brimob Polda Kepri menggeledah sebuah rumah terduga jaringan teroris di Perumahan Botania 1 Cluster Sakura Batamcenter, Jumat (5/8/2016).  Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Muhammad Tegar Sucianto, satu dari enam terduga jaringan teroris yang diamankan Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Batam, Jumat (5/8/2016) pagi, akhirnya dilepas.

Tegar tidak terbukti bagian dari terduga jaringan teroris Bahrum Naim sehingga dikembalikan ke orangtuanya di Perumahan Taman Batuaji Indah 2 blok S nomor 15, Sagulung, hari itu juga sekitar pukul 18.00 WIB.

Tegar dalam penangkapan terduga jaringan teroris itu hanya sebagai saksi. Saat penangkapkan, Tegar sedang membonceng HGY (20) dengan sepeda motornya. HGY adalah rekan kerja Tegar yang hingga saat ini masih ditahan Densus karena Densus 88 mengklaim HGY terindikasi bagian jaringan teroris.

Desy, ibu Tegar, saat ditemui wartawan di kediamannya, Sabtu (6/8/2016) menjelaskan, ikut ditangkapnya anaknya karena kebetulan saja. Densus sebenarnya manargetkan HGY, yang kebetulan satu motor dengan Tegar, sehingga Tegar ikut dibawa.

”Sudah dua hari Tegar memang selalu jemput HGY untuk sama-sama ke tempat kerja. Mungkin sepeda motor HGY lagi rusak,” ujar Desy, seperti dilansir koran Batam Pos, Minggu (7/8/2016).

Tegar yang berboncengan dengan HGY dibekuk di jalan raya depan perumahan mereka. ”Waktu itu polisi menanyakan Tegar itu siapanya HGY, Tegar Jawab teman dia sejak sekolah sampai kerja, makanya dibawa,” ujar Desy.

HGY akhirnya ikut dibawa polisi ke Mako Satbrimob Polda Kepri. Menurut penuturan Desy seperti yang disampaikan Tegar, di Mako Satbrimob Polda Kepri, Tegar ditahan di ruangan yang berbeda dengan HGY.

”Satu orang satu ruangan, jadi mereka tak lihat satu sama lain saat di sana,” ujar Desy.

Sementara menurut Tegar, nyaris tidak dipedulikan oleh petugas. Ia hanya beberapa kali ditanya terkait bagaimana hubungan pertemanannya dengan HGY serta tahu tidaknya aktifitas HGY selama ini.

”Saya juga ditanya sejak kapan kenal dengan HGY,” ujar Tegar kepada wartawan.

Kepada polisi, Tegar mengaku mengenal HGY sejak SMP. Lalu sama-sama sekolah di SMK Negeri 1 Batam. Bahkan, mereka juga bekerja di satu perusahaan di kawasan Bintang Industri Tanjunguncang.

Terkait perilaku HGY, Tegar melihat terjadi perubahan cukup signifikan dari sosok temannya itu sejak rajin salat dan aktif di kegiatan keagamaan. ”Saya juga salut karena sifatnya berubah,” ujarnya.

Perubahan itu terjadi saat keduanya duduk di kelas II SMK Negeri 1 Batam. Bahkan suatu ketika, HGY mengajak Tegar untuk ikut pengajian dengan teman-temannya.

Tegar sempat ikut sekali, namun kemudian memilih tidak melanjutkan karena menurutnya ada yang bertentangan dengan sikapnya.

”Hanya sekali itu saja saya ikut karena diajak. Sampai kini saya tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang dilakukan HGY dan teman-temannya,” ujarnya.

Sementara Desy mengaku sedikit menyesal dengan tindakan polisi yang tanpa pemberitahuan membawa anaknya, namun demikian dengan telah dipulangkannya sang anak, Desy mengaku lega.

”Seharian saya kuatir sekali. Ponselnya tak aktif mau tanya kabar. Rupanya saat ditangkap ponsel mereka langsung diambil polisi. Tapi Alhamdulillah, ternyata anak saya baik-baik saja dan sudah kembali,” tuturnya.

Desy yakin kalau Tegar tak terlibat dalam kegiatan kriminal ataupun kelompok radikal lainnya. Sebab selama ini putra pertamanya itu beribadah, bergaul dan menjalani hidup apa ada layaknya pemuda lain umumnya.

”Tak ada yang menonjol. Biasa saja dia. Salat ya salat, main ya main, kerja ya kerja. Makanya kaget juga saat tahu anak saya ditangkap kemarin,” tuturnya.

Pasca penangkapannya bersama HGY salah satu terduga teroris. Tegar memang terlihat sehat sebagaimana adanya. Orangtua Tegar yang semula cemas akhirnya kembali legah setelah polisi menyatakan anaknya tak terlibat dalam jaringan terorisme itu.

Meski demikian, Tegar tetap tertekan. Selain karena sempat ditahan, berita penangkapanya sebagai salah satu terduga teroris telah menyebar.

Tegar kata Desy khawatir jika informasi penangkapannya itu berimbas pada kerjanya. Sehingga ia berharap pihak kepolisian memberikan klarifikasi resmi agar nama baik anaknya kembali dipulihkan.

”Dia takut dikeluarin dari tempat kerjanya. Makanya kami minta polisi klarifikasi dan sampaikan secara resmi bahwa anak kami ini tidak bersalah apapun,” ujar Desy. (eja/cr14)

BP Batam Mawas Diri Terkait Audit BPKP

0
Deputi V BP Batam, Gusmardi Bustami. Foto: istimewa
Deputi V BP Batam, Gusmardi Bustami. Foto: istimewa

batampos.co.id – Hasil audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang menyebutkan BP Batam banyak mengobral lahan membuat para petinggi BP Batam mawas diri. Mereka berjanji untuk segera membenahi keberadaan institusi pengelola Batam ini.

“Saya tidak tahu soal audit BPKP ini. Bagi kami yang terpenting adalah membangun BP Batam kembali dari awal,” ucap Deputi V BP Batam, Gusmardi Bustami, kemarin (5/8).

Ia meminta kepada masyarakat agar jangan mendiskreditkan BP Batam yang baru terkait hasil audit BPKP ini.

“Kita sudah mencoba untuk mengubah keadaan yang sekarang, dan biarlah masyarakat yang menilai kami saat ini,” ujar Gusmardi mencoba diplomatis.

Gusmardi sangat mengerti hasil audit BPKP menohok keras mengenai persoalan sistem pengelolaan lahan di Batam yang sangat buruk.

“Makanya kami melakukan bersih-bersih internal. Bagian lahan kami ganti dengan tujuan itu,” katanya lagi.

Kebijakan berikutnya yang dilakukan oleh pimpinan BP Batam yang baru adalah melakukan pemanggilan terhadap para pemilik lahan tidur dan penunggak UWTO.

“Berikutnya adalah mempermudah perizinan baik di lahan maupun investasi,” ungkapnya.

Sebelumnya, hasil audit BPKP menunjukkan BP Batam dalam rentang waktu antara 8 Maret hingga 5 April mengeluarkan keputusan-keputusan strategis yang berdampak luas.

Padahal sesuai dengan surat edaran nomor S-57/M.EKON/03/2016, BP Batam tidak boleh melakukan hal tersebut.

Kebijakan-kebijakan strategis yang bersifat ilegal yang dikeluarkan BP Batam antara lain terkait pengalihan aset, pengamanan dokumen, penandatanganan perjanjian, pemberian dan perpanjangan izin, perubahan status hukum pada organisasi, kepegawaian dan alokasi anggaran.

Salah satu contohnya adalah BP Batam telah menerbitkan 149 Penetapan Lokasi (PL) untuk lahan seluas 300 hektare lebih, kemudian pembiaran terhadap penunggakan UWTO atas tanah seluas 442,68 hektare senilai Rp 235 miliar.

Saat itu yang menjabat sebagai Deputi III BP Batam yang membidangi sistem pengelolaan lahan adalah Istono.

Batam Pos (grup batampos.co.id) mencoba mengkonfirmasi dengan menelpon dan melayangkan SMS kepadanya, namun belum ada balasan sama sekali sampai saat ini.(leo)

Polda Kepri Tolak Laporan BP Batam Terkait Faktur UWTO Palsu

0
Kabiro Hukum BP Batam, Krisnawan Putranto, Jumat (5/8). F.Rezza Herdiyanto/Batam Pos
Kabiro Hukum BP Batam, Krisnawan Putranto, Jumat (5/8). F.Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Polda Kepri menolak laporan dari Badan Pengusahaan (BP) Batam terkait faktur palsu Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO).

Kepolisian terpaksa mengembalikan berkas laporan tersebut karena BP Batam dianggap tidak melampirkan dokumen asli dari kasus penipuan tersebut.

“Laporan ditolak karena ada beberapa berkas yang ditolak,” kata Kepala Biro Hukum BP Batam, Krisnawan Putranto, kemarin (5/8) di Gedung Marketing BP Batam.

Krisnawan menjelaskan bukti yang dilampirkan BP Batam dianggap belum lengkap sehingga tidak bisa dijadikan bukti.

“Itu penyampaian dari Polda Kepri ke kami,” jelasnya.

Polda Kepri meminta agar BP Batam melampirkan dokumen asli dari kasus faktur palsu tersebut.

“Ya kita lagi berupaya untuk koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Krisnawan juga mengungkapkan pada saat melapor ke Polda Kepri beberapa hari yang lalu, pihaknya hanya membawa salah satu salinan dari faktur palsu tersebut. Isinya mengenai biaya pengukuran tanah senilai Rp 16 juta.

“Hanya satu saja yang kami bawa sesuai dengan arahan pimpinan,” ungkapnya.

BP Batam terlihat belum serius untuk menangani kasus ini, padahal faktur palsu merupakan bukti keberadaan mafia lahan yang kerap mengambil keuntungan dari sistem pengelolaan lahan yang kacau di Batam.

Sebelumnya, Deputi III BP Batam, Eko Santoso Budianto mendapat laporan tak terduga tentang keberadaan faktur uang muka UWTO palsu. Laporan tersebut datang dari seorang pengusaha yang sedang menanti keluarnya HPL dari BP Batam atas peermohonan lahannya.

Dia mengaku mendapat Faktur UWTO dari BP Batam. Faktur tersebut ditandatangani oleh Eko. Namun anehnya, Jabatan Eko dalam faktur tersebut sebagai Kepala Kantor Pengelolaan Lahan BP Batam.

Ketika diminta menunjukan faktur yang dimaksud, pengusaha tersebut membawa 6 faktur palsu kepada Eko.

“Ada orang yang lapor ke saya. Dia lagi ngejar-ngejar supaya HPL nya cepat keluar. Dia bilang punya bukti bahwa BP Batam sudah ngeluarin faktur untuk DP UWTO. Totalnya ada 6 faktur yang dibawa ke saya,” ujarnya.

Eko kaget melihat faktur palsu tersebut. Apalagi sejak menjabat Eko tak pernah mengizinkan bagian lahan mengeluarkan faktur pembayaran uang muka UWTO. BP masih menunggu hingga audit BPKP selesai dan tarif UWTO baru disahkan oleh Kementerian Keuangan.

“Saya masih nunggu 2 hal. Audit BPKP dan tarif UWTO baru. Kami belum pernah mengeluarkan faktur hingga hari ini. Apalagi tandatangan saya di faktur itu bagai bumi dan langit. Sangat jauh berbeda,” tegasnya.(leo)

Inilah Kesamaan Kharakter 6 Terduga Teroris Ini Di Mata Masyarakat : Pendiam dan Pintar

0
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Pendiam dan pintar, itulah yang diketahui oleh masyarakat tentang kepribadian keenam terduga teroris yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda ini.

Hadi Gusti Yanda, 20, warga Perumahan Taman Carina Blok 27 Nomor 19, satu dari enam orang terduga jaringan terorisme Bahrum Naim, dikenal merupakan sosok pendiam.

Baca juga:

Densus 88 Tangkap Terduga Jaringan Terorisme di Batam, 6 Orang Diamankan, Ini Data Lengkapnya

Jaringan Terduga Teroris yang Ditangkap di Batam Disebut Pernah Rencanakan Serangan ke Marina Bay Singapura

Hamidin orangtua Hadi saat ditemui mengatakan di rumah Hadi dikenal sebagai sosok yang pendiam. Dalam segi agama Hadi tergolong anak yang sangat taat dan rajin beribadah.

“Anak saya memang sering bawa tas dan Alquran kecil kalau sudah keluar rumah. Nggak curiga sama sekali, apalagi masalah agama kita larang nggak mungkin,” ungkap Hamidi.

Hamidin mengatakan setiap hari Hadi memiliki kesibukan sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan di Kawasan Bintang Industri, Tanjunguncang. “Sudah setahun dia bekerja di sana,” kata Hamidin.

Setiap hari Hadi selalu berangkat kerja pukul 07.30 WIB dan pulang pukul 17.00 WIB. “Di luar kita kan nggak tahu bagaimana Hadi,” ucap Hamidin.

Di luar jam kerja, diakuinya, Hadi memang ikut pengajian, namun ia tidak mengetahui kemana arahnya. “Hadi keluar rumah selalu habis salat Isya, kadang pulang malam jam 21.00 WIB kadang pukul 22.00 WIB,” kata Hamidin.

Hamidin merasa terkejut dan tidak mengetahui sama sekali apa yang terjadi kepada anaknya. Hamidin hanya mengetahui anaknya masih bekerja seperti biasa.

“Nggak tahu, saat ini (kemarin, red) Hadi masih kerja tadi pagi perginya, dan saya juga belum mendapat telepon dari siapapun,” ujar Hamidin.

Menelusuri sosok Gigih Rahmat Dewa, pria yang disebut sebagai kepala jaringan teroris di Batam yang telah diamankan pagi kemarin bersama lima terduga lainnya, dikenal cukup baik oleh masyarakat sekitarnya. Alumnus Politeknik Negeri Batam jurusan Teknik Informatika ini, merupakan angkatan tahun 2011 dan wisuda tahun 2014 lalu.

Melalui Tofaneo Dean, rekan kuliah yang satu letting dengan Gigih, dia mengatakan Gigih adalah sosok yang sama persis dengan namanya ‘Gigih’. “Dia (Gigih,red) punya semangat tinggi untuk belajar. Taat beribadah (dalam Islam),” ujar Tofaneo saat dihubungi kemarin (5/8).

Walaupun tidak berada satu kelas (Gigih kelas IF-A, Tofaneo IF-B), Tofaneo juga menceritakan kedekatannya dengan Gigih semasa di perkuliahan dulu. Sepengatahuannya, sebelum mengecap pendidikan di Politeknik Negeri Batam, Gigih sempat beberapa kali pindah universitas.

“Setau saya, sebelum ke Poltek (singkatan Politeknik) Batam dia dari universitas di Malaysia, tapi lupa dari kampus mana,” sebutnya.

Gigih kemudian pindah ke Batam lantaran ada urusan keluarga. “Kedua orang tuanya sudah meninggal, jadi dia harus mengurus adik-adiknya yang masih sekolah di Jawa. Supaya lebih mudah komunikasi, Gigih memilih ke Batam,” terang Tofaneo.

Saat kuliah di Poltek, Gigih cukup terpandang. Usianya yang terbilang cukup tua dibanding rekan satu letting-nya, lebih aktif mengikuti organisasi dalam bidang bahasa Inggris atau English Club. “Gigih itu jago bahasa Inggris dan menonjol dalam programming terutama web,” lanjut Tofaneo.

Tak heran, Gigih cukup akrab dengan salah satu dosen bidang programming, Riwinoto, yang kini sebagai kepala Program Studi (Kaprodi) Multimedia Politeknik Negeri Batam. “Gigih sering konsultasi sama pak Riwi. Gitu juga pak Riwi yang sering bagi ilmu ke Gigih. Mereka saling sharing,” tambahnya.

Hingga sampai ke masa tugas akhir (TA), Gigih sibuk mengurus pernikahannya dengan wanita cantik, senior Gigih di kampus. “Dia nikah jelang TA, tapi untung sama-sama wisuda dengan saya dan rekan se-letting lainnya,” ucap Tofaneo.

Setelah wisuda, Tofaneo maupun Gigih tidak lagi saling berkomunikasi. “Udah lose contact aja. Lagian, Gigih sudah berkeluarga. Jadi sudah sibuk sama urusan masing-masing,” ungkapnya.

Terkait penangkapan Gigih Rahmat Dewa bersama lima orang lainnya itu, Tofaneo mengaku terkejut. Ia tidak menyangka adanya keterlibatan Gigih dalam jaringan terorisme. “Jujur saya baru tahu setelah dihubungi (Batam Pos) ini. Terkejut, gak nyangka orang yang saya kenal sangat baik, ramah, dan asyik diajak bergaul, bisa terlibat terorisme. Semoga ini masih kabar angin,” harapnya.

Terduga teroris Trio Syafrido yang tinggal di Kompek Masyeba No 5A, Tiban Indah dikenal pendiam oleh warga sekitar. Pria yang berpenampilan agamis ini sehari-harinya bekerja di salah satu Bank syariah di daerah Baloi.

“Iya, dia memang kerja di Bank,” kata Ketua RT02 RW 07 Perumahan Masyeba Bukit Mas, Bambang, Jumat (5/8).

Pria kelahiran Tanjungpinang, 46 tahun silam ini, rajin beribadah. Dan sekali-sekali terlihat bergabung kegiatan warga. “Isterinya juga aktif,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang tetangga korban menuturkan, di rumah bercat abu-abu dan oranye itu, terduga tinggal bersama istri dan kedua anaknya. “Siang sepi karena istrinya juga bekerja,” kata lelaki asal Medan ini.

Menurutnya, sudah beberapa hari belakangan ini, terduga jarang terlihat. Terduga dinilai sangat tertutup dan jarang bergabung dengan warga sekitar.

“Biasanya keluar hanya bekerja, antar-jemput anak sekolah,” sebutnya.

Sementara itu, Lurah Tiban Indah, Yudi Suprapto yang ikut bersama Batam Pos menuturkan terduga sudah lama tinggal disana. “Sudah sejak 2004 silam, bearti beliau ini orang lama,” kata dia.

Hadi Gusti Yandi dan M Tegar dua adalah tamatan SMKN I Batam jurusan Mekatronika tahun 2015. Keduanya adalah karyawan di salah satu perusahaan perakitan Laptop di kawasan Bintang Industri, Batuaji.

Hadi Gusti Yanda adalah putra pertama dari pasangan Hamidin dan Darma di perumahan Taman Carina blok 27/19, Batuaji dan M Tegar juga putra pertama dari Desy yang tinggal di perumahan Taman Batuaji Indah 2 blok S nomor 15. Keduanya adalah sahabat baik sejak masih sekolah sampai kerja.

Mengenai kegiatan sehari-hari kedua pemuda itu pihak keluarga mengaku tak ada yang menonjol sehingga terindikasi sebagai pelaku teroris.

Keluarga Hamidin dan Darma saat ditemui wartawan di rumah kediaman mereka terlihat tenang. Mereka bahkan mengaku tak tahu dengan informasi penangkapan anaknya. “Anak saya kerja kok. Tadi pagi pergi kerja seperti biasa. Tak ada tuh polisi yang datang kasih tahu atau kabar dari anak saya kalau dia ditangkap,” ujar Hamidin.

Sampai sore kemarin, Hamidin yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di Pemko Batam belum mengetahui informasi tersebut. Mereka bahkan bersikeras bahwa Hadi masih berada di tempat kerjanya. “Tak mungkin anak saya ditangkap karena itu. Dia anak baik-baik kok,” ujar Darma.

Hamidin dan Darma memang belum berinisiatif untuk menghubingi Hadi, sebab kebiasaan sehari-hari saat Hadi kerja memang ponselnya tak bisa dihubungi. “Tunggu saja nanti dia pulang,” ujar Darma.

Dijelaskan Hamidin bahwa putra pertama dari tiga bersaduara itu memang dikenal pribadi yang pendiam dan tidak pernah berbuat onar layaknya anak muda lainnya. “Dia sangat tekun dalam beribadah,” ujar Hamidi.

Hampir setiap malam Hadi kata Hamidi memang rutin mengikuti kegiatan pengajian di Masjid sehingga dia beranggapan anaknya itu anak baik-baik dan tidak mungkin terlibat dalam kegiatan kriminal ataupun teroris.

“Apa salah dia rajin ngaji? Setahu saya tak ada yang salah selama ini dengan cara dia meyakini agamanya (Islam). Dia anak yang penurut,” tutur Hamidi.

Memang Hadi kata Hamidi terlihat agak menonjol dalam mendalami dan menjalani ajaran agamanya, namun sebagai orangtua Hamidi malah bersyukur karena anaknya seorang yang taat beribadah dan berbakti. “Dia memang selalu bawa Alqur’an dan buku-buku agama kalau keluar, tapi itukan hal yang wajar sebagai seorang Muslim,” ujarnya.

Aktifitas Hadi memang selalu dipantaunya, namun bagaimanapun Hamidi mengaku tak bisa setiap saat mengikuti atau mengawasi sang anak.

“Dia sudah dewasa, ya tak mungkin saya mau awasi setiap saat. Dia bergaul main biasa saja sama dengan anak muda lainnya. Cuman ya bedanya dia memang tetap tekun dan rajin beribadah,” ujar Hamidi.

Menanggapi informasi penangkapan Hadi, Hamidi tetap bersikeras bahwa anaknya itu tidak bersalah.”Dia anak yang baik, tamat dari SMKN I sudah langsung kerja bantu kami. Jadi saya sebagai orangtua tetap yakin anak kami tidak seperti itu,” ujarnya.

Senada diakui oleh beberapa tetangga Hamidi yang mengaku kaget dengan informasi tersebut. “Masa iya. Dia anak baik, sejak kapan dia ditangkap?,” ujar salah satu wanita tetangga Hamidi.
Wanita yang namanya tak ingin disebutkan itu, menuturkan memang tak ada yang menonjol dari pergaulan ataupun cara Hadi menjalankan agamanya. “Dia memang rajin sekali untuk urusan agama, ya menurut saya itu baik karena jarang anak muda yang seperti dia,” ujarnya.

Terpisah di rumah kediaman M Tegar juga terlihat sama. Desy ibu Tegar saat didatangi wartawan tampak biasa saja. Dia bahkan mengaku belum tahu informasi penangkapan anak pertamanya itu. “Masa iya?. Nggak tahu saya, soalnya tadi pagi masih pergi kerja dia dan sampai siang ini belum ada informasi apapun,” ujar Desy.

Selama ini kata Desy, Tegar dikenal anak yang baik dan berbakti. Meskipun aktif dalam kegiatan Masjid, Tegar tetap bergaul normal layaknya anak muda lainnya. “Kalau nggak ngaji atau nggak keluar main di luar, dia biasanya main Laptop saja di rumah,” ujar Desy menjelaskan aktifitas anaknya di luar jam kerja.

Tidak ada yang menonjol dengan aktifitas Tegar sehingga Desy yakin anaknya itu tak mungkin terlibat dalam kegiatan semacam itu. “Dia dan Hadi memang kawan sejak di SMKN I Batuaji jurusan Mekatronika. Mereka memang pandai dalam merakit alat elektronik. Tapi nggak mungkin mereka ikut merakit bom dan lain sebagainya seperti teroris itu,” tutur Desy.

Selama ini Hadi dan Tegar memang kerap bersama saat di luar jam kerja, namun sekali lagi Desy mengaku tak ada gelagat yang menonjol dari keduanya dalam hal terorisme. “Biasa saja mereka. Tak adapun di rumah mereka ngomong atau merakit sesuatu yang mencurigakan,” ujar Desy.

Untuk Desy berharap agar informasi penangkapan itu tidak benar. Dan jika memang penangkapan itu benar maka perlu dipertimbangkan lagi, sebab Hadi dan Tegar adalah anak yang baik dan taat beribadah. (batampos)

Tetangga Terduga Teroris Akui Jarang Terdengar Suara, Hanya Bunyi ‘Memasak’ di Dapur

0
tiga-saksi-diperiksa-terkait-temuan-bom-di-binjai-bIDg2pWlEB
ilustrasi f.okezone

batampos.co.id – Eka dan Tarmidizi diketahui baru menempati rumah itu selama 3 bulan lalu. Di kawasan itu, mereka jarang berkomunikasi dengan para tetangga.

baca juga:

Jaringan Terduga Teroris yang Ditangkap di Batam Disebut Pernah Rencanakan Serangan ke Marina Bay Singapura

Densus 88 Tangkap Terduga Jaringan Terorisme di Batam, 6 Orang Diamankan, Ini Data Lengkapnya

“Rumah itu disewa dan saya tak pernah ngobrol. Mereka jarang di rumah,” ujar Silvi, salah seorang tetangga.

Menurut Silvi, mereka hanya terlihat pada pagi hari menggunakan sepeda motor jenis Yamah RX-King. Namun, mereka pernah terlihat membawa seorang wanita ke dalam rumah tersebut.

“Pernah sekali bawa teman cewek. Hanya itu saja,” terangnya.

Di dalam rumah, sambung Silvi, keduanya jarang terlihat maupun terdengar beraktivitas. Sesekali mereka terdengar tengah memasak di dapur.

“Jarang sekali ada suara, dan saya hanya dengar sekali mereka sedang masak,” tuturnya.

Hal senada disampaikan tetangga lainnya, Bu De. Menurutnya, terduga teroris tersebut jarang bergaul dengan para tetangga.

“Saya tidak kenal. Mereka jarang terlihat dan tidak pernah ngobrol,” ujarnya singkat. (opi)